cerita pendek

Teror Si Jempal

oleh F. Moses

Pikirannya larut pongah, Jempal masih ke sana kemari seperti hari kemarin. Tampak linglung. Mondar-mandir sepanjang jalan toko buku milikku. Katanya, ia datang untuk mencari tokoh rekaannya yang telah lama hilang. Ia tampak terlihat frustasi. “Ini seperti requem paling gila,” Jempal membatin.

Seorang penjual di sebelah toko milikku selalu mengira Jempal kerasukan bahkan gila teramat sangat. Lantaran tiap bertandang tak pernah membeli buku, hanya melihat-lihat saja. Membuka lembar demi lembar dari buku dikaisnya. Mengamati tiap-tiap sampul. Lalu dibacanya jeli nan teliti tiap baris. Terlebih endorsement pada sampul bagian belakang.

Pernah seorang penjual di sebuah toko buku milikku kesal karena Jempal tak pernah membeli.

“Kerjamu cuma melihat-lihat saja, bikin sumpek lapak bukuku. Kalau tak punya uang lebih, mending tak usah lihat-lihat!”

“Mas-mas, toko sudah mau tutup, silakan keluar atau besok datang lagi,” kata seorang Satpam toko buku ternama.

Jempal tak pernah ambil pusing. Lantaran kepalang tanggung sudah pusing tujuh keliling. Bukan kepalang lantaran memang tak akan pernah mampu mengeluarkan masalahnya sendiri, bahkan obat maupun pil pahit lain yang sanggup menyembuhkannya sekalipun. Kalau sudah mumet begini, Jempal kerap mendamik wajahnya sendiri. Beberapa penjual di sebelah toko milikku, biasanya, cuma nyengir kesal kalau sudah melihat ulah si Jempal.

Paling diingat, hari-hari terakhir menulisnya waktu itu, Jempal memang sedang pusing; seorang tokoh rekaan dari cerita yang tengah dikerjakannya, tiba-tiba minggat dari ceritanya entah ke mana. Menurut sumber entah, sudah berkali-kali Jempal mencari tokoh rekaannya itu tanpa fakir letih; di kolong tempat tidur, balik lemari, atap genting, tiap-tiap pelipiran tong sampah, warung kopi, diskotik, kantor polisi, kelurahan, kecamatan, warung-warung kelontong hingga minimarket, kawasan rumah elit sampai kawasan kumuh, kompleks menteri, rumah-rumah kluster, bahkan bantaran kali ciliwung sampai kanal timur.

**

Sekadar informasi, dua hari lalu, seorang tokoh rekaan dari ceritanya itu bilang kepadaku, “Kalau kamu lagi kesepian, jangan pernah bilang tak punya pekerjaan, ya. Nanti bisa diseret Jempal si penulis itu. Lalu dijadikan tokoh dalam penceritaannya!”

Mendengar cerita tokoh rekaan itu, aku tak habis pikir, kok, begitu bisa seorang tokoh minggat dari pertengahan cerita yang tengah digarap si Jempal. Ah, Ada-ada saja.

Tiba-tiba tokoh rekaan itu menepuk pundakku.

“Hei, ini bukan ada-ada saja, Mas, tapi fakta. Bukan sekadar imajinasi bohong, melainkan sungguhan. Kalau tak percaya, belah saja bagian dadaku dan sekitar kemaluanku ini.” Di hadapan para penjual toko buku, semua orang yang mendengar ceritanya tampak bingung.

Seorang penjual dari toko buku sebelahku juga tak habis pikir; apa ada hidup seorang tokoh apalagi tokoh yang melindap dari rekaan penulisnya.

Lalu tiba saja tokoh rekaan itu juga bilang begini, “Hei, aku bukan tokoh buronan, aku hanya diperalat oleh kekuasaan imajinasi, dasar si Jempal, penulis kurang kerjaan. Kerjanya cuma melamun lalu memperalat para tokoh rekaan, termasuk aku ini!”

**

Sejak kejadian itulah, kampung para penjual toko buku di daerah kami mulai kesal dengan keberadaan si Jempal, kerjaannya menculik. Maksudnya, penulis bernama Jempal acap menculik seseorang lalu dijadikan tokoh rekaan dalam ceritanya. Mulai dari anak yang baru lahir sampai kakek-nenek. Semuanya hampir digarap dengan rapi.

Pak RT di tempat kami tinggal juga pernah sampai ketakutan, lantaran beberapa kali sosoknya dipinjam oleh Jempal.

“Bayangkan saja, baru lagi asik-masyuk menikmati hari Minggu, tiba-tiba seorang tetangga menyodorkan koran hari itu untuk saya baca, tepatnya rubrik cerita. Terus terang, saya tak suka baca cerita di koran. Tapi karena ulah si Jempal, apa daya, emosiku memuncak. Masak ia meminjam nama dan karakterku. Dalam cerita itu aku dibilang tukang kawin, pembual, main judi, keple, bikin onar, bahkan sampai biang kerok suka menyebarkan aliran gelap. Kurang ajar!”

“Terus, Pak RT?”

“Langsung saja ia aku laporkan kepada Pak RW, Pak Lurah, berlanjut ke kantor kepolisian. Aku ingin ia ditahan karena mencemarkan nama baik.”

“Kenapa tak Pak RT langsung pukul saja si Jempal.”

Lah, buat apa. Percuma, dong, kan, sudah ada petugas berwajib.”

Tapi lagi-lagi apa daya, di kepolisian semuanya cuma bisa nyengir lalu pecah suasana pada tertawa. Ujung-ujungnya, karena dipaksa oleh Pak RT, pihak kepolisian cukup merekomendasikan kepadanya agar orang itu diusir dari kompleks perumahannya saja.

**

Di tempatnya yang baru, pada sebuah kontrakan pinggiran kota, Jempal juga makin penuh dengan ancaman. Apalagi di daerahnya itu banyak penjual dan pemilik kios buku, bahkan tempat indekosnya para karyawan-karyawati beberapa toko buku ternama. Semua tahu, ia yang hari-harinya bekerja sebagai tukang bikin cerita. Imbasnya, banyak terjadi penculikan nama dan karakter orang-orang demi kebutuhan cerita. Atau kerjanya hanya mencari-cari lalu membaca buku tanpa pernah mau membeli.

Jempal tetap selalu saja bergeming, masa bodoh dengan itu semua. Intinya, ia justru yang tengah dirundung hari-hari sarat kesedihan lantaran tokoh rekaan paling dicarinya itu masih belum ditemukan. Kepada siapa Jempal mesti bertanya, berkeluh, atau barangkali mesti keberapa kalinya ia sampai membikinkan iklan untuk mencari tokoh rekaannya yang hilang.

Pada suatu malam, tatkala sendirian di rumah, terdengar begitu keras pintu rumahnya diketuk. Saat itu Jempal tengah menyelesaikan cerita yang lain. Tentu saja tanpa tokoh rekaan kesayangannya itu. Jempal tak menghiraukan ketukan itu. Mulai ketukan yang perlahan, keras, semakin keras, hingga terdengar seperti menggedor. Jempal pun membukanya.

Sontak kerah piyama Jempal langsung ditarik, sambil satu tangan mengepal siap meninju. Mata si tokoh itu melotot. Alis tebal si tokoh saling menyatu kuat mengerut. Tanpa ba-bi-bu lagi, tokoh rekaan dari ceritanya itu langsung mendorong tubuh Jempal yang malam itu sedang payah. Parahnya, Jempal nyaris dibunuh; sambil ditelentangkan di atas meja, dengan hunusan pisau ditancapkan tepat di samping mukanya.

Jempal bergidik ketakutan luar biasa. Suasana dini hari pun berubah mencekam sebab hanya mereka berdua.

“Pokoknya kau harus bertanggung-jawab, Jempal sialan, jangan bisanya cuma meminjam tokoh rekaan lain. Urusan kita belum selesai, kau sudah sibuk mencari tokoh yang lain!”

Jempal gemetar tak karuan. Spontan kencing membasahkan celananya. Ia meringkuk di sudut kamar dengan gigi yang masih bergemeletuk cepat. Diraihnya mesin tik sambil tergopoh. Ia hendak kembali menyelesaikan ceritanya. Tapi apa daya, ia pasrah dan pasrah kalau saja tokoh rekaannya itu kembali lagi. Ia mendekati kefrustrasian dan ketakutan begitu gigil.

**

Jempal beraktivitas seperti biasanya, yakni baca koran, menyeruput kopi, dan membakar rokok kretek. Setelah itu bergerilya mencari beberapa tokoh rekaan lain. Jempal kembali menerabas detik ke menit, menit ke jam, jam ke lingkaran hari, hari ke hari membentuk bulan hingga tahun. Jempal ingat, begitu banyak para tokoh rekaan yang meninggalkan dirinya. Bermaksud ingin berjelajah kembali di emperan kios-kios dan toko buku ternama kota ini, hatinya cemas dirundung ketakutan begitu dahsyat. Sebab ia mesti kembali mengais banyak buku lalu mencarinya dalam tiap lembaran.

Jempal juga masih ingat tatkala begitu sarat mengakomodasikan banyak tokoh rekaannya. Tokoh-tokoh itu dibimbing dengan baiknya. Ada tokoh anak-anak yang mampu membeli semua mimpinya, para perempuan dan lelaki bertampang pas-pasan minta dibikin cantik dan tampan seketika, suami yang meminta bisa kawin lagi untuk kesekian kalinya. Begitu pula kisah-kisah para istri yang diminta kelancarannya untuk bisa tetap eksis bersama berondong muda. Bahkan tak jarang politikus gadungan yang memohon kepadanya agar di pertengahan cerita dijadikan politikus serius bertampang meyakinkan di mimbar saat berorasi dengan sebuah massa kelak. Dengan tulus ikhlas Jempal menurutinya.

Akan tetapi, Jempal kian hampa dalam hari-harinya. Di saat frustrasi tak kunjung padam, Jempal justru dicari-cari oleh tokoh rekaan yang kembali menagih janjinya.

Pada suatu hari di tempat Jempal biasa mencari-cari buku, seorang bilang kalau kerabat dari toko buku miliknya dibunuh oleh tokoh rekaan si Jempal. Makanya, akhir-akhir ini menjadi banyak para penjual dan orang-orang yang berurusan dengan buku mulai mencari-cari dirinya. Katanya, Jempal paling bertanggung jawab karena membengkalaikan tokoh-tokoh rekaannya. Tentu saja, cerita dari seseorang itu kian membuat dirinya tunggang-langgang kaki dirasa ingin berlari dan kocar-kacir pikirannya.

**

Sore berhujan, gelegar petir dan dingin merasuk menyusup perlahan ke kepala, membuat bayangan Jempal kian terdesak untuk kembali bersegera menyelesaikan cerita. Tentunya untuk menghindari perkara runyam terhadap tokoh rekaan yang hampir saja merenggut nyawanya. Karena ia tak mau kejadian dibantai apalagi sampai dibunuh oleh tokoh rekaannya sendiri.

“Sudah, Mpal, lebih baik kamu berhenti saja jadi penulis, ketimbang tersiksa macam orang tolol diteror tokoh rekaanmu sendiri!” kata seorang temannya.

Ia bergeming mendengar ucap temannya itu. Baginya inilah puncak nikmat belantara kehidupan tatkala bermain dengan tokoh rekaannya sendiri. Dunia paling membahagiakan. Sejak dulu yang amat paling dicintai. Meski akhir-akhir ini kehidupannya kian terancam lantaran dianggap tak becus mengorganisasikan tokoh itu.

Pada suatu ketika, dalam gelap dini hari, tokoh rekaan itu membangunkan dirinya dengan sebilah pisau.

Jempal kembali tergeragap tak karuan. Meski makin pucat pasi di antara mimpi atau kenyataan, sesuatu mesti kembali ditunaikan, oleh tokoh yang kerap seperti hantu bagi dunia kepenulisannya. Kini, Jempal kembali dibangunkan oleh tokoh itu.

“Ada yang mesti kau tunai, Jempal. Ceritamu belum selesai, selamatkan aku dari kegagalan memimpin negeri ini. Bangun!”

Jakarta-Bandung-Cibinong, 2013-2014

Sumber: Lampung Post, 23 November 2014

Kota dalam Gambar

20131227_175537F. Moses

SIANG cerlang berpemandangan sepi, ditambah beberapa perempuan dan lelaki, anak delapan tahun itu kembali bergegas keluar rumah untuk melihat langit di hamparan cakrawala. Kala gambar belum terselesaikan. Kala separuh gumpalan awan itu masih diwarnainya cergas dengan pensil hitam.

Kini gambar itu hampir selesai, tetapi aneka peralatan warnanya keburu habis. Maklum, tak hanya ke dalam buku gambar, tetapi juga ruas-ruas dinding di dalam rumah. Hampir semuanya menjadi gambar entah berpenuh warna. Meski demikian, kapan waktu apabila ia mau memajangnya, beberapa gambar yang hampir selesai itu tampak siap untuk dipajang.
Pernah aku bilang padanya agar segera dijadikan hiasan dinding saja biar lebih pantas, tapi ia berkeras melarang karena masih dianggapnya belum selesai. Ya, belum, karena masih diperlukannya tampak gambar matahari yang menangis, air hujan berwarna merah, sungai cokelat keruh, sumur tanpa air, pohon-pohon tanpa daun, dan sebuah gunung yang seolah siap meletus kapan waktu, serta perkelahian antarkelompok, katanya suntuk.

Sejak kejadian aneh menyergap kampung ini, saat penduduk mulai kelimpungan kebingungan, dan anak-anak dalam pengawasan para orang tua yang begitu ketat ketakutan, anak itu tetap tampak bersahaja, hampir separuh hari diisinya dengan menggambar. Hal itu dilakukannya sekuat tenaga, tiada takut waktu lain tersita. Menggambar dan menggambar.

Ia selalu sibuk menggambar, seperti penuh pengembaraan jauh ke dalam angan-anganya. Seperti hujan yang meresapkan air bagi pepohonan untuk mengantarnya ke mana celah-celah akar itu berada. Sering kedua orang tuanya resah, mengapa ia tak berhenti barang beberapa waktu dari aktivitas itu. Sering ditakutinya pula, khawatir kalau ia menderita kelainan. Seperti gila, misalnya. Betapa gawat dan menakutkan menjadi si gila yang tak pernah bisa sembuh. Paling kurang berterima, mereka kerap kesulitan menangkap maksud dari gambar-gambarnya. Seperti tampak tak mengartikan apa-apa. Kecuali berbekas jadi bayangan ketakutan saja.

Untuk kesekian-kalinya, tiap kali pula orang tuanya mesti dipaksa mengomentari warna paling cocok ke dalam gambar-gambarnya.

”Kuning, hijau, ungu, cokelat, atau, ah, terserahmu, Nak.”

”Apa dong paling cocok, Mah?” Katanya merengek.

”Iya apa, Mamah tak tahu.”

”Hitam, betul, kan?” katanya memungkas yakin.

”Loh, kok!”

Mamah tak menyahut. Kecuali menaikkan kedua alisnya. Tampak dahinya mengernyit. Setelahnya mengusap dada. Tampak telapaknya yang halus. Seketika lemas tak habis pikir, menyaksikan sang buah hati menggambar sesuka hati.

Mamah paling takut dengan warna hitam. Masih membekas beberapa tahun lalu, setelah ia menggambar dengan hitam, tak lama berselang, mala pun datang—sebelum akhirnya semua orang mesti mengungsi dengan batin terpaksa. Lantaran perang antarkampung tak bisa dihindari. Juga lantaran banjir pernah menyergap beberapa kampung di sini. Membuat banyak orang memaksa menangisi takdir hidupnya. Memaksa semua manusia bahwa kesembuhan adalah air mata yang saban waktu mesti diteteskan. Semoga bukan lantaran sugesti belaka. Ah, tetapi mengapa hitam ke dalam gambar yang selalu ia pilih.

Ia memang lebih memilih menghibur diri dengan menggambar kala liburan begini, menyempatkan waktu kala tugas-tugas sekolah mulai membosankan. Apalagi ekstrakurikuler yang seperti dipaksakan. Papah menyuruh agar meluangkan waktu sambil membaca, Mamah berpesan untuk bermain saja dengan teman-teman sekampung di dekat rumah, tapi ia lebih memilih menggambar. Ia merasa lebih lepas berekspresi, itu saja. Serasa lebih menyatu dengan warna kesukaannya. Mendaging dari segala ia ciptakan. Selain juga berdarah dan berkeringat atas pesona gambar yang ia buat.

Aku masih tak tahu mengapa ia sedemikian menyukai hitam. Menggambar sawah dan langit yang semestinya hijau dan biru, justru dipilihnya hitam. Pegunungan dengan segala ngarai lembahnya pun hitam. Perbukitan dan segala tubirnya juga hitam. Lalu laut dengan segenap pulau serta pantainya pun hitam. Semoga bukan karena selalu kuceritakan kepadanya, betapa kedatangan mala kadang seperti hantu dalam gelap. Namun, tak kuhubung-hubungkan antara keduanya itu dan hitam. Dan di sini, saat para penduduk begitu ketakutan atas keakraban bencana yang akhir-akhir ini kerap hadir, ia justru bernafsu menggambar. Riang bersahaja membawa imajinasinya ke luar dari lingkaran ketakutan, menerbangkannya cerdik leluasa. Semoga juga hitam tak selalu dekat pada kehirapan kehidupan ini.

”Aku hanya meniru, Pah.”

”Ya sudah, teruskanlah, Nak. Yang kau lakukan dan pilih, itulah warnamu. Dan yang kau lakukan serta bagimu hobi, itulah pekerjaanmu. Tapi jangan pernah melupakan belajar!”

Memang, selain alam yang diwarnainya hitam, anak itu juga mewarnai jalan raya dan segenap ruas-ruasnya, plaza, permukiman, sekolah, hingga etalase-etalase pertokoan yang tertampak rapi di sepanjang jalanan dengan warna yang sama.

“Bila perlu, sebagian orang-orangnya juga berwarna sama, Pah,” kata si anak sambil menggigit ujung pensil.

Papah tampak menerawang pada bulan dan malam berpenuh bintang. Entah apa dipikirnya. Sebatang dua batang, berlanjut tiga dan empat batang diisapnya. Kepulan tampak membubung tak berhenti dari bibirnya

***

Sepanjang hari Papah dan Mamahnya memang kerap menyaksikan ulah gambaran anaknya itu. Mamah semakin panik. Ia berharap kepada suaminya untuk bersepakat membawa anaknya ke dokter spesialis psikiater anak. Lantaran kesehariannya tak kunjung berubah. Apa-apa segala sesuatunya menggambar dengan satu warna saja, yakni hitam. Tapi Papah dengan tenang hanya mempertanyakan saja niatan istrinya itu.

”Untuk apa?”

”Loh, Papah ini bagaimana, sama sekali tak panik melihat anaknya yang saban hari cuma menggambar dan menggambar. Kapan waktu dia buat belajar,” kata Mamah sambil merengut.

”Kan masih liburan. Memang menggambar bukan belajar?”

”Ya memang. Tapi kan, juga mesti belajar yang lainnya. Atau paling tidak melakukan aktivitas lain juga, kek. Apalagi setiap menggambar selalu diwarnainya hitam. Menakutkan. Seperti tiada warna lain. Lagi pula monoton juga jadinya. Anak-anak, kok, sukanya warna hitam! Perasaan keturunan dari masing-masing kita juga enggak ada yang sedemikian fanatik dengan warna hitam.”

”Hei, sampai hari ini aku juga suka hitam, Mah. Hitam rambutmu yang pertama kali membuatku jatuh cinta kepadamu. Lagi pula, masak Mamah tak tahu, sejak kecil anak kita juga memang sudah suka dengan hitam, kan? Ingat enggak saat ia berumur empat tahun pernah polos bilang kalau Tuhan itu cuma ada di waktu malam saat langit mulai hitam. Terus katanya, pada waktu itulah rumah Tuhan baru terlihat; yakni di dalam bulan.”

”Oh..yayaya, terus kata anak kita bilang bahwa rumahnya Tuhan di bulan ya, Pah. hahaha. Ya, aku ingat betul. Lucu ya, Pah, anak kita itu,” Mamah tertawa.

”Iya, Mah. Iya.”

”Lo, kok, Papah sepertinya malah senang? Tapi, kan, tak berlaku saat usianya mau masuk sepuluh tahun begini. Bagimana kamu ini, Pah. Makanya jangan cuma keasyikan kerja!” kata Mamah bernada ketus.
Mamah langsung sontak tegap bersedekap. Wajahnya berpaling. Bergegas memilih tak melanjutkan topik pembicaraan. Kecuali mendekat ke anaknya yang sedang sibuk menggambar. Lagi-lagi hitam, lirihnya membatin.

***

Kesabaran Mamah memuncak. Terlalu banyak diingatnya segala hal buruk mengenai warna hitam. Mamah masih tak pernah tahu alasan sebenarnya mengapa ia senantiasa menggemari warna itu. Alasan dari dokter pun, menyoal warna kesukaan bagi tiap anak, tentulah berbeda. Meski kecenderungan bagi anak selalu memilih warna yang beraneka ragam.
Meski pun tunggal, setidaknya warna cerah yang kerap dipilih. Meskipun tdak, setidaknya bertahan beberapa hari saja, karena anak-anak juga tak bisa lepas dari kecenderungannya merasakan bosan. Terlebih aktivitasnya, beraneka ragam pula. Tak mesti melulu menggambar.

Meski sebenarnya dirasa tak sabar, Mamah tetap mengikuti petunjuk dokter supaya tetap kembali melakukan pendekatan terbaik kepada anaknya. Sabar adalah obat terbaik, katanya membatin. Maka, selain mengamatinya dari jauh, Mamah mulai kembali untuk tampil di sampingnya. Meski akhirnya keluar juga komentar spontannya. Selain si anak juga spontan mengomentari gambar bagi dirinya sendiri kepada Mamah.

”Ya jangan selalu hitam dong, Nak. Masak seperti enggak ada warna lainnya saja..”

”Enggak ada warna lain, Mah. Oh ya, Mah, lihat nih adek ngegambar seorang perempuan mulai jelas, kan?”

Mamah menggeser tubuhnya. Mendekat sembari merangkulnya. Sesekali mengusap kepala anaknya.

”Tuh, Mah,” kata si anak semangat memperlihatkan selembar kertas pada buku gambarnya. ”Lihat matanya, giginya yang sedang tersenyum, telinganya, dahinya, pipinya, bibirnya, badannya, tangan serta kakinya, adek bubuhkan dengan warna hitam. Bagus, kan?” Si anak semangat menambahkan.

”Cobalah dengan pilihan warna lain, Nak,” kata Mamah sambil menarik napas.

”Enggak, Mah. Warna adek suka cuma satu, hitam. Kecuali baju dan celana yang setiap hari adek pake.”

”Iya…tapi apa indahnya warna hitam itu. Gambar adek yang banyak itu, masak diwarnainya hitam terus. Sampai semuanya serbahitam. Lalu apa indahnya, Mamah pusing tak habis pikir!” kata mamah bernada meninggi. Kesabarannya masih ditahan sekuat tenaga. Mesti bersabar dan sabar. Tidak ada kata lain selain sabar, lirihnya dalam hati.

***

Sepulang Papah dari kantor, di ruang keluarga, istri dan anaknya masih tampak seperti memperdebatkan sesuatu. Lagi dan lagi adalah menyoal warna hitam. Seperti tak ada persoalan lain saja untuk dibahas. Papah bergeming saja, di balik pintu yang sudah setengah terbuka. Membiarkan mereka bercakap.

”Pokoknya Mamah sedih. Titik. Mamah tak mau lagi adek menjadi penyuka hitam, hitam dan hitam!” Kata Mamah yang kesabarannya seperti mulai meredup.

”Tapi adek maunya cuma dengan warna hitam saja, Mah, Terus…”

”Enggak ada tapi-tapian, Nak. Ayolah bekerja sama, jangan bikin kepala Mamahmu ini sakit. Kamu menggambar segalanya dengan hitam. Segala alasan adek juga tak jelas. Pokoknya adek jangan lagi menggambar dengan hitam. Kalau masih, maaf, Mamah terpaksa membuang saja pewarna yang kamu gunakan itu!” Mamah menyergah.

Setelah memotong pembicaraan dengan anaknya, Mamah langsung berdiri untuk berlanjut memilih ke kamar. Baru saja hendak menuju kamar, perlahan langkahnya melambat lantaran anaknya seperti hendak memberikan alasan kepadanya.

”Mamah, pokoknya adek selalu suka dengan hitam, biar enggak kelihatan lagi segala yang membuat dunia ini menangis. Lagi pula, biar rumahnya Tuhan juga kelihatan jelas. Saat langit mulai hitam, bulan dan bintang pun tampak terang benderang. Maukah Mamah membantu adek melihatnya lagi malam ini? Adek mau lihat halaman dan kamar tidurnya Tuhan, Mah.”

Lampung-Jakarta-Bandung, 2012-2013

Sumber: Lampung Post, 2 Februari 2014

Ode Kota

oleh F. Moses

Cerpen Ode KotaKepadamu yang baik, suatu ketika teman lamaku pernah bilang sesuatu. Malas bagiku mendengar, tapi sehubung dengan sungguh, tak berasa larut juga di tanah pijak ceritanya. Beginilah kisah itu.

Tiba di stasiun sore ini, sontak paman langsung menyalam dan memelukku erat.

“Selamat datang De, selain bekerja katanya juga sekaligus cari jodoh ya? Jangan berharap banyak di kota ini.”

Aku tersentak.

Stasiun riuh dari biasa, tugu tampak kesepian di belantara pencakar langit itu, sungguh tampak tak megah lagi seperti sebelum merantau ke Yogyakarta dulu. Tugu itu, tak bertenaga lagi untuk  menampakkan keseksiannya.

“Ayo, lekas kita naik, sudah jam macet, nih,” ujar Paman.

Dengan dua tas ransel agak kembung kududuk bersama istri baru paman yang baru saja diperkenalkan. Tak sangka, cakap betul paman memilih. Usianya jauh lebih muda, ramah, molek, dan bersih pula.

Sejak kepergian bunga hati paman beberapa tahun silam, tak lama berselang paman memang langsung ke kota. Alasan ada proyek yang mesti dikerjakan. (lebih…)

Seperti Mengisahkan Seorang Lelaki yang Sedemikian Mencintai Senja

Cerpen F. Moses

AKU senantiasa memang melihatnya. Membiarkan penglihatan yang samar-samar ini untuk selalu melihat pada kedua bola mata yang seolah sepasang mata yang entah harus dideskripsikannya seperti apa, sebab tak pernah berhenti untuk melihatku. Seperti teratai yang terjulur untuk memberi sebulir air menetes menjadi air mata kebahagiaan. Aku selalu bertanya padanya, dalam hati yang selalu ingin mencapai suasana hati tak terbatas dalam pikiran maupun perasaan penuh getar antara aku dan dirinya. Entah adakah. Entah sedemikian dahsyatkah. Entah kebahagiankah?

Di laut. Ya, aku tengah berada di laut. Selalu memperhatikan rambutnya yang dibiarkannya tergerai sesuka hati sebab kesetiaan angin selalu mengibas ke mana suka pula kesana ke mari, seperti pendaran masing-masing dari ujung warna pelangi yang entah dari mana masing-masing berpangkal. Benar-benar membuatku mabuk kepayang. Seolah memang tak ada persoalan lain lagi saat aku menjumpainya. Suatu perjumpaan di laut. Hanya laut dan hanya dia yang benar-benar tertangkap oleh mata hatiku. Betapa laut memang selalu memberi perasaan tersendiri. Laut seperti memberi ruang kepada kami setelah berleha-leha dari kitaran jiwa yang letih yang kadang memesona dan tanpa.

Laut benar-benar memberi ruang buat para pejago untuk berfantasi. Sebuah pekerjaan rumah imajinasi terbaik dari semesta untuk ditunai.

Lantas, mengapa aku harus diam. Mengapa aku tak senantiasa menatap wajahnya dalam kegamangan yang akhir-akhir ini hampir mendidih untuk mutlak berperasaan memilikinya? Merengkuhnya sambil memeluk untuk menyatukannya ke jiwaku.

Ah, aku tak sabar untuk segera menggodanya dengan kata-kata sedemikian indah. Laiknya penyair terganggu dari alam imajinasi.

“Kau semakin cantik dan manis saja, Senja? Anggun. Aku selalu tak sanggup melihatmu. Sebab tak tahan. Mana tahan….”

“Ah….”

“Apa?”

“Gombal.”

“Apanya yang gombal? Aku jujur. Kejujuran dari hati paling dalam. Aku ingin memacari kamu, sungguh. Sungguh, Senja. Kalau tak percaya belah saja dadaku ini, ada sebungkus cokelat di dalamnya.”

Prek. Goblok. Matilah kamu kalau aku belah dadamu. Memang dada kamu itu warung pojok yang kayak di ujung gang itu?”

Senja tiba saja meninggalkanku begitu saja. Seperti lempengan matahari senja yang perlahan tenggelam pada ujung laut bergaris tipis tampak kejauhan. Seperti pelangi yang perlahan memudar. Senja berlari dariku. Ah, aku tahu, kebiasaannya memang selalu berlari setelah mendapat pujian, padahal biasa, bukan? Sekuat tenaga aku mengejarnya. Kukejar dan kukejar. Seperti pertengahan seru dalam adegan film India.

Tertangkap.

Dalam pelukan imajinasi lembutku, senja rupanya langsung menangis tiada berhenti. Senja menangis seperti lidah ombak menjilati pantai tiada berhenti. Kami larut di tepian. “Ah, seperti inikah larut hingga ke tepian hati perempuan yang selama ini aku cari?” kataku dalam hati.

Itulah kami. Kami sebagai sepasang kekasih tanpa kejelasan. Tanpa muasal sebenarnya dari mana ihwal kami bermain dalam perasaan cinta, meski kami kekasih. Sebab masyarakat tak akan mampu menerima kami demikian adanya. Makanya, kami lebih memilih di laut untuk selalu bertemu. Sebab aku yakin, cinta kami di sini kelak tiada pernah berkarat apalagi berperih. Pokoknya tiada berkesudahan. Itu pun andai pendaran redup indah senja mampu menerimaku.

Sayangnya, senja tak pernah mampu merasakan dari apa aku rasa. Makanya, aku selalu kembali ke laut setiap sore menjelang senja. Hanya untuk bertemu senja. Meski hampir semua teman banyak anggap aku gila. Demi mengejar senja untuk hidupku. Mungkin juga hidupmu—keseharian dari sore bersenja yang kerap dirimu alpa.

LAIN sekolah lain lautan. Lain ilmu manusia lain ilmu alam. Lain manusia tak berarti lain dari ikan. Aku merapuh tiap selalu kuingat senja; seperti rapuh gerak ikan di antara terumbu karang. Kembali kukejar meski cara pendekatan begini terbilang pongah.

“Senja, marilah kita kembali ke laut.”

Ngapain? Ah, paling untuk kembali merayu aku lagi.”

“Banyak sesuatu untuk kukatakan.”

“Kenapa tak di sini saja…, kan….”

“Karena bukan takdir kita!” sergah Aril.

Senja kembali tertunduk untuk ke sekian kalinya—lalu mereka pun menjadwal waktu.

Di laut segalanya selalu saja mungkin bagiku. Mesti kumiliki Senja yang selama ini banyak direbut. Perebutan terhadap dirinya yang tak hanya dilakukan oleh teman sekelas, tapi juga para guru bahkan, pernah aku dengar, oleh penulis hebat di negeri ini. Ah, ada-ada saja. Kurang kerjaan saja jika sampai separo hidup mesti mengejar senja.

Hmm, ini kali waktu paling tepat. Meski harapan sempat terputus-putus, tapi senja mau kembali menyambagi janjiku. Aku rasa pekerjaan rumah imajinasi terbesar telah terlewati.

***

SESAMPAINYA di laut hanya kekosongan. Masih kutunggu senja muncul perlahan di hadapanku. Betapa senantiasa kuat membayanginya. Betapa butuh kesetiaan paling utuh untuk memilikinya nanti, mungkin, tapi pasti,

Hingga pukul 17.00 lebih senja masih belum datang. Aku memang selalu tak peduli dalam hal menunggu. Karena buatku, kesetian dalam menunggu tak lain dari harapan. Antara ya dan tak. Antara mesti dan tak pasti. Aku tak peduli.

Berhari-hari orang tua Aril mencari sang anak. Dulu di Yogyakarta berulah dan kini di Jakarta juga berulah, seru sang ibu—hingga hari ke hari dan bulan ke bulan tanpa detik waktu tak terpikirkan. Bagimana mungkin Aril bisa kembali ke sekolah? Ah, dirinya masih bersetia menunggu kehadiran senja di laut.

Ya, aku tengah berada di laut. Selalu memperhatikan rambut tergerainya sesuka hati sebab angin selalu mengibas ke mana disuka, bak pendaran masing-masing dari ujung warna pelangi yang entah dari mana berpangkalnya. Membuat mabuk kepayang. Seolah memang tak ada persoalan lain lagi saat aku menjumpainya. Suatu perjumpaan di laut. Hanya laut dan hanya dia yang benar-benar tertangkap oleh mata hatiku. Betapa laut memang selalu memberi perasaan tersendiri. Laut seperti memberi ruang kepada kami setelah berleha-leha dari kitaran jiwa yang letih yang kadang memesona dan kadang tanpa.

Dan aku tak lagi menunggu, sebab senantiasa laut adalah sekolah ilmu alam terbaik buat aku: menikmati dan bercinta dengan senja yang sesungguhnya. Dalam setia hadirnya tiap sore. Sore bersenja. Senja bulat dalam sepi cakrawala. Senja yang bukan lagi bak sang surya, melainkan sang Suryowati kekasih hati yang sudah dan memang telah berlalu. Ah, kira-kira begitulah kalau aku tengah mabuk kepayang kepada senja. Senja yang berdaging dan mempunya hati seperti hatimu. Entah adakah. Entah sedemikian dahsyatkah. Masih kupertanyakan hingga detik ini. Hingga tarikan napas dan kerdipan mata terakhir saat kau baca kisahku ini.

Sumber: Lampung Post, 3 Juni 2012

Catatan Terakhir

Pembaca terkasih, berikut cerpen “Catatan Terakhir” saya di Majalah Story edisi 25, 25 Agustus 2011 – 24 September 2011. Semoga berkenan.

Catatan Terakhir

Memorabilia kita, suka dan duka berkemeriapan tak pernah lelap, katamu berbisik malu kepadaku. Kala itu hujan rintik-rintik, seperti malu membasahi bumi. Tentu kamu ingat, berpapasan musim hujan itu tiba, selalu terpikir bahwa inilah kesempatan mencuri perhatianmu. Aku selalu teringat kala itu.

Senin, Novermber, kamu tak membawa payung, tapi kurelakan tas ransel sepeninggalan almarhum bapak, delapan tahun silam, untuk memayungimu—sembari sesekali kita berhenti menunggu hujan reda. Pada pemberhentian itu, di ujung gang sebelah jalan raya, dengan jumawanya kusiapkan beberapa kata dari perasaan paling tergesa-gesa. Rambutmu basah, kemejamu melepek, tapi matamu kian bening sebening air hujan dalam terpaan cahaya sore saat itu. Juga basah bibir tipismu makin membuatku salah tingkah. Gugup, jantung berdetak tak terkira begitu cepat. Seperti tabuh genderang suku Indian menyongsong peperangan. Dalam gemetar dan gugup, tak terlepas juga kalimat yang kusiapkan buatmu dalam semalaman suntuk kemarin. Mungkin terlalu lama kamu menunggu pengutaraanku, lantas membuatmu bergegas menaiki bus untuk pulang. Aku gagal, jeritku membatin.

Selasa, Desember, pada selembar kertas aku bikin puisi, hanya untuk dirimu. Tergesa-gesa dengan jemari tak tertahankan menuliskannya. Bagiku lebih jujur ketimbang aku bilang langsung padamu, bukan? Itu sebab pula mengapa ini kali lebih memilih bikin puisi. Semata berpuisi lebih mampu berisyarat. Bukankah puisi jauh lebih bermakna ketimbang kalimat lisan terlesat bak kilat sekali pun?

Pada malam itu, hanya selembar kuanggap berhasil. O, betapa sulit, seperti melarung samudera dalam terpaan cahaya cakrawala hitam pekat. Selain mencermati kata per kata, paling sulit saat mengunggah rasa dari kata paling tepat ke dalam puisi untukmu itu. Paling menggembirakannya, tatkala menyusurinya dalam kubangan kamus besar bahasa kita.

Setelah kuyakin sepuisi paling anggun, paling manis, dan paling berenergi, percaya diriku selalu berharap membawa kita kembali bertemu. Aku lega, tenang, jauh dari bimbang apalagi gamang. Kelegaan emosional jelang tidur malam ini. Aku terlelap. Kemudian mimpi bertemu denganmu.

Rabu, Januari, lewat SMS, kamu bilang kalau ibumu begitu marah kepadaku. Ia memilih menjemputmu dari  kuliah dengan mobilnya, agar kamu tak melulu dibuntuti oleh lelaki yang tak pernah bosan mengejarmu. Kamu sempat dibilang pembangkang, kerap berbohong kalau—sepulang berkuliah—ada saja kegiatan penting yang sekiranya tak ingin diganggu. Aku sangat membutuhkan privasi yang benar-benar tak bisa diganggu, katamu selalu kepada ibumu. Ada saja alasan kau membohonginya.

Kamis, Februari, adalah paling membahagiakanku, kamu menuruti permintaanku dari pesan yang terkirim sebelum mata kuliah itu berlangsung. Aku pun bergegas mencari tempat paling nyaman untuk kita makan bersama nanti. Meski tetap menyesuaikan isi dompet, tak soal, terpenting bisa mengajakmu. Aku menunggumu berteman buku, tak lama berselang, kau bergegas dari ruangan itu menuju arahku. Kita bercakap sebentar untuk kemudian pergi makan siang.

Di warung makan itu, betapa bersyukur karena berhasil mengajakmu. Ya, sekadar bisa bersitatap denganmu. Aku sekadar minum es teh manis, sementara kau menyantap makanan yang aku pesankan, soto mie. Aku asyik menatapmu sambil mengisap rokok kretek. Betapa bahagianya pula, ini kali tak ada hujan. Matahari begitu terik. Kau yang begitu menyukai pedas makin membuat buliran keringat di lehermu mengalir. Satu per satu tetesan itu, aku memperhatikannya sambil tersenyum. Kau makin cantik saat berkeringat, seperti perempuan yang acap bersetia menyimpan rahasia, kataku kembali membatin. Aku mengutarakan perasaanku, sekali lagi dari perasaan tergesa-gesa, ah, akhirnya kau pun menerimaku.

”Ya, ternyata aku juga cinta mati padamu,” katamu.

Jumat, Maret, kau menangis padaku. Kau seperti menyembunyikan perasaanmu. Ada sesuatu yang tak perlu kau tahu, katamu. Dan sejak pertemuan itu kau menghilang dariku. Ah, di mana kamu sekarang?

***

Setelah bulan Maret pada tahun itu, seorang ibu hampir gila memikirkan anak gadisnya. Ia tak pernah tahu di mana keberadaan si anak. Kesehariannya dilanda kekalutan. Seperti iring-iringan gemawan gelap menggantung di kepalanya menyerbu. Ia menjadi tak ingat segalanya, kecuali selalu mencari anak perawan satu-satunya itu. Disambangi kampusnya, teman-teman dekatnya, saudara-saudaranya maupun handai-taulannya, kecuali aku. Pada hari-hari yang menjadikannya berminggu-minggu menemui bulan akan mengantarkannya menjadi setahun, setahun yang selalu melipat harapannya, berharap kembali menemukan sang anak dari cengkeraman buruk bayangannya. Ini pernyataannya paling terakhir: aku dituduh menyembunyikannya.

Aku memang menyembunyikan, tapi bukan raga, melainkan hatinya. Aku tersenyum.

***

April-Agustus, sepanjang bulan itulah aku menunggu kabarmu selain mencari, dari keyakinan yang tak pernah pudar semoga mampu mengantarkanmu kepadaku. Aku tak tahu, mungkin dirimu sudah berjumpa dengan ibu yang sedemikian mencintaimu, juga sekaligus sedemikian membenciku. Andai saja ia bertanya padaku di mana keberadaanmu, pasti kubilang kalau dirimu sedang terlelap dalam hati kecilku, seperti aku bilang tadi. Adakah benar begitu? Ah, mana mungkin, kataku tertawa, semata menghibur diri. Seperti harap-cemas milik penyair saja.

Dan siang ini mereka berkabar bahwa sia-sia saja menunggu, untukku mendapat kabar darimu, apalagi dapat kembali bertemu. Kedua orang tuanya sudah membawanya pulang ke kampung halaman. Untuk selamanya. Untuk usahanya mengajarkanmu tentang kepolosan hidup bertradisi di ranah nenek moyang. Namun, aku yakin, seribu harapku akan membawa kita untuk kembali bertemu. Jika demikianlah keberadaanmu

Berapa lama membuatku menunggumu, aku tak pernah tahu. Kampung halaman kita yang berjarak, semoga mampu memulihkan pertemuan kita.

September, tak ada kegamangan dari laut yang senantiasa menyatu oleh ketegangan arah laut lepas bersamudera tak berhingganya. Tak terhitung semilir angin seperti merapal daratan. Aku menantimu meski lewat mimpi sekalipun. Tak kunjung angin berkabar firasat tentangmu, untuk meresap ke seluruh tubuh dan pikiranku. Kecuali ingatan ini, seperti letusan gunung berapi yang tak akan pernah terketahui. Aku mengingatmu, terlanda oleh kenangan, dari laut yang selalu tertampak anak gunung berapi keabu-abuan dalam kejauhannya.

Adakah kita kembali bertemu? Untukku berkesempatan menyucikan sebuah pertemuan agar seorang ibu yang pernah melahirkanmu menjadi berterima? Sebelum laut menenggelamkan sedalam-dalamnya harapanku. Dan sebelum tanah memendamkan mimpi-mimpimu. Aku tak ingin perasaan ini menjadi sia-sia terbunuh.

Oktober, o ya, surat yang kamu kirim baru aku terima tadi pagi. Dan aku pun semakin tahu, beberapa bulan sudah kamu tinggal bersama kedua orang tuamu di tanah papua. Aku jadi teringat, kamu pernah menangis saat bercerita kepadaku, tentang proyek pekerjaan ayahmu di wilayah perbukitan-perbukitan daerah Papua. Proyek pembalakan hutan-hutan liar.

Kamulah perempuan hitam manis dari tanah mutiara yang sering mereka sebut-sebut. Mereka bilang sia-sia belaka aku menunggumu. Karena semesta yang tak pernah berdendam, tapi para saudara kita telah menjadikan mimpi itu berkeping-keping. Di tengah tidur lelapmu, sebelum kabut memendar diterpa mentari pagi, aku mendengar perbukitan itu meniduri tempat tinggalmu. Aku masih tak tahu, bagaimana denganmu?

Adelia, kamu masih dan selalu mutiara hitam bagiku. Untuk kamu tahu saja, dari getaran catatan terakhir yang mustahil kau baca apalagi terdengar ini, semalam aku kembali memimpikanmu, mimpi kita; kita menikah kemudian berpesta di antara awan-gemawan. Wajahmu yang hitam manis, berkilau putih bersih. Kau tersenyum padaku, sebelum kau menangis dalam pelukanku.

Adelia, semoga itu bukan pertanda.

Telukbetung-Jakarta, Agustus-Oktober 2010

 


Kolam

(Terima kasih saya kepada Benedita–seorang vokalis dari sebuah band di Yogyakarta bernama Airport Radio. Terus terang, catatannya–seperti pernah saya bilang kepadanya–membuat saya tertarik untuk menjadikannya penceritaan. Meski masih jauh menjadi cerita yang keren!)

oleh F Moses

CERITA 74 halaman baru saja selesai dibaca, lalu perempuan itu bergegas dari kursi santai di pinggir kolam renang. Mengenakan pakaian renang bermotif dark chocholate doty, perempuan bertubuh ramping itu melesat ke dalam kolam. Terlihat begitu mahir dan tak mengesankan laiknya perenang biasa, dalam jarak pandang dari sudut kafe itu.

Mendung tampak menggantung di kota itu. Semilir angin menggetarkan rerimbunan aneka bunga di taman sekitar area kolam, di antara jejeran kursi santai dan meja-meja kecil yang terlihat begitu kaku dan sepi, tiada lagi orang-orang untuk kembali berenang saat sore tak bersenja ini, mungkin lantaran sebentar lagi hujan, pikir lelaki itu. Kecuali bersama dirinya di pertemuan kali pertama ini, berawal dari janjian, sore hari di kolam renang hotel lumayan berkelas.

Lelaki itu seperti membelai kerinduan darinya dalam pertemuan ini. Kerinduan tak tertahankan. Dalam pikirannya tak tahu, apakah sebenarnya perempuan itu juga demikian. Lelaki itu tak ambil pusing.

***

Tak lama berselang, lelaki itu menyaksikannya berenang, tiba wajahnya yang manis menyembul di atas permukaan kolam. Disibak rambutnya yang basah tergerai menghalangi jarak pandang, ia menatap tajam lelaki itu, mengerdipkan kedua bola matanya yang bening, lelaki itu diam saja. Segera lelaki itu tahu, setelah mengenakan kimono handuk, perempuan itu bergegas menghampirinya, langsung diseruputnya segelas jus jambu merah.

Mereka saling terdiam beberapa saat. Hening. Terasa angin kembali mengirimkan semilir dari rerimbunan pohon.

“Jadi kau menginap di mana?” kata lelaki itu.

Sebatang rokok dihisapnya, dimainkannya di antara celah jemari. Perempuan itu tampak berkali-kali mengitari handuk mini merah marun pada permukaan wajahnya hingga sudut-sudut telinga, lehernya yang agak jenjang, serta lengan putihnya yang mulus. Dan wajah manisnya, yang sedari tadi menunduk, didongaknya pelan ke arah lelaki itu. Mereka saling bersitatap. Tiada kekosongan di antara keduanya.

“Aku menginap di hotel ini, butuh seminggu untuk mengurus berkas di Kantor Imigrasi besok. Kuharap kau mau menemaniku lagi. Cukup kau tunggu di tempat ini lagi maka aku segera menyusul. Ah, aku rindu kita ngobrol berduaan seperti masa lalu,” kata perempuan itu dalam ketenangan yang seperti mengemas kenangan dari waktu sekian lama yang barangkali diremasnya.

“Terus aku….”

“Ya kau pulang, masak mau bermalam juga, kecuali kalau mau ikutan berenang,” tukasnya semringah dipaksakan.

Mereka kembali sama-sama terdiam. Lelaki itu disergap ingatan masa kisah-kasih yang lama menjadi kenangan.

Selang beberapa menit, perempuan itu kembali mengatakan, “Juli ini kesempatan terakhirku untuk mengatakan kepada Platini, apakah aku diberikan hak untuk tidak ingin memiliki anak dulu.”

***

Hari kedua, gerimis dan macetnya arus lalu-lintas di kota itu tak mematahkan semangat lelaki itu untuk menemuinya kembali. Dari kantornya menuju hotel, seperti kemarin, lelaki itu langsung menuju tempat dari yang pernah dijanjikannya. Suasana di sekitar kolam masih tak seorang pun, kecuali perempuan itu yang tengah berenang.

Dalam jarak pandang, kesekian-kalinya lelaki itu memerhatikannya; bersandar, menyalakan rokok, menunggu teh manis hangat yang baru dipesan, sembari bersedekap kemudian menarik napas panjang, ingin menyambanginya untuk ikutan berenang, namun memalukan buat lelaki itu lantaran tak bisa.

Seketika sang perempuan melihat lelaki itu tersenyum. Senyumnya seperti masih menggetarkan masa lalu di antara mereka. Seperti melempar kenangan yang sekian lama dikemas dan diremasnya.

Kemudian perempuan itu bergegas menghampirinya. Seulas senyumnya menggoda, duduk di sebelahnya sambil memesan segelas minuman.

“Aku menunggumu sejak sore,” katanya.

Sambil menyalakan sebatang rokok, kembali dikatakannya, “Ternyata semua berkas di Kantor Imigrasi sudah beres, tiket untuk besok siang juga sudah kupesan. Tinggal mengambilnya di agen perjalanan. O, ya, terima kasih sudah kembali datang.”

Perempuan itu kembali memalingkan wajahnya ke arah kolam.

Sambil mengisap sebatang rokok, mengembuskannya ke mana angin sesuka hati membawa, lelaki itu menyentuh lengannya. Seperti masa lalu di dalam bioskop tatkala adegan menakutkan menyergap. Di mana sehari sebelum mereka saling memutuskan hubungan kisah-kasih yang hancur lantaran berbeda keyakinan. Kenang sang lelaki.

“Kau yakin atas keputusanmu itu?”

“Ya, seyakin-yakinnya.”

“Dari prinsipmu itu?”

“Ya, seprinsip-prinsipnya.”

Lelaki itu tertegun, perempuan itu pun tak menjawab. Mereka terdiam beberapa saat. Sambil menyeruput teh hangat, kembali lelaki itu berucap.

“Kau kan sudah menikah, sekurang-kurangnya, dalam ikatan berarti siap bagi anak-anakmu kelak.”

Perempuan itu terdiam. Tampak sibuk mengemas kalimat-kalimat berikutnya.

“Ya, pernikahan memang tak lain adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita, sebagai suami-istri. Bertujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal, selamanya.”

“Ya, itulah pernikahan, megah kan? Nah, itu kau tahu.”

“Ya, betapa megah dan dijunjung tingginya sebuah pernikahan yang diselenggarakan secara seremonial, keagamaan, dan adat. Dan dampaknya, tinggi pula riuhnya resepsi pernikahan yang dihadiri ratusan atau ribuan orang yang secara tak langsung mengumumkan legitimasi atas pasangan.”

Waktu menunjuk pukul 21.10.

“Senyatanya, sungguh indah memang, jika sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera-kekal selamanya itu memang terlahir dari sebuah pernikahan—yang sudah dirayakan secara adat maupun diumumkan dalam resepsi besar. Aku hanya berfokus kepada hasil. Sebab, bagiku esensi dan hasil akhir lebih penting ketimbang kertas yang tertanda tangan dalam upacara adat maupun keagamaan nantinya.”

“Nah, itu kau seperti sudah memiliki tujuan,” kata lelaki itu jumawa.

“Ya, aku memang memiliki tujuan dan keinginan untuk hidup berpasangan, tapi aku juga menganut paham banyak cara untuk menuju jalan, bahwa tujuan ini tidak dicapai hanya dengan satu jalan, pernikahan. Di mana berkas untuk mencatatkan diri ke pemerintahan mesti ditandatangi, atas nama kemudahan akses untuk berpasangan. Namun, aku memilih membentuk keluarga dengan cara yang lain, dengan bentuk pernikahan yang lain….”

“Maksudmu?” tukas lelaki itu.

“Tanpa seremoni, tanpa resepsi, tanpa ritual agama, dan tanpa perayaan besar-besaran dengan ratusan hadirin. Buktinya, kami dapat menjalani komitmen dan tanggung-jawab sebagai pasangan yang bahagia sejahtera kekal selamanya.”

“Bersama calon anak-anakmu kelak, tentunya.”

“Tidak, aku memilih hidup tanpa anak,” ucap perempuan itu yakin.

“Kau sudah katakan kepadanya?”

“Karena itulah aku ke sana,” pungkasnya tenang.

Kemudian perempuan itu pun berdiri untuk bergegas menuju kolam. Air hangat yang ditujunya.
Tak terasa pukul 22.05. Dari jarak pandang sekitar 50-an meter, perempuan itu menatapnya. Kembali mengajak lelaki itu seperti memohon menyambanginya agar berdiri dari pinggir kolam.

“Berenanglah di sini sambil kita ngobrol,” pintanya.

Lelaki itu menggeleng, selanjutnya pamit untuk pulang.

“Tolong jangan pulang dulu. Berenang, kan, bisa tak harus di kolam ini,” katanya.

Setelah beberapa langkah memalingkannya, perasaan lelaki itu luluh, berakhir menemaninya di kolam itu hingga larut malam. Mereka mengobrol seperti biasanya.

***

Seminggu setelah kepergian perempuan itu ke Prancis, lelaki itu tak kunjung padam membaca pikiran perempuan itu. Karena belum lama lelaki itu memang sering mendengar: seorang istri yang ditinggal suaminya karena dianggap tak kunjung memberinya anak. Lelaki itu tak pernah tahu, “Siapa yang tolol kalau demikian,” katanya membatin. Juga seorang suami yang ditinggal oleh istrinya untuk kawin lagi, lantaran suaminya memilih untuk tak mau punya anak.
Lantas, bagaimana dengan mantan kekasih hati lelaki itu? Ah, lelaki itu masih belum memikirkannya terlalu dalam.

O ya, semoga kita berkenan tahu apa yang dikabarkannya. Sehari setelah seminggu lalu perempuan itu pergi, lelaki itu menerima pos-el dari perempuan itu—dari negeri jauh di sana. Betapa perempuan itu, rupanya, hanya mengucapkan rasa berterima kasih kepada suaminya yang sangat menghargai hak seksual dan reproduksinya—untuk memilih bentuk berpasangan yang nyaman bagi perempuan itu. Dan untuk memutuskan akan bereproduksi atau tidak. Perempuan seperti menikmati pernikahan yang memerdekakan.

Maaf, memang tidak ada resepsi. Mungkin itu sebab tak turut mengundangmu pada waktu itu. Begitulah perempuan itu mengakhiri isi suratnya.

Lelaki itu menarik napas panjang. Semakin tenggelam di dasar kedalaman kolam air mata kebahagiannya. Kebahagian perempuan itu yang tersisa hanyalah untuk dikenangnya.

Yogyakarta-Lampung, 2011

Sumber: Lampung Post, Minggu, 17 Juli 2011

Karena Sesuatu yang Satu itu

F. Moses

APAKAH sekarang dia masih mencintaiku? Firasatku dia mencintai yang lain. Sepengamatanku dia masih sangat mencintaiku, terlebih sesuatu yang tergenggam ini. Luar biasa dan selalu bikin terpesona, katanya. Wah, semakin teringatnya.

Zaman pacaran, tak hanya dia yang terpesona oleh sesuatu yang satu itu, tapi juga kedua orang tuanya. Pernah, ketika diperkenalkannya bahwa aku pujaan dan pilihan dari hatinya dalam sehidup-semati, kedua orang tuanya langsung menyetujui tanpa ba-bi-bu. Tanpa pikir panjang, mereka langsung menyuruhku diperkenalkan oleh pihak keluarga kapan aku mau. Kami siap, kata mereka. Betapa bahagia kedua orang tuaku saat kusampaikan pesan itu. Lalu saling bertemulah mereka, mengatur segalanya untuk pernikahan kami.

Meski sudah lima tahun tanpa anak yang, kami tetap bahagia. Rahasia kebahagian kami sederhana saja; lantaran ada paling disukainya. Diam-diam juga, memang lebih mencintainya ketimbang diriku.

Kecintaannya dengan sesuatu sudah bukan rahasia lagi. Teman-temannya sampai heran, mengapa dia—seorang wanita cantik rupawan nan menawan—lebih mencintai sesuatu milik suaminya. Tak ada dicintainya selain sesuatu yang satu itu.

***

Sebagai aparat yang kerap bertugas di daerah pedalaman terpencil, komandan dari kesatuan yang membawahi 51 prajurit, aku memang ditugaskan untuk meredam pemberontak yang akhir-akhir ini semakin brutal. Belum terjadi satu prajurit gugur dalam meredam pertikaian, pokoknya selalu sukses dan beres. Makanya, selama konflik masih berlangsung hingga kini, bertahun-tahun pula masih dipercaya sebagai kepala kesatuan. Namun apa daya, aku tetap lelaki biasa, apalagi sudah beristri. Mengangeninya adalah kedahsyatan.

“Iya Sayang, awal bulan kita pasti berjumpa. Hmm, iya, aku kangen kamu juga,” kataku. Dia sangat mengangeni aku. Dia selalu menunggu aku supaya cepat pulang dari tempat ini.

Setiap aku pulang, permintaannya satu, agar membawakan sesuatu yang agak panjang itu. Ah, apa susahnya membawa yang satu itu. Sebagai komandan sepertiku, apalagi permintaan istri sendiri.

***

Satu hingga empat bulan adalah hal biasa dia menyukainya. Tapi setiap bulan berikutnya, aku mulai tak habis pikir, mengapa hanya menginginkan itu. Untuk oleh-oleh mertuaku juga tak jauh beda, yakni sesuatu yang satu itu.

“Cukup kamu tunjukan saja sesuatu itu, dan biarkan mereka untuk sekadar melihat dan memegangnya. Mereka sangat menyukainya, Mas.”

Aku masih tak habis pikir mengapa mereka hanya menginginkan sesuatu itu. Terlebih dia, istriku. Sering aku memergokinya, mendengar dia berbicara seorang diri dengan sesuatu yang satu itu. Aku tercekat, dia lebih mencintainya. Gila.

Setiap malam dia kerap memainkan sesuatu itu. Bahkan berbicara dengannya. Sambil diremas-remas dan dielusnya. Seringkali aku marah karena itu. Keterlaluan, dia lebih mesra saat memperlakukannya. Diam-diam aku tenggelam cemburu.

Hingga suatu saat aku mesti kembali bertugas, ini kali pertama pula dia memaksa agar kutinggalkan sesuatu itu di rumah. Sebagai ingatan, katanya. Tentu saja tak kuberi, bagaimana mungkin aku dipisahkan dari milikku yang satu itu.

“Kenapa tak kau belikan saja dia mainan yang persis dengan sesuatu itu?” kata temanku lewat SMS. Segera kutelusuri banyak toko mainan. Aku mendapatinya dan mirip. Lumayan mahal. Hampir sejumlah gaji sebulan. Semoga dia cukup terhibur dan mengingatku.

***

“Maaf, Pak, Ibu lagi tak bisa diganggu karena sedang sibuk di kamar.”

“Iya…. Tapi, coba paksa bilang aku mau bicara.”

“Ehm… hmm, katanya lagi sibuk dengan, maaf, ya, sesuatu itu, Pak,” katanya terdengar cengengesan.

Saban malam menghubunginya, selalu begitu kata pembantu di rumah. Aneh. Sungguh aneh. Mengapa dia malah sibuk dengan mainan yang mirip sesuatu itu. Biarlah, semoga dia tetap selalu bahagia karena sesuatu yang satu itu.

***

Tak terasa sudah kembali pada kepulangan bulan berikutnya.

Katanya, nyonya selalu menyibukkan diri di kamar, Pak. Ah, paling juga sibuk dengan mainan sesuatu itu lagi. Pasti akan lebih senang kalau tiba saja aku mengejutkannya dengan sesuatu yang asli ini. Sambil melangkah pelan menuju kamar. Kulihat dia tengah bersila di atas ranjang menghadap foto dinding pernikahan kami. Perlahan aku menghampirinya.

Aku kecup bibirnya. Aku kecup hidungnya. Aku kecup matanya yang terpejam. Aku kecup hidungnya. Lalu aku kecup keningnya. Dan pada kecupan selanjutnya, dia menolak. Lagi-lagi dia justru memilih sesuatu itu. Begitu pandainya dia membelai-belai sesuatu yang satu itu. Dimanjanya. Berkali-kali pula diciumnya. Berakhir dipeluknya erat-erat.

“Kau boleh kembali pergi lagi, Mas. Asal sesuatu yang satu ini tetap dalam genggamanku,” katanya memohon. Sontak kularang keinginannya itu. Karena dengan memberikannya sesuatu mainan seharga hampir sejumlah gajiku itu sudah lebih dari cukup.

“Kita sudah hidup tanpa anak, sekarang kau tak memperbolehkan aku dengan sesuatu milikmu, Mas!”

“Kau jangan gila…!”

“Kau yang jangan gila, Mas. Ini permintaan terakhirku. Pokoknya kau boleh pergi untuk selebihnya kembali pada bulan berikutnya asalkan sesuatu itu kau tinggal. Pokoknya aku ingin sesuatu itu, Mas. Titik!” tukas istriku.

Aku tak mengerti. Aku malu dengan pertengkaran macam begini setiap pulang. Bahkan tetangga di luar pun mungkin sampai bosan mendengarkan pertengkaran kami. Dari pertengkaran yang hanya karena masalah sesuatu yang itu-itu juga. Tak bisa kubiarkan seorang istri hanya mencintai sesuatu yang satu itu.

Aku bilang masalah ini kepada mertua. Namun, mereka malah selalu membela alasan istriku.

Solusi terbaik, mungkin, kalau segera kurundingkan dengan atasanku.

“Goblok, masalah begitu kau ceritakan kepadaku!” seru atasanku lewat telepon.

“Maaf, Pak. Ini bukan masalah sesuatu yang lain. Tapi masalah sesuatu yang kebetulan milikku yang selalu aku pergunakan.”

“Hah!”

“Iya, Pak. Betul. Benar, Pak. Istriku itu sangat tergila-gila dengan sesuatu itu. Coba mohon dengar sekali lagi Pak, masak aku diperbolehkannya pergi asalkan sesuatu yang satu itu ditinggal. Mohon maklum, Pak, istriku itu cinta betul dengan sesuatu itu. Kalau Bapak berkenan, izinkan aku kembali berdinas tanpa membawa sesuatu yang satu itu. Aku tak ingin dia menjadi perempuan yang iseng sendirian, Pak.”

Setelah berunding cukup lama. Akhirnya diperbolehkan.

***

Seperti biasa setiap Minggu, kedua orang tuanya, yang kebetulan juga menyukai sesuatu yang satu itu, berkunjung ke rumah menantunya. Mereka memang tahu betul kalau setiap bulan selalu berkumpul.

Inilah awal bulan yang dipastikan dapat menemui mereka semua. Di samping harapan bercakap-cakap saling tukar cerita nantinya. Tentang rencana ke depan dalam berumah-tangga. Mulai dari kapan memiliki momongan hingga memiliki rumah tetap. Dan paling seru, mereka bisa melihat sesuatu milik menantunya itu. Karena bagi mereka itulah keberhasilan mempunyai menantu seorang anggota berpangkat komandan. Berdinas di luar kota pula. Lengkap dengan seragam yang tampak jumawa. Bagi mereka itulah keberhasilan luar biasa.

***

Meski mendung di langit tampak menggantung hebat, pintu pagar tetap dibuka dengan tenangnya. Keanehan tak mampu menembus perasaan mereka. Melepas sepatu dan sandal di muka pintu. Membiarkannya di luar tanpa takut terpercik hujan.

O, pintu tak terkunci. Mungkin mereka sedang berduaan di kamar, pikirnya.

Kedua orang tua itu memilih bersantai sejenak di ruangan tamu. Membuka penganan yang sedari rumah dibungkus rapi satu per satu. Sambil memandang tenang ke arah jendela. Di luar hujan perlahan menderas.

Mereka belum melangkah ke belakang, tepatnya dapur. Mungkin sebentar lagi, untuk seperti biasanya mengambil es batu dari baki dalam kulkas.

Dan tepat di muka kulkas, sepasang suami-istri tertelungkup, bersimbah—entah karena bunuh diri atau pertengkaran, menggunakan sesuatu yang satu itu: pistol.

Telukbetung, Juni-Oktober 2010

Sumber: Lampung Post, 8 Januari 2010