Bahasa dalam Puisi

F. Moses

Majalah Siasat, 9 Januari 1949, Rosihan Anwar menyiratkan Chairil  Anwar sebagai pelopor dengan membebaskan ikatan bahasa dan bentuk tradisional, maka puisi seperti ambil bagian menjadikan bahasa sebagai alat ujar yang tidak konvensional di wilayahnya. Seperti Sutardji Calzoum Bachri pernah dengan kredonya itu; ‘membebaskan kata-kata dari makna’.

Bahasa dalam puisi merupakan sosok pengemban dua pilihan bagi kebebasan kata-kata tersebut; menjadi sebenarnya (denotasi) atau tidak sebenarnya (konotasi). Meski kedua pilihan itu tetap saja sama-sama berprofesi sebagai bagian dari ‘rumah tangga kata’ yang kerap dimaksimalkan ‘kedalamannya’ oleh siapa pun penulis—tentu saja atas asas pertimbangan bentuk dan pilihan kata—dengan atau tanpa risiko; menanggung keberhasilan atau justru sebaliknya. Atau bisa saja menimbulkan cara terbaru dalam olah rasa bagi gagasan model berbahasa ditawarkan.

Bahasa Indonesia, dalam konteks puisi, bertaruh perkembangannya. Ia menjadi bentuk dan pilihan kata yang akan selalu dimaksimalkan penggunaannya atau ‘boleh diabaikan’ ketika terjadi pergumulan satu kata menjadi banyak arti. Atau satu arti berpotensi banyak kata. Bahkan ketika kata bermain pada konteks ‘pasangan minimal’—istilah fonologi, seperti amin dan aman, ruang dan raung, ibu dan iba, dan seterusnya. Bahasa Indonesia juga dipertaruhkan keberhasilannya terhadap pengonkretan hal-hal yang abstrak.

Apalah arti puisi bila tidak ada kedisiplinan gramatikal, apalah makna bila puisi keluar dari logika daya pikir, dan adalah nonsens berkepanjangan dalam bait-bait puisi sebagai akibatnya. Itu sama hal menanggung risiko membiarkan puisi jatuh ke jurang tidak berdaya, juga perlakuan pembiaran terhadap pembaca menjadi kian tersesat dalam medan bahasa tengah diperebutkannya. Bahkan mampus sekaligus cacat tafsir meski ide dirasa terampil dan seksi.

Maka, puisi yang baik, seyogianya merupakan keberhasilannya ‘menguasai’ perbendaharaan kata-kata—melebar sekaligus meramahkan ‘gang sempit’ pembaca menjadi ‘pejalan kaki’ dalam kenyamannya menempuh tujuan. Bahkan pemberian ‘jalan lain’ bagi pencari solusi. Sekaligus tawaran kebaruan ‘marka jalan’—seperti misteri ‘kata’ yang justru dapat berdampak efek kejenakaan dan kebanalan  sangat serius sekaligus kontemplatif.

Tentu juga berpotensi tercipta tafsiran yang lain. Seperti permainan juga persemaian bunyi dari kata-kata yang biasa mudah dijumpai, bentuk penjelasan sederhana, kemudahan untuk dimengerti sekaligus diimajikan. Terlebih puisi bukan pada persoalan makna paling dituju, melainkan kejelian melihat peluang bagi kata-kata, seolah berdaya akrobat yang tetap saja nikmat dan tidak pelik untuk dinalar-tafsirkan.

Sebuah kegelisahan yang dituangkan pada dominasi kata-kata paling berpeluang menimbulkan bunyi. Setidaknya, dengan kesengajaan bahwa kata-kata yang secara langsung sudah ‘terbebani’ itu dicari, dilacak, serta disusun kembali menjadi satuan kekuatan kejenakaan sekaligus kebanalan itu, dipotensikan melahirkan paradoks bagi makna sebenarnya. Dan tentu saja tetap berbunyi.

Dengan pemaksimalan berbahasa Indonesia dalam puisi, kita diajak untuk hidup selalu memaksimalkan imajinasi dengan santun—perihal untuk tidak selalu mengiyakan tapi juga tidak begitu saja menerima keberadaan kata dalam kalimat-kalimat paling sahih sekalipun meski sudah dianggap wajar ‘kebenarannya’. Puisi semacam menjumpai kenaifan kehidupan; setiap kalimat-kalimat pada umumnya kerap kali  terjadi pengembalian dengan pemberian benturan-benturan  kebaruan melalui tata bahasa yang imajinatif, reflektif, dan kontemplatif. Puisi tidak sekadar memberikan ketegasan pesan terpendam dari kejelasan maksudnya, dan kekritisan menghadapi persoalan lingkungan, tapi juga keindahan bunyi dari narasi proses pemikiran dengan logis.

Bahasa puisi menggamit erat segala persoalan kehidupan yang paling serius, sepele, mungkin juga yang dianggap tidak penting. Tantangan penyair tinggal bagaimana menarasikan perihal persoalan-persoalan tersebut. Hal sama seperti terpikirkan John Keats bahwa puisi suatu usaha untuk membaca indah dari membayangkan suatu narasi proses pemikiran atau logis—dia tidak menyiratkan sebuah puisi yang tidak masuk akal atau tidak memiliki narasi.

Puisi yang bagus memang mengonkretkan hal-hal yang abstrak.  Mengalir seperti air menemukan titik pangkal akanan manfaat bagi kehidupan—meski sekadar menjadi bahan baku bagi kehidupan yang tampaknya sepele. Puisi tidak sekadar rentetan kalimat asal bunyi atau asal puitis. Lebih dari itu, persoalan makna gramatikal dan makna konstektual patut diperhitungkan. Karena tentu saja, penyair terbaik tidak mungkin menulis di ruang yang kosong—apalagi tanpa kedalaman terpendam di dalamnya—sebagaimana Peacock menengarai bahwa puisi memiliki ukuran kolam yang dapat menyediakan kedalaman lautan seakan ia menyelam di kedalaman lautan dan berada di kedalaman lautan.

Namun sekalipun dalam ‘kekosongan’, ia tetap memendam seruan. Kekosongan tetap berada dalam kedalaman sekaligus standar estetikanya tersendiri. Betapa bahasa seperti tidak perlu bersusah payah ditemukan oleh seorang penyair—bahwa keindahan pilihan kata bukanlah kemutlakan, melainkan kejelian mencari keseharian kata-kata yang justru sering dijumpai bisa bertenaga dengan baik.

Ya, terkadang penyair sibuk mencari keindahan kata-kata atas nama seni merangkai kata biar lebih puitis atau lebih berbunyi-bunyi bagi berbahasa. Padahal penguasaan bahasa justru berperan penting. Sekalipun bahasa percakapan—bahkan slengean.

sumber: Lampost, 31 Desember 2017

Su

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s