Aforisme Sastra

F. Moses

Puisi “mengakurasikan ruang bagi ukuran irama di dalamnya”, maka ia laiknya bunyi dari bahasa keseharian manusia “penuh perhitungan”. Tata bahasa dari keragaman kata-kata yang sudah disterilkan dari perlakuan bunyi-bunyi tidak penting. Penuh pemikiran pelbagai isyarat segala tendensi. Barangkali juga ruang harapan segala renik dimaksudnya. Aforisme—bergerak tepat bagi wilayah pemaknaan penikmatnya. Lantas, demikiankah aforisme berpotensi menjadi kesatuan arti yang bulat sekaligus utuh?

Sastra sebagai medium terpenting yang menggunakan sekaligus memberdayakan bahasa, pada akhirnya ialah karya sastra, aforisme menjadi kehadiran persebaran (mungkin juga peleburan) tersendiri berpenuh potensi. Namun ia bisa juga bukan apa-apa, bila kekuatan makna tak menyerap di dalamnya.

Aforisme, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani ‘aphorismos’ dari ‘apo’ dan horizein; suatu ungkapan mengenai doktrin atau prinsip atau suatu kebenaran yang sudah diterima secara umum. Kemudian berujung pada satu penegasan bahwa aforisme harus berupa suatu pernyataan ringkas, tajam, dan mudah diingat, seperti dalam karya Hippocrates yang merupakan etimologi kata aforisme: “Jalan yang sudah licin karena ditapaki adalah jalan yang sudah aman”.

Dalam KBBI, aforisme lebih kurang dimaknakan sebagai pernyataan yang padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum—seperti peribahasa. Sekali lagi, lantas seberapa tangguhkah sekumpulan kalimat dapat dibenarkan kesahihannya menjadi sebuah aforisme? Di sini peran pembaca berperan penting bagaimana ia mengoptimalkan seluruh daya interpretasinya, saya pikir.

Menyoal kedalaman pengertian dari aforisme tidak saya runcingkan lebih lanjut. Maksudnya, barangkali, karena keterlanjuran banyak pengertian dari arti tersebut—seperti halnya adagium juga bersinonim dengan aforisme. Hanya saja, secara umum untuk ditukar-pikirkan saja menyoal aforisme. Artinya lagi, bahwa aforisme (kalau boleh dikatakan) ialah sebarisan beberapa kata yang berpotensi menjadi heroik dalam sebuah karya sastra; prosa maupun puisi.

Seturut di atas, saya terinspirasi apa dipikir Riffaterre, bahwa teks sastra memang perlu ditempatkan dalam rangkaian hubungannya antarteks puisi. Sebuah hubungan puisi maupun prosa yang tidak terlepas dari kevakuman budaya. Sebagaimana hal puisi yang (juga) merupakan tanggapan terhadap keberadaan teks-teks sebelumnya. Teks tersebut memang bisa apa saja, termasuk potongan sajak (aforisme) di dalamnya—sebuah praduga bahwa sebuah puisi biasanya baru bermakna lantaran dalam hubungannya (pertentangannya) terhadap puisi-puisi lain. Ya, itulah sebarisan rentetan kalimat efek aforisme yang melarut di kedalaman situasi sastra. baik situasi pelisanan maupun tulisan. Lalu apakah pada wilayah sastra? bisa iya bisa sebaliknya. Bergantung berangkat dari medan makna yang apa dan bagaimana. Tidak memungkinkan, tentunya, bagi wilayah-wilayah selain “kerja sastra”—seperti “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Baiklah, idealnya memang mesti dipikirkan (ada keberterimaan) secara terbuka bagi sebuah barisan kata-kata yang membentuk kalimat. Tapi ini kali, aforisme saya jajarkan sebagai bagian wilayah sastra.

Semoga saja keakraban dari sebuah puisi atau prosa dalam segala jenis maupun “kemagisannya” dapat menyertai pembaca sastra sepenuh hati. Bila tidak (semoga keliru dugaan saya), sekurangnya penggalan, meski dengan samar-samar kita ketahui, pernah terdengar—hingga menjadikan bebunyian dari kata-kata yang pernah menimbulkan ketegangan sekaligus keberulangkalian dalam menafsirkannya. Seperti aforisme penyair yang (barangkali) selalu kita ketahui bersama, ialah WS. Rendra, di antaranya pada “ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku”, “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”, “apabila aku dalam kangen dan sepi itulah aku tungku tanpa api”, “kita ini dididik untuk memihak yang mana? Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini akan menjadi alat pembebasan, ataukan alat penindasan?”, “kita telah dikuasai satu mimpi untuk menjadi orang lain. Kita telah menjadi asing di tanah leluhur sendiri”, dan “dua mata hitam adalah rumah yang temaram secangkir kopi sore hari dan kenangan yang terpendam”.

Selain itu dapat dibaca juga bagaimana Joko Pinurbo dalam puisi-puisi dapat melahirkan aforisme dengan sendirinya, di antaranya pada “hatimu tempat terhangat untuk terbakar, tempat terindah untuk padam”, “tiap akhir bulan ia jatuh miskin. Di dompetnya cuma tersisa selembar doa yang sudah kumal dan tak cukup buat membayar sesal”, “sabda sudah menjadi saya. Saya akan dipecah-pecah menjadi ribuan kata dan suara”, biarkan hujan yang haus itumelahap air mata yang mendidih di cangkirmu”, dan “ selamat menunaikan ibadah puisi”.

Kemudian K.H. Mustofa Bisri atau kerap disapa Gus Mus, di antaranya pada “aku bilang terserah, kau tidak mau. Aku bilang terserah kita, kau tak suka. Aku bilang terserah aku, kau memakiku. Kau ini bagaimana. Atau aku harus bagaimana?”, “stasiun demi stasiun terlewati tanpa kita sadari. Sampai kita kembali menjadi diri kita lagi”, dan masih banyak lagi dari penggalalan-penggalan puisi Gus Mus yang selalu memungkinkan menjadi aforisme.

Mungkin bukan hanya pada sosok WS Rendra, Joko Pinurbo, atau pun Gus Mus yang selalu memungkinkan dapat ditemukan kekuatan beberapa kalimat di dalamnya, melainkan pada Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Remy Silado, Agus R. Sarjono, Iswadi Pratama, Nirwan Dewanto, Isbedy Stiawan ZS, Acep Zamzam Noor, Agus Noor, Seno Gumira Ajidarma, Mahwi Air Tawar, Ari Pahala Hutabarat, Cecep Syamsul Hari, Mardi Luhung, dan masih banyak lagi sederet penyair dan prosais Indonesia—bahkan esais atau kritikus—yang berpotensi terciptanya aforisme dari banyak karya sastra yang dihasilkan.

Perjalanan aforisme tidak hanya sebatas itu, ia juga merangsek ke dalam catatan-catatan kecil yang kemungkinan kita jumpai, seperti pada dinding Facebook, Twitter,Instagram, atau blog pribadi di dunia daring. Setidaknya aforisme terbaik kerap terjadi dari sebuah pencapaian keberhasilan di wilayah proses kreatif—asumsi saya. Baik ilmiah atau bukan. Maksudnya, perihal remeh-temeh atau justru sebaliknya—meski terlalu bias bagi sebuah capaian atas asumsi pendasaran dari hal serius atau tidak serius.

Pada akhirnya, apakah dengan aforisme sudah cukup memadai bagi perkembangan dunia susastra (Indonesia)? Setidaknya patut disyukuri, bahwa keberadaan aforisme yang terjadi dari hasil proses kreatif bersastra tradisi tulis adalah persilangan dua kekuatan—yakni kekuatan dari keutuhan teks (baik puisi maupun prosa) hingga “kedigdayaan” interpretasi pembaca. Mengingat karya sastra terbaik ialah yang memberikan kelegaan emosional bagi “otonomi tafsiran” pembacanya—menurut saya.

Tiba saja saya tertumpu pada sekalimat Pramodya Ananta Toer: “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya”. Itu aforisme, kata saya. Tabik!

sumber: Lampost, 2 Juli 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s