Dari Teluk Sampai Tanjung

F. Moses

Dari Teluk Sampai Tanjung

di laut kita pernah memancing
tapi ikan telanjur mahir menyelinap
di antara terumbu karang
“di Teluk ini tanjung masih terlalu garang
bagi si gamang bersitegang tegap di tubuh karang,” bisikmu

kita pun bergegas menafsir waktu
meninggalkan Teluk ke Tanjungkarang
“terlalu ringkih bagi kaki malas beralas,” bisikmu lagi

kaki beralas selalu mampu di Tanjungkarang
kaki telanjang cukup sampai di Tanjung
“Tanjung apa?” katamu.
“Tanjunggarang,” kataku.

2013

Katedral Tanjungkarang II

selalu kurumuskan segala ingatan
atas namaMu
sekadar doa dari lenguh domba dasar jurang
di rumah putih Tanjungkarang

selalu saja kuingat dirimu
selalu saja kukenang sebuah kota
darimu
Tanjungkarang adalah iman bagi puitika

segesit gerak ikan di antara terumbu karang
selesat ingatan seluruh bagi Tanjungkarang
bagi puteraMu seorang
menguatkanku bak batu karang

hari ini masih kubilang
mengingat Tanjungkarang
;musnah segala pedih meski berlancip karang

2013

Kunang-Kunang Kenangan Bakauheuni-Way Kanan

kunang-kunang kenangan melata
landai pandai meliuk di perbukitan tubuhmu
menjawil sepanjang perjalanan
dari kata ke kata
dari kota ke kota
mengitari kenanganmu

kunang-kunang kenangan
jua menjelma seribu frasa
menziarahi lekuk teluk tubuhmu
untuk bersegera di sungai perbukitanmu

girang kutafsir kunang-kunang kenangan
dari lekuk perbukitanmu yang menganga
menampung segala resah
merampungkan segala desah
;dari kota ke kota

di antara tiap lekuk perbukitanmu
adalah kunang-kunang kenangan
;bila malam tiba, kerlipmu menjelma
dari frasa ke frasa
kembali melahirkanmu sebagai kata-kata

2013

Lapangan di Kompleks Gubernuran Telukbetung

selalu kuingat janji kita di lapangan itu
seluas selapang perasaan yang tersusun rapi
kamu bilang begitu
aku bilang begini
;kita yang memang tak pernah sama. Kecuali dalam dusta.

dan kita pun kembali menyusun janji
untuk esok lebih baik
sekadar memberi kabar dan ciuman terakhir paling sempurna
lantas kita sempatkan makan bakso dan minum es teh manis
sebelum ucap mengubah segala pedas dan manis

kamu masih bilang begitu
aku masih bilang begini
kita masih saja tak sama.
Kecuali ingar nafsu

2013

Sumber: Lampung Post, 15 Juni 2014

Fasih

*)F. Moses

Kopi masih panas dan Memet menunggu dingin sebelum menenggak.

“Quot linguas quis callet, tot homines valet”—bunyi tersebut menyiratkan bahwa kefasihan berbicara dalam pelbagai bahasa pertanda keluasan pergaulan seseorang, ckckck. Dari bunyi tersebut, seorang teman bernama Memet, mencoba yakin; betapa memang sungguh fasih lintas komunikasi di negeri 230 juta umat bernama Indonesia. Belum lagi lantaran keberagaman suku maupun dialek yang selalu mampu memicu serta memprovokasi lembaga tertentu untuk kepentingan penambahan perbendaharaan kosakata. Silakan berbangga. Silakan angkat topi. Silakan sekadar bilang menjura, namaste, atau apalah namanya. Pokoknya sila atau silakan.

Atas dasar tersebut Memet pun yakin, bahwa pantaslah bila bahasa Indonesia kian mengemuka di ASEAN (meski tak semendunia Prancis, Rusia, China, Spanyol, dan Arab—sebagaimana diafirmasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai bahasa resmi yang digunakan dalam forum-forum internasional) karena selain digunakan oleh ratusan juta penduduk bagi negerinya, bahasa Indonesia juga dipahami bahkan digunakan bagi masyarakat di negara-negara Asia Tenggara. Terlebih bagi beberapa negara maju di luar Asia Tenggara, seperti Australia, yang sudah memiliki pusat pengajaran bahasa dan kurikulum tentang bahasa Indonesia. Gegapnya lagi, hingga kini sudah 45 negara mengajarkan bahasa Indonesia, di antaranya Australia—di negeri kanguru (kelahiran band grunge bernama Silverchair) tersebut bahasa Indonesia menjadi bahasa populer keempat. Kemudian Amerika, Kanada, dan Vietnam—kalau tak keliru beberapa pedagang di Ho Chi Minh memang mulai bergiat belajar bahasa Indonesia mengingat penjual mesti ngeladeni wisatawan/pekerja Indonesia.

Menyoal perkembangan bahasa Indonesia di Australia, sudah 500 (barangkali saiki udah nambah jadi 504/507, amin) sekolah mengajarkan Bahasa Indonesia. Bahkan mereka (Australia) mengakui kalau anak-anak kelas VI Sekolah Dasar cukup banyak menguasai Bahasa Indonesia. Baiknya lagi, selain Australia, Vietnam (Pemerintah Daerah Ho Chi Minh City) juga mengumumkan bahwa bahasa Indonesia secara resmi pada 2007 menjadi bahasa resmi kedua di negara tersebut. “Selanjutnya adalah tugas kita bersama terhadap bahasa Indonesia: akan semakin kita fasihkan atau kian ‘dijungkirbalikkan’ tak karuan,” tegas Memet.

Kekacauan berbahasa Indonesia memang sudah bukan hal khusus dan khusyuk lagi—saking umumnya, sensibilitas terhadap kekacauan berbahasa Indonesia pun “melumpuh”. Terlebih pada banyak papan reklame yang sudah masuk tingkat “stroke”.

Barangkali kita masih ingat, tatkala penyakit bahasa gado-gado cukup ramai (sekali lagi menyoal Indoglish). Biang segala biang tertuju lantaran SBY (kepala negara) yang kerap mencampuradukan bahasa Inggris dalam padato resmi kenegaraan. Padahal, beliaulah yang menandatangani sendiri Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Negara lainnya (selanjutnya disebut Perpres 16/2010). Semoga saja presiden berikut tak membuat kekacauan berbahasa Indonesia yang sama—meski pemakluman datang dari sebagian masyarakat luas bahwa mereka tak terlalu mempermasalahkan perihal Indoglish yang digunakan oleh Presiden SBY. Ironisnya, Menteri Hukum dan HAM dan Pimpinan DPR memberikan pembelaannya: menurut mereka, penggunaan bahasa Inggris tersebut harus dipermaklumkan agar komunikasi dengan para pendengar dapat lebih mudah ditangkap. Duh!

Seorang penulis di blog salah satu jejaring pun, bahkan, pernah menyatakan bahwa ia menyetujui apabila ada komentar yang menyatakan bahwa banyak hal yang lebih penting untuk diurus seperti pemberantasan korupsi dan pengentasan kemiskinan, ketimbang urusan penggunaan bahasa semata. Sungguh, Memet pun berang (bila perlu tak segan mencabut badik) tak setuju atas pernyataan penulis tersebut! Bagaimana dengan Anda?

Kembali pada pernyataan pepatah latin di atas, bahwa interpretasi kefasihan memang mesti diperlukan. Tapi bagi Memet asal dengan beberapa syarat: di antaranya tetap menjunjung tinggi sarana ruang dan waktu tatkala bermain di “lapangan identitas kebahasaan”.

Kopi terlanjur dingin dan Memet kembali memesan.

Catatan: tulisan di atas adaptasi dari sumber tulisan saya-Lampung Post, 21 Mei 2014

 

 

 

Saat Keberanian Tak Lagi Cukup

F. Moses

Suatu hari, pada 8 september 1923, sembilan belas buah kapal pemburu terpedo milik angkatan laut Amerika Serikat, yang keseluruhannya merupakan eskadron kesebelas, belajar dalam satu deretan melalui selat-selat San Fransisco menuju laut terbuka—kapal kebanggan bagi seluruh awak. Terlebih bagi sang kapten: Edward Watson.

Sang kapten, meski satu tingkat di bawah mayor dan satu tingkat di atas letnan, jelas mesti cakap memimpin regunya. Tapi suatu ketika, sang kapten yang sekaligus pelaut kawakan berusia lima puluh tahunan itu, ikhlas dan tak gentar tatkala mereguk tantangan yang menurutnya paling gila; yakni mesti nekat mengomandoi para awak di atas kapal U.S. S. Delphy yang memiliki panjang enam kilometer sebanyak sembilan belas buah kapal. Ditambah lagi, membawa lebih dari lima puluh lima terpedo pemburu yang masih baru sama sekali. Ia belum pernah menerima tugas sepenting itu.

Tugas Sang Kapten jelas, ia mesti membawa kesembilan belas kapal-kapal itu melaui perairan dangkal selat San Fransisco menuju ke lautan dalam, mengubah haluan ke selatan—tepatnya haluan ke sinar menara  suar Point Arguello, memutuskan untuk membelok ke timur masuk selat Santa Barbara, lalu mengarahkan haluan ke tenggara pada pagi harinya untuk memasuki pangkalan angkatan laut San Diego.

Tugas Watson sebagai kapten, andai saja pada zaman sekarang, barangkali jelas mudah. Tapi pada 1923 saat itu, kesulitan bikin putar kepala dan dahi dipaksa tak sadar, mau tak mau, senantiasa mengernyit. Ditambah arus kuat yang tak dapat diperhitungkan dengan tepat sepanjang pantai California lantaran berkali-kali amuk ombak yang berkali-kali memukul badan kapal seperti hendak memaksa keluar dari arahnya, sungguh dibutuhkan nyali seabrek macam sang kapten itu. Alhasil, sang letnan yang menemaninya pun tunduk.

Sikap berani dan nyali setinggi gunung dalam berkeputusan tak memihak mana pun (tak pernah basi untuk dibahas), masih dibutuhkan sampai hari ini hingga waktu tak terhingga. Kala presiden ciut berkeputusan, sang wakil tak mempan memprovokasi, salah satu menteri mesti berani melesakkan ide. Sang gubernur pun mesti menjadi jembatan “bebas hambatan” bagi suara rakyat. terlebih di kala kedatangan bencana sulit ditebak. Bila sang gubernur juga mampat, satunya jalan (barangkali) mesti jujur berterus-terang dan tanpa ragu apalagi malu-malu: mencari pemikir di masyarakat adalah solusi terbaik.

Lantas, bagaimana kalau memang masyarakatnya tak beride? Para ilmuwan pun justru menampakkan kebebalannya lantaran tak punya waktu untuk berbagi? “Barangkali teks puisi. Bukankah ketika politik bengkok lalu puisi bertugas meluruskannya? Seperti dibilang John F. Kennedy,” kata seorang tukang bikin puisi yang sedang malas disebut penyair. “Loh, kok melenceng ke Kennedy segala, ra nggenah ra nyambung!” Sergah temannya seorang pujakesuma alias putra Jawa kelahiran Sumatera.

Baiklah, lagi-lagi memang hidup tak bisa dipukul rata: Watson tetaplah Watson dengan keberaniannya. Presiden hingga jajarannya yang tersebar tetaplah presiden dan segenap jajarannya dengan keberaniannya—jika boleh disebut ada berani dan ada “ayam sayur”. Kemudian, watak masing-masing tetaplah masing-masing. Lantas? Oke, begini saja, sehubung kopi sebentar lagi rampung dari cangkir dan bibir capek untuk bakar rokok lagi, mending kita pensiunkan saja keberanian, lantaran (hari ini) keberanian sudah tak lagi cukup, tapi nekat—terkadang—justru lebih dibutuhkan. Silakan pilih: berani atau nekat.

Sumber: Teras Lampung, 16 Februari 2014

Kota dalam Gambar

20131227_175537F. Moses

SIANG cerlang berpemandangan sepi, ditambah beberapa perempuan dan lelaki, anak delapan tahun itu kembali bergegas keluar rumah untuk melihat langit di hamparan cakrawala. Kala gambar belum terselesaikan. Kala separuh gumpalan awan itu masih diwarnainya cergas dengan pensil hitam.

Kini gambar itu hampir selesai, tetapi aneka peralatan warnanya keburu habis. Maklum, tak hanya ke dalam buku gambar, tetapi juga ruas-ruas dinding di dalam rumah. Hampir semuanya menjadi gambar entah berpenuh warna. Meski demikian, kapan waktu apabila ia mau memajangnya, beberapa gambar yang hampir selesai itu tampak siap untuk dipajang.
Pernah aku bilang padanya agar segera dijadikan hiasan dinding saja biar lebih pantas, tapi ia berkeras melarang karena masih dianggapnya belum selesai. Ya, belum, karena masih diperlukannya tampak gambar matahari yang menangis, air hujan berwarna merah, sungai cokelat keruh, sumur tanpa air, pohon-pohon tanpa daun, dan sebuah gunung yang seolah siap meletus kapan waktu, serta perkelahian antarkelompok, katanya suntuk.

Sejak kejadian aneh menyergap kampung ini, saat penduduk mulai kelimpungan kebingungan, dan anak-anak dalam pengawasan para orang tua yang begitu ketat ketakutan, anak itu tetap tampak bersahaja, hampir separuh hari diisinya dengan menggambar. Hal itu dilakukannya sekuat tenaga, tiada takut waktu lain tersita. Menggambar dan menggambar.

Ia selalu sibuk menggambar, seperti penuh pengembaraan jauh ke dalam angan-anganya. Seperti hujan yang meresapkan air bagi pepohonan untuk mengantarnya ke mana celah-celah akar itu berada. Sering kedua orang tuanya resah, mengapa ia tak berhenti barang beberapa waktu dari aktivitas itu. Sering ditakutinya pula, khawatir kalau ia menderita kelainan. Seperti gila, misalnya. Betapa gawat dan menakutkan menjadi si gila yang tak pernah bisa sembuh. Paling kurang berterima, mereka kerap kesulitan menangkap maksud dari gambar-gambarnya. Seperti tampak tak mengartikan apa-apa. Kecuali berbekas jadi bayangan ketakutan saja.

Untuk kesekian-kalinya, tiap kali pula orang tuanya mesti dipaksa mengomentari warna paling cocok ke dalam gambar-gambarnya.

”Kuning, hijau, ungu, cokelat, atau, ah, terserahmu, Nak.”

”Apa dong paling cocok, Mah?” Katanya merengek.

”Iya apa, Mamah tak tahu.”

”Hitam, betul, kan?” katanya memungkas yakin.

”Loh, kok!”

Mamah tak menyahut. Kecuali menaikkan kedua alisnya. Tampak dahinya mengernyit. Setelahnya mengusap dada. Tampak telapaknya yang halus. Seketika lemas tak habis pikir, menyaksikan sang buah hati menggambar sesuka hati.

Mamah paling takut dengan warna hitam. Masih membekas beberapa tahun lalu, setelah ia menggambar dengan hitam, tak lama berselang, mala pun datang—sebelum akhirnya semua orang mesti mengungsi dengan batin terpaksa. Lantaran perang antarkampung tak bisa dihindari. Juga lantaran banjir pernah menyergap beberapa kampung di sini. Membuat banyak orang memaksa menangisi takdir hidupnya. Memaksa semua manusia bahwa kesembuhan adalah air mata yang saban waktu mesti diteteskan. Semoga bukan lantaran sugesti belaka. Ah, tetapi mengapa hitam ke dalam gambar yang selalu ia pilih.

Ia memang lebih memilih menghibur diri dengan menggambar kala liburan begini, menyempatkan waktu kala tugas-tugas sekolah mulai membosankan. Apalagi ekstrakurikuler yang seperti dipaksakan. Papah menyuruh agar meluangkan waktu sambil membaca, Mamah berpesan untuk bermain saja dengan teman-teman sekampung di dekat rumah, tapi ia lebih memilih menggambar. Ia merasa lebih lepas berekspresi, itu saja. Serasa lebih menyatu dengan warna kesukaannya. Mendaging dari segala ia ciptakan. Selain juga berdarah dan berkeringat atas pesona gambar yang ia buat.

Aku masih tak tahu mengapa ia sedemikian menyukai hitam. Menggambar sawah dan langit yang semestinya hijau dan biru, justru dipilihnya hitam. Pegunungan dengan segala ngarai lembahnya pun hitam. Perbukitan dan segala tubirnya juga hitam. Lalu laut dengan segenap pulau serta pantainya pun hitam. Semoga bukan karena selalu kuceritakan kepadanya, betapa kedatangan mala kadang seperti hantu dalam gelap. Namun, tak kuhubung-hubungkan antara keduanya itu dan hitam. Dan di sini, saat para penduduk begitu ketakutan atas keakraban bencana yang akhir-akhir ini kerap hadir, ia justru bernafsu menggambar. Riang bersahaja membawa imajinasinya ke luar dari lingkaran ketakutan, menerbangkannya cerdik leluasa. Semoga juga hitam tak selalu dekat pada kehirapan kehidupan ini.

”Aku hanya meniru, Pah.”

”Ya sudah, teruskanlah, Nak. Yang kau lakukan dan pilih, itulah warnamu. Dan yang kau lakukan serta bagimu hobi, itulah pekerjaanmu. Tapi jangan pernah melupakan belajar!”

Memang, selain alam yang diwarnainya hitam, anak itu juga mewarnai jalan raya dan segenap ruas-ruasnya, plaza, permukiman, sekolah, hingga etalase-etalase pertokoan yang tertampak rapi di sepanjang jalanan dengan warna yang sama.

“Bila perlu, sebagian orang-orangnya juga berwarna sama, Pah,” kata si anak sambil menggigit ujung pensil.

Papah tampak menerawang pada bulan dan malam berpenuh bintang. Entah apa dipikirnya. Sebatang dua batang, berlanjut tiga dan empat batang diisapnya. Kepulan tampak membubung tak berhenti dari bibirnya

***

Sepanjang hari Papah dan Mamahnya memang kerap menyaksikan ulah gambaran anaknya itu. Mamah semakin panik. Ia berharap kepada suaminya untuk bersepakat membawa anaknya ke dokter spesialis psikiater anak. Lantaran kesehariannya tak kunjung berubah. Apa-apa segala sesuatunya menggambar dengan satu warna saja, yakni hitam. Tapi Papah dengan tenang hanya mempertanyakan saja niatan istrinya itu.

”Untuk apa?”

”Loh, Papah ini bagaimana, sama sekali tak panik melihat anaknya yang saban hari cuma menggambar dan menggambar. Kapan waktu dia buat belajar,” kata Mamah sambil merengut.

”Kan masih liburan. Memang menggambar bukan belajar?”

”Ya memang. Tapi kan, juga mesti belajar yang lainnya. Atau paling tidak melakukan aktivitas lain juga, kek. Apalagi setiap menggambar selalu diwarnainya hitam. Menakutkan. Seperti tiada warna lain. Lagi pula monoton juga jadinya. Anak-anak, kok, sukanya warna hitam! Perasaan keturunan dari masing-masing kita juga enggak ada yang sedemikian fanatik dengan warna hitam.”

”Hei, sampai hari ini aku juga suka hitam, Mah. Hitam rambutmu yang pertama kali membuatku jatuh cinta kepadamu. Lagi pula, masak Mamah tak tahu, sejak kecil anak kita juga memang sudah suka dengan hitam, kan? Ingat enggak saat ia berumur empat tahun pernah polos bilang kalau Tuhan itu cuma ada di waktu malam saat langit mulai hitam. Terus katanya, pada waktu itulah rumah Tuhan baru terlihat; yakni di dalam bulan.”

”Oh..yayaya, terus kata anak kita bilang bahwa rumahnya Tuhan di bulan ya, Pah. hahaha. Ya, aku ingat betul. Lucu ya, Pah, anak kita itu,” Mamah tertawa.

”Iya, Mah. Iya.”

”Lo, kok, Papah sepertinya malah senang? Tapi, kan, tak berlaku saat usianya mau masuk sepuluh tahun begini. Bagimana kamu ini, Pah. Makanya jangan cuma keasyikan kerja!” kata Mamah bernada ketus.
Mamah langsung sontak tegap bersedekap. Wajahnya berpaling. Bergegas memilih tak melanjutkan topik pembicaraan. Kecuali mendekat ke anaknya yang sedang sibuk menggambar. Lagi-lagi hitam, lirihnya membatin.

***

Kesabaran Mamah memuncak. Terlalu banyak diingatnya segala hal buruk mengenai warna hitam. Mamah masih tak pernah tahu alasan sebenarnya mengapa ia senantiasa menggemari warna itu. Alasan dari dokter pun, menyoal warna kesukaan bagi tiap anak, tentulah berbeda. Meski kecenderungan bagi anak selalu memilih warna yang beraneka ragam.
Meski pun tunggal, setidaknya warna cerah yang kerap dipilih. Meskipun tdak, setidaknya bertahan beberapa hari saja, karena anak-anak juga tak bisa lepas dari kecenderungannya merasakan bosan. Terlebih aktivitasnya, beraneka ragam pula. Tak mesti melulu menggambar.

Meski sebenarnya dirasa tak sabar, Mamah tetap mengikuti petunjuk dokter supaya tetap kembali melakukan pendekatan terbaik kepada anaknya. Sabar adalah obat terbaik, katanya membatin. Maka, selain mengamatinya dari jauh, Mamah mulai kembali untuk tampil di sampingnya. Meski akhirnya keluar juga komentar spontannya. Selain si anak juga spontan mengomentari gambar bagi dirinya sendiri kepada Mamah.

”Ya jangan selalu hitam dong, Nak. Masak seperti enggak ada warna lainnya saja..”

”Enggak ada warna lain, Mah. Oh ya, Mah, lihat nih adek ngegambar seorang perempuan mulai jelas, kan?”

Mamah menggeser tubuhnya. Mendekat sembari merangkulnya. Sesekali mengusap kepala anaknya.

”Tuh, Mah,” kata si anak semangat memperlihatkan selembar kertas pada buku gambarnya. ”Lihat matanya, giginya yang sedang tersenyum, telinganya, dahinya, pipinya, bibirnya, badannya, tangan serta kakinya, adek bubuhkan dengan warna hitam. Bagus, kan?” Si anak semangat menambahkan.

”Cobalah dengan pilihan warna lain, Nak,” kata Mamah sambil menarik napas.

”Enggak, Mah. Warna adek suka cuma satu, hitam. Kecuali baju dan celana yang setiap hari adek pake.”

”Iya…tapi apa indahnya warna hitam itu. Gambar adek yang banyak itu, masak diwarnainya hitam terus. Sampai semuanya serbahitam. Lalu apa indahnya, Mamah pusing tak habis pikir!” kata mamah bernada meninggi. Kesabarannya masih ditahan sekuat tenaga. Mesti bersabar dan sabar. Tidak ada kata lain selain sabar, lirihnya dalam hati.

***

Sepulang Papah dari kantor, di ruang keluarga, istri dan anaknya masih tampak seperti memperdebatkan sesuatu. Lagi dan lagi adalah menyoal warna hitam. Seperti tak ada persoalan lain saja untuk dibahas. Papah bergeming saja, di balik pintu yang sudah setengah terbuka. Membiarkan mereka bercakap.

”Pokoknya Mamah sedih. Titik. Mamah tak mau lagi adek menjadi penyuka hitam, hitam dan hitam!” Kata Mamah yang kesabarannya seperti mulai meredup.

”Tapi adek maunya cuma dengan warna hitam saja, Mah, Terus…”

”Enggak ada tapi-tapian, Nak. Ayolah bekerja sama, jangan bikin kepala Mamahmu ini sakit. Kamu menggambar segalanya dengan hitam. Segala alasan adek juga tak jelas. Pokoknya adek jangan lagi menggambar dengan hitam. Kalau masih, maaf, Mamah terpaksa membuang saja pewarna yang kamu gunakan itu!” Mamah menyergah.

Setelah memotong pembicaraan dengan anaknya, Mamah langsung berdiri untuk berlanjut memilih ke kamar. Baru saja hendak menuju kamar, perlahan langkahnya melambat lantaran anaknya seperti hendak memberikan alasan kepadanya.

”Mamah, pokoknya adek selalu suka dengan hitam, biar enggak kelihatan lagi segala yang membuat dunia ini menangis. Lagi pula, biar rumahnya Tuhan juga kelihatan jelas. Saat langit mulai hitam, bulan dan bintang pun tampak terang benderang. Maukah Mamah membantu adek melihatnya lagi malam ini? Adek mau lihat halaman dan kamar tidurnya Tuhan, Mah.”

Lampung-Jakarta-Bandung, 2012-2013

Sumber: Lampung Post, 2 Februari 2014

Saat Sebuah Cerita Berangkat dari Realitas

Oleh Darojat Gustian Syafaat, penikmat sastra, kini sebagai pengasuh Pusat Pendidikan Islam Al Fatih, Jatimulyo.

20-res.12 kawin massalMEMBACA karya enam cerpenis Lampung yang terhimpun dalam antologi Kawin Massal seperti menelusuri setiap renik yang ada di Tanah Lada ini. Meski tak semua cerpen bernuansa lokal, bagaimanapun isinya mencercap dari segala ruah peristiwa yang terjadi di Ruwa Jurai ini. Menelusuri peristiwa demi peristiwa membuat kita mendapat tiupan energi lain meski kekuatannya tak membahana.

F. Moses menyuguhkan sisi wabah yang mendunia, terorisme, tapi tetap saja tak lepas dari provinsi ini. Karena Lampung diklaim sebagai salah satu tempat aman bagi para pembuat onar tersebut. Moses seperti hendak mengatakan bahwa teroris bagaimanapun sangat mungkin berada di sekeliling kita, bahkan sangat dekat dengan kita.

Ia bahkan bisa merasuk kepada orang-orang yang kita cintai, keluarga, saudara, kekasih, atau sahabat dekat. Dan cerpen Belajar bercerita tentang tokoh fiktif belaka yang di antaranya bernama Kasdi, membuat kita semakin terteror dengan wabah terorisme.

Berbeda dengan cerpen Moses lainnya yang sedikit berbau melankolis dan mengeruk emosi, karena setiap kita pasti mempunyai ibu dan sayang kepadanya. Dan pada di sajak Ibu Namaku Disebut, Moses mengajak kita mengaduk-aduk rasa.

Berbeda dengan Moses, Ika Nurliana menceritakan peliknya rumah tangga saat dilanda kemelut. Ika menjlentrehkan perang bating sepasang suami-istri yang galau, anatar bercerai dan mempertahankan keutuhan rumah tangga. Ini seperti menjadi satir bagi banyaknya kasus perceraian di Lampung khususnya dan Indonesia lebih luas lagi.
Di cerpen lain, Ika mencoba memunculkan fenomena yang banyak terjadi di zaman ini. Seorang adik harus menikah lebih dulu meski kakak perempuannya belum menikah. Hal ini dulu dianggap sebagai tindakan tabu yang tidak pantas. Dan ternyata, di zaman yang banyak menafikan ketabuan, masih ada beberapa gelintir orang yang menjaganya. Meski ongkos semua itu sangat mahal, yaitu nyawa.

Sedangkan Muhammad Amin membawa kita ke zaman lalu, saat mitologi masih begitu subur. Penggalan cerita demi cerita tentang batu yang hidup di masa lalu, dihadirkannya dengan begitu piawai sehingga seperti masih nyata di hari ini. Membacanya membuat kita mencecap kebijaksanaan dari umpu tuyuk orang Lampung.

Begitu pun pada cerpen Pemetik Dadi, M. Amin menguras emosi kita akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang dilambangkan dengan pemuda pemetik dadi. Ya..kita telah kehilangan keindahan, keselarasan, kemasyukan dengan seni budaya agung nenek moyang kita. Tinggallah zaman yang lembap dan riuh dengan seni yang bukan milik kita. Seni yang asing tapi dipaksa memerkosa budaya luhur kita. Meski semula terpaksa, kini generasi baru menikmatinya dan mengganggap miliknya.

S.W. Teofani lain lagi, dengan gaya monolog, dia membuncahkan kesenduan alam yang dihancurkan oleh zaman yang semakin kapitalis. Kearifan lokal dan kesejukan semesta menjadi hal yang tak dihargai. Semua terkalahkan oleh kebijakan pemerintah yang punya pandangan kapitalisme.

Pada ceritanya yang lain, Teofani mencoba mendedah zaman lampau dengan mendeskripsikan gebalau hati R.A Kartini dengan perbandingan pejuang lain  dari Sumatera Barat, Rohana Kudus. Meski monolog imajiner, cerita yang disuguhkannya berdasar fakta sejarah. Sepertinya Teofani ingin mengkritik sejarah secara diam-diam.

Sedangkan Yuli Nugrahani mengangkat masyarakat miskin kota yang  kesulitan untuk mengikuti acara kawin massal. Yuli seperti ingin mempertontonkan realitas pilu di masyarakat perkotaan yang juga terjadi di Tanjungkarang, sebagai kotanya Lampung. Pada cerpen Sebelum Pulang, Yuli pun ingin menyuguhkan realitas kehidupan kini yang serbasibuk, sehingga sulit bagi sebuah keluarga untuk mengurus anggota yang sudah tua sekalipun.

Dengan membaca cerpen Yulizar Fadli, kita dibawa ke sebuah kampung kecubung di mana pemudanya banyak yang mabuk kecubung, sebagai pengganti minuman beralkohol yang digandrungi kaum muda. Yulizar mencoba menyuguhkan realitas kini di mana daerah kampung pun sudah dimasuki obat-obat terlarang, dan masih banyak yang menggunakan tanaman tradisional sebagai pengganti, kecubung.

Pada cerpen penutup, Makam Keramat, Yulizar masih mengajak kita menengok realitas pemuda kamupung yang ingin mendapatkan keinginannya dengan cara cepat. Ya.. mereka tak punya cara lain selain membongkar kuburan China yang konon juga dipendam bersama harta-hartanya yang berlimpah. Tapi berhasilkah mereka? Tidak.
Membaca buku ini membuat kita penasaran, dan membacanya membuat kita mendapat beragam realitas yang dikemas dalam cerita.

 Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Januari 2014

Kawin Massal, Pelecut Cerpenis Baru

Oleh Dian Wahyu Kusuma

Negeri Penyair, begitu julukan Tanah Lada dalam dunia sastra. Tapi bukan berarti Ruwa Jurai miskin cerpenis. Kawin Massal membuktikan Lampung juga tempat berdiam penulis prosa.

BUKU antologi cerpen yang diterbitkan Dewan Kesenian Lampung ini menjadi pembaptis kedua setelah media massa yang menerbitkan cerpen-cerpen di dalamnya. Cerpen yang ditulis enam cerpenis Lampung, F. Moses, Muhammad Amin, Ika Nurliana, S.W. Teofani, Yuli Nugrahani, Yulizar Fadli ini diharapkan mampu melahirkan penulis sastra baru di Lampung.

Demikian yang diharapkan Naqiyah Syam, ketua Forum Lingkar Pena Lampung, saat Bincang Buku Lampung Post, Rabu (8/1), di kantin Lampung Post. Bincang Buku Lampost putaran keempat yang diiringi guyuran hujan ini dihadiri 25 peserta dari berbagai komunitas.

Membahas karya penulis Lampung membuat peserta seolah “pulang” membicarakan diri sendiri. Membincang cerpen Muhammad Amin yang berjudul Empat Potong Warahan Batu begitu sarat dengan nilai lokal, khususnya di daerah Kotaagung di zaman tumbai membuat kita berselancar ke masa lalu di mana zaman masih diliputi mitologi.

Tapi, bagaimanapun sampai saat ini mitologi, minimal dalam cerita-cerita, masih hidup dan subur di masyarakat. Muhammad Amin begitu piawai meracik kata dan cerita sehingga membuat pembaca hanyut dalam alurnya yang runut dan bisa dicerna siapa pun. Bahkan, jika kita ceritakan dengan anak kecil menjelang tidurnya pun akan mudah dinikmati.

Sekalipun demikian, dua karya Muhammad Amin bukanlah karya yang berdasar dongeng belaka, imajinasi penulis begitu lincah di sana. Membuat kita enggan untuk mengakhiri membacanya. Pada cerpen Pemetik Dadi, penulis mengajak kita menikmati suasana kampung di zaman tumbai yang begitu sarat dengan penghormatan terhadap alam. Pada setiap musim yang hadir, dinikmati dengan harmoni, dan menjadi semakin mansyuk dengan hadirnya pemuda pemetik dadi. Meski itu awal nestapa kehilangan yang memilukan.

Cerpenis lain, S.W. Teofani, mewedarkan monolog tokoh perempuan Indonesia R.A. Kartini yang menceritakan tokoh lain Rohana Kudus. Sebuah monolog imajiner yang diwakilkan dalam Bukan Lembar yang Hilang.

Sedangkan F. Moses meneror kita dengan tokoh Kasdi yang tak jua pulang pada hari pernikahannya, karena dia menyiapkan diri untuk menjadi pengantin dalam bentuk lain. Ya, dia memilih menjadi pelaku bom bunuh diri. Sungguh tragis.

Cerpen Ika Nurliana mengangkat kegalauan ibu rumah tangga yang sedang dirundung masalah rumah tangga. Meski dia serapi mungkin menyembunyikannya dari anak-anak, yang terwakilkan dalam Kertas itu Akan Selalu Kosong.

Sedangkan Kampung Kecubung, buah karya Yulizar Fadli, menghantarkan kita ke sebuah kampung dengan kehidupannya yang bersahaja dan tak lepas dari kebiasaan pemudanya yang mengonsumsi minuman memabukkan. Bukan dengan tuak atau dengan minuman oplosan, tapi tanaman kecubung yang bisa membuat orang jadi gila jika tidak tertolong.

Menelisik cerpen ini membuat kita asyik masyuk pada ritme cerita yang berbeda-beda. Peserta Bincang Buku pun berharap kumpulan cerpen ini  menjadi pelecut cerpenis-cerpenis baru bermunculan untuk meramaikan kesusastraan Lampung. (P2)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Januari 2014

Sebuah Kesepakatan Atas Nama Simbol

F. Moses

WaltWhitmanSimbol secara langsung memperkokoh kedigdayaan puisi itu sendiri, seperti kian melegitimasikan bahwa pembaca puisi ialah makhluk cerdas lantaran ketersedian kemampuan (hak otonomi) mengisi ruang interpretasi. Saat kegelisahan melanda bahkan mengancam si penyair, simbol pun menjadi penengah hebat di antara penyair dan pembaca.

15 April 1865, tepat usia ke-54, Lincoln terbunuh. Kematian presiden Amerika Serikat ke-16 tersebut membuat rakyatnya larut dalam duka. Bukan hanya Amerika Serikat, melainkan keseluruhan Amerika. Tapi beberapa waktu setelah kejadian itu, penyair Walt Whitman (1819-1892) pun “terganggu”—imajinasinya seperti tengah diserang puluhan tujahan; ia lantas membuat puisi atas kedukaannya terhadap Lincoln. Maka terbitlah sepuisi berjudul When Lilacs last in the Dooryard Bloom’d.

Puisi Whitman menyoal tanaman lilac yang sedang berbunga pada musim semi, kala saat itu presiden Lincoln terbunuh. Tambah Whitman, kedukaan memang tak lagi melanda keseluruhan Amerika, tapi juga termasuk alam dan binatang yang ada di sana. Bahkan burung hermit thrush pun bak mewakili duka orang-orang dengan menyanyikan lagu yang amat sedih.

Selain kedukaannya yang sangat dalam, Whitman juga mendeskripsikan perdamaiannya dengan kematian melalui lirik lagu dalam puisi ini. Awalnya ia tak dapat menerima kematian, karena kematian sangat membuat orang-orang menderita, terutama orang-orang yang ditinggalkan, namun akhirnya ia menyadari bahwa kematian itu suatu hal yang tak dapat dihindari oleh makhluk hidup. Walaupun puisi ini dipersembahkan untuk Lincoln, namun Whitman juga mempersembahkan puisi ini untuk semua orang, terutama bagi para tentara yang meninggal dalam perang.

Setidaknya ada tiga usaha simbol dalam puisi ini, yaitu lilac, star, dan burung hermit thrush. Ketiga simbol tersebut mengacu pada Abraham Lincoln. Lilac mengacu pada karakter Abraham Lincoln yang baik. Lilac merupakan simbol cinta., sama seperti Lincoln yang memiliki cinta dan dicintai oleh rakyatnya, termasuk Whitman. Star mengacu pada Lincoln sebagai pemimpin dan kepribadian yang hebat dan indah. Ia memimpin Amerika saat perang saudara antara Amerika bagian utara dan selatan, mengakhiri perbudakan, dan berusaha agar negara-negara di Amerika dapat tetap bersatu. Syahdan, burung hermit thrush mengacu pada perjuangan Lincoln untuk mengakhiri perbudakan dan mempertahankan kesatuan negara-negara Amerika.

Atas catatan tersebut, simbol secara langsung memperkokoh kedigdayaan puisi itu sendiri, seperti kian melegitimasikan bahwa pembaca puisi ialah makhluk cerdas lantaran ketersedian kemampuan (hak otonomi) mengisi ruang interpretasi. Saat kegelisahan melanda bahkan mengancam si penyair, simbol pun menjadi penengah hebat di antara penyair dan pembaca.

simbol dengan terang juga mengacu pada kata-kata bermakna ganda (konotatif), sehingga untuk memahaminya seseorang harus “kaya bertafsir” dengan melihat bagaimana hubungan makna kata tersebut dengan makna kata lainnya, sekaligus berusaha menemukan figur konkretnya, mengembalikan kata ataupun bentuk larik (kalimat) ke dalam bentuk yang lebih sederhana lewat parafrase.

Kekuatan Simbol

Sebagaimana Renne Wellek dan Austin Warren menyoal simbol, bahwa simbol juga merupakan suatu istilah  dalam logika, matematika, semantik, semiotik, dan epistemologi; karena itu simbol memiliki sejarah panjang di dunia teotologi; simbol tak lain adalah bak sebuah sinonim dari “kepercayaan”. Simbol semacam perwakilan dari sesuatu yang lain. Seperti simbol “Burung Hitam” karya WS Rendra.

Berikut secontoh sebuah puisi karya W.S. Rendra atas kepiawaiannya mengolah simbol “Burung Hitam” dalam buku Empat Kumpulan Sajak (1961). Simbol yang langsung tampil secara terus-menerus menampilkan dirinya: Burung hitam manis dari hatiku//Betapa cekatan dan rindu sepi syahdu//Burung hitam adalah buah pohonan//Burung hitam di dada adalah bebungaan//Ia minum pada kali yang disayang//Ia tidur di daunan bergoyang//Ia bukanlah dari duka meski si burung hitam//Burung hitam adalah cintaku yang terpendam

Simbol dalam puisi juga dapat berupa kata tugas, kata dasar, maupun kata bentukan—yang selanjutnya simbol dapat dibedakan antara (1) blank symbol, yakni bila simbol itu, meskipun acuan maknanya bersifat konotatif, pembaca tidak perlu menafsirkannya karena acuan maknanya sudah bersifat umum, misalnya “tangan panjang”, “lembah duka”, “mata keranjang”, (2) Natural symbol, yakni bila simbol menggunakan realitas alam, misalnya “cemara pun gugur daun”, “ganggang menari”, hutan kelabu dalam hujan”, dan (3) Private symbol, yakni bila simbol itu secara khusus diciptakan dan digunakan penyairnya, misalnya “aku ini binatang jalang”, “mengabut nyanyian”, “lembar bumi yang fana”. Namun demikian, batas antara private symbol dengan natural symbol dalam hal ini sering kali kabur. Bentuk pengaburan dimaksud lantaran terlalu dekatnya penyair dengan alam (semesta) itu sendiri. Meski demikian tetaplah dapat dikenal antara yang natural dan privat. Kita  dapat mengendeus dari puisi “Celana I” karya Joko Pinurbo, ia kerap bermain dalam ranah privat: seperti “kebersihan diri”, “keaslian diri”. selain itu pada puisi “Tukang Cukur” atas peleksikalan “di kepalaku” bermakna kepala bumi itu sendiri.

Bagaimana dengan Lampung? Saya berani bilang, “simbol liris dan imajis” sangat “merasuk baik” para penyairnya—barangkali kelirisan dan keelokan alamnyalah yang paling bertanggung-jawab. Sebut saja Iswadi Pratama dengan kekhasannya bermain dengan sebuah kenangan bernama Tanjungkarang. Isbedy Stiawan ZS yang kerap seperti terganggu oleh momen puitika laut Telukbetung dan sekitar, Ari Pahala yang pernah dirundung oleh kedalaman sumur; hingga ia pernah mengahadirkan puisi “Sumur Bapak”, Udo Z. Karzi memberikan tawaran estetika baru (usaha tindakan penyelamatan ucap lokal menjadi estetika ingatan sebuah sejarah atau tradisi lisan dalam wahana puisi). Selain itu, Inggit Putria Marga yang menghadirkan “estetika  agraris” ke dalam mantra puisi, Agit Yogi Subandi dengan kelirisan taman/tangkai/kumbang, daun, serta embun pagi hari suasana pedalaman Lampung. Kemudian ada juga Fitri Yani yang sepengamatan saya, ia terganggu oleh gagasan dari sebuah dermaga. Kira-kira demikian sepenggal catatan ingatan saya.

Seturut dikatakan Barthes, bahwa simbol juga merupakan lapangan dari tema, secara tegas simbol menguatkan makna itu sendiri. Simbol membawa rangkaian puisi ke arah tujuan paling estetis, mengkomunikasikan makna, dan penyampaian segala bentuk gagasan. Maka, bermain simbol, secara langsung juga siap bermain dalam ranah “perwakilan makna”. Seyogianya, simbol pun mesti kian menerangkan tubuh puisi; bukan menggelapkan. Apalagi menyesatkan pembacanya. Masih sepatkah kita untuk senantiasa menawarkan simbol dalam wahana puisi?

Sumber: Lampung Post, 13 Oktober 2013