puisi

Puisi di Sulawesi Tenggara

Pembaca budiman, berikut beberapa catatan. Apakah puisi ataukah sajak — tentu saja tanpa tendensi.  Kecuali “etika kontemplatif” , maksudnya lebih kurang dengan sadar penghargaan bagi sebuah imajinasi ialah kelahiran beberapa catatan. Syukur dapat bertukar getar. salam sastraholic

F. Moses

Permintaan Kesaksian

cucuk telunjukmu di luka lambungku

kelak paham aku-kau durikan

semoga mengerti sisa peluh seperti darah di jarimu

seperti menyaksi di Getsemani

kau kenang bertancap paku dari gelisah sempurnamu

kering dahaga dari terik haus

keluh peluh lantang teriak

kau memberiku minum dari kering air di matamu

“sudah selesai,”

kau harap perjamuan kedua kaliku bersamamu

ini puncak keingintahuan

hendak kembali memberi ciuman terakhir bagiku

sebelum heningmu berpura berserah

jauh gegas mencari matahari di malam buta

                                                Lampung-Bekasi, 2013-2015

 

Angin

 gusar busar lempung ulu cakrawala

tunggang-langgang bogkah pinus

lebam terompah susut kerongkongan langit

munajat kudus bepergian diutus

ruku-ruku selasih mengerjap

puji namamu

dalam bapa, putera, serta ruh bertiup

getar kidung bercengkeram mazmur

pupus ambang

musnah mambang

sepasukan tinggi ke rendah

khatam bukit angin pukul tiga sore

                             Jakarta-Bekasi, 2011-2015

Kerajaan Puisi

ingar cahaya menukik

kelindan rambat pagar dada

tujah rasuk rusuk kata

santun sigap bentuk kerajaan kata-kata

 berpuisilah

sebab kerajaan kata-kata sudah dekat

cungkil tak biasa di antara gairah

merayakan telanjang kata di tubir kilat

seperti luka manuskrip di negeri fakir tafsir

                             Kepri-Bekasi, 2015

Teluk Kota

Kota berpeluh cahaya

derap rusuh ombak menujah lambungmu

malam menjelma nyanyian pusaka

melelapkan

yang terlahir dari perkara mendaging

“marilah berpuisi kepada semua yang letih, lesu, dan berbeban berat,” demikian nyanyian kotamu

                                                       Maluku, 9/10/14

sumber –Harian Rakyat Sultra, 3 April 2017

Dari Teluk Sampai Tanjung

F. Moses

Dari Teluk Sampai Tanjung

di laut kita pernah memancing
tapi ikan telanjur mahir menyelinap
di antara terumbu karang
“di Teluk ini tanjung masih terlalu garang
bagi si gamang bersitegang tegap di tubuh karang,” bisikmu

kita pun bergegas menafsir waktu
meninggalkan Teluk ke Tanjungkarang
“terlalu ringkih bagi kaki malas beralas,” bisikmu lagi

kaki beralas selalu mampu di Tanjungkarang
kaki telanjang cukup sampai di Tanjung
“Tanjung apa?” katamu.
“Tanjunggarang,” kataku.

2013

Katedral Tanjungkarang II

selalu kurumuskan segala ingatan
atas namaMu
sekadar doa dari lenguh domba dasar jurang
di rumah putih Tanjungkarang

selalu saja kuingat dirimu
selalu saja kukenang sebuah kota
darimu
Tanjungkarang adalah iman bagi puitika

segesit gerak ikan di antara terumbu karang
selesat ingatan seluruh bagi Tanjungkarang
bagi puteraMu seorang
menguatkanku bak batu karang

hari ini masih kubilang
mengingat Tanjungkarang
;musnah segala pedih meski berlancip karang

2013

Kunang-Kunang Kenangan Bakauheuni-Way Kanan

kunang-kunang kenangan melata
landai pandai meliuk di perbukitan tubuhmu
menjawil sepanjang perjalanan
dari kata ke kata
dari kota ke kota
mengitari kenanganmu

kunang-kunang kenangan
jua menjelma seribu frasa
menziarahi lekuk teluk tubuhmu
untuk bersegera di sungai perbukitanmu

girang kutafsir kunang-kunang kenangan
dari lekuk perbukitanmu yang menganga
menampung segala resah
merampungkan segala desah
;dari kota ke kota

di antara tiap lekuk perbukitanmu
adalah kunang-kunang kenangan
;bila malam tiba, kerlipmu menjelma
dari frasa ke frasa
kembali melahirkanmu sebagai kata-kata

2013

Lapangan di Kompleks Gubernuran Telukbetung

selalu kuingat janji kita di lapangan itu
seluas selapang perasaan yang tersusun rapi
kamu bilang begitu
aku bilang begini
;kita yang memang tak pernah sama. Kecuali dalam dusta.

dan kita pun kembali menyusun janji
untuk esok lebih baik
sekadar memberi kabar dan ciuman terakhir paling sempurna
lantas kita sempatkan makan bakso dan minum es teh manis
sebelum ucap mengubah segala pedas dan manis

kamu masih bilang begitu
aku masih bilang begini
kita masih saja tak sama.
Kecuali ingar nafsu

2013

Sumber: Lampung Post, 15 Juni 2014

..dari Beringharjo hingga Hujan di Teras Rumahmu

Pembaca budiman, berikut beberapa puisi sederhana saya tampilkan. Semoga berkenan.

Beringharjo*

aku menunggumu di pasar Beringharjo

bersama nostalgia tak lekang

masih kuingat dan kukenang

dalam sehisap kretek tepat di pelipiran “bangjo”

penyair gelisah

sejumlah orang bercakap tentang kemahsyuran dan penyinyiran sebuah kota

musisi jalanan yang belum malas beraksi

juga beberapa pasang kekasih muda yang merencanakan gaun pengantin dan bertukar buku  dan kaset lama

aku menunggumu di Beringharjo

berkhayal dirimu menggenggam sejumput cerita tentang kabut kaliurang dan

pendaman magma kesetiaan merapi

aku menunggumu di Beringharjo

kelak kita jimpit dan menyimpannya rapi-tepat  di saku ingatan

aku menunggumu di Beringharjo

tepat di bawah awan putih berlangit biru

“Langit seperti permukaan agar-agar,” kelak kubilang padamu

aku menunggumu di Beringharjo

sebentar kita memilih atau sekadar melihat pakaian serta beberapa pernik

untuk membuat makin malas berpulang

*)Pasar tua di Yogyakarta sejak tahun 1758

Yogya 210413

Di Sebuah Bordes

akhirnya kita pun menunggu sinyal kedatangan kereta Bogowonto

“rencana besok kita tiba di suatu kota, di mana ingatan bersiap mengoyak-merajam kenangan penuh seluruh,” katamu

Harusnya kau di sampingku, bersaksi bagi  derit dan sinyal yang terus memusar-melaju derap  waktu

“Kelak kita tak akan pernah mampu melupakan perjalanan ini,” tambahmu lagi, “dan kelak bila kerinduan memanggil, kita pun makin memahami tentang kesembuhan dari menanggung sebuah kenangan

dan kita pun tahu, segala tempuh kita bersama, selagi kau di sampingku; segala ngarai

pun tubir, bukanlah labirin perjalanan ini.Kecuali ingatan, ia adalah kita yang tak akan pernah sanggup untuk saling melupakan

Jakarta-Yogya, 190413

Jelma

segala puisi bagi kemuliaan

sebagaimana kau dan aku pernah tahu

: kita adalah puisi yang menjadi daging

segala frasa di benakmu

ialah kalimat menjelmaku

: “puisi gembira memang obat paling mujarab

tapi semangat patah mengeringkan tulang

                                                                                                            Bandung, 2013

Hujan di Teras Rumahmu

turun kata-katamu rintik-rintik

kamu bilang titik

aku bilang koma

orang tuamu tanda seru

hati kita tanda kutip

tanpa pernah titik dua

            di luar masih tanda tanya

semoga hujan mendinginkan iman puitika kita

amin

                                                                                                            Bandung 2013

Sumber: Lampung Post, 14 Juli 2013

 

 

Puisi-Puisi

Pembaca budiman, berikut beberapa puisi sederhana saya. semoga berkenan.

Di Katedral Tanjungkarang

di tingkap cericit merdu

terbang dari mazmur catatanMu

meniupkan angin

kicaukan ihwal kelahiran

serta kenangan

juga beberapa kisah

dilipat segala peristiwa

atas namaMu dan anak manusia

kudengar kami masih manusia hilang

lenguh domba dasar jurang

                                                                       Tanjungkarang, Juni 2011

Kenangan

sebagaimana kenangan

menjelma kunang-kunang

merdu suaramu terngiang

di tiap sungsang kenangan

sebagaimana batas rindu

menggamit terjal kedalaman

belantara kau dan aku

di rapuh jembatan zaman

sebagaimana kunang-kunang

membawa kenang-kenangan

seperti di atas benang

                     jalan kepadamu

                                     Telukbetung, Januari 2012

Malam di Jalan Thamrin

kabut malam ialah debu beterbangan

kunang-kunang terlahir dari rahim lampu kota

melata dari Permakaman Karet

sebagaimana kata-kata ialah selangkah jurang bagi bahasa

bilamana frasa dan klausa tak lagi bersaudara

kau dan aku tahu sebuah alasan

:kalimat hanyalah bagi kita masing-masing agar selamat

                                                                                         Jakarta, April 2012

Pukul 16.59

:Teater Satu dan kOber

sebentar lagi senja

dan itu sangat berpotensi

merusak kewarasan mencintaimu

dari cara paling benar

                        Merak-Bakauheuni, 2012

sumber: Lampung Post, 27 Januari 2013

Sajak Mesra

Oleh F. Moses

Sajak Sakit

I

Di antara gelas bersisa air putih yang tak lagi hangat, susu steril nestle yang kau beli kemarin di sore pucat; hampir beku disergap dingin pagi.

Tubuhnya masih mengigil memangil-manggil mustahil

Gemeretak giginya sengaja ditahan agar tak bunyi

“Biar tetap sunyi,” katanya

Setidaknya tersisa dua butir penurun rasa panas dan mual

Semoga jauh lebih mampu dari seperti biasa kau memeluknya

Lantas sempatkan bercinta dari panas yang tersisa, meski ia masih tampak kesulitan menahan demam; andai saja kau di sebelahnya

Hanya dua buah buku kusam berkisah  tokoh merah itu, asbak berisi debu dari empat batang rokok mentol, gitar bersenar nilon kendur ditambah copot satu senar, dan tiga charger tampak berserakan

II

Di luar hampir terang

Sepagi ini, kau mengingatkan dirinya dari setetes embun

“Ah, aku masih tak biasa, menikmati segar pagi dari sakit yang belum rampung,” katanya sambil menahan gigil dan beberapa linu pada persendian

Ia pun pergi. Ternyata menahan sakit lebih mesra mengingat-Nya.

Telukbetung 2012

Sajak Mesra

merapal khusyuk lembah paling ngaraimu

tersesat tak tahu jalan pulang

mengendus lekuk ranum tengkukmu

menjawil ingatan pelipiran beranda rumah kenanganmu

menjimpit gerak bulan paling lambatmu

menanti  hadir mesra detak jantung lain

:semesra baca kitab suci

Barangkali ini bernama sejati hidup; mesra itu doa

Yogyakarta 2012

Kepung

sepi mengepung

angin tingkap berlalu

kudengar sedihmu bertalu-talu

kutetak rindu

biar rampung segala cemas

dari resah tunas

tiup satu rindu

kepada kerap

tersergap sula rindumu

seperti rapuh gerak kaki-tangan ikan di antara terumbu karang

: aku menujumu

menebar sejumput rindu

di halaman teratakmu

Kedaton-Telukbetung, 2012

Belajar Mesra

lelaki itu mencangkung

menghadap anak pohon kenangan

yang ditanam setahun lalu

temaram bahu bulan

semilir angin menetak ingatan

tiada sesiapa

ini baru suka nestapa, katanya ringan

dibakar lalu ditarik sehisap

: tiada lebih indah selain belajar mesra dengan sepi

Pelantun Bisa

ia bernyanyi dengan sendu

bagi kekasih malam sunyi berangin sedih

“Ini lagu buatmu, tanda kasih kukalungkan

pada permukaan ranum lehermu.

Biar tergantung selalu dendang rindu di dadamu,” katanya

Lantas menarilah perempuan itu di padang duri

sendiri bak kelebat bintang

membubungkan berahi mesra bagi lelaki sepi

bersarang lantun santun rupa pantun

“Ini lagu kita?” tanya perempuan itu

Lelaki itu tak menjawab

Sumber:  Lampost, 5 Agustus 2012

dari Litani ke Soliter

Pembaca terkasih, berikut puisi -puisi karya F. Moses yang dimuat Lampung Post Minggu, 4 Desember 2011. Semoga berkenan.

Litani Kata

Aku percaya pada satu kata

Frase dan klausa berkuasa

Mencipta langit puisi

Dan akan satu anak kalimat

Judulnya tunggal milik semua

Dikandung dari roh paragraf

Dilahirkan penyair perawan

Yang menderita sengsara

Dalam pemerintahan pembaca tak bernama

Kata wafat dan dimakamkan

Turun ke tempat penantian

Pada hari ketiga bangkit di tubuh pembacanya

Naik ke taman makna

Duduk di sebelah frase dan klausa

Dari situ kata akan datang

Mengadili kalimat yang hidup dan yang mati

Aku percaya akan roh puisi

Kata-katanya tak pelik namun puitis

Persekutuan para penyair puitis

Pengampunan bagi penyempitan makna

Kebangkitan bagi kata yang hilang

Kehidupan kata dalam puisi

Semoga senantiasa menjagamu dari racun waktu

Amin.

Telukbetung, Mei 2011

Makan Malam

Sepiring kita berdua

dua setengah centong nasi sepi

sepotong daging malam

beberapa lauk sisa keramaian

tangan adalah sendok

kaki adalah garpu

sungguh indah makan berdua denganmu

kalau haus tinggal minum air matamu

kau haus juga minum air mataku

kenyang langsung kita tidur

bernyanyi bersama dalam dengkur

kalau kau pusing tinggal masuk mimpiku

kalau aku pusing juga tinggal masuk mimpimu

“Mudah, kan,” kataku

“Kenapa juga makan malam mesti dibikin susah,” katamu

jadi silakan mari makan malam bersama kami

dijamin kenyang seumur jagung

Telukbetung, April—Mei 2011-05-31

Petik Bunga di Taman Rumahmu

jalan-jalan di ranum pipi

buka baju segala lagak mandi hujan

tergelincir di licin leher

tak kuasa terlalu saru mendaki bukit, aku malu

lebih mulia berpintas motong jalan di tengahnya

sasar jalan ke bawah makin malu

petik bunga malam-malam

malah digampar kedua orang tuamu

terancam dibunuh rakyat sekampung

“Ini Timur, Bung,” kata mereka

Telukbetung-Yogyakarta, Mei 2011

Sekolah Malam

“Aku ingin kembali sekolah, Yah,” kata sang anak memelas.

“Kepada siapa? sudah tak mampu membiayaimu, macam-macam toh, tak ada lagi tempat buat orang susah macam kita.”

–“Kepada bulan dan bintang aku belajar, Yah.”

Memang lebih mudah baginya sekolah saat malam, tatkala orang-orang pada merem dan diam; tak ada jeweran apalagi dikte.

Ia melangkah bersama ransel biru berisi dua lembar kertas satu pensil.

Mencatat tujuh bintang dan satu bulan, jauh lebih indah dari kimia fisika, apalagi moral, katanya membatin.

Telukbetung, Juni 2011-06-15

Soliter Gerimis

Di teras rumah, kita pernah bak sepasang gerimis; tak pernah ragu menikam tubuh

Memang terlalu mulia bila bumi tubuhmu adalah pepohonan rindang terlalu bersih

Kau tatap mataku

Aku kembali balas ke matamu. Begitu seterusnya

masihkah perjumpaan ini seperti gerimis paling dingin membatu. Tanpa pernah menyelusup tanah ceruk tubuhmu. Lekuk lengan lekuk pinggul juga paling ngarai tubuhmu.

Sayang kita terlalu bak sepasang gerimis; selalu bersama untuk menyelusup celah-celah kenangan kering. Tanpa pernah menggenang untuk kembali mengenang dari teras rumah masing-masing ingatan yang terlalu gampang melekang.

Kau pilih kemarau

Aku memilih hujan. Begitu seterusnya

Kita memang tak pernah sama. Kecuali dalam dusta

Beranikah kau jujur bak penyair? Setia bermalam menetak kata menjadi sekeping dua keping makna?

Sayang, kau lebih memilih arti ketimbang makna

Sayang, kau lebih mengenal pengartian ketimbang pemaknaan

Terlanjur gawat; kita sama lebih memilih berarti daripada memaknakan arti

Dasar kita gerimis, katamu. Dekat di mata tanpa sesap di hati.

Begitulah kemarin, kita bak sepasang gerimis, kau masih ingat?

Telukbetung, Oktober 2011

 

Sajak-sajak F. Moses

Kisah Semalam

setiap malam meyaksikan matahari pagi dari sebalik punggungmu

berharap kau bilang: selamat pagi kekasih, akulah pagimu

kamulah pagiku, katamu menambah

pagi dari malam berkabut semalaman kita tersesat dalam tragedi

tragedi kebekuan kebersamaan kita senyata payah.

Kecuali sengal napasmu, memacu derak ranjang yang jauh aku kuasai. Berakhir kau menguasaiku, terlebih ranjang ini

selalu kembali kita membakarnya selepas malam bersahutan; dari matahari pagi sebalik punggunggu. Bukan sekadar kembali menghangatkan, melainkan panas tubuhku yang ini kali mampu membakar tubuhmu.

aku hangus, katamu.

Gg Manyar-Telukbetung, Februari 2010

Yang Terjadi

begini jadinya;

kita tak pernah sama

di istana keabadian

berperabot angin, daun, dan pot berakar tanpa pernah menyiraminya

seperti daun berjatuhan tertangkup dengan bibir

seperti lembab pagi jauh bersentuh matahari

seperti tangis bayi pagi hari kehabisan air susu

dari perjalanan terakhir seorang yang selesai menjadi ibu

terlebih seperti kering matamu memerhatikan langkah ini

seolah takkan kembali lagi

dari benak musim yang selalu enggan kita beri nama

;dalam kesetiaan kita bersandiwara di dunia entah ini

Telukbetung-Jakarta, 2010

Depan Gereja Tanjungkarang

mendung menggantung

berdedas hujan tiada henti

bunyi serupa detak kerinduan kita

mengemas cinta

merangkum tanya

mendesah pasrah

betapa puluhan tahun jauh dari sua

kita berkarat lantaran larat

seperti kapal enggan sauh

dalam kota menua dan menahun

kita senantiasa mencari persamaan

:tentang siapa lebih tua dari tubuh dan tembok-tembok itu.

Hening. Bening. Tertampar tanya. Lonceng menggema duabelas kali.

Kau pun tersenyum.

2010, Tanjungkarang

Dari Sebutir Debu

“mataku kerasukan debu,” katamu setelah perjalanan jauh

aku seka matamu. Aku seka keringat di lehermu. Aku tiup matamu.

Dari perjalanan jauh ini

perjalanan kita memang selau dipenuhi berahi.

Berahi api selalu membakar ranjang kita semalaman. Tiada henti. Tiada percuma.

Berahi selalu mengantar api menjadikannya abu, sela penyair tua itu. kata-katanya masih membekas dalam ingatanku.

Sekali waktu, aku melihatmu tak berdaya. Dicumbu berpeluk debu yang sedemikian sengat. Aku hangus dipeluk debu, katamu tadi pagi.

Kau tinggal rangka.

Kecuali kata-katamu, senantiasa kuziarahi di dalam tubuhku.

2010

Wajah Baru di Tahun Baru

“mari kita buka,” katamu.

Berpuluh tahun kita menutupnya.

Kita memang sekumpulan pemalas yang suka jarang membuka. Kecuali mengganda dan gemar melipatgandakannya. Di antara penyihir kita mengelabuinya.

Ah, sebentar lagi tahun baru. Aku ingin buka yang selalu setia menutup wajah ini; topeng

2010

Sumber: Lampung Post, 6 Maret 2010