‘oportunisme Pengarang’–

tuan SukabF. Moses
“Manusia adalah tuan dari segalanya berarti ia adalah tuan dari dunia dan kodratnya sendiri; bahwa manusia menentukan segalanya berarti ia memainkan peran menentukan dalam mengubah dunia dan membentuk kodratnya” (JJP, hlm. 21)
Buku ‘Jejak Mata Pyongyang’ seperti strategi Seno Gumira Ajidarma (Seno) bahwa ada hal paling terpenting untuk ditulis. Seno tidak melebarkan soal tentang jejak film-film yang difestivalkan sejak 4 sampai 13 September 2002 di negeri komunis ortodoks itu, tapi tentang kota Pyongyang yang sejak lama mengendap di ingatannya selama 10 tahun—Pyongyang merupakan ibu kota dari Republik Rakyat Demokratik Korea. Istilah ‘halus’ untuk tidak disebutnya sebagai Korea Utara—maka pada 2012 Seno pun menumpahkan segala dipikirkan tentang kota itu. Pada 2015 terbitlah buku ini.
Buku ini berkaver lanskap gedung sebuah stasiun kereta api di pusat kota Pyongyang (Pyongyang Railway Station), pengantar buku ini pun semacam dari sebuah alasan-alasan Seno sendiri, sepuluh esai besertakan foto-foto yang semuanya sengaja dibuat abu-abu untuk diterima sebagai kesan klasik bagi pembacanya, dan sebuah cerpen Melodrama di Negeri Komunis. Bagi Seno, alih-alih foto menjadi ilustrasi cerita. Karena untuk beberapa hal, dari foto tersebut justru mampu menyusun (mungkin juga mencuatkan) kembali ingatannya.
1 Gambar diambil oleh penulis di atas meja kerja menggunakan kamera HP Redmi 3
2Awal kedatangan Seno ke Pyongyang lantaran menggantikan rekannya, Marselli Sumarno2, sebagai juri pengganti pada Festival Film Negara-Negara Non-Blok dan berkembang Lainnya (8th Pyongyang Film Festival of Non-Aligned and Other Developing Countries). Kedatangan yang bisa dibilang penguatan Seno sebagai kritikus film dari buku pernah diterbitkannya berjudul Layar Kata: Menengok 20 Skenario Pemenang Citra, Festival Film Indonesia, 1973-1992 (Yayasan Bentang Budaya, 2000).
**
Keberanian Seno menyorot Pyongyang memang terpicu sejak kematian Kim Jong II3 pada dekade lalu, tapi bagi saya itu merupakan strategi Seno lantaran tidak ingin pengalamannya menjadi sia-sia belaka. Saya menyebutnya sebagai sikap oportunisme Seno yang positif; sikap pemahaman yang semata-mata hendak mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari kesempatan yang ada tanpa berpegang pada prinsip tertentu4. Prinsip di sini saya tafsirkan sikap ‘memerdekakan’ diri terhadap dunia literer yang berseberangan dengan tendensi media. Maksud satu di antaranya ialah mereportasekan segala hal senyaman dirinya sendiri atawa ‘sesantai-santainya’—boleh juga dibilang cuek bebek.
Pemicuan setelah kematian Kim Jong II memang terkesan terlambat bagi Seno. Meski penyesalannya tampak terlambat, dalam buku Jejak Mata Pyongyang ini Seno tetap membuat sedemikian masih punya arti—ya, tapi juga tidak dapat dikatakan terlambat sebab ketika masih di Pyongyang Seno berhasil lebih dulu melahirkan cerpen berjudul ‘Melodrama di Negeri Komunis’; sebuah cerita yang sedikit banyak memanfaatkan
2 Seorang penulis, pembuat film—sekaligus pengajar dari dan di Indonesia. beliau kelahiran Solo, 10 Oktober 1956 (nama yang ngetop dekade 1980—1990-an di Industri perfilman Indonesia. sampai hari ini keintelektualannya menyoal film tetap diperfitungkan
3 Disebuit sebagai Jenderal Besar trtinggi di Korea Utara. Meninggal saat usia 69 pada 2011—dalam sebuah “perjalanan dinas”karena kelelahan fisik. Berjasa besar bagi Korut. Konon, rakyat Korea Utara jauh lebih menganggungkan jasanya ketimbang “Sang Hyang” (berbagai sumber saya dengar sekaligus melacak dari dunia daring)
4 Persis saya kutip dari KBBI
3pengalamannya itu. pengalaman yang sedapat mungkin diabadikan melaui kamera SLR manual-nya5. Hingga menghasilkan banyak foto.
Pemuatan banyak foto-foto dalam buku ini juga menuai arti bagi Seno. Selain arti yang merujuk dari artian yang bukan berarti tanpa berisiko, seperti dengan banyaknya foto-foto tersebut membuat ‘analisis susastra’ yang pernah didengarnya menyebut bahwa dengan terpasangnya banyak foto tersebut seperti kekurangpercayaan kepada kata-kata. Dalam hal ini Seno tidak ambil pusing. Seno justru sungguh bersyukur karena telah mengambil gambar sebanyak-banyaknya dan senekat-nekatnya, juga bahkan dalam keadaan dilarang memotret.
Sekali lagi, saya beranggap dalam buku ini Seno sedang menulis dengan ‘santai sesantai-santainya bagai tiada lain selain santai dan pokoknya santai’, tenang, apa adanya, dan jauh dari tendensi media mana pun atawa apa pun. Seno hendak berkabar belaka. Berbagi pengalaman. Semacam usaha mereportase ala jurnalis yang berusaha menjauhi tuntutan ‘redaksional’. Seno hanya sibuk dengan kamera SLR manual Nikon FM-5 dan ‘pikirannya sendiri’. Seno tampak menampilkan sikap oportunismenya dalam ‘mengembarai’ tugas sekaligus profesi itu sendiri ketika mesti mewakili. Kali ini yang kebetulan diundang tapi justru dimanfaatkan untuk kepentingan lain.
Saking ‘santainya’ Seno pun datang lebih awal ke negara tersebut. Diakuinya, lantaran menjadi juri, Seno harus datang sendirian lebih awal, jauh sebelum festival dimulai. Lalu tepat pada 29 Agustus sudah mendarat dengan Garuda di Beijing. Selanjutnya Seno diajak petugas Air Koryo ke sebuah ruangan di bandara. Kata Seno ruangan itu mirip ruangan kantor-kantor TIKI di Jakarta. Setelah diberi boarding pass, tidak lama kemudian berada dalam penerbangan ke Pyongyang.
5 Kala itu Seno sempat bilang karena kala itu belum bersentuhan dengan kamera digital seperti sekarang ini
4Dalam penerbangannya itu Seno sibuk dengan pikirannya sendiri; sempat berpikir ini pesawat apa, tapi Seno menduga ini pesawat buatan Rusia. Pesawat yang terkesan ‘gemuk’, berbaling-baling, tampak tanpa pramugari, dan berkesan kurang penerangan. Sejauh ingatannya, ada minuman yang dibagikan oleh seorang pria. Tanpa kereta dorong. Hanya air mineral. Seingatnya pun penumpang pesawat itu hanya sedikit.
Seno menganggap catatan dalam bukunya ini merupakan sketsa belaka. Seperti hal pertama paling berkesan justru pada hotel tempatnya menginap di lantai 42, yakni hotel Yangakdo yang terletak di tengah delta sungai Taedong yang disebut pulau Yanggak, sensasi pertamanya lantaran terdapat restoran tidak bernama, tetapi bernomor, yakni Restoran No. 1 dan Restoran No. 2.
Dalam kesempatan itu, Seno dipersilakan makan di Restoran No. 2. Dipersilakan dalam konteks itu berarti diminta untuk duduk dan menunggu. Tidak ada menu dan tidak ada buffet. Kalau pun ada pelayan, kala itu, perempuan yang melayani hanya tersenyum. Tidak mengucapkan apapun. Lantas meletakkan sepasang sumpit. Itulah pengalaman awal yang baginya suatu keajaiban.
Kemudian Seno menggelisahkan kamar yang diinapinya itu. Baginya selama 18 malam memiliki kesan tersendiri. Kesan kesendirian Seno di lantai 42 bahwa dirinya benar-benar sendirian tanpa seorang pun. Hal itu teranggap lantaran tidak pernah ada suara lain di lantai itu. Juga tidak pernah terlihat ada pelayan. Setiap kali ada terdengar, itu pun adalah langkahnya sendiri.
Dalam deskripsi tentang kamar itu disebutnya bahwa kamar itu cukup luas—ada ruang tamu, ruang tengah, lalu barulah tempat tidur lumayan besar—cukuplah bagi Seno untuk memasukkan dua puluh lima orang teman ke dalam, itu pun masih tetap berasa luas. ☺
**
5
Dalam Jejak Mata Pyongyang ini, sekali lagi, justru keragaman‘keunikan dilaluinya’ dengan cermat penuh catatan. Seno memberikan batasan fokus pengalaman sebagai pengarang, wartawan, dan dosen. Saya kira itulah catatan tersndiri. Catatan atas pengalaman Seno yang sempat pula ‘Ditempel Intel Mehong’. Sosok intel yang selalu serba ingin tahu. Ya, intel mehong; sosok yang diam-diam mengamati pergerakan Seno—tentunya peralatan fotografinya itu. Bahkan sampai kamar tempatnya menginap dicurigai dimasuki pula kala Seno sedang keluar.
Selain diamati (pengamatan Seno) sekaligus ditempel intel mehong, Seno mengamati soal ‘baik lelaki atau perempuan, busana atasannya hampir selalu putih dan berlengan pendek’, ribetnya memotret di Pyongyang, kehidupan modernitas serba kelabu lantaran lengang sekaligus serba seragam pula, toleransi umat tidak beragama, hingga persoalan busana kaum formal dan kaum proletar—Seno memotret sebagai wartawan yang berusaha mengungkap ketertutupan.
Tidak luput dari perhatian Seno yakni persoalan bahwa—meski dirinya sudah menuliskan persoalan dengan lugu—ketidakmampuannya mengandaikan dengan begitu saja tentang rakyat di belahan utara Semenanjung Korea yang tertindas dan memang ditindas oleh pemerintah negerinya sendiri. Maka hal paling mencekam bagi mental masyarakat korea Utara bahwa “rakyat taat dan takluk terhadap ideologi negara”.
**
Perjalanan senantiasa menginspirasikan. Setiap panorama atau pun lelaku sosial di dalamnya dapat menjadi sumber bertenaga bila proporsional cara menyajikannya. Dalam hal ini saya melihat Seno melakukan sikap oportunisme dalam kesenyampangan tatkala ia dapat umpan lambung oleh temannya itu—ia paham betul bahwa selain teks
6
yang tentu saja mampu memberi ruang bagi pemaknaan, terlebih gambar mampu bertindak ‘lebih jauh’ bagi pembacanya.
Terpentingnya lagi, sebuah pengembaraan Seno yang secara terselubung ingin membandingkan kehidupan setiap kota. Supaya pembaca sekurangnya mensyukuri; lebih baik kehidupan di Indonesia yang beribu kota Jakarta ketimbang Pyongyang. Mungkin—sebab betapa mengerikan hidup dalam perintah atawa aturan negara yang sedemikian sangar. Salah sedikit bisa tanpa ampun. Salah ucap di mana negara menjadi terancam pun ‘keselamatan bisa fakir’.
Sekian.Terima kasih ☺
Iklan

Bahasa dalam Puisi

F. Moses

Majalah Siasat, 9 Januari 1949, Rosihan Anwar menyiratkan Chairil  Anwar sebagai pelopor dengan membebaskan ikatan bahasa dan bentuk tradisional, maka puisi seperti ambil bagian menjadikan bahasa sebagai alat ujar yang tidak konvensional di wilayahnya. Seperti Sutardji Calzoum Bachri pernah dengan kredonya itu; ‘membebaskan kata-kata dari makna’.

Bahasa dalam puisi merupakan sosok pengemban dua pilihan bagi kebebasan kata-kata tersebut; menjadi sebenarnya (denotasi) atau tidak sebenarnya (konotasi). Meski kedua pilihan itu tetap saja sama-sama berprofesi sebagai bagian dari ‘rumah tangga kata’ yang kerap dimaksimalkan ‘kedalamannya’ oleh siapa pun penulis—tentu saja atas asas pertimbangan bentuk dan pilihan kata—dengan atau tanpa risiko; menanggung keberhasilan atau justru sebaliknya. Atau bisa saja menimbulkan cara terbaru dalam olah rasa bagi gagasan model berbahasa ditawarkan.

Bahasa Indonesia, dalam konteks puisi, bertaruh perkembangannya. Ia menjadi bentuk dan pilihan kata yang akan selalu dimaksimalkan penggunaannya atau ‘boleh diabaikan’ ketika terjadi pergumulan satu kata menjadi banyak arti. Atau satu arti berpotensi banyak kata. Bahkan ketika kata bermain pada konteks ‘pasangan minimal’—istilah fonologi, seperti amin dan aman, ruang dan raung, ibu dan iba, dan seterusnya. Bahasa Indonesia juga dipertaruhkan keberhasilannya terhadap pengonkretan hal-hal yang abstrak. Lanjutkan membaca “Bahasa dalam Puisi”

Aforisme Sastra

F. Moses

Puisi “mengakurasikan ruang bagi ukuran irama di dalamnya”, maka ia laiknya bunyi dari bahasa keseharian manusia “penuh perhitungan”. Tata bahasa dari keragaman kata-kata yang sudah disterilkan dari perlakuan bunyi-bunyi tidak penting. Penuh pemikiran pelbagai isyarat segala tendensi. Barangkali juga ruang harapan segala renik dimaksudnya. Aforisme—bergerak tepat bagi wilayah pemaknaan penikmatnya. Lantas, demikiankah aforisme berpotensi menjadi kesatuan arti yang bulat sekaligus utuh?

Sastra sebagai medium terpenting yang menggunakan sekaligus memberdayakan bahasa, pada akhirnya ialah karya sastra, aforisme menjadi kehadiran persebaran (mungkin juga peleburan) tersendiri berpenuh potensi. Namun ia bisa juga bukan apa-apa, bila kekuatan makna tak menyerap di dalamnya.

Aforisme, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani ‘aphorismos’ dari ‘apo’ dan horizein; suatu ungkapan mengenai doktrin atau prinsip atau suatu kebenaran yang sudah diterima secara umum. Kemudian berujung pada satu penegasan bahwa aforisme harus berupa suatu pernyataan ringkas, tajam, dan mudah diingat, seperti dalam karya Hippocrates yang merupakan etimologi kata aforisme: “Jalan yang sudah licin karena ditapaki adalah jalan yang sudah aman”.

Dalam KBBI, aforisme lebih kurang dimaknakan sebagai pernyataan yang padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum—seperti peribahasa. Sekali lagi, lantas seberapa tangguhkah sekumpulan kalimat dapat dibenarkan kesahihannya menjadi sebuah aforisme? Di sini peran pembaca berperan penting bagaimana ia mengoptimalkan seluruh daya interpretasinya, saya pikir.

Menyoal kedalaman pengertian dari aforisme tidak saya runcingkan lebih lanjut. Maksudnya, barangkali, karena keterlanjuran banyak pengertian dari arti tersebut—seperti halnya adagium juga bersinonim dengan aforisme. Hanya saja, secara umum untuk ditukar-pikirkan saja menyoal aforisme. Artinya lagi, bahwa aforisme (kalau boleh dikatakan) ialah sebarisan beberapa kata yang berpotensi menjadi heroik dalam sebuah karya sastra; prosa maupun puisi. Lanjutkan membaca “Aforisme Sastra”

Jurus Novel Seno Gumira Ajidarma

Oleh F. Moses

fb_img_1488789051098Pada Agustus (2016), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menaja program bertajuk MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara): Penulisan Novel. MASTERA yang beranggotakan Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, ini sudah memulai program sejak 1997. Tak hanya novel, tahun-tahun sebelumnya pernah puisi, esai, dan drama. Keempat bentuk proses kreatif tersebut berputar setiap tahunnya. Pada 2016 giliran novel—selain kehadiran beberapa peserta dari negara tetangga, tentu saja dari Indonesia.

Sepanjang pelatihan penulisan novel, paling menjadi catatan ialah tatkala ceramah oleh Seno Gumira Ajidarma (Seno). Bukan sekadar bagaimana membikin novel, melainkan cara baru menyoal interpretasi dan berstrategi dalam pembuatannya—hal yang tak perlu dipikir sulit tapi juga bukan hal ringan. Tentu saja berujung menyoal proses kreatif menurut Seno.

Seno, dalam ceramahnya memang tak mendeskripsikan pengertian novel secara akademis sebagaimana ilmu susastra dengan segenap “kewajiban penjelasannya”, tapi ia justru membebaskan diri dari kewajiban semacam itu. Hanya kesungguhannya yang tampak: berbagi pengalaman dalam menuliskan novel, roman, atau apapun namanya.

“Pokoknya cerita yang lebih panjang dari cerpen. Jadi, ya, cerita panjang,” imbuhnya.

Dalam sesi tersebut tak hanya Seno, sastrawan seperti Triyanto Triwikromo, dalam kesempatannya mendampingi para peserta sepanjang pelatihan penulisan novel sebelum sesi ceramah dimulai,  juga berkali menegaskan para peserta supaya memunyai “ketertiban” menyangkut persoalan novel, di antaranya terpenting menyoal bahasa.

“Banyak  penulis novel di Indonesia, tapi yang ‘tertib semantik dan sintaksis’, nanti dulu,” tegas Triyanto.

**

Ceramah Seno  menyoal penulisan novel berlangsung hampir empat jam, selama kurun waktu itu ia membeberkan kembali tentang pengalaman—yang menurut saya—enak dan penting untuk disimak. Seperti pada penegasan Seno ketika sebuah cerita menjadi panjang karena benturan kebutuhan yang berbeda dari kebutuhan dalam melahirkan cerita pendek—sebagaimana kita tahu kapasitas Seno menulis tak hanya berbatas pada cerpen, tapi juga novel maupun esai.

“Seperti pengalaman saya dengan cerita panjang  saya yang pertama, ‘roman metropolitan’ Jazz, Parfum, dan Insiden (1996), yang terbentuk bukan dari kehendak dan tujuan ‘menulis roman’, melainkan—yang kemudian sering disebut sebagai—‘membocorkan’ fakta mengenai penindasan di Timor Timur, ketika media massa semasa Orde Baru tak mungkin memuatnya tanpa suatu risiko tertentu,” beber Seno.

Seno dengan berbagai cara memang telah mengungkapkan kembali fakta-fakta Timor Timur dalam bentuk cerpen, tetapi kebutuhan untuk menyampaikannya secara lebih tuntas membuatnya mengungkapkan dengan bentuk cerita yang lebih panjang. Seno mengakui, bahwa cerita itu harus lebih panjang, bukan sekadar ketuntasan fakta itu secara kuantitatif memang ‘banyak’, melainkan juga karena dalam situasi saat itu justru menjadikan cara penuntasan yang mesti disamarkan.

Secara langsung Seno hendak berstrategi menyiasati kebutuhan cerita menjadi panjang “menjadi ruang novel” dalam ceramah tersebut. Sebuah kebelakaan manakala cerita pendek menjadi panjang karena kebutuhan yang memang perlu dan pantas.

“Memang paradoksal. Ketika di satu pihak saya berniat ‘membuka’, saya hanya melakukannya dengan cara ‘menutupi’”, tambah Seno. Usaha penyamaran itulah yang membuatnya tambah panjang ceritanya, karena bagian-bagian “pembocoran” alias bab-bab insiden itu sendiri (seperti pada Laporan Insiden 1, 2, dan seterusnya).

Seno juga mengakui cerita panjangnya yang kedua, seperti Kitab Omong Kosong, semula berjudul Rama-Sinta: Pertempuran Cinta, mendapatkan bentuknya karena “pergulatan dengan hidup” itu juga. Inti dari Kitab Omong Kosong lantaran terbentuk dari kebutuhan berbeda-beda yang tak sepenuhnya by design (demikian Seno membahasakan) atau telah direncanakan, sehingga mencapai bentuk seperti yang bisa dibaca. Bahkan karya cetak ulangnya terpaksa menjadi Edisi Kedua pula, karena Seno menyertakan sedikit tambahan cerita yang dilupakannya pada edisi pertama.

Pengakuan Seno atas cerita Kitab Omong Kosong secara langsung merupakan pengalaman konkret dan pergulatan dengan hidup berperan langsung kepada suatu bentuk cerita panjang. Mengingat apa yang sudah tertulis, maka sekali lagi kita mendapati kata kunci komposisi; dalam hal ini komposisi berbagai macam alur dari dalam.

Persoalan novel paling menarik berikutnya pada Biola Tak Berdawai. Novel karya Seno tersebut diakuinya memang merupakan proyek kerja sama “novelisasi”, dengan sumber skenario maupun film tersebut melalui DVD. Setelah Seno baca skenario dan menonton film karya Sekar Ayu  Asmara tersebut, Seno perkirakan bahwa dengan segala kesetiannya kepada keduanya, jika hanya berpegang pada alur, Seno hanya akan mampu menulis cerita sepanjang tiga puluh halaman saja.

Maka untuk membuatnya lebih panjang, Seno menggunakan lagi “jurus komposisi”, yakni menggunakan lebih dari satu alur untuk bercerita; pertama pada alur sudut pandang Dewa, yang dalam film tak pernah berbicara sama sekali, sebagai narator yang berbicara pada pikirannya sendiri; kedua pada alur Mahabarata, yang diceritakan oleh narator tak kelihatan, yang peluangnya memang diberikan oleh suatu adegan dalam film Biola Tak Berdawai, ketika gambar memperlihatkan komik wayang Mahabarata karya R.A. Kosasih, tetapi yang antara gambar komik dan dialog tokohnya tak berhubungan; ketiga pada alur Biola Tak Berdawai yang “Asli” dari skenario dan film, yang menyatu dengan penceritaan dari sudut pandang Dewa. Dengan kata lain, alur pertama tersebut memang melebur dengan yang ketiga. Dengan “modal” tersebut, bagi Seno cukup untuk menjadi sebuah cerita panjang.

Tak ada keistimewaan komposisi antar alur yang dibuatnya, karena komposisi dimaksud adalah permainan sudut pandang belaka, yakni antara sudut pandang Dewa dan sudut pandang “dalang” yang menceritakan kembali Mahabharata. Namun perlu diketahui betapa bukan hanya masalah panjang yang kurang itulah pembentuk komposisi tersebut, melainkan juga fakta bahwa Seno dalam kesungguhannya menghadapi dua calon pembaca: antara yang sudah dan yang belum menonton filmnya—dan Seno tak berkenan untuk mengorbankan salah satu. Di satu pihak Seno tampak dilematis, di lain pihak menantang kreativitas, karena tatkala Seno mewajibkan diri untuk setia, maka tingkat kesulitan untuk tetap kreatif menjadi lebih tinggi.

Atas hal tersebut, menurut Seno begitulah, bagi yang sudah menonton filmnya  (dan jika membaca bukunya juga, berarti menyukainya) Seno merasa harus memberi jaminan, bahwa dirinya tak akan menyimpangkan alur yang sudah terdapat sebagai naratif Biola Tak Berdawai; sedangkan bagi yang belum menonton filmnya, Seno harus menjamin dirinya sendiri bahwa naratif yang akan “masyarakatnya” baca tanpa teracu pada filmnya pun mandiri sebagai karya yang utuh, tanpa mesti mengkhianati filmnya. Alhasil bagi Seno, menulis dengan kesadaran menghadapi dua golongan pembaca sekaligus seperti itu, menurutnya terasa sebagai tingkat kesulitan tertentu—meski usaha mencari jalan keluarnya (“pengalaman konkret dan pergumulan total”) justru memberikan  bentuk cerita panjang itu sendiri.

Dalam ceramah ini Seno menambahkan, seperti perihal dalam “novel psikologis” yang mempertimbangkan “kewajaran dominan”, maka setiap lajur itu akan berisi karakter-karakter, ataupun karakter, latar, dan banyak lagi aspek yang biasa terdapat  dalam sebuah “novel”, “roman”, atau apapun namanya, yang dalam perjalanan di setiap lajurnya masing-masing, ketika saling terhubungkan membentuk naratif yang utuh sampai jalur berakhir. Dalam cerita panjang di luar “estetika keutuhan” berlaku proses serupa, kecuali bahwa “keutuhan psikologis” tak menjadi tujuannya sedikit pun—sekurangnya sampai jalur berakhir, karena suatu keutuhan dalam simpulan penerimaan.

Dalam menutup ceramahnya, Seno juga kembali mengakui—bahwa komposisi hanyalah sebagian saja dari berbagai dimensi lapisan tak terbatas dalam seni menulis novel, roman, atau apapun namanya. Karena menurut Seno semua itu adalah cerita panjang.

Catatan: naskah sempat dimuat Lampung Post, 16 Oktober 2016

 

Menyoal Kritik (dalam) Sastra

Oleh F. Moses

Pembaca budiman, berpuluh bahkan beratus serta berjuta tak berhingga “tradisi kritik sastra” itu terjadi–maka dalam kehidupan yang “mimesis” ini, saya coba tulis kembali: menyoal kritik sastra.

Kritik sastra setidaknya mampu menunjukkan nilai suatu karya tertentu secara tepat dan cemerlang, meniadakan persoalan-persoalan yang sulit dan rumit meliputi karya tersebut melalui penjelasan, uraian, bahkan penafsiran; diibaratkan sastra mampu menarik bahasa ke dalam wilayahnya—selain mengekspos “kepartikularan” tapi sekaligus strategi wahana untuk menjembatani. Pada perkara lain, menyoal kerumitan-kerumitan yang dimaksud kurang pahamnya pembaca dalam menilai karya sastra, hal ini menyebabkan karya yang dinilai baik pun belum tentu mendapatkan sambutan yang baik pula dari pembaca. Maka dari itu, di sinilah fungsi dari kritik sastra (kalau boleh dikatakan demikian)—apabila seorang kritikus mampu memberikan penjelasan mengenai metafora-metafora tertentu, simbol-simbol tertentu, ataupun makna (pun pemaknaan) di dalam suatu karya sastra tertentu, pembaca tentu mudah memahami karya sastra (sekurangnya terdapat “cara lain” bagi pembaca berproses dalam pendekatannya).

Sebagai misal puisi, mengingat keiintrisikan di dalamnya, salah satunya diksi—merupakan kata atau bila digabungkannya menjadi sebentuk para frasa yang cenderung memberi ruang pemaknaan bagi “tubuh puisi” itu sendiri, bila kata-kata dipilih lalu disusun dengan berbagai cara hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imajinasi estetik, dapat dikatakan itulah diksi puitis; mendapatkan kepuitisan serta mendapatkan nilai estetik. Maka secara langsung bahwa penyair memilih kata-kata dengan secermat-cermatnya. Subtil. Detail berpenuh emosi tenaga-pemikiran estetiknya. Mungkin dapat dianggap juga demikian: penyair sebelum menjalankan misi pencapaian usaha kepuitisan terhadap puisi yang hendak ditunaikan, telah dipertimbangkan sematang mungkin.

Bagi pencitraan puisi, pemberian gambaran yang jelas, untuk memberi suasana yang khusus, membuat (lebih) hidup gambaran dalam pikiran, penginderaan dan juga untuk menarik perhatian, penyair mengembangkan gambaran-gambaran angan (pikiran), selain alat kepuitisan yang lain.

Tak lain dapat dikatakan pula, sumber daya puisi dalam pencapaian kinerja puisi ke dalam pengonkretannya terhadap fenomena “keabstrakan” hendak ditunaikannya, dirasa perlu menggunakan angan-angan serupa perumpamaan; dengan hal itu pengapresiasi mengerti arti kata-kata, yang dalam hubungan ini juga harus dapat mengingat sebuah pengalaman inderaan dari objek-objek yang disebutkan atau diterangkan, atau secara imajinatif membangun semacam pengalaman di luar hal-hal yang berhubungan dari kerja puisi itu sendiri—sehingga kata-kata akan secara sungguh-sungguh berarti kepada kita. Hal itu secara tidak langsung melunakkan pembaca menanggapi perihal pengalaman dalam teks—telah ketersediaan kekayaan imaji tersimpan. Lanjutkan membaca “Menyoal Kritik (dalam) Sastra”

Secangkir Teh: Seno Gumira Ajidarma

DSC01032

Oleh F. Moses

“Bicara sastra atau situasi, seperti anugerah sastra, adalah peristiwa sakral. Jadi bukan untuk main-main kayak acara ‘puber’. Saya taksuka bila sastra dianggap main-main. Bila sastra dianggap main-main, saya taksuka. Makanya, pernah, setiap kali diundang oleh sebuah media tertentu saya tak pernah hadir. Itu lantaran esensi menghargai sastra tak saya dapatkan di sana. Jadi percuma saja!”

Itulah sepenggal percakapan paling saya ingat ketika terlibat obrolan dengan sastrawan bernama Seno Gumira Ajidarma (SGA). Obrolan itu terjadi tatkala acara Penulisan Cerpen Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) yang dihelat oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, di Bandung pada medio 2013.

Dalam percakapan itu, “keberangan” begitu tampak bilamana sastra sekadar dianggap main-main, diremehkan, dan bahkan dianggap keisengan belaka. Bagi SGA, sastra tidak lain adalah keintensitasan serta keseriusan tersendiri. Maka jangan pernah beranggapan main-main terhadap sastra.

“Sastra memang butuh perenungan khusus. Bukan lamunan, apalagi kebohongan belaka. Fakta dilarutkan ke imajinasi pengarang di dalamnya,” kata SGA.

Ia juga menambahkan bahwa (konteks acara sastra) lebih baik sastra itu dikemas/dihelat dengan cara sederhana, tetapi jauh lebih serius di dalamnya. Daripada dikemas dengan kemasan wah, tetapi makna dari sastra taklarut di dalamnya.

“Setidaknya mending pura-pura serius, lah, meski taktahu. Ketimbang sok rileks padahal tak mengerti apa-apa menyoal sastra itu,” tambah doktor sastra lulusan UI ini.

Atas “keseriusan” itu pula dan ditambah konsistensinya di dunia sastra, SGA menerima berbagai macam penghargaan, di antaranya penghargaan (1) dari Radio Arif Rahman Hakim untuk cerpen “Kejadian”, 1997; (2) dari majalah Zaman untuk cerpen ”Dunia Gorda”, 1980; (3) dari majalah Zaman untuk cerpen “Cermin”, 1993; (4) dari harian Kompas untuk cerpen “Midnight Express”, 1990; (5) dari harian Suara Pembaruan untuk cerpen “Segitiga Emas”, 1991; (6) dari harian Kompas untuk cerpen “Pelajaran Mengarang”, 1993; (7) dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk buku Saksi Mata, 1995; penghargaan (8) South East Asia (SEA) Write Award untuk buku Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, 1997; (9) Cerpen “Cinta di Atas Perahu Cadik” terpilih sebagai cerpen terbaik Cerpen Kompas Pilihan 2007; dan (10) cerpen “Dodolitdodolitdodolibret” kembali terpilih sebagai cerpen terbaik Cerpen Pilihan Kompas 2010.

Apabila dilihat dari penghargaan-penghargaan yang diterima, SGA memang lebih dikenal lantaran cerpen-cerpennya. Cerpen-cerpennya dikenal tidak hanya sekadar tegas, jelas, dan kritis, tetapi juga indah dan menyentuh. Meskipun demikian, sastrawan sekaligus dosen, wartawan, dan fotografer yang dilahirkan di Boston pada 19 Juni 1958 ini (dapat dikatakan) sosok “serba bisa” dalam menulis. Ia tak hanya menulis puisi, cerpen, novel, naskah drama, ataupun komik, tetapi juga terbilang produktif menghasilkan karya kritik/esai dan kajian ilmiah yang berhubungan dengan sastra.

Keproduktifan SGA dapat dilihat dalam karyanya yang berupa kumpulan puisi, yakni (1) Mati Mati Mati, 1975; (2) Bayi Mati, 1978; (3) Catatan-Catatan Mira Sato, 1978. Karya berupa kumpulan cerpen, yakni (1) Manusia Kamar, 1988; (2) Matinya Seorang Penari Telanjang, cetakan I tahun 1988, cetakan II tahun 2000 (3) Penembak Misterius, 1993; (4) Saksi Mata, 1994; (5) Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, 1995; (6) Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, 1996; (7) Negeri Kabut, 1996; (8) Atas Nama Malam, 1999; (9) Iblis Tidak Pernah Mati, cetakan I tahun 1999, cetakan II tahun 2001; Kematian Donny Osmond, 2001; (10) Sepotong Senja Buat Pacarku, 2002; Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematianku, 2004; Linguae, 2007.

Karya Seno berupa novel, yakni (1) Jazz, Parfum, dan Insiden, 1996; Wisanggeni Sang Buronan, 2000; Negeri Senja, 2003; Biola Tak Berdawai, 2004; Kitab Omong Kosong, cetakan I tahun 2004, cetakan II tahun 2006; Kalatidha, 2007. Karya kumpulan esai, yakni (1) Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, 1997. Lalu pada karya nonfiksi, yakni Cara Bertutur dalam Film Indonesia: Menengok 20 Skenario Pemenang Citra FFI 1973-1992, 1997. Kemudian, SGA juga menulis naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami?: Tiga Drama Kekerasan Politik, 2001. Karya komik, yakni berjudul (1) Jakarta 2039, 2001; (2) Taxi Blues, 2001; (3) Sukab Intel Melayu: Misteri Harta Centini.

Pada tahun 2009, SGA menerbitkan buku Nagabumi. Buku tersebut merupakan karya Seno Gumira Ajidarma yang disebut sebagai cerita silat. Sampai saat ini (2103) terbit dalam dua jilid, jilid pertama diberi anak judul “Jurus Tanpa Bentuk” dan jilid kedua diberi judul “Buddha, Pedang, dan Penyamun Terbang”.

Selain fiksi, berbagai karyanya yang nonfiksi, antara lain, (1) Layar Kata: Menengok 20 Skenario Pemenang Citra, 1997-1992; (2) Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, 1997; (3) Kisah Mata, 2002; (4) Surat dari Palmerah, 2002; (5) Affair, Obrolan Tentang Jakarta, 2004; (6) Sembilan Wali dan Siti Jenar; dan (7) Kentut Kosmopolitan, 2008.

Pria gondrong yang dibesarkan di Yogyakarta ini pada usia 17 tahun—tepatnya tahun 1975—mulai terlibat dengan kesenian lantaran bergabung dengan rombongan sandiwara Teater Alam pimpinan Azwar AN. Sekala itu pun, tulisan pertamanya yang berupa puisi muncul . Puisi tersebut dimuat dalam rubrik Puisi Lugu dalam majalah Aktuil yang dijaga oleh Remy Silado—Remy meloloskan puisi Seno, yang dia sebut puisi cukup “jelek”. Pada masa itu Remy memang menyuntikkan eksperimen sastra mbeling yang mempengaruhi Seno yang ketika itu mulai meraba-raba dunia sastra. Setelah itu, cerpennya kali pertama dimuat di koran Berita Nasional kemudian esainya yang pertama, menyoal teater, dimuat harian Kedaulatan Rakyat.

“Barangkali sampai hari ini saya tidak akan terus menulis, jika puisi pertama saya tidak dimuat di majalah Aktuil,” kenang SGA, yang sampai sekarang masih menekuni profesi sebagai dosen di kampus UI, wartawan, dan fotografer.

Menyoal mbeling, perjalanan SGA di dunia sastra juga terbilang unik. Sifat “pemberontak” dan keliarannya berujung hingga pada imajinasinya. Imajinasinya seperti tidak terbendung. Terlebih tatkala ia aktif di majalah Jakarta-Jakarta. Betapa segala fakta menyoal Timor-Timur, misalnya, dilarutkan dalam cerpen.

Menyoal kreativitas SGA, Sunu Wasono (dalam Horison, edisi Februari 2008) mencatat bahwa ia adalah seorang penulis yang mempertaruhkan hidupnya untuk setiap kata terbaik yang bisa dicapainya. SGA menghayati setiap detik dan setiap inci dari gerak hidupnya demi gagasan yang hanya mungkin dilahirkan oleh momentum yang dialaminya. Menulis adalah suatu momentum. Tulisan yang dilahirkan satu detik ke belakang atau satu detik ke depan akan lain hasilnya, karena memang ada seribu satu faktor (yang sebenarnya misterius) dalam sebuah kelahiran sebuah tulisan. (GH)

Kawin Massal, Pelecut Cerpenis Baru

Oleh Dian Wahyu Kusuma

Negeri Penyair, begitu julukan Tanah Lada dalam dunia sastra. Tapi bukan berarti Ruwa Jurai miskin cerpenis. Kawin Massal membuktikan Lampung juga tempat berdiam penulis prosa.

BUKU antologi cerpen yang diterbitkan Dewan Kesenian Lampung ini menjadi pembaptis kedua setelah media massa yang menerbitkan cerpen-cerpen di dalamnya. Cerpen yang ditulis enam cerpenis Lampung, F. Moses, Muhammad Amin, Ika Nurliana, S.W. Teofani, Yuli Nugrahani, Yulizar Fadli ini diharapkan mampu melahirkan penulis sastra baru di Lampung.

Demikian yang diharapkan Naqiyah Syam, ketua Forum Lingkar Pena Lampung, saat Bincang Buku Lampung Post, Rabu (8/1), di kantin Lampung Post. Bincang Buku Lampost putaran keempat yang diiringi guyuran hujan ini dihadiri 25 peserta dari berbagai komunitas.

Membahas karya penulis Lampung membuat peserta seolah “pulang” membicarakan diri sendiri. Membincang cerpen Muhammad Amin yang berjudul Empat Potong Warahan Batu begitu sarat dengan nilai lokal, khususnya di daerah Kotaagung di zaman tumbai membuat kita berselancar ke masa lalu di mana zaman masih diliputi mitologi.

Tapi, bagaimanapun sampai saat ini mitologi, minimal dalam cerita-cerita, masih hidup dan subur di masyarakat. Muhammad Amin begitu piawai meracik kata dan cerita sehingga membuat pembaca hanyut dalam alurnya yang runut dan bisa dicerna siapa pun. Bahkan, jika kita ceritakan dengan anak kecil menjelang tidurnya pun akan mudah dinikmati.

Sekalipun demikian, dua karya Muhammad Amin bukanlah karya yang berdasar dongeng belaka, imajinasi penulis begitu lincah di sana. Membuat kita enggan untuk mengakhiri membacanya. Pada cerpen Pemetik Dadi, penulis mengajak kita menikmati suasana kampung di zaman tumbai yang begitu sarat dengan penghormatan terhadap alam. Pada setiap musim yang hadir, dinikmati dengan harmoni, dan menjadi semakin mansyuk dengan hadirnya pemuda pemetik dadi. Meski itu awal nestapa kehilangan yang memilukan.

Cerpenis lain, S.W. Teofani, mewedarkan monolog tokoh perempuan Indonesia R.A. Kartini yang menceritakan tokoh lain Rohana Kudus. Sebuah monolog imajiner yang diwakilkan dalam Bukan Lembar yang Hilang.

Sedangkan F. Moses meneror kita dengan tokoh Kasdi yang tak jua pulang pada hari pernikahannya, karena dia menyiapkan diri untuk menjadi pengantin dalam bentuk lain. Ya, dia memilih menjadi pelaku bom bunuh diri. Sungguh tragis.

Cerpen Ika Nurliana mengangkat kegalauan ibu rumah tangga yang sedang dirundung masalah rumah tangga. Meski dia serapi mungkin menyembunyikannya dari anak-anak, yang terwakilkan dalam Kertas itu Akan Selalu Kosong.

Sedangkan Kampung Kecubung, buah karya Yulizar Fadli, menghantarkan kita ke sebuah kampung dengan kehidupannya yang bersahaja dan tak lepas dari kebiasaan pemudanya yang mengonsumsi minuman memabukkan. Bukan dengan tuak atau dengan minuman oplosan, tapi tanaman kecubung yang bisa membuat orang jadi gila jika tidak tertolong.

Menelisik cerpen ini membuat kita asyik masyuk pada ritme cerita yang berbeda-beda. Peserta Bincang Buku pun berharap kumpulan cerpen ini  menjadi pelecut cerpenis-cerpenis baru bermunculan untuk meramaikan kesusastraan Lampung. (P2)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Januari 2014