ulasan puisi

Menyoal Puisi yang Tak Lebih dari Sekadar Percakapan

Pembaca terhormat, berikut  puisi milik Wiwik Indah Sari, pelajar SMK Utama Bandarlampung–beberapa puisi menarik saya apresiasikan. Semoga berkenan dan bermanfaat. Salam literer.

Malam dan Penantianku

Malam

jangan terus kau lakukan ini

menyiksaku dalam sepi tiada terkira

rindu telah memasungku disekian jarak waktu

hampa hampa hampa rasa ini

Merasakah kau cintaku

tentang malam yang dingin dan semakin mendingin (lebih…)

Levina

Yulita S.G.
SMPN 3 Metro Kelas 2F

Levina, itulah namamu
Kau dilahirkan di Jepang
Tepatnya 20 tahun silam yang lalu
Tapi kini kau telah tutup usia

Di hari Kamis yang kelabu
Kau pergi bersama puluhan nyawa manusia
Si jago merah telah melalap seluruh tubuhmu
Di saat usiamu yang kini telah tua dan renta
Di mana tubuhmu dibebankan barang-barang yang begitu membahananya

Tapi mengapa bangkaimu yang tidak lagi bernyawa
Masih saja meminta banyak korban
Tiga hari lagi setelah dirimu tutup usia
Di saat para wartawan meliput kejadian dirimu
Di saat itu pula dirimu karam di tengah lautan

Mereka pun terombang-ambing menyelamatkan diri
Tapi apa daya, minggu itu empat nyawa telah melayang
Menghadap sang Khaliq di alam baka
Berharap dapatkan kedamaian yang abadi

Saat itu, di setiap stasiun televisi, sibuk menayangkan berita duka
Yang didedikasikan ’tuk teman, sahabat mereka yang t’lah tiada’
”Selamat jalan kawan, semoga kau mendapatkan tempat yang layak di sisinya
Di setiap pengabdianmu dan tulusnya kebaikanmu
Kamu kami kenang selalu…”
Itulah kata-kata yang terucap dari setiap bibir rekan seprofesinya

Kini mereka t’lah tiada, pergi ’tuk selamanya
Meninggalkan setiap cerita dan kenangan manis
Kami berharap apa yang telah terjadi ini
Tak ’kan pernah terulang kembali

*) Didedikasikan bagi para korban terbakarnya KMP Levina I. Khusus untuk keluarga kami, paman kami, kamerawan SCTV: Moh. Guntur Saefullah.

Ulasan

Membaca Peristiwa dalam Puisi

Oleh F. Moses

SECARA objektif, puisi Yulita memberi laporan peristiwa pada pembaca tentang karamnya KMP Levina beberapa waktu lalu. Sedangkan secara subjektif (mungkin), karena ia merasa tersayat atas meninggalnya orang yang ia dedikasikan dalam puisinya itu. Demikian kira-kira kilasan yang tersirat dalam puisi Levina.

Sah-sah saja jika Yulita seperti memberi laporan lewat puisinya. Karena kecenderungan puisi terjadi ketika (mungkin) penulis merasa terusik oleh keadaan yang membuatnya harus memuntahkan ungkapan-ungkapannya. Subjektivitas seperti itulah yang tampak pada puisi Levina; pandangan Yulita tentang karamnya KMP Levina, tentang saat itu, di setiap stasiun televisi, sibuk menayangkan berita duka/yang didedikasikan ’tuk teman, sahabat mereka yang telah tiada…
Yulita hendak memberi catatan peristiwa kepada kita tentang teman (khususnya sahabat Yulita) yang telah tiada itu. Sayangnya, Yulita terlalu transparan (cenderung informatif) sehingga tidak menyediakan ruang kosong yang menggoda imajinasi pembaca dalam menafsir. Padahal, pilihan tema puisi tersebut membuka kemungkinan imajinasi yang sangat luas. Yulita bisa berimajinasi tentang mayat-mayat bergelimpangan, bangkai kapal laut yang menyisakan tanya, dan sebagainya.
Sebagai penulis pemula, paling tidak Yulita sudah berani membuka cakrawala atas peristiwa terbakarnya sebuah kapal yang menggemparkan. Peristiwa itu Yulita tuangkan lewat puisi. Ia seolah ingin memaparkan banyak hal: tentang riwayat kapal yang sudah terbakar, tentang Levina, itulah namamu/kau dilahirkan di Jepang/ tepatnya 20 tahun silam/tapi kini kau telah tutup usia.
Kemudian tentang waktu, Di hari kamis yang kelabu/kau pergi bersama puluhan nyawa manusia. Yulita seperti mengupas peristiwa yang ia ketahui. Hanya, Yulita terlalu gamblang sehingga arah puisi itu mudah ditangkap pembaca seperti membaca surat kabar harian.
Dalam pemilihan kata, Yulita sudah mempertimbangkan hadirnya nilai rasa, tapi masih terlalu sederhana dalam permainan majas. Yulita masih sangat perlu untuk terus berlatih (banyak membaca dan menulis) karena tanpa disadari kebiasaan membaca dan menulis itu akan membentuk karakter tulisan secara pribadi.
Dalam memilih kata-kata, Yulita juga harus lebih cermat. Mungkin menurut Yulita sudah cermat, tapi Yulita melupakan makna kata itu sendiri. Pada akhirnya makna kata yang telah mewakili kata lainnya terulang kembali dan mengakibatkan pemborosan kata, seperti tampak pada tapi mengapa bangkaimu yang tidak lagi bernyawa.
Kata tidak lagi bernyawa menimbulkan pertanyaan tersendiri tentang makna bangkai yang dimaksud. Apakah ada bangkai yang masih bernyawa? Atau adakah yang bernyawa itu disebut bangkai? Tentu saja tidak. Andai saja Yulita lebih peka untuk melibatkan emosi dan imajinasi, tentu akan bernilai rasa lebih tinggi. Begitu pula yang terdapat pada baris Di saat para wartawan meliput kejadian dirimu dan menghadap sang Khaliq di alam baka. Rasanya sudah sangat jelas tugas wartawan adalah meliput dan menghadap sang Khaliq itu pasti di alam baka dan bukan di sekolah ataupun tempat umum lainnya. (lebih…)