ulasan cerpen (Harian Radar Lampung)

Mengolah Cerita

F. Moses

Sebab bukan hanya masakan yang mesti diolah, melainkan juga cerita—entah cerita pendek atau cerita panjang (roman, novel, dan sejenisnya—maaf saya membenturkannya dengan sebutan cerita panjang. Tak bermaksud mengistilahkan apalagi sekadar melegitimasikannya, ya). Karena cerita yang setidaknya menjurus ke “kebaikannya bercerita”, tentunya sadar dan paham betul untuk mengolahnya; entah bagaimana rasanya kelak: asam, asin, gurih, manis, pahit, kecut, dan berakhir enak atau tidak untuk disantap. Tak soal, terpenting tahu benar untuk memasaknya. Berujung olah sadar sang penulis itu sendiri untuk menerima dan berterima. Hmm, semoga bagian pengutaraan saya ini, secara umum dan khusus tak melamurkan penikmat sastra apalagi penulisnya.

Dalam kesempatan ini kali anggaplah saya sedang tak mengulas cerpen “Aku Siapa??” karya penulis Dewa Made Suyadna, tapi hanya racauan ringan kebersamaan kita sambil minum teh hangat atau kopi panas plus gorengan. Tentunya ditengarai pertukaran pikiran di antara kita yang senantiasa saling “bertukar getar” tatkala menyoal cerpen.

Mengolah cerpen, kalau boleh saya bilang lagi, memang tak lain dari masakan. Tinggal siapkan pena dan kertas (seperangkat mesin tik atau komputer atau laptop), kumpulan perbendaharaan kata dalam “laci pikiran”, serta penyedap rasa yang bukan instan dari rempah-rempah imajinasi. Selebihnya niat tulus untuk bilang, “Mari kita mengolah menjadi masakan paling sedap untuk dinikmati menjadi cerita pendek.”

Sekadar imajinasi? Mungkin tak akan pernah cukup bahkan sanggup. Karena tak semua penulis memiliki daya imajinasi kecuali ia memang luar biasa kedatangan “ilham”. Kecuali juga, bila ia memang sekadar mendatangkan imajinasi ala kadarnya. Rasanya pun (mungkin) bakal bisa terasa; hambar dan kering. Dibaca pun hanya berjumpa dengan kebosanan. “Tak menarik, mending langsung baca kalimat paragraf terakhirnya saja,” sela si penikmat cerpen dalam hati. Tentu sebagai penulis tak ingin mengetahui pergumaman dari sela si penikmat yang seperti itu, bukan?—terpenting dalam imajinasi bukanlah sekadar mengada-ada, melainkan bagaimana caranya melebarkan sayap penceritaan menjadi berterima dan meresap ke benak pembacanya. Itu saja, sederhananya.

Baiklah, seperti saya bilang tadi, saya memang tak membahasa cerpen “Aku Siapa??”, kecuali teringat akan momentum Anne Frank. Siapakah Ia?

Usianya masih sangat muda, 13 tahun. Kala itu bulan Juni 1942, pertama kalinya ia menulis dalam buku diarinya. Beberapa bulan kemudian, bersama orangtuanya, ia bersembunyi di sebuah loteng gelap karena diburu oleh rasisme Nazi yang sedang ganas-ganasnya. Seringkali ia mendengar suara deru pesawat tempur dan rentetan senjata api yang mengawang di atas Secret Annex itu.

Untuk mengisi hari-hari panjangnya di tempat persembunyian tersebut dan untuk mengatasi rasa takutnya, ia mencurahkan segala perasaannya ke sebuah buku diari, catatan harian, yang dikemudian hari mengantarkannya menjadi seorang “pengisah sejati” yang terkenal di seluruh dunia. Gadis itu bernama Anne Frank.

Aku berharap, demikian ia mengawali tulisannya pada diarinya yang diberinya nama Kitty, aku bisa  mencurahkan isi hatiku padamu dengan cara yang belum pernah aku lakukan pada siapapun sebelumnya, aku harap kamu dapat memberi rasa nyaman dan juga semangat untukku.

Berbulan-bulan ia tidak melihat matahari dan tidak mengetahui dunia luar. Namun ia terus saja menulis, “…aku suka menulis, banyak hal yang terlampau menarik dan luar biasa dalam hatiku, akan aku tumpahkan lewat tulisan. Kertas memiliki kesabaran yang lebih ketimbang manusia.”

Pada bulan April 1944 ia mencurahkan hati pada diarinya bahwa ia rindu ingin sekolah lagi, Andai perang tidak juga berakhir bulan September, aku tidak akan kembali ke sekolah. Dan memang terjadi, Anne Frank tidak pernah lagi melanjutkan sekolahnya hingga akhir hayatnya. Karena pada tanggal 4 agustus pagi, delapan orang yang bersembunyi di Secret Annex, termasuk Anne Frank, disergap oleh intelejen bayaran Nazi lalu digiring ke Penjara, lalu ke kamp pembuangan sampai akhirnya dicampakkan ke sebuah kamp mengerikan di dekat Hannover (Jerman) tahun 1945. Bersama dengan impian remaja dan cita-citanya, akhirnya Anne Frank meninggal dunia karena terlalu lelah, sakit dan lapar. Mayatnya dilempar ke sebuah pemakaman umum Bergen-Belsen. Ia mati dalam usia belasan tahun tanpa sempat tahu bahwa beberapa waktu kemudian, setelah perang usai, diarinya ditemukan oleh petugas berceceran di lantai Secret Annex yang akhirnya menjadi sebuah dokumen sejarah yang dipublikasikan di seluruh dunia.

Nah, dari kisah di atas, setidaknya kita dapat memetik pelajaran penting bahwa menulis adalah sebuah cara untuk mendokumentasikan segala pikiran, pengalaman dan imajinasi kita ke dalam bentuk tulisan.

Untuk melengkapi jawaban ini, saya semakin teringat penggalan-penggalan bagus dari diari Anne, “Saat aku menulis, aku dapat meluruhkan seluruh deritaku. Ketakutanku lenyap, gairah hidupku bangkit kembali—aku berharap, semoga bisa, oh, aku sangat berharap, hanya dengan menulis aku dapat merekam segalanya, seluruh pikiran, ide fantasi maupun segenap imajinasiku..

Pada awalnya, si Anne tidak berpikir kalau buku diarinya akan dipublikasikan secara luas. Ia menulis untuk dibaca sendiri dan berdasarkan motivasi seperti yang diuraikannya di atas. Dan sebetulnya, dipelajari atau tidak, menulis itu tetap mengiringi hidup kita sehari-hari karena memang sudah menjadi kebutuhan. Baik untuk kepentingan seperti mengerjakan tugas sekolah maupun untuk keperluan yang lebih bersifat privasi seperti menulis surat cinta, sms atau menulis curahan hati di buku diari.

Sekian.

***

Membaca “Mengolah Cerita” di atas, sesungguhnya merupakan rangsangan saya atas pembacaan terhadap seorang cerpenis di bawah ini.

Aku Siapa???

Karya: Dewa Made Suyadna

 

“Lihat ini adalah salah mereka orang-orang tak bertanggung jawab, mereka memerangi orang-orang yang tak bersalah…”. itulah kalimat yang selalu kudengar dari orang berpenampilan rapi yang mempresentasikan hal yang aku rasa intinya sama. Entah sudah berapa kali aku dengar dan aku pun tak tahu kenapa aku tak bosan-bosan mendengarkannya sampai-sampai aku tak ingat apa pun selain kata-kata itu. (lebih…)

Iklan

Simfoni Biru Ombak

Berikut cerpen karya Theodora Cynthia Wijaya, pelajar SMA Fransiskus, Bandarlampung. “plus” ulasan sederhana dari saya.

Rina mencoba membersihkan puntung rokok yang berserakan di bawah meja kedai orang tuanya. Memungut setiap puntungnya sih tak jadi soal. Masalahnya adalah serbuk rokok yang tertinggal di lantai itu sangat sulit dihilangkan, seperti melekat di lantai.

Perhatian Rina terpusat ke lantai sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan Arnan yang kini tengah berdiri di belakang Rina dengan dua kaleng limun dingin di tangannya.

“Terlihat sibuk sekali, Nona.” Arnan tersenyum.

“Arnan!” Rina berbalik dan melepaskan sarung tangan pembersih dari tangannya.

“Ini, kau terlihat sangat letih.” Arnan memberikan satu kaleng limunnya kepada Rina.

“Terima kasih. Ya, pelanggan yang terakhir adalah yang terburuk.”

“Orang kota jahanam itu?” Ekspresi Arnan berubah. “Dasar keparat perusak pantai! Belum puaskah mereka menghancurkan pantai ini?”

“Iya, mereka selalu datang saat kedai ini buka dan pulang saat kedai hampir tutup. Mereka mengganggu setiap pelanggan, berteriak-teriak, mengotori lantai.. Lama-lama kedai ini bisa bangkrut kehilangan pembeli.” Rina terlihat sedih.

“Benar-benar kurang ajar mereka itu! Aku akan mengusir mereka dari desa dengan membawa perkara perusakan pantai ini ke pengadilan. Cara damai jelas tidak mempan!”

“Arnan, kita tidak mampu membayar pengacara dari kota.”

“Rina, aku tidak sanggup melihatmu terus-terusan tersiksa. Mereka menganggumu dengan berbagai cara. Aku jelas tidak mungkin membiarkan pantai dirusak. Tapi aku lebih tidak mungkin lagi melihatmu dalam keadaan begini. Aku bisa menggunakan harta warisan terakhir dari almarhum ayahku.” Arnan terlihat menimbang-nimbang.

“Arnan, terlalu berisiko. Lagi pula bukankah uang itu akan kita gunakan untuk acara minggu depan?” Rina menyeruput limun kalengnya dan menatap Arnan.

“Hidupku adalah kau dan pantai ini.” Arnan menggenggam tangan Rina, “Aku tak bisa hidup tanpa salah satunya, jangan salah sangka.” Arnan melepas genggamannya dan menatap mata Rina dalam-dalam.

Keluarga Arnan adalah keluarga nelayan. Sejak kecil, Arnan melihat ayahnya memancing ikan dan ia sendiri pun merasakan darah nelayan mengalir dalam tubuhnya. Ia merasa senang bermain di laut. Ia bekerja paruh waktu sebagai petugas pembersih pinggir pantai setelah pulang sekolah. Ketika ayahnya meninggal, Arnan meneruskan pekerjaan ayahnya. Hingga suatu hari, muncul sekelompok pria dari kota yang mengaku sebagai nelayan. Mereka menangkap ikan di pantai. Sah-sah saja bagi Arnan, toh laut merupakan anugerah Tuhan bagi setiap orang, dan Arnan jelas tidak memiliki hak untuk melarang mereka menangkap ikan di laut. Sampai Arnan tahu, mereka tidak menangkap ikan dengan cara biasa.

“Bagaimana kabar kerja Tuan Hartomo?” Rina tiba-tiba memecah keheningan. Tuan Hartomo adalah sahabat Arnan, seorang naturalist yang mengetahui teknik meremajakan pantai atau paling tidak membantu proses daya lenting suatu ekosistem pantai untuk kembali ke keadaan seimbang.

“Lumayan lancar. Ia sedang mengarantina daerah yang masih selamat dan mendayaguna yang rusak semaksimal mungkin. Tapi itu tidak mudah, ia bilang kerusakan laut di pantai ini sudah parah. Hampir semua terumbu karang yang indah sudah rusak tak berbentuk. Yang paling mengenaskan adalah menurunnya jumlah ikan secara drastis, otomatis pendapatan kami sebagai para nelayan juga menurun jauh. Dulu kami bisa memperoleh hampir setengah kuintal ikan per hari, sekarang… sepuluh kilo juga sudah hebat.” Arnan melempar kaleng kosong limun ke dalam keranjang sampah, raut mukanya kusut.

“Separah itukah keadaannya?” Tanya Rina.

“Ya, nelayan kota itu tidak segan menggunakan pukat harimau, atau bahkan alat peledak. Mereka pikir ikan itu apa? Pohon uang?” Arnan terlihat sangat marah.

“Tenang Arnan, kita selesaikan masalah ini bersama.” Rina memegang lengan dan memandang wajah Arnan lekat-lekat.

Ya, para nelayan dari kota itu menangkap ikan dengan cara yang tidak terpuji. Mereka menggunakan pukat harimau dan bom laut. Pukat harimau adalah jaring yang struktur interval jaringnya sangat kecil dengan kata lain sangat rapat sehingga anak-anak ikan yang masih kecil pun akan tertangkap bersama dengan induknya. Akibatnya, populasi ikan menurun secara drastis. Sekarang bahkan sudah sulit untuk mendapatkan ikan, apalagi yang berukuran besar seperti dulu. Sedangkan bom laut jelas merusak terumbu karang dan mencemari laut, dan ikut serta membunuh semua makhluk laut dalam jangkauan ledak.

“Andai mereka tak pernah datang…,” Rina melempar kaleng limun kosongnya ke dalam keranjang sampah lalu duduk di salah satu kursi kedainya.

“Hah, andai…” Pandangan Arnan menerawang jauh ke luar jendela, ke arah pantai. ”Waw, sepertinya sudah terlalu larut, aku harus pulang untuk mengurus Edna.” Arnan tiba-tiba tersadar. Edna adalah sepupunya yang masih duduk di sekolah dasar.

“Dah, sampaikan salamku padanya” Rina berdiri dari kursinya. “Ya, tentu” Arnan berdiri dan bergegas pergi, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Oh ya, aku baru saja membelikanmu ini.” Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru dari sakunya. “Aku membelinya saat pergi menjual ikan tangkapan di kota kemarin. Kau bilang akhir-akhir ini sulit tidur, kotak musik ini menyenandungkan instrumental yang sangat indah.” Arnan menyerahkan kotak musik itu kepada Rina. Rina membukanya. Warnanya biru laut, seperti warna mereka berdua. Ketika dibuka, ada putri duyung kecil yang berdiri dan menari mengelilingi kotak kecil itu, lalu terdengar alunan simfoni bernuansa laut. “Indah sekali, terima kasih.” Rina terlihat gembira.

“Aku harap kau bisa tidur nyenyak malam ini, mimpikan aku.” Arnan mengecup dahi Rina.

“Dengan senang hati.” Rina memeluk tubuh Arnan. Saat itu juga, ia merasakan perasaan damai dan tenang. Tak lama kemudian Arnan pulang. Jam menunjukkan pukul delapan malam.

***

Malamnya Rina tak bisa tidur. Seperti biasa, ia berguling-guling di ranjangnya sambil memikirkan banyak hal, terutama Arnan.

Ia mengenal Arnan ketika ayahnya mengajaknya pergi ke pemakaman orang tua Arnan. Mereka saat itu baru pindah ke desa pinggir pantai. Ayah Rina membuka bisnis kedai pinggir pantai, dan pantai ini merupakan tempat yang pas, banyak ikan di laut, nelayan yang menangkapnya, dan wisatawan yang menjadi pelanggan di kedai mereka.

Ketika Rina dan ayahnya datang ke pemakaman, ada seorang pemuda berbaju hitam yang duduk menghadap ke kedua makam di hadapannya. Wajahnya terlihat sangat sedih. Rina tak pernah melihat kesedihan yang melebihi kesedihan di wajah pemuda itu. Pemuda itu duduk terpatung, matanya kosong. Rina diberitahu oleh ayahnya bahwa pemuda itu adalah putra tunggal yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Kedua orang tua pemuda itu meninggal karena kecelakaan saat menangkap ikan di laut tak lama setelah kedatangan para nelayan dari kota. Perahu mereka karam terkena dampak ledakan bom laut itu. Ayah Rina sendiri tahu hal itu setelah tetangga baru yang menyambutnya menceritakan peristiwa tersebut.

Ketika diajak pulang oleh ayahnya, Rina menolak. Ia berkata ingin mengajak bicara dan menenangkan pemuda itu. Sesaat setelah ayah Rina pulang, Rina mencoba mendekati pemuda itu, hujan mulai turun.

“Hmhmhm, maaf mengganggu, saya rasa Anda harus pulang. Lihat hujan mulai turun” Rina berkata dengan lembut. Tapi pemuda itu sama sekali tidak menggubrisnya. Ia bahkan tidak merespon Rina sedikit pun. Seakan-akan tak ada yang berbicara di sekelilingnya. Bahkan telihat dari matanya, bahwa ia tidak merasa hidup. Hujan rintik-rintik membasahi rambutnya.

“Maaf, tapi sungguh, Anda harus pulang, atau berteduh. Anda bisa sakit.” Rina lalu melihat sekelilingnya, tidak ada siapa-siapa lagi di pemakaman itu. Kosong. Seperti sepasang mata pemuda ini. Mata yang sangat indah menurut Rina, meski kosong.

“Maaf…” Rina mencoba menyentuh pundak pemuda itu. Tetapi pemuda itu malah terjatuh. Rina mendekatinya dan menyadari bahwa ia pingsan. Rina lantas menariknya ke tempat yang teduh lalu berlari mencari pertolongan. Ia berteriak namun tak ada satu pun orang yang datang menolong. Lalu ia berlari ke desa dan memanggil beberapa warga untuk menolong pemuda itu. Warga yang datang membawa pemuda itu ke rumahnya.

Pemuda itu sebatang kara karena ditinggal oleh kedua orang tuanya. Rina yang iba merawatnya sampai ia siuman. Saat siuman, pemuda itu tetap hanya membisu. Rina membawakan semangkuk sup lalu mencoba mengajaknya bicara. Meski pada awalnya pemuda itu tak menjawab, Rina terus merawatnya hingga ia pulih. Pada akhirnya pemuda itu mau diajak bicara, berkenalan, bahkan ia mulai tersenyum saat Rina datang ke rumahnya untuk membawakan semangkuk sup untuk sarapan.

Sejak saat itu mereka semakin dekat. Rina merasakan bahwa Arnan adalah orang yang selama ini dia cari. Arnan yang tersenyum atau tertawa mampu membuat hari-harinya semarak, mencerahkan hatinya yang gundah, dan yang pasti membuatnya menikmati  apa itu hadiah terindah dari hidup ini. Arnan sendiri merasakan kehadiran Rina sebagai malaikat dalam hidupnya. Rina datang menguatkannya di saat hidupnya hampir hancur. Rina selalu menyemangatinya, dan tak henti peduli padanya. Rina merasa Arnan adalah cahaya matahari dalam hidupnya, dan Arnan merasa bahwa Rina adalah embun segar yang selalu datang setiap paginya.

Sudah lima tahun berlalu. Banyak masalah yang datang silih berganti. Terutama nelayan metropolitan yang tidak menyadari hukum alam itu, mengeksploitasi laut tanpa memperhatikan keseimbangan ekosistem. Rencana pernikahan Rina dan Arnan minggu depan terusik karenanya. Pikiran Arnan bercabang, tapi ia sudah melamar Rina. Mereka akan tetap menikah minggu depan.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi Rina masih belum bisa tidur. Ia tetap berguling-guling di ranjangnya. Lalu Rina teringat akan kotak musik pemberian Arnan sore tadi. Ia mengambilnya lalu membukanya perlahan-lahan.

Terdengar alunan simfoni yang lembut, tenang, dan manis. Seperti deru ombak yang sangat familiar di telinga Rina. Hanya saja, dibalik melodinya Rina menangkap nuansa sedih yang tak terlukiskan. Namun ia tak peduli. Saat mendengar simfoni itu, yang terbayang hanyalah wajah Arnan. Dengan senyumnya yang hangat dan pandangan matanya yang mampu membuat Rina gila. Rina terus mendengar simfoninya hingga ia terlelap.

***

Keesokan paginya, saat Rina minum teh dan duduk di kedai miliknya, Edna datang dengan tergesa-gesa dan dengan mata yang sembab. Rina merasakan ada yang tidak beres lalu bertanya kepada Edna apa yang sebenarnya terjadi. Edna awalnya tak mampu berkata apa-apa. Ia terus saja menangis. Rina memandangnya dan merasakan aura kesedihan melekat di pandangan matanya. Edna perlahan-lahan berbicara. Meski tergagap-gagap, ia mengucapkan kata demi kata dengan sangat jelas di telinga Rina, dan jawaban Edna itu sungguh di luar perkiraan Rina, bahkan mungkin di luar batas logikanya. Semerta-merta, cangkir teh yang dipegangnya terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Berita itu mematikan setiap saraf di kepala Rina. Memusnahkan setiap keping jantung hatinya.

Arnan dibunuh

Ia mati

Ia pergi

Dan tak akan pernah kembali

Rina diam terpaku. Pandangannya lurus, kosong. Dalam hati ia benar-benar berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Ia berharap ia akan bangun dan mendapati Arnan sedang duduk di sisinya. Tersenyum dan menggenggam tangannya. Membelai lembut rambutnya, dan membisikkan kata-kata cinta seperti dulu.

Rina merasakan sekujur tubuhnya lemas. Ia perlahan-lahan jatuh ke lantai. Tangannya mengenai kepingan pecahan cangkir teh yang ada di lantai dan saat itu juga ia merasakan darah mengalir dari tangannya. Merah, hangat, dan nyata. Berarti ini bukan mimpi! Ini nyata! Ia tidak sedang terlelap dan ia tidak akan terbangun dengan mendapati Arnan di sampingnya. Karena Rina memang sudah bangun, dan Arnan memang sudah pergi. Meninggalkannya, dengan cintanya kepada Arnan yang masih teramat besar.

Edna tambah menangis melihat Rina yang berteriak- teriak seperti digorok lehernya. Edna meraung-raung dan Rina berteriak-teriak. Suasana sangat pilu, kebisingan itu menimbulkan suara yang sangat menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

Tengah malam tadi ketika Edna tertidur, dua orang pencuri memasuki rumahnya. Arnan yang saat itu belum tidur berusaha mengusir kedua pencuri itu dan membela diri. Namun, ia ditusuk dengan parang yang dibawa oleh salah satu kawanan pencuri itu.

Edna yang terbangun karena kebisingan dan teriakan Arnan langsung berteriak melihat kakaknya roboh bersimbah darah. Para tetangga berdatangan menolong Arnan. Namun, mereka terlambat. Arnan tak tertolong lagi. Parang itu menancap tepat di jantungnya.

Salah seorang warga berhasil menangkap pencuri yang membawa parang itu dan warga sekampung langsung menghajarnya habis-habisan. Mereka kesal karena pencuri itu telah merebut nyawa nelayan kebanggaan kampung mereka. Setelah babak belur dan ditanyai dengan ancaman akan dibunuh, pencuri itu mengakui semua perbuatannya. Ia adalah orang suruhan nelayan yang datang dari kota untuk membunuh Arnan. Tujuannya adalah agar Arnan bungkam dan tidak membawa masalah perusakan laut itu ke pengadilan. Nelayan dari kota itu takut Arnan menjadi ancaman bagi dirinya dan bisnisnya. Ia tahu, hanya Arnan-lah satu-satunya orang yang menjadi ancaman, karena nelayan lain tidak mungkin berani. Segala upaya telah dilakukannya untuk memojokkan Arnan, mulai dari menganggu calon istrinya, pekerjaannya, hingga ia putuskan bahwa cara terakhir adalah dengan menyuruh orang untuk membunuhnya seolah-olah memperlihatkan itu sebagai perbuatan pencuri. Sialnya, salah satu anak buahnya tertangkap dan terbongkarlah semua rencana busuknya.

Warga yang tahu marah bukan kepalang. Mereka berusaha menangkap nelayan dari kota itu dan menjebloskannya ke dalam penjara. Tapi nelayan itu telah pergi. Bersama seluruh anak buahnya kecuali yang tertangkap oleh warga. Ia juga telah membayar polisi pinggir pantai agar tutup mulut dan tidak menghiraukan cerita warga. Terlebih dahulu ia mengancam polisi itu dengan menyandera anak dan istrinya . Polisi itu tak bisa berbuat apa-apa. Warga kehilangan jejak nelayan dari kota itu. Tak ada yang berani pergi ke kota untuk mencarinya. Terlalu berbahaya, pikir mereka. Mereka malah memutuskan untuk memakamkan Arnan dan melupakan peristiwa pahit itu. Mereka tahu Arnan bekorban untuk mereka namun mereka tak merasa memiliki daya yang cukup untuk menegakkan keadilan bagi Arnan, bahkan setelah Arnan tak bernyawa lagi.

Sejak saat itu, Rina tak pernah menjaga kedai ayahnya lagi. Ia berbaring seharian di ranjang sambil mendengarkan instrumental dari kotak musik pemberian calon suaminya. Ia tak pernah keluar kamar, apalagi keluar rumah. Ayahnya dan Edna bahkan seluruh kerabatnya sudah mencoba mengajaknya bicara. Namun, ia tidak merespon sedikit pun. Ia tetap berbaring seperti putri duyung yang bisu. Bibirnya terus mengucapkan nama Arnan seperti boneka tali yang rusak. Ia juga selalu mengenakan pakaian putih seperti saat ia terakhir kali memeluk Arnan. Menurutnya, Arnan akan selalu terasa nyata saat ia menghirup aroma pakaian itu. Aroma Arnan, orang yang sangat dicintainya. Orang yang telah meninggalkannya pula, untuk selama-lamanya.

Hingga suatu hari alunan melodi dari kotak musik itu tak terdengar lagi. Saat itu juga, Rina pergi meninggalkan ayahnya. Rina tak sanggup hidup tanpa seberkas pun bayang-bayang Arnan. Aroma pakaian itu menurut Rina sudah berubah. Bukan aroma tubuh Arnan lagi, tetapi aroma pakaian kotor yang tidak pernah dicuci. Dan alunan simfoni itu, melodinya terputus di tengah-tengah. Wajar saja, Rina tidak pernah menutupnya sejak ia membukanya di pagi ia tahu Arnan pergi. Dan baterai kotak musik itu sekarang telah habis sehingga alunan simfoni itu terhenti. Rina percaya Arnan-lah yang yang memutus alunan itu. Menghentikan alunan simfoni biru ombak mereka sebagai isyarat, sudah saatnya Rina pergi menemuinya.

Ulasan

”Misteri”

oleh F Moses

Cerita yang baik, entah lisan atau tulisan dalam tradisi sepanjang masa, baik pahit-manis hingga kegetirannya, acap dianggap penyimpan ”misteri berpenuh energi” dan enigmatik yang tertunda. Selalu dianggapnya demikian. Kalau tidak ya omong kosong, lah. Dan sekalipun dianggapnya omong kosong, setidaknya satu catatan (mungkin) perlu diingat: selalu disediakannya ”rasa klise”—entah nyata atau tidak, fakta atau bukan, bahkan benar terjadi atau justru sebaliknya—yang mesti memesona dalam penceritaannya. Kalau tidak, jangan salahkan pembacanya ngacir. Dan puji syukur, ini kali saya tidak menjadi pembaca seperti itu.

Cerpen karya Theodora Cyntia Wijaya, dalam konteks cerita remaja (maaf saya menyebutnya demikian—bukan lantaran masih pelajar apalagi cerita sebatas penikmat kalangan remaja saja), setidaknya mampu mendekati ”jalan misteri” penceritaan yang ditempuhnya. Sekalipun ada saja yang membuatnya ketidaksabaran saat menunaikan penceritaan; kesan terburu-buru dan ”penalaran/ logika bercerita yang masih terendus ke sana kemari”. Boleh saja dibilang tidak soal, ini kan cerpen (sangat dituntut pemadatan semaksimal mungkin). Ya, memang, tetapi andai sekali sentuh lagi, bisa saya bilang cerpen Simfoni Biru Laut adalah prosa menarik dari seorang penulis remaja. Sebab, lagi pula, pemadatan juga tidak berarti menghalalkan segala cara terhadap penceritaan yang akan ditempuh, kan?

Baiklah, selanjutnya, saya sebagai pembaca, ada kewajiban yang mungkin saya anggap perlu menjadi catatan apresiasi cerpen pada umumnya. Tentunya untuk kita bersama juga. Pun Theodora.

Pengenalan—penulis yang baik selalu membuka pintu penceritaan dengan perlahan (bukan lambat), itu adalah hal penting, kala lintasan awal cerita secara tidak langsung menuntut daya tarik keingintahuan (suspense) dari seluruh indera pembacanya. Sekalipun awal cerita memang juga ada yang langsung ”menggebrak”dengan konflik, semata itu adalah siasat untuk menurunkan irama penceritaan ke tahap berikutnya. Maka mahirlah bersiasat.; ”mencuri rasa ingin tahu pembacanya”. Mungkin seperti saya sebut di atas: enigmatik yang tertunda.

Timbul Konflik—dari sinilah pembaca mulai ”tergerayangi”, terusik, bahkan terganggu oleh situai penceritaan yang mesti ”seperti ini dan itu”, mengapa bisa begini dan begitu, hingga tahap pembaca mulai sedikit emosi. Sesungguhnya penulis yang demikian sudah mulai bikin ”bergidik” pembacannya.

Klimaks—untuk hal demikian penulis dituntut memberikan hiperbarik kepada pembacanya. Sehingga pembaca secara langsung maupun tidak langsung seperti berada ditengah-tengah konflik yang sedang penulis hadirkan. Grafik emosi pembaca pun meninggi.

Pengakhiran—semacam mengistirahatkan pembaca. Setelah sejak awal ia berenang di kolam penceritaan. Biasanya, inilah tahap ”sentuhan” terakhir dari penulis ke pembacanya. Maka berilah sentuhan yang paling berkesan ke pembaca; entah penjernihan atau justru membuatnya semakin larut bahkan tenggelam. Bergantung, sekali lagi, dari siasat penulisnya itu sendiri. Entah lewat cara maupun strategi yang bagaimana.

Lantas, bila kembali saya kaitkan apresiasi tersebut terhadap cerpen milik Theodora, adakah kelaikan bahkan kepantasan? Dalam hal ini saya tidak bisa langsung menjawabnya secara matematis, kecuali pendekatan terhadap teks karya itu sendiri—dari saya sebagai pembaca. Dan, sepertinya, beruntunglah saya untuk kedua-kalinya: sebagai pembaca cukup merasakan adanya jalinan penceritaan (pengenalan, timbul konflik, klimaks, dan pengakhiran) yang cukup teratur.

Alangkah bahagia lagi kalau saya ditambah dengan ketertibannya bercerita. Sayang, saya belum mengendus ke arah ”tertib bercerita” dari cerpen Simfoni Biru Laut. Ketertiban yang saya maksud sebagai ”kekurangsabarannya” terhadap rambu lalu lintas penceritaan; semacam ada marka yang seharus dan semestinya membiarkan pembaca yang menagkapnya. Seperti kalimat, Pemuda itu sebatang kara karena ditinggal oleh kedua orang tuanya, yang di paragraf sebelumnya sudah dijelaskan tentang riwayat arnan. Selain itu, toh, pemuda sebatang kara secara tidak langsung sarat akan ”kesendiriannya”. Dan hal sama juga terjadi pada kalimat Arnan dibunuh. Ia mati. Ia pergi. Dan tak akan pernah kembali—sebab bila dibunuh dengan cara yang benar sudah pasti mati, kan? Dan akhirnya memang pergi dan tidak akan bisa kembali lagi. Jadi, seyogianya, tidak perlu lagi untuk menjelaskan kepada pembaca dengan maksud memberikan penjelasan sejelas-jelasnya

Semoga bukan maksud saya dalam artian ”tak ada gading yang tak retak”. Ah, andai saja saya bisa beruntung untuk ketiga-kalinya. Semoga mungkin masih tertunda saja, dan akan akan digenapi oleh Theodora selanjutnya. Ke dalam cerpen-cerpen berikutnya, tentunya. Yang mungkin saja suatu satu saat saya jumpai di media-media yang lain. Teruslah berkarya, ke dalam misteri strategi penyelamatan cerita selanjutnya. Salam sastra.

Sumber: Radar Lampung, Minggu, 17 April 2011

“Kemasan Cerita”

Pembaca terhormat, berikut cerpen saya apresiasikan. Semoga berkenan dan bermanfaat, khususnya dunia prosa Indonesia. Salam literer

C I N T A

Karya Bagus Yuli Hidayat–DCC Lampung Kampus Antasari (Semester III)

“Hendra, turun Nak,” teriak seorang guru kepada seorang siswa yang membawa pistol di lantai dua SMA Abdi Bangsa itu.

Hendra. Seorang siswa yang berubah 180 derajat dari sifatnya yang pendiam dan pintar, sudah sebulan ini dia menjadi sosok yang arogan, bodoh, dan nakal. Sifat diamnya selama ini menjadi tanda tanya besar malam ini.

Di atas sana Hendra sedang menyandera empat siswa, tiga putra dan satu putri.

“Hendra, turun Nak! Apa yang kamu lakukan? Kamu bisa dipenjara nak. Lepaskan Leo sekarang!” teriakkan guru itu menggema kembali setelah melihat seorang sandera digantung di pagar lantai dua SMA favorit itu.

“Ibu jangan paksa Hendra, Bu! Ibu lihat? Kalian semua lihat? Ini yang mereka lakukan kepada saya, Bu. Dan yang kalian lakukan apa? Kalian semua tertawa. Sekarang kalian ketawa, ketawa dong. Ayoo ketawa!” ujar ali kepada Ibu Ike dan seluruh siswa yang sedari siang berkerumun akan hal ini. (lebih…)

Topeng

Cerpen oleh Ema Luthfian, Penggiat di Forum Lingkar Pena (FLP)

“Astagfirullah..” sudah jam tiga. Kenapa tidak ada suara adzan? Muklas tergagap. Cepat-cepat dia mengambil air wudhu. Ia tarik kaos oblong yang tergantung di balik pintu sekenanya. Cepat-cepat ia letakkan kaos oblong dan siap takbiratul ihram untuk menunaikan sholat dzuhur.

Kring..kring..

Handphonenya terus berdering. Muklas masih khusyuk dengan ibadahnya.

Kring..kring..handphone berdering lagi untuk yang kesekian-kalinya. Usai sholat ia membuka kunci handphonenya. Ada Sembilan telepon tak terjawab. Handphone kembali berdering. (lebih…)

Tentang Gadis di Koran Itu

Cerpen oleh Nurwinda Apriyani (SMAN 1 Pringsewu, Lampung)
Apa kamu baca koran pagi ini? Mereka bilang, orok itu dikubur di situ. Tempat di mana kamu buang hajat. Entah tangan siapa yang lakukan itu. Meski tangan ia cuci bersih, meski kuman tak terlihat oleh mata, tetap saja ada zat yang mampu melihat sesuatu yang tak dapat kau dan aku lihat.

***
Rumah. Cat putih. Bersih. Kursi kayu panjang bercat putih. Garis polisi. Aku berdiri diantara mereka orang – orang yang kukenal, berkerumun di sana. Orang -orang di rumah itu. Polisi yang mendadak jadi tukang gali kubur. Kamera yang terus merekam seakan ini adalah film layar lebar. Pak RT yang sok menampang, berharap mungkin diwawancara sehingga wajahnya dapat terpampang di Televisi. Orang -orang yang tetap melupakan hal yang seharusnya ia kerjakan sekarang. Seperti aku. Hal pagi ini membuatku lupa, kalau jam terus berputar, kalau aku sudah terlambat, terlambat masuk sekolah.

Kaki pun membawaku jauh dari tempat yang telah menghipnotisku. (lebih…)

First Love

Cerpen oleh Khadijah (SMAN 2 Bandarlampung)

Rara membuka tirai kamarnya dan berharap melihat bulan yang indah di langit. Segaris senyum menghiasi wajahnya. Kemudian dia mengambil hp-nya. Cetak.. cetik..

“Lihat, deh, ke langit. Bulannya indah banget, ya.” Rara segera menekan tombol send. Tak berapa lama ada balasan yang diterima.

Cetik.

“Hah? Bulan? Emang kenapa sama bulan?”

Rara melongok. Ini makhluk terbuat dari apa sih? Bulan itu, kan, lagi bagus-bagusnya! Emang cowok. Gak ngerti sama yang begituan. Rara pun kembali menatap bulan yang akhir-akhir ini jarang muncul. Kenangan-kenangan masa lalu pun terputar kembali di benak Rara.

Hari itu, Rara adu mulut hebat ala anak SD dengan Fikri, rivalnya. Dia tidak ingat jelas apa yang menjadi permasalahan saat itu, maklum saja, sudah enam tahun berlalu sejak peristiwa itu. Tetapi yang dia sangat ingat adalah dia menonjok perut rivalnya itu. Sebenarnya dia merasa bersalah, tapi karena sudah terlanjur pasang wajah seram, dia tidak jadi minta maaf, malah berkata, ”Rasain!” dan pergi begitu saja tanpa memedulikan Fikri yang meringis mengaduh-aduh. (lebih…)

Tersiksa Bros

Asma Azizah (SMA Negeri 1 Kota Metro)

: Bros biruku yang cantik

Saya mengobrak-abrik kamar saya, juga rumah saya.

”Haaah! Dasar rumah gila! Kemana bros saya??” saya berteriak sendiri, kesetanan. Saya sudah cari ke setiap sudut rumah. Tapi kok tidak ada. Padahal baru 1 jam yang lalu saya buka wadah bros baru saya yang bau cina itu. Ini untuk pertama kalinya saya kehilangan bros. Bros biru berbentuk hati dengan manik-manik dan permata imitasi di tengahnya.

Sebenarnya bukan apa-apa, tapi itu bros yang pertama kali saya beli dengan uang saya sendiri. Uang yang tidak didapat dengan mudah, mesti terkantuk-kantuk dahulu. Ah, sungguh saya menyesal sekali kehilangan bros itu.

Sebenarnya juga bukan apa-apa kalau bros itu hilang di jalan atau mungkin keselip di etalase swalayan. Saya tak akan jadi begini. Tapi bros itu hilang di rumah saya! Rumah yang telah saya tempati sejak 6 tahun lalu. Ah, tiba-tiba, saya jadi benci dengan rumah saya. Seenaknya saja dia menelan bros yang baru saja saya beli. (lebih…)