Laras Bahasa

“Membaca Novel”

F. Moses

Pendekar bahasa bernama Harry Hoijer (1904-1976) berujar—kurang lebih begini: bahasa tak lagi sekadar alat komunikasi, tapi strategi bagi persepsi pembicara menjadi ruang penciptaan dari cara-cara biasa untuk menalarkan buah pengalaman dalam kategori-kategori penting.

Seturut ujaran tersebut, seperti tampak mudah bahasa itu—layaknya rangkaian kereta permainan yang berjalan lurus. Tinggal cara kita membuat kelokan serta latar sekeliling dan stasiun perhentian sesuka hati. Mungkin.

Di negeri ini, sebagaimana kita ketahui, sejak kebebasan bagi media (mungkin lebih khusus pada media lokal) dalam penyampaiannya, bahasa terus melesat—berkembang dalam penciptaan kata maupun frasa-frasa baru bahkan lebih banyak lagi. Sebagaimana kalimat di atas menyoal penciptaan dari cara-cara biasa bagi penalaran buah pengalaman dalam kategori penting, justru etimologi nama maupun kata dasar lain juga menjadi sarat makna dan interpretasi tercipta dari olah bahasa si jurnalis.

Pada media cetak paling umum bagi warga Jakarta yang senantiasa menghadirkan lembaran bergambar—katakanlah, misalnya Warta Kota atau Pos Kota—satu rubrik secara konkret “menghalalkan” cara berbahasanya, sebut saja bagaimana media tersebut (kolom agak “saru) bermain awalan (prefiks) main sikat (asal ucap lalu dicetak).

Bentuk penghalalan tersebut misalnya, pada kata dibooking, dikumbah, diinceng, dan dilajo—khusus pada di-booking itu tercipta dari sebuah kenekatan. Maksudnya, si jurnalis berani memadankan interferensi dari bahasa Inggris. Meski ternyata tetap saja punya tujuan untuk memperhalus wacana tersebut, lantaran semisal menggunakan kata dipesan dianggap berhubungan dengan konteks barang. Jadi, kecenderungan dibooking lantaran dianggap akrab terdengar dalam keseharian. Begitu pula dengan kata yang diserap dari bahasa jawa sebagaimana disebut diatas.

Barangkali itu semua tak lepas dari mudahnya proses keterserapan yang datang bertubi. Satu kata bisa menimbukan banyak arti serta kesamaan. Belum lagi campur tangan penyertaan imbuhan—katakanlah kata benda menjadi kata yang dibendakan dari akhiran ‘an’: siulan, cairan,makanan, serta kuningan. Masih banyak lagi.

Selain itu, “permainan” dalam pembentukan sembarang imbuhan (afiksasi) yang dianggap tepat dan sekenanya. Maksudnya, afiks yang di antaranya prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), dan konfiks (gabungan prefiks dan sufiks) membuat kata menjadi sarat interpretasi. Kita sebut saja “massa”—tentu sudah tak asing lagi terdengar istilah “dimassa”; awalan ‘di’ tersebut seperti kian mengonktretkan bahwa tak perlu lagi terjadi penjelasan tentang terjadinya bentuk pemukulan, penendangan, penonjokan, penghantaman, maupun penganiayaan—itu semua menjadi konkret atas perwakilan “dimassa”.

Selanjutnya, kecenderungan afiksasi kadang memberi “pelayanan makna” tersendiri. Maksudnya, penempelan imbuhan tak lazim sebagaimana biasa, saya rasa inilah sikap atas cara-cara biasa untuk menalarkan buah pengalaman menjadi begitu penting meski terdengar sepele: bagaimana semisal persilangan prefiks-sufiks seperti “dijadikan”, “dikuatkan”, dihancurkan”, dilemahkan, dikhianatkan”, dan sebagainya—juga bisa menjadi “dinovelbaswedankan”.

Atas penggabungan afiksasi baru tersebut, sebagian masyarakat pemerhati pun (barangkali) bakal bertafisir: “Oh, itu, kan, sosok orang yang kembali disoalkan atas peristiwa 11 tahun lalu. Ia ditangkap serta ditahan tanpa kesesuaian aturan yang berlaku.”

sumber: 27 Juni 2015

Iklan

Fasih

*)F. Moses

Kopi masih panas dan Memet menunggu dingin sebelum menenggak.

“Quot linguas quis callet, tot homines valet”—bunyi tersebut menyiratkan bahwa kefasihan berbicara dalam pelbagai bahasa pertanda keluasan pergaulan seseorang, ckckck. Dari bunyi tersebut, seorang teman bernama Memet, mencoba yakin; betapa memang sungguh fasih lintas komunikasi di negeri 230 juta umat bernama Indonesia. Belum lagi lantaran keberagaman suku maupun dialek yang selalu mampu memicu serta memprovokasi lembaga tertentu untuk kepentingan penambahan perbendaharaan kosakata. Silakan berbangga. Silakan angkat topi. Silakan sekadar bilang menjura, namaste, atau apalah namanya. Pokoknya sila atau silakan.

Atas dasar tersebut Memet pun yakin, bahwa pantaslah bila bahasa Indonesia kian mengemuka di ASEAN (meski tak semendunia Prancis, Rusia, China, Spanyol, dan Arab—sebagaimana diafirmasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai bahasa resmi yang digunakan dalam forum-forum internasional) karena selain digunakan oleh ratusan juta penduduk bagi negerinya, bahasa Indonesia juga dipahami bahkan digunakan bagi masyarakat di negara-negara Asia Tenggara. Terlebih bagi beberapa negara maju di luar Asia Tenggara, seperti Australia, yang sudah memiliki pusat pengajaran bahasa dan kurikulum tentang bahasa Indonesia. Gegapnya lagi, hingga kini sudah 45 negara mengajarkan bahasa Indonesia, di antaranya Australia—di negeri kanguru (kelahiran band grunge bernama Silverchair) tersebut bahasa Indonesia menjadi bahasa populer keempat. Kemudian Amerika, Kanada, dan Vietnam—kalau tak keliru beberapa pedagang di Ho Chi Minh memang mulai bergiat belajar bahasa Indonesia mengingat penjual mesti ngeladeni wisatawan/pekerja Indonesia.

Menyoal perkembangan bahasa Indonesia di Australia, sudah 500 (barangkali saiki udah nambah jadi 504/507, amin) sekolah mengajarkan Bahasa Indonesia. Bahkan mereka (Australia) mengakui kalau anak-anak kelas VI Sekolah Dasar cukup banyak menguasai Bahasa Indonesia. Baiknya lagi, selain Australia, Vietnam (Pemerintah Daerah Ho Chi Minh City) juga mengumumkan bahwa bahasa Indonesia secara resmi pada 2007 menjadi bahasa resmi kedua di negara tersebut. “Selanjutnya adalah tugas kita bersama terhadap bahasa Indonesia: akan semakin kita fasihkan atau kian ‘dijungkirbalikkan’ tak karuan,” tegas Memet.

Kekacauan berbahasa Indonesia memang sudah bukan hal khusus dan khusyuk lagi—saking umumnya, sensibilitas terhadap kekacauan berbahasa Indonesia pun “melumpuh”. Terlebih pada banyak papan reklame yang sudah masuk tingkat “stroke”.

Barangkali kita masih ingat, tatkala penyakit bahasa gado-gado cukup ramai (sekali lagi menyoal Indoglish). Biang segala biang tertuju lantaran SBY (kepala negara) yang kerap mencampuradukan bahasa Inggris dalam padato resmi kenegaraan. Padahal, beliaulah yang menandatangani sendiri Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Negara lainnya (selanjutnya disebut Perpres 16/2010). Semoga saja presiden berikut tak membuat kekacauan berbahasa Indonesia yang sama—meski pemakluman datang dari sebagian masyarakat luas bahwa mereka tak terlalu mempermasalahkan perihal Indoglish yang digunakan oleh Presiden SBY. Ironisnya, Menteri Hukum dan HAM dan Pimpinan DPR memberikan pembelaannya: menurut mereka, penggunaan bahasa Inggris tersebut harus dipermaklumkan agar komunikasi dengan para pendengar dapat lebih mudah ditangkap. Duh!

Seorang penulis di blog salah satu jejaring pun, bahkan, pernah menyatakan bahwa ia menyetujui apabila ada komentar yang menyatakan bahwa banyak hal yang lebih penting untuk diurus seperti pemberantasan korupsi dan pengentasan kemiskinan, ketimbang urusan penggunaan bahasa semata. Sungguh, Memet pun berang (bila perlu tak segan mencabut badik) tak setuju atas pernyataan penulis tersebut! Bagaimana dengan Anda?

Kembali pada pernyataan pepatah latin di atas, bahwa interpretasi kefasihan memang mesti diperlukan. Tapi bagi Memet asal dengan beberapa syarat: di antaranya tetap menjunjung tinggi sarana ruang dan waktu tatkala bermain di “lapangan identitas kebahasaan”.

Kopi terlanjur dingin dan Memet kembali memesan.

Catatan: tulisan di atas adaptasi dari sumber tulisan saya-Lampung Post, 21 Mei 2014

 

 

 

Bulan Tanpa Huruf ‘H’

oleh F. Moses

Jika penulisannya itu masih mempertahankan keasliannya, berarti kata dan istilah itu masih kita anggap asing sehinga penulisan menggunakan huruf miring, kata Abdul Gafar. Saat ngopi bersama pada suatu pagi.

Sekali lagi menyoal kata ramadan. Ya, penulisan istilah/ kata: ramadan dan ramadhan, masih terjadi. Bukan benar atau salah, apalagi pembenaran, melainkan keliru dan tepat—dalam kapasitasnya yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Karena kata tersebut, dengan maupun tanpa h, tetap satu maknanya.

Memang, kelaziman itu sulit dihilangkan lantaran tulisan yang sudah digunakan selama ini masih dipertahankan. Syahdan, Keinginan kalangan tertentu yang ingin mempertahankan keasliannya sehingga sebuah istilah atau kata yang berasal dari bahasa Arab diucapkan setepat bahasa aslinya. Hal ini, terlebih muncul dari kalangan yang berlatar belakang bahasa Arab atau santri. Akan tetapi, sebagai catatan ingatan, dalam abjad kita, terdapat lima huruf vokal, yaitu a, e, i, o, dan u. Sisanya adalah konsonan sebanyak 21 huruf; keseluruhan (vokal dan konsonan) ada 26 huruf. Dan dalam bahasa kita juga menggabungkan konsonan sebanyak empat pasang, yaitu kh, ng, ny,dan sy.

Selain itu, dalam keseharian, kata serapan bahasa Arab memang tak bisa dihindari. Berujung pada pengetahuan kitalah, tentang bentuk nonbaku dan baku, seperti adzan ’azan’, sholat ’salat’ azas ’asas’, ashar ’asar’, aqiqah ’akikah’ maupun maghrib ’magrib’ (tentu masih banyak lagi), kita mesti memilih bentuk penulisan setepatnya.

Kembali ke bulan ramadan atau ramadhan, beberapa media cetak maupun elektronik, yang daya jangkau pemasyarakatannya cukup luas, dirasa perlu menimbang bentuk kata yang setepatnya dari bahasa serapan tersebut. Mengingat setiap kata atau istilah yang disajikan, sekurangnya, dapat menjadi acuan bagi pembaca atau pemirsanya.

Kembali mendulang catatan ingatan saja; transliterasi hanya digunakan untuk mengalihhurufkan tulisan Arab ke tulisan Latin (Indonesia). Pada umumnya, penerapan transliterasi itu sesuai dengan kaidah masing-masing, baik kaidah yang digunakan oleh organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, maupun media massa. Yang perlu dipahami adalah bahwa kaidah transliterasi itu tidak lagi digunakan untuk menuliskan kata-kata maupun istilah yang terserap ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, kata misal, pasal, hadir, taat, sabar, izin, dan sahabat tidak lagi ditulis mitsal, patsal (fatsal), hadlir, tha’at, shabar, idzin, dan shahabat. Kata-kata itu tidak lagi kita pandang sebagai bahasa Arab walaupun asal-usulnya berasal dari bahasa Arab. Begitu pula, istilah subuh, zuhur, asar, magrib, Safar, Rabiulawal, Rabiulakhir, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah sudah merupakan istilah agama Islam yang sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia. Penulisannya jelas tidak dilakukan seperti shubuh, dzuhur, ashar, maghrib, Shafar, Rabi’ulawwal, Rabi’ulakhir, Sya’ban, Ramadhan, Syawwal, Dzulkaidah, dan Dzulhijjah.

sumber: Lampung Post, 18-September-2013

Indehoy

indehoy

F. Moses

“Soal indehoy dengan Maharani, cerita Fathanah berbeda dengan versi penyidik. Sumber Tempo di KPK mengatakan penyidik masuk ke kamar Fathanah bersama petugas keamanan hotel yang membawa kunci duplikat….” kutip berita tempo.co beberapa pekan lalu. Menyoal kutipan tersebut, media lain di negeri ini juga (seperti) berbondong membuat berita yang sama. Paling menarik, yakni tatkala menyorot kata/istilah yang terlontar oleh Fathanah dalam berita tersebut: indehoy.

Menyoal kata indehoy, secara umum (sebagaimana kita tahu), kata tersebut berasal dari bahasa Belanda, yakni in de hooi; pembentukan asal dari frasa bahasa Inggris in the hay. Hay berarti jerami. Konon, bahwa orang Belanda, katanya, kalau sedang berduaan (lawan-jenis) paling senang di balik tumpukan jerami.

Masalah kata indehoy (yang memang sudah melejit) di Indonesia, akhir-akhir ini, kian terdengar “asal bunyi” menjadi  makna yang makin tak berjuntrung “mana suka”/arbiter. Rasanya mudah betul bagi pengujar untuk sekadar berucap indehoy. Parahnya, yang bilang begitu, justru seorang dianggap terdidik bagi masyarakatnya. Tapi apa daya, dunia semantik dan semiotika  dalam berbahasa (mungkin) acap mampu saling menggulingkan. Maksudnya, makna menjadi tafsir yang berubah/biasa dalam ranah masyarakat ketika membaca tanda (dalam konteks ini: tanda zaman). Atas tafsir yang berubah tersebut, sebagai contoh, yakni kala terjadinya seorang pasangan (bukan pasutri) berada dalam sebuah kamar yang lantas menganggap dirinya sekadar indehoy saat berduaan, seperti pengakuan seorang Fathanah.

Saya jadi terbesit (mungkin bentukan tawaran), bagaimana kalau lema indehoy dimasukan saja dalam KBBI (atau tesaurus)? Meski lema tersebut hanyalah sebuah kata (dari bahasa) “cakapan”. Tapi persoalannya, kalau indekos (sekonsep dengan home stay—zaman sekarang) bisa, mengapa indehoy tak bisa? Ketimbang tak berjuntrung lalu seenak-udel dalam masing-masing bentukan tafsiran para pengguna bahasa. Entah keseriusan, kebanalan, atau kepongahan.

Atas itu semua, setidaknya, cerita Fathanah, menyoal sekadar indehoy dengan Maharani, secara pragmatik tak akan mampu melenceng seperti pemain bola amatiran: sudah tendangannya melenceng hingga keluar garis, tak mengakui pula kalau dirinya baru saja melakukan kesalahan. Hilirnya bisa ngeblunder, bukan? Kartu kuning bahkan merah dari wasit.

Akhir kata dari saya, tiba-tiba saya jadi teringat teman sastrawan Lampung, Iswadi Pratama, menyoal pilihan kata pada puisi terasa begitu semlohoy. Kocar-kacir sampai buka kamus Indonesia dan daerah, tidak ada. Akhirnya pun terjawab; kata semlohoy tersebut adalah kata bentukan dalam tradisi lisan/pelisanan bagi “orang-orang pinggiran” di seputaran Kaliawi dan Tanjungkarang yang bisa berarti: bahenol, montok, semok, dan sejenisnya. Nah.

sumber: Lampung Post, 19 Juni 2013

Bahasa “Nginggris”

Matraman-20130315-02562oleh F. Moses

Pada suatu hari, sepulang dari kampus di bilangan Depok, bertumpang kereta listrik menuju Gambir, di tengah riuh penumpang mata saya tertuju pada sebuah iklan: “Di kereta bisa sampai jamuran, tapi jangan jamuran saat naik kereta.” Saya mencerna sembari menimang muatan semantik kalimat tersebut—sembari sedikit memaksa, saya jadi sibuk bermain dengan parafrasa atas kalimat tersebut. Maksudnya, mesti menggabung-gabungkan siratan perkiraan atas sederetan tata bahasa tersebut.

Barangkali, seturut saya membahasakannya, kalimat tersebut seolah menyiratkan untuk bilang begini: “di kereta (yang kita tunggu ini—lantaran penyakit transportasi negeri ini adalah ketidakdisiplinan waktu atau ngaret) bisa (membuat/mengakibatkan kita menunggu) sampai jamuran, tapi (asalkan saja) jangan (membuat kita, saya, ataupun kamu menjadi) jamuran saat naik kereta.

Baiklah, saya tak menyoal lebih jauh tentang bahasa iklan; biarlah berjalan sebagaimana terjadi. Hanya saja, peran bahasa yang dapat dikatakan sikap provokasi sebuah produk sebagai penghubung terhadap masyarakatnya, mestilah efektif dan “bertenaga”. Terlebih persoalan logis atau tak logis. Maka, bila perlu kita jangan sampai menanggungkan beban pada kalimat. Maksudnya, jika memang tujuannya tersirat atau sebaliknya, tetap diberikan (perhitungkan) konstruksi unsur dalam sebuah kalimat.

Pada kalimat iklan di atas, saya melihat (atau merasakan) betapa kalimat cukup menanggung beban; suatu beban yang mesti dipikul lantaran subyek yang tak ada (entah tak jelas atau sengaja dielipsiskan—kalaupun elipsis, tak tampak kematangan dalam kalimat itu). Seperti berhadapan dengan kematian sebuah subyek. Lantaran cukup sulit meneroka subyek tertuju dari kalimat tersebut; kita, aku, kamu, atau keretakah? Entah sesiapa yang jamuran.

Syahdan, pada suatu hari berikutnya, bertepatan jelang tahun baru kemarin yang kita rayakan cukup ingar, saya mesti kembali mengerutkan dahi; lantaran jalan protokol berubah sehari menjadi Car Free Day. Saya masih tak paham, lagi-lagi “keinggris-inggrisan”. Tak bermaksud hanyut bergelisah atas kalimat itu, tapi merasa kehilangan. Kehilangan usaha pemaksimalan kosakata (begitu banyak pilihan kata) dalam bahasa Indonesia. Apalah susah sekadar bilang “Hari Tanpa Kendaraan Bermotor”. Atau (mungkin) dengan kalimat bahasa Indonesia yang mungkin jauh lebih tepat.

Ironisnya, jelang sore, saya melihat pada sebuah Pom Bensin cukup megah terpampang sebuah tulisan besar: Fun Free Day. Saya pun mencoba ingin tahu. Mereka bilang atas dasar menyambut tahun baru, mereka ingin melepas kegembiraan dengan bebas. Sebebas-bebasnya. Sebuah hari di mana kita bisa sebebas mungkin untuk bergembira, kata seorang satpam Pom Bensin.

Saya tak tahu,  (mungkin) kadang sebuah maksud terlalu sering mendahului arti, lalu  kalimat kerap terjadi begitu saja. Tanpa sadar. Barangkali silap.

Kembali menyoal Fun Free Day; maksud hati sebuah prosesi terhadap hari bebas nan bergembira—ternyata konotasi dari kalimat itu terlepas dari arti sebenarnya. Lantaran hari bebas bergembira bagi masyarakat asing sana lebih paham, yakni bebas yang artinya tanpa bergembira atau malah hari yang penuh stres.

Sumber: Lampung Post, 13 Februari 2013

Terpeleset Pelesetan

Oleh F. Moses

Suatu ketika, dalam akun twitter @mbahtonno bikin plesetan candanya, bak mengetuk tentang ihwal bahwa plesetan Indonesia berasal dari campuran dua kata Indus dan Nesos; etimologis dari latin/ Yunani.

Indus  ‘Hindia’, lantaran kita terletak di Samudera Hindia. Sementara Nesos ‘pulau’—kalau Nesioi (jamak) berarti kepulauan/ pulau-pulau. Lalu terjadilah penggabungan Indos Nesos, kurang lebih berarti pulau-pulau di Samudera Hindia. Dialek melayu merenyahkan pelafalan Indos Nesos menjadi Indonesia. Kurang lebih begitulah saya mengadaptasi atas akun tersebut.

Persoalan sekarang tak menyoal itu, tetapi sebuah peristiwa berbahasa yang kerap terjadi dalam sensibilitas kehidupan dengan macam lekuk; betapa bahasa kerap disanggah, diagungkan, dikuasai, dimengerti, bahkan bukan lagi diberdayai melainkan diberdayakan untuk kepentingan lain.

Anggaplah tatkala bahasa mesti bersusah payah “ditepuk-tepuk” hingga menimbulkan jauh dari makna sebenarnya. Seperti pesta demokrasi Pilkada pada sebuah tempat di negeri ini beberapa waktu lalu. Kata menjadi macam gaya berbahasa seolah kian magis penuh daya. Barangkali kita semua tahu, meski juga tak semuanya paham. Pemahaman yang tak melulu mesti dimengerti. Tatkala menyoal permainan dalam berbahasa senantiasa kian berubah menjadi “plesetan”.

Ya, sekali lagi, ini kali saya menyebutnya “plesetan” (entah tengah bermain dalam wacana keseriusan atau tak dalam dunia jejaring, BBM-an, atau entah apalagi namanya), seperti keidentikan sosok calon dalam Pilkada waktu lalu: pemimpin satu—kalau boleh dikatakan secara semiotika—dengan “kemeja motif kotak-kotak”, sementara pemimpin satunya lagi dengan “kumisnya”.

Maka terjadilah permainan keironian berbahasa seperti ini: Taplak Meja di TPS, semua bermotif kotak-kotak, tak ada yang bermotif kumis; meja, semua berbentuk kotak, tak ada yang bentuknya kumis; bilik suara juga berbentuk kotak, tak ada yang berbentuk kumis; yang disediakan hanya ‘kotak kotak suara’, tak ada ‘kumis-kumis suara’; makan yang dibagikan nasi kotak, bukan nasi kumis; kue/snack yang dibagikan juga kue kotak, bukan kue kumis; minuman pun lebih banyak teh kotak, tak ada teh kumis; kalau menang pun akan dihibur oleh band Kotak, bukan band Kumis.

Ironisnya, “plesetan” yang terendus muatan eufemisme (gaya dalam berbahasa), berkalimat dalam sebuah cakapan demikian, “Ane jamin foto abang ‘A’ tak akan ada yang rusak, dan kalau pun ada yang berani lubangin foto abang ‘A’, pasti jumlahnya sedikit. Dibanding dengan lubang yang ada di muka foto ‘B’. Ane ajak semua warga yang punya hak pilih dalam Pilkada dua: mari kita tunjukkan kecintaan kita sama abang ‘A’ dengan cara colok dan lubangin foto “B” tepat dimukanye. Hidup abang ‘A’…”.

Betapa terkadang permainan dalam berbahasa itu dahsyat, bukan? Inspiratif juga provokatif. Semoga cukup dalam konteks inspiratif saja. Alhasil, pemaknaan pun tak tercebur kian dalam. Apalagi kalau tak mampu menembus perbatasan logika; antara percaya atau tak, sebaiknya dinalar kembali.

Sumber: Lampung Post, 10 Oktober 2012

Penulis Juga Bersepak Bola

*)F. Moses

Menulis tak ubah bersepak bola; mengatur pola serangan lalu menggocek kata per kata di lapangan kalimat. Menembus gawang retorika untuk menciptakan kedudukan menjadi lebih efektif. Makin bernalar kegramatikalan bahasa tersebut, tajam dan jernihlah usaha si pengujar sebagai pemenang dalam tiap momentum lisan maupun tulisan yang tidak sekadar tegas, jelas, dan kritis, tetapi juga indah.

“Kata” ibarat kesebelasan dan penulis ialah pelatih jika boleh dikatakan demikian. Perbedaannya pun cukup, yakni kehadiran para pemain cadangan. Oleh sebab itu, penulis saya rasa mesti sama kebahagiaanya seperti menjadi pelatih kesebelasan “kata-kata” terhadap pelatih sepak bola sungguhan. Bahkan, penulis jauh lebih banyak memiliki pemain cadangan yang jumlahnya ratusan, ribuan, bahkan lebih dan lebih. Kadang jadi ingin saya bilang betapa luar biasa kerja penulis itu.

Mungkin ada baiknya penulis juga berguru terhadap pelatih sepak bola sungguhan yang baik; bagaimana kemampuan bertaktik jitu dapat meramu pemain inti untuk lebih dahulu turun ke lapangan dan cadangan untuk disimpan sementara. Seperti halnya penulis mesti demikian, menyiapkan cadangan “kata-kata” untuk diturunkan ke lapangan kalimat bila dari sekalimat (beberapa kalimat) sudah dirasakan ada “letih kata” lantaran ia sering dimainkan. Maksudnya, tidak lain untuk menghindari kesamaan ujaran dalam tulisan.

Misalnya, tatkala dalam satu/tiap per kalimat sudah memilih diksi wajah dirasa tidak perlu lagi menggunakan rona, kabut menyertakan pula halimun, kemudian kekuning-kuningan disertakan pula biring. Dari contoh sederhana itu, setidaknya penulis dirasa perlu memilih salah satunya. Itu baru tiga kata, apalagi bila membuka kamus (KBBI) lebih lanjut. Tentu jauh lebih anggun dalam pemberian variasi bentuk pilihan kata. Seperti tidak ubahnya seorang pemahat penulis itu.

Jadi, saya rasa, bila kamu seorang penulis prosa, puisi, esai, reportase, makalah, atau bahkan catatan harian pengantar tidur belaka, “kitab”-mu adalah KBBI. Ya, sekali lagi memang jadi menyoal kamus—selain banyak membaca, tentunya.

Ada banyak orang menulis. Andai “para kata” bisa berujar—anggaplah ia bisa dan kamu mampu mendengarkannya: betapa letih aku ini, kerap kau pakai, bahkan tega kau sepadankan hingga aku terlihat tidak rapi, tepat, dan berkalimat baik/tubuhku menjadi tidak utuh dan fakir makna.

Syahdan, atas hal tersebut, beberapa pemadanan konjungsi acap menjadi lebih sering berperkara karena pemosisiannya tidak tepat, seperti konjungsi syarat yang tidak lagi merapat pada jika, kalau, manakala, andaikata, asal(kan); tujuan pada agar, supaya, dan biar; perlawanan pada walaupun, kendati(pun), biarpun; penyebabab pada sebab, karena, oleh karena; pengakibatan pada maka dan sehingga; cara/alat pada dengan dan tanpa; perbandingan pada seperti, bagaikan, dan alih-alih; penjelasan pada bahwa; lalu kenyataan pada “padahal”.

Kegawalan memang kerap merapat di pelipiran ingatan keseharian kita; terhadap penuaian tradisi lisan maupun tulis. Khususnya tulisan, apapun namanya tatkala tersergap oleh hawa nafsu literer, kala itu pula kita mesti ingat bahkan catat bahwa menjadi pelatih kesebelasan kata-kata di sekeliling bahkan “kitab” acuan amunisi berbahasa kita dalam perlakuannya kadang masih semena-mena. Bahkan arbiter.

sumber: Lampung Post, 4 Juni 2012