buku

Kedalaman Proses dari Sebuah Teater

di-balik-terang-cahaya-fm

Oleh F. Moses

TEATER tak sekadar pertunjukan belaka bagi kepuasan aktor dan penonton di dalamnya. Lebih dari itu, pelbagai catatan menyoal seni berteater berpotensi memberi ragam dampak bagi lingkungannya; baik masyarakat pemerhati maupun pengrajin seni—bahkan masyarakat “gagap seni” sekalipun (semata menonton pertunjukan) terhadap sebuah teater. Maka catatan dirasa sudah tak lagi cukup dari “riuh tepuk tangan” dan apresiasi, karena ada lebih mesti dipahami: menyoal kedalaman dari sebuah proses teater terjadi. Hal terpenting juga, Teater Satu yang didirikan oleh Iswadi Pratama dan Imas Sobariah pada 1996 di Lampung, dalam perjalanan kreativitas seni pertunjukan sekaligus laboratorium penelitian dan penerbitan, dianggap perlu untuk berbagi kedalaman proses bagi “masyarakatnya”. Buku Di Balik Terang Cahaya pun mesti diakui, bahwa catatan atas proses mereka selama ini memang cara terbaik untuk disosialisasikan bagi masyarakat penggiat maupun pemerhati. (lebih…)

Saat Sebuah Cerita Berangkat dari Realitas

Oleh Darojat Gustian Syafaat, penikmat sastra, kini sebagai pengasuh Pusat Pendidikan Islam Al Fatih, Jatimulyo.

20-res.12 kawin massalMEMBACA karya enam cerpenis Lampung yang terhimpun dalam antologi Kawin Massal seperti menelusuri setiap renik yang ada di Tanah Lada ini. Meski tak semua cerpen bernuansa lokal, bagaimanapun isinya mencercap dari segala ruah peristiwa yang terjadi di Ruwa Jurai ini. Menelusuri peristiwa demi peristiwa membuat kita mendapat tiupan energi lain meski kekuatannya tak membahana.

F. Moses menyuguhkan sisi wabah yang mendunia, terorisme, tapi tetap saja tak lepas dari provinsi ini. Karena Lampung diklaim sebagai salah satu tempat aman bagi para pembuat onar tersebut. Moses seperti hendak mengatakan bahwa teroris bagaimanapun sangat mungkin berada di sekeliling kita, bahkan sangat dekat dengan kita.

Ia bahkan bisa merasuk kepada orang-orang yang kita cintai, keluarga, saudara, kekasih, atau sahabat dekat. Dan cerpen Belajar bercerita tentang tokoh fiktif belaka yang di antaranya bernama Kasdi, membuat kita semakin terteror dengan wabah terorisme.

Berbeda dengan cerpen Moses lainnya yang sedikit berbau melankolis dan mengeruk emosi, karena setiap kita pasti mempunyai ibu dan sayang kepadanya. Dan pada di sajak Ibu Namaku Disebut, Moses mengajak kita mengaduk-aduk rasa.

Berbeda dengan Moses, Ika Nurliana menceritakan peliknya rumah tangga saat dilanda kemelut. Ika menjlentrehkan perang bating sepasang suami-istri yang galau, anatar bercerai dan mempertahankan keutuhan rumah tangga. Ini seperti menjadi satir bagi banyaknya kasus perceraian di Lampung khususnya dan Indonesia lebih luas lagi.
Di cerpen lain, Ika mencoba memunculkan fenomena yang banyak terjadi di zaman ini. Seorang adik harus menikah lebih dulu meski kakak perempuannya belum menikah. Hal ini dulu dianggap sebagai tindakan tabu yang tidak pantas. Dan ternyata, di zaman yang banyak menafikan ketabuan, masih ada beberapa gelintir orang yang menjaganya. Meski ongkos semua itu sangat mahal, yaitu nyawa.

Sedangkan Muhammad Amin membawa kita ke zaman lalu, saat mitologi masih begitu subur. Penggalan cerita demi cerita tentang batu yang hidup di masa lalu, dihadirkannya dengan begitu piawai sehingga seperti masih nyata di hari ini. Membacanya membuat kita mencecap kebijaksanaan dari umpu tuyuk orang Lampung.

Begitu pun pada cerpen Pemetik Dadi, M. Amin menguras emosi kita akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang dilambangkan dengan pemuda pemetik dadi. Ya..kita telah kehilangan keindahan, keselarasan, kemasyukan dengan seni budaya agung nenek moyang kita. Tinggallah zaman yang lembap dan riuh dengan seni yang bukan milik kita. Seni yang asing tapi dipaksa memerkosa budaya luhur kita. Meski semula terpaksa, kini generasi baru menikmatinya dan mengganggap miliknya.

S.W. Teofani lain lagi, dengan gaya monolog, dia membuncahkan kesenduan alam yang dihancurkan oleh zaman yang semakin kapitalis. Kearifan lokal dan kesejukan semesta menjadi hal yang tak dihargai. Semua terkalahkan oleh kebijakan pemerintah yang punya pandangan kapitalisme.

Pada ceritanya yang lain, Teofani mencoba mendedah zaman lampau dengan mendeskripsikan gebalau hati R.A Kartini dengan perbandingan pejuang lain  dari Sumatera Barat, Rohana Kudus. Meski monolog imajiner, cerita yang disuguhkannya berdasar fakta sejarah. Sepertinya Teofani ingin mengkritik sejarah secara diam-diam.

Sedangkan Yuli Nugrahani mengangkat masyarakat miskin kota yang  kesulitan untuk mengikuti acara kawin massal. Yuli seperti ingin mempertontonkan realitas pilu di masyarakat perkotaan yang juga terjadi di Tanjungkarang, sebagai kotanya Lampung. Pada cerpen Sebelum Pulang, Yuli pun ingin menyuguhkan realitas kehidupan kini yang serbasibuk, sehingga sulit bagi sebuah keluarga untuk mengurus anggota yang sudah tua sekalipun.

Dengan membaca cerpen Yulizar Fadli, kita dibawa ke sebuah kampung kecubung di mana pemudanya banyak yang mabuk kecubung, sebagai pengganti minuman beralkohol yang digandrungi kaum muda. Yulizar mencoba menyuguhkan realitas kini di mana daerah kampung pun sudah dimasuki obat-obat terlarang, dan masih banyak yang menggunakan tanaman tradisional sebagai pengganti, kecubung.

Pada cerpen penutup, Makam Keramat, Yulizar masih mengajak kita menengok realitas pemuda kamupung yang ingin mendapatkan keinginannya dengan cara cepat. Ya.. mereka tak punya cara lain selain membongkar kuburan China yang konon juga dipendam bersama harta-hartanya yang berlimpah. Tapi berhasilkah mereka? Tidak.
Membaca buku ini membuat kita penasaran, dan membacanya membuat kita mendapat beragam realitas yang dikemas dalam cerita.

 Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Januari 2014

Membaca Strategi Pendidikan

Oleh F. Moses

Data buku:

Rekonstruksi Pendidikan

Muchlas Samani, dkk.

Unesa University Press, 2012

298 hlm.

PARA dosen berdialektika, di antaranya Muchlas Samani, Budi Darma, dkk. sesama dari Universitas Negeri Surabaya. Menggelisahkan sekaligus memanoramakan sebuah pendidikan dengan kajian persuasif dan reflektif cukup sarat ide-ide segar. Ide tertuju bagi lapisan strata pendidik terhadap mental ruang kependidikan negeri ini.

Bak hendak berteriak usai membaca buku ini: mari bersama merekonstruksi pendidikan di negeri ini.

Buku ini menghimpun 21 tulisan dalam lima maktub: pendahuluan yang mencakup latar belakang permasalahan, hakikat pendidikan, kebijakan di bidang pendidikan, kondisi pendidikan dan pembelajaran di Indonesia saat ini, dan pendidikan masa depan. Kesemuanya menghimpun sarat pemikiran. Pemikiran ihwal bagi resolusi para pendidik.

Atas ihwal tersebut, seperti perenungan kembali terhadap arah pendidikan ini yang digagas Muchlas Samani; bahwa di tengah perkembangan percepatan teknologi yang semakin merasuk dalam keseharian kehidupan, arah pendidikan negeri ini semakin dipertanyakan (hlm. 4).

Selain itu, dalam Budi Darma, tatkala menggagas pendidikan pada tulisannya, mengajak kita merenungkan kembali (mendulang ingatan) pada dunia pendidikan pada 1950-an; bahwa semua perbuatan dan usaha dari sebuah generasi untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya.

Untuk Indonesia, kekosongan semangat kesejarahan atau historicity dan sejarah atau history agaknya telah memicu para pemikir pendidikan, antara lain Mochtar Buchori, untuk menengok kembali kesilaman pendidikan kita (hlm. 27).

Pendidikan kita ini juga dirasa sangat perlu terhadap penajaman ilmu sosial. Sebuah ilmu yang akhir-akhir ini jauh dikucilkan ketimbang pengetahuan alam dan eksakta sebagaimana disanggah Warsono yang mengatakan kodrat manusia sebagai makhluk sosial membawa implikasi; manusia tak dapat hidup sendiri, tetapi harus hidup bersama dalam kelompok masyarakat: menjadi semacam pendidikan yang memanusiakan manusia.

Lalu, Lies Amin Lestari membicarakan pendidikan interaksional pembelajaran menulis dan kontribusinya pada pendidikan karakter; tentang pentingnya potret pembelajaran menulis di sekolah.

Guru Pemicu Keberhasilan

Syahdan, “guru merdeka” mendekati siswanya dengan arah yang mendidik dengan sentuhan asasi kemanusiaan. Namun, saat ini kemerdekaan guru telah luntur dengan banyaknya pesanan dan peraturan pembelajaran yang susah dicerna dan diterapkan di lapangan.

Guru jadi merasa terikat dengan aturan pembelajaran yang mengharuskan mereka menggunakan metode pembelajaran tertentu, kata Suyatno, Dosen dan ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unesa.

Satu hal lagi, selain kiat dari para pemikir pendidikan, buku ini sangat perlu dibaca dan diketahui para calon serta pemerhati pendidik negeri ini, tak terkecuali khususnya para guru maupun dosen.

Lantaran catatan-catatan para dosen yang cukup memadukan nilai-nilai akademis dengan humanistik lumayan terpacu di dalamnya. Keberbagian pengalaman, instruksi, dan saran tak hanya disajikan dengan tegas, jelas, dan kritis. Tapi juga indah.

Hanya saja, saking banyaknya acuan pustaka dari para penulis membuat penyampaian terasa rumit. Meskipun tetap saja begitu menggebu, menggairahkan, tapi juga jelas mendidik; sarat dominasi pemikiran atas rekonstruksi pendidikan seperti sarat tuaian resolusi yang mesti diresapi bagi seluruh pembaca semua kalangan.

Setidaknya, buku ini telah menjadi sejarah pemikiran para dosen yang cukup layak untuk menginspirasi para dosen lain dari tiap universitas—khususnya tak hanya mereka, tetapi juga tenaga pendidik umumnya, baik sebagai sumbangsih pemikiran terhadap masa depan pendidikan di negeri ini maupun kajian refleksi.

Refleksi untuk selalu berpikir, bergerak, dan menindaklanjuti menuju pendidikan di Indonesia menjadi semakin baik dan berkelanjutan.

Sumber: Lampung Post, 9 September 2012

Aku, Kau, dan Menghidupkan yang Mati

Oleh F. Moses

Judul   : Dongeng Adelia

Penulis : Isbedy Stiawan Z.S.

Penerbit: Siger Publisher, Bandar Lampung

Cetakan : Januari, 2012

MUNGKIN bukan sesuatu yang jelimet membaca dan menulis teks puisi, melainkan bisa saja sebaliknya. Karena di mana ruang dan waktu untuk menulis itu, bertukar-getarlah sejauh mata dan hati memandang. Juga mampu saja mengetatkan antara aku dan kau serta menghidupkan yang mati dari/dan kepada penyair itu sendiri bagi pembacanya.

Demikianlah yang dilakukan Isbedy Stiawan Z.S. hingga berujung empat maktub ruang di dalam buku puisinya: Dongeng Hujan, Dongeng Adelia, Dongeng Pengembara, dan Dongeng Ibu.

Isbedy Stiawan Z.S. menawarkan keseharian lelaku kehidupan melalui keragaman teks dari puisinya itu—menukik cukup tajam hingga kita seperti tertuju pada panorama sekaligus diorama puisi itu sendiri; bahwasanya suara-suara keseharian di dalamnya tak hanya menawarkan teks yang tegas, jelas, dan kritis, tapi juga indah.

Teks-teks puisi dalam buku Dongeng Adelia ini membangunkan cukup banyak kata yang “terkesan mati” lalu digabungkannya menjadi banyak frasa hingga terasa ada temuan menghidupkannya kembali. Dan sekiranya, dari hal tersebut, makin terenduslah bahwa kesegaran dan penyegaran yang dilakukan Isbedy Stiawan Z.S. terhadap penjelajahan bahasa makin memperlihatkan ketajaman dan kematangannya dalam mengolah sekian kata yang terkesan biasa atau rawan dapat berlalu begitu saja—bahkan kalau boleh dianggap selintas pintas asumsi tersebut makin terasa dimatangkannya; seperti pada pengolahan bahasa dalam kutipan puisi di Pantai: pantai memanggil ombak (hlm. 3); Akulah Batu Akulah Air: akulah batu pelan-pelan terkikis juga// akulah air tak betah di ketinggian// akulah hujan datang padamu tanpa ketukan; halaman 20. Laut Kita yang Berombak: lalu hujan datang// di minggu siang// meninggalkan catatan di kaca kamar itu// agar tak dilupakan waktu// selain nama kita// juga tawa anak (hlm. 4); Senandung Hujan: serupa lentik jemari perempuan// kukukunya bercat ungu// lembut suaranya, mengintip//dari jendela kaca kamarku// ingin mengajak pelan// untuk tak pulang (hlm. 21).

 

Pengalaman Puitik

Puisi-puisi dalam buku puisi ini, selain menapis laiknya penggalan-penggalan keseharian, juga seperti rangsangan bagi benak pembacanya; bahwa memang ada kenangan maupun ingatan yang mesti dicatat—hal itu mungkin lantaran sebagaimana penyair cenderung tak dapat dilupakan apalagi dipisahkan dari lingkungannya.

Maka membaca teks puisi yang dihadirkan Isbedy Stiawan Z.S., seolah membaca sekaligus merasakan momentum pengalaman puitik yang dilaluinya. Hampir semua puisinya dibangun di persilangan hubungan antara “aku” dan seorang “kau” yang bisa siapa saja, tetapi tak urung menghasilkan suatu komunikasi yang akrab dan personal antara penyair dan khalayaknya, seperti dikatakan Manneke Budiman.

Keakraban komunikasi penyair begitu terasa komunikatif. Seperti kutipan Kalender Januari: setiap kubuka lembar// pertama kalender// ada Januari yang gerimis// dan kau menanti// kau siapkan sejumlah waktu// untuk menanam pohon (hlm. 23); Tunggu Aku di hari Minggu: Tunggu aku di hari minggu, katamu// saat gerimis bertamu di luar… “tunggu aku di hari minggu// saat gerimis sampai di pembaringan// begitu gigil aku dipelukmu.” (hlm. 25); Mengecup Keningmu yang Pagi: aku ingin bintang// tak cepat pulang// bulan tak segera mengelam// aku mau kau menemani malamku (hlm. 44).

Komunikasi yang mengalir, mungkin, sering menjadi paling penting justru dari hal sederhana, dan itulah perlakuan Isbedy Stiawan Z.S. terhadap semua teks puisi dalam buku ini. Sungguh di antara bagian yang menjadikannya kian lain dari  beberapa karya sebelumnya. Dan semakin terasa pula jalinan dongeng melalui jalan puisi ditempuhnya—seperti maktub yang menjadi empat bagian itu.

 

Permainan Keseharian

Akan tetapi, seringnya Isbedy Stiawan Z.S. menawarkan permainan keseharian berbahasa yang diungkapkan dalam teks puisinya, sesungguhnya ia juga bermain dalam kerawanan. Rawannya pembaca yang acap menginterpretasikan puisi sebagai “puncak estetika bahkan akrobatik” terhadap sikap soliter para frasa dalam menakik bahasa—khususnya keliaran berbahasa dalam puisi, tentunya. Meski peran para pembaca puisi (katakanlah sebagian atau beberapa pembaca hari ini) juga sering masih ambivalen tiap terlena, melangut, ngungun, bahkan terkontemplasi oleh puisi.

Pada buku Dongeng Adelia ini, justru tampak keberanian konsistensi Isbedy Stiawan Z.S. makin pada kemahirannya—kalau boleh dibilang juga makin mematangkan, mencakapkan sekaligus memantapkan—bahwa bahasa keseharian tak lain ialah entitas untuk memakinkan bahkan memungkinkan usia panjang perpuisiannya kelak; atas perlakuannya pada hal-hal remeh yang tak lupu pula ia sematkan. Mungkin ini pula yang dapat dibilang sebuah pencapaian: “ekaristi seorang penyair terhadap kasih hati puisi” memyublim ke buah proses kreatifnya.

Hasilnya, dari buku Dongeng Adelia dialurkannya empat maktub, yakni Dongeng Hujan, Dongeng Adelia, Dongeng Pengembara, dan Dongeng Ibu. Tiga dari keempat dongeng masing-masing berisi belasan puisi dan satu dongeng berisi tujuh puisi. Hampir semua teks puisi dihadirkan, seperti komunikasi dua arah antara aku dan kau yang dapat menjadi siapa saja. Bahkan pesona mimetis yang senantiasa di tengah kita pun dibikinnya hidup dan membaur seperti obrolan nyata yang tetap di dalam kodrat kesatuan paling akustis.

Rasakanlah bahwa kita memang terbagi menjadi beberapa bagian yang sering bisa saja terlibat tanpa maupun bersama kesadaran dari frasa, seperti beberapa judul berikut: Pantai, Laut Kita yang Berombak, Senandung Hujan, Kalender Januari, Tunggu Aku di Hari Minggu, Aku Tahu, Sepasang Burung, Dongeng Malam Sebelum Tidur, Malam Bersamamu, Belajar Mencintai, Dongeng Pagi ini, Menunggu Penerbangan, Di Sebuah Kafe, Mungkin Kau sudah Pulang, Di Sebuah Ruang, Datang dan Pergi, Mata Ibu, dan Mendekap Ibu: aku dekap ibu// merapikan kain yang tersingkap// :beginilah ibu mendekapku// menutup /tubuhku dengan selimut// agar lelap tak terusik nyamuk.

Demikianlah, di tengah manifestasi perpuisian Indonesia yang senantiasa bekerja untuk pencapaian estetika berbahasa—“serta keluhuran macam lapisan unsur di dalam teks puisi”—yang sering juga tertuntut makna di dalamnya (meski pencapaian makna juga tak mutlak kehadirannya), cukup patut dicerap buku Dongeng Adelia ini; estetika dari bahasa keseharian yang berenergi puisi

Sumber: Lampung Post, 26 Februari 2012

Antologi Puisi “Rumpun Kita”

Penyusun:
Shamsudin Othman
Rahimidin Zahari
Mohamad Saleeh Rahamad
S.M. Zakir

Percetakan : Univision Press Sdn. Bhd. – Selangor
Penerbit : Persatuan Penulis Nasional Malaysia [PENA], Kuala Lumpur
Edisi Pertama : November, 2009
ISBN : 983-42578-00-8

Buku ini merupakan antologi puisi dari penyair-penyair Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand yang diterbitkan untuk Pesta Penyair Nusantara (PPN) III di Kuala Lumpur, Malaysia, 20-22 November 2009. Sumber: http://zulzet.multiply.com/reviews

Di Antara

di kantuk semalam
jelang tidur aku minta izin padaNya
:bisa ketemuan dengan pacar dalam mimpi nanti?”
ternyata benar

bermimpi pacar datang bawa sekeranjang bunga
namanya bunga harum sedap malam
yang sebentar lagi akan di simpan dalam lemari baju
di antara kaos kaki, kutang, dan celana dalam
katanya: “kelak untuk aku agar wangi”
sebagai kenangan darinya, pada jasadku kelak

Lampung, Juni 2007