Meneroka Cerpen dan Puisi Penulis Singapura

sg2oleh F Moses

Sungguh, bagi saya merupakan tantangan tatkala membaca kedalaman bagi puisi dan cerpen para penulis Singapura. Namun, mengingat sifat sastra yang selalu terbuka bagi penafsiran, saya memutuskan tafsiran atau keputusan tersendiri. Maka, sehubung sastra senantiasa membuka diri bagi sebuah kemungkinan penafsiran, secara pribadi saya mencoba bersensasi menelusuri ‘pergerakan bagi estetika’ dalam sastra. Menelusupkan jiwa ini ke relung sanubari terhadap masing-masing proses kreatif yang saya baca. Bukankah justru dengan cara seperti itu saya dapat memaknai keindahan yang sedang bekerja dari masing-masing penulis?

Saat saya mengamati ‘dunia sastra’ di Singapura tengah melaju kuat—terlebih antologi para penulis dalam situasi hari kemerdekaan bagi Singapura yang menurut saya justru membuat karya sastra semakin mengalir deras—saya berpendapat itu tepat untuk mengatakan bahwa Singapura tak akan pernah dapat disebut ‘krisis kesusastraan’. Lantas, bagaimana dengan ‘ukurannya’? serta persoalan kedalaman dalam kesusastraan bagi Singapura. Saya beranggap, persoalan ‘ukuran’ bagi kesusastraan di Singapura, dalam hal ini menyorot pada proses kreatif sastrawan dalam periode-periode tertentu; bermula dari angkatan 1950-an (hingga 1965 sebagai periode momentum) juga awal 2000-an, mempunyai daya matang sangat baik—bahwa penulis hari ini masih mampu berkonsisten dalam merajut perkembangan sebuah estetika. Tentu saja kematangan pencarian bagi jati diri cita rasa cerpen dan puisi yang semakin bertenaga sekaligus berenergi untuk senantiasa bersinergi dengan persoalan bangsa.

Ketika saya meneroka laju perpuisian Singapura kali ini, tampak perpuisian sungguh ditentukan oleh aneka prinsip dalam kesatuan yang bersifat multidimensi. Dalam puisi-puisi pendek sekalipun, tampak keanekaan dileburkan untuk menyelamatkan kesatuan; sementara pada puisi-puisi yang panjang, puisi tersebut berusaha sekuat tenaga mencapai kesempurnaannya sebagai puisi tanpa menyerah atau merusak kesatuan. Maka saya sepakat, bila boleh dikatakan demikian, bahwa berhadapan dengan puisi panjang bukan hanya keberhasilan dalam menemukan perpanjangan  mahupun perluasan yang sebenarnya merupakan suatu dimensi yang berkemungkinan, melainkan sebuah keanekaragaman yang berhasil melampaui batas maksimal. Begitulah kurang lebih laju dari sebuah perpuisian.

Kemudian, ketika saya meneroka laju cerpen kali ini, sebuah cerita diberi kebebasan bagi para tokoh rekaan yang diciptakan untuk berkelindan sebebas-bebasnya. Maksudnya, pelbagai dimensi membentuk keutuhan mahupun kesatuannya tersendiri dalam menafsir setiap realitas ke sebuah fiksi. Seperti tak ubahnya imaji yang juga sama dengan kreativitas puisi; cerpen juga dimensi sarat kemungkinan bagi sebuah keragaman yang berpotensi melampaui batas maksimal. Sekiranya demikianlah laju sebuah cerpen. Perlajuan yang dikemudikan para penulis dari keragaman masing-masing lingkungan serta latar belakang  dengan kekuatan kerangka berpikir menuju “garis finish” bernama katarsis.

Lanjutkan membaca “Meneroka Cerpen dan Puisi Penulis Singapura”

Iklan

Bahasa dalam Puisi

F. Moses

Majalah Siasat, 9 Januari 1949, Rosihan Anwar menyiratkan Chairil  Anwar sebagai pelopor dengan membebaskan ikatan bahasa dan bentuk tradisional, maka puisi seperti ambil bagian menjadikan bahasa sebagai alat ujar yang tidak konvensional di wilayahnya. Seperti Sutardji Calzoum Bachri pernah dengan kredonya itu; ‘membebaskan kata-kata dari makna’.

Bahasa dalam puisi merupakan sosok pengemban dua pilihan bagi kebebasan kata-kata tersebut; menjadi sebenarnya (denotasi) atau tidak sebenarnya (konotasi). Meski kedua pilihan itu tetap saja sama-sama berprofesi sebagai bagian dari ‘rumah tangga kata’ yang kerap dimaksimalkan ‘kedalamannya’ oleh siapa pun penulis—tentu saja atas asas pertimbangan bentuk dan pilihan kata—dengan atau tanpa risiko; menanggung keberhasilan atau justru sebaliknya. Atau bisa saja menimbulkan cara terbaru dalam olah rasa bagi gagasan model berbahasa ditawarkan.

Bahasa Indonesia, dalam konteks puisi, bertaruh perkembangannya. Ia menjadi bentuk dan pilihan kata yang akan selalu dimaksimalkan penggunaannya atau ‘boleh diabaikan’ ketika terjadi pergumulan satu kata menjadi banyak arti. Atau satu arti berpotensi banyak kata. Bahkan ketika kata bermain pada konteks ‘pasangan minimal’—istilah fonologi, seperti amin dan aman, ruang dan raung, ibu dan iba, dan seterusnya. Bahasa Indonesia juga dipertaruhkan keberhasilannya terhadap pengonkretan hal-hal yang abstrak. Lanjutkan membaca “Bahasa dalam Puisi”

Aforisme Sastra

F. Moses

Puisi “mengakurasikan ruang bagi ukuran irama di dalamnya”, maka ia laiknya bunyi dari bahasa keseharian manusia “penuh perhitungan”. Tata bahasa dari keragaman kata-kata yang sudah disterilkan dari perlakuan bunyi-bunyi tidak penting. Penuh pemikiran pelbagai isyarat segala tendensi. Barangkali juga ruang harapan segala renik dimaksudnya. Aforisme—bergerak tepat bagi wilayah pemaknaan penikmatnya. Lantas, demikiankah aforisme berpotensi menjadi kesatuan arti yang bulat sekaligus utuh?

Sastra sebagai medium terpenting yang menggunakan sekaligus memberdayakan bahasa, pada akhirnya ialah karya sastra, aforisme menjadi kehadiran persebaran (mungkin juga peleburan) tersendiri berpenuh potensi. Namun ia bisa juga bukan apa-apa, bila kekuatan makna tak menyerap di dalamnya.

Aforisme, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani ‘aphorismos’ dari ‘apo’ dan horizein; suatu ungkapan mengenai doktrin atau prinsip atau suatu kebenaran yang sudah diterima secara umum. Kemudian berujung pada satu penegasan bahwa aforisme harus berupa suatu pernyataan ringkas, tajam, dan mudah diingat, seperti dalam karya Hippocrates yang merupakan etimologi kata aforisme: “Jalan yang sudah licin karena ditapaki adalah jalan yang sudah aman”.

Dalam KBBI, aforisme lebih kurang dimaknakan sebagai pernyataan yang padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum—seperti peribahasa. Sekali lagi, lantas seberapa tangguhkah sekumpulan kalimat dapat dibenarkan kesahihannya menjadi sebuah aforisme? Di sini peran pembaca berperan penting bagaimana ia mengoptimalkan seluruh daya interpretasinya, saya pikir.

Menyoal kedalaman pengertian dari aforisme tidak saya runcingkan lebih lanjut. Maksudnya, barangkali, karena keterlanjuran banyak pengertian dari arti tersebut—seperti halnya adagium juga bersinonim dengan aforisme. Hanya saja, secara umum untuk ditukar-pikirkan saja menyoal aforisme. Artinya lagi, bahwa aforisme (kalau boleh dikatakan) ialah sebarisan beberapa kata yang berpotensi menjadi heroik dalam sebuah karya sastra; prosa maupun puisi. Lanjutkan membaca “Aforisme Sastra”

Menyoal Kritik (dalam) Sastra

Oleh F. Moses

Pembaca budiman, berpuluh bahkan beratus serta berjuta tak berhingga “tradisi kritik sastra” itu terjadi–maka dalam kehidupan yang “mimesis” ini, saya coba tulis kembali: menyoal kritik sastra.

Kritik sastra setidaknya mampu menunjukkan nilai suatu karya tertentu secara tepat dan cemerlang, meniadakan persoalan-persoalan yang sulit dan rumit meliputi karya tersebut melalui penjelasan, uraian, bahkan penafsiran; diibaratkan sastra mampu menarik bahasa ke dalam wilayahnya—selain mengekspos “kepartikularan” tapi sekaligus strategi wahana untuk menjembatani. Pada perkara lain, menyoal kerumitan-kerumitan yang dimaksud kurang pahamnya pembaca dalam menilai karya sastra, hal ini menyebabkan karya yang dinilai baik pun belum tentu mendapatkan sambutan yang baik pula dari pembaca. Maka dari itu, di sinilah fungsi dari kritik sastra (kalau boleh dikatakan demikian)—apabila seorang kritikus mampu memberikan penjelasan mengenai metafora-metafora tertentu, simbol-simbol tertentu, ataupun makna (pun pemaknaan) di dalam suatu karya sastra tertentu, pembaca tentu mudah memahami karya sastra (sekurangnya terdapat “cara lain” bagi pembaca berproses dalam pendekatannya).

Sebagai misal puisi, mengingat keiintrisikan di dalamnya, salah satunya diksi—merupakan kata atau bila digabungkannya menjadi sebentuk para frasa yang cenderung memberi ruang pemaknaan bagi “tubuh puisi” itu sendiri, bila kata-kata dipilih lalu disusun dengan berbagai cara hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imajinasi estetik, dapat dikatakan itulah diksi puitis; mendapatkan kepuitisan serta mendapatkan nilai estetik. Maka secara langsung bahwa penyair memilih kata-kata dengan secermat-cermatnya. Subtil. Detail berpenuh emosi tenaga-pemikiran estetiknya. Mungkin dapat dianggap juga demikian: penyair sebelum menjalankan misi pencapaian usaha kepuitisan terhadap puisi yang hendak ditunaikan, telah dipertimbangkan sematang mungkin.

Bagi pencitraan puisi, pemberian gambaran yang jelas, untuk memberi suasana yang khusus, membuat (lebih) hidup gambaran dalam pikiran, penginderaan dan juga untuk menarik perhatian, penyair mengembangkan gambaran-gambaran angan (pikiran), selain alat kepuitisan yang lain.

Tak lain dapat dikatakan pula, sumber daya puisi dalam pencapaian kinerja puisi ke dalam pengonkretannya terhadap fenomena “keabstrakan” hendak ditunaikannya, dirasa perlu menggunakan angan-angan serupa perumpamaan; dengan hal itu pengapresiasi mengerti arti kata-kata, yang dalam hubungan ini juga harus dapat mengingat sebuah pengalaman inderaan dari objek-objek yang disebutkan atau diterangkan, atau secara imajinatif membangun semacam pengalaman di luar hal-hal yang berhubungan dari kerja puisi itu sendiri—sehingga kata-kata akan secara sungguh-sungguh berarti kepada kita. Hal itu secara tidak langsung melunakkan pembaca menanggapi perihal pengalaman dalam teks—telah ketersediaan kekayaan imaji tersimpan. Lanjutkan membaca “Menyoal Kritik (dalam) Sastra”

Topeng

Cerpen oleh Ema Luthfian, Penggiat di Forum Lingkar Pena (FLP)

“Astagfirullah..” sudah jam tiga. Kenapa tidak ada suara adzan? Muklas tergagap. Cepat-cepat dia mengambil air wudhu. Ia tarik kaos oblong yang tergantung di balik pintu sekenanya. Cepat-cepat ia letakkan kaos oblong dan siap takbiratul ihram untuk menunaikan sholat dzuhur.

Kring..kring..

Handphonenya terus berdering. Muklas masih khusyuk dengan ibadahnya.

Kring..kring..handphone berdering lagi untuk yang kesekian-kalinya. Usai sholat ia membuka kunci handphonenya. Ada Sembilan telepon tak terjawab. Handphone kembali berdering. Lanjutkan membaca “Topeng”