Kopi Pagi

Saat Keberanian Tak Lagi Cukup

F. Moses

Suatu hari, pada 8 september 1923, sembilan belas buah kapal pemburu terpedo milik angkatan laut Amerika Serikat, yang keseluruhannya merupakan eskadron kesebelas, belajar dalam satu deretan melalui selat-selat San Fransisco menuju laut terbuka—kapal kebanggan bagi seluruh awak. Terlebih bagi sang kapten: Edward Watson.

Sang kapten, meski satu tingkat di bawah mayor dan satu tingkat di atas letnan, jelas mesti cakap memimpin regunya. Tapi suatu ketika, sang kapten yang sekaligus pelaut kawakan berusia lima puluh tahunan itu, ikhlas dan tak gentar tatkala mereguk tantangan yang menurutnya paling gila; yakni mesti nekat mengomandoi para awak di atas kapal U.S. S. Delphy yang memiliki panjang enam kilometer sebanyak sembilan belas buah kapal. Ditambah lagi, membawa lebih dari lima puluh lima terpedo pemburu yang masih baru sama sekali. Ia belum pernah menerima tugas sepenting itu.

Tugas Sang Kapten jelas, ia mesti membawa kesembilan belas kapal-kapal itu melaui perairan dangkal selat San Fransisco menuju ke lautan dalam, mengubah haluan ke selatan—tepatnya haluan ke sinar menara  suar Point Arguello, memutuskan untuk membelok ke timur masuk selat Santa Barbara, lalu mengarahkan haluan ke tenggara pada pagi harinya untuk memasuki pangkalan angkatan laut San Diego.

Tugas Watson sebagai kapten, andai saja pada zaman sekarang, barangkali jelas mudah. Tapi pada 1923 saat itu, kesulitan bikin putar kepala dan dahi dipaksa tak sadar, mau tak mau, senantiasa mengernyit. Ditambah arus kuat yang tak dapat diperhitungkan dengan tepat sepanjang pantai California lantaran berkali-kali amuk ombak yang berkali-kali memukul badan kapal seperti hendak memaksa keluar dari arahnya, sungguh dibutuhkan nyali seabrek macam sang kapten itu. Alhasil, sang letnan yang menemaninya pun tunduk.

Sikap berani dan nyali setinggi gunung dalam berkeputusan tak memihak mana pun (tak pernah basi untuk dibahas), masih dibutuhkan sampai hari ini hingga waktu tak terhingga. Kala presiden ciut berkeputusan, sang wakil tak mempan memprovokasi, salah satu menteri mesti berani melesakkan ide. Sang gubernur pun mesti menjadi jembatan “bebas hambatan” bagi suara rakyat. terlebih di kala kedatangan bencana sulit ditebak. Bila sang gubernur juga mampat, satunya jalan (barangkali) mesti jujur berterus-terang dan tanpa ragu apalagi malu-malu: mencari pemikir di masyarakat adalah solusi terbaik.

Lantas, bagaimana kalau memang masyarakatnya tak beride? Para ilmuwan pun justru menampakkan kebebalannya lantaran tak punya waktu untuk berbagi? “Barangkali teks puisi. Bukankah ketika politik bengkok lalu puisi bertugas meluruskannya? Seperti dibilang John F. Kennedy,” kata seorang tukang bikin puisi yang sedang malas disebut penyair. “Loh, kok melenceng ke Kennedy segala, ra nggenah ra nyambung!” Sergah temannya seorang pujakesuma alias putra Jawa kelahiran Sumatera.

Baiklah, lagi-lagi memang hidup tak bisa dipukul rata: Watson tetaplah Watson dengan keberaniannya. Presiden hingga jajarannya yang tersebar tetaplah presiden dan segenap jajarannya dengan keberaniannya—jika boleh disebut ada berani dan ada “ayam sayur”. Kemudian, watak masing-masing tetaplah masing-masing. Lantas? Oke, begini saja, sehubung kopi sebentar lagi rampung dari cangkir dan bibir capek untuk bakar rokok lagi, mending kita pensiunkan saja keberanian, lantaran (hari ini) keberanian sudah tak lagi cukup, tapi nekat—terkadang—justru lebih dibutuhkan. Silakan pilih: berani atau nekat.

Sumber: Teras Lampung, 16 Februari 2014

Iklan