Menyoal Kritik (dalam) Sastra

Oleh F. Moses

Pembaca budiman, berpuluh bahkan beratus serta berjuta tak berhingga “tradisi kritik sastra” itu terjadi–maka dalam kehidupan yang “mimesis” ini, saya coba tulis kembali: menyoal kritik sastra.

Kritik sastra setidaknya mampu menunjukkan nilai suatu karya tertentu secara tepat dan cemerlang, meniadakan persoalan-persoalan yang sulit dan rumit meliputi karya tersebut melalui penjelasan, uraian, bahkan penafsiran; diibaratkan sastra mampu menarik bahasa ke dalam wilayahnya—selain mengekspos “kepartikularan” tapi sekaligus strategi wahana untuk menjembatani. Pada perkara lain, menyoal kerumitan-kerumitan yang dimaksud kurang pahamnya pembaca dalam menilai karya sastra, hal ini menyebabkan karya yang dinilai baik pun belum tentu mendapatkan sambutan yang baik pula dari pembaca. Maka dari itu, di sinilah fungsi dari kritik sastra (kalau boleh dikatakan demikian)—apabila seorang kritikus mampu memberikan penjelasan mengenai metafora-metafora tertentu, simbol-simbol tertentu, ataupun makna (pun pemaknaan) di dalam suatu karya sastra tertentu, pembaca tentu mudah memahami karya sastra (sekurangnya terdapat “cara lain” bagi pembaca berproses dalam pendekatannya).

Sebagai misal puisi, mengingat keiintrisikan di dalamnya, salah satunya diksi—merupakan kata atau bila digabungkannya menjadi sebentuk para frasa yang cenderung memberi ruang pemaknaan bagi “tubuh puisi” itu sendiri, bila kata-kata dipilih lalu disusun dengan berbagai cara hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imajinasi estetik, dapat dikatakan itulah diksi puitis; mendapatkan kepuitisan serta mendapatkan nilai estetik. Maka secara langsung bahwa penyair memilih kata-kata dengan secermat-cermatnya. Subtil. Detail berpenuh emosi tenaga-pemikiran estetiknya. Mungkin dapat dianggap juga demikian: penyair sebelum menjalankan misi pencapaian usaha kepuitisan terhadap puisi yang hendak ditunaikan, telah dipertimbangkan sematang mungkin.

Bagi pencitraan puisi, pemberian gambaran yang jelas, untuk memberi suasana yang khusus, membuat (lebih) hidup gambaran dalam pikiran, penginderaan dan juga untuk menarik perhatian, penyair mengembangkan gambaran-gambaran angan (pikiran), selain alat kepuitisan yang lain.

Tak lain dapat dikatakan pula, sumber daya puisi dalam pencapaian kinerja puisi ke dalam pengonkretannya terhadap fenomena “keabstrakan” hendak ditunaikannya, dirasa perlu menggunakan angan-angan serupa perumpamaan; dengan hal itu pengapresiasi mengerti arti kata-kata, yang dalam hubungan ini juga harus dapat mengingat sebuah pengalaman inderaan dari objek-objek yang disebutkan atau diterangkan, atau secara imajinatif membangun semacam pengalaman di luar hal-hal yang berhubungan dari kerja puisi itu sendiri—sehingga kata-kata akan secara sungguh-sungguh berarti kepada kita. Hal itu secara tidak langsung melunakkan pembaca menanggapi perihal pengalaman dalam teks—telah ketersediaan kekayaan imaji tersimpan.

Dalam seni berpuisi, cara menyampaikan pikiran atau perasaan maupun maksud lain juga menimbulkan gaya bahasa. Gaya bahasa dari susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis; menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca.

Tiap pengarang tentu mempunyai gaya bahasa sendiri, sebagaimana praktik “ilmuwan sastra dunia” mengilmiahkan sastra itu sendiri, sesuai dengan sifat dan kegemaran masing-masing pengarang; gaya (termasuk gaya bahasa) merupakan cap seorang pengarang; gaya yang merupakan idiosyncracy (keistimewaan, kekhususan) seorang penulis; pun gaya dalam bagian orang sendiri. Jadi, meskipun tiap pengarang mempunyai gaya dan ciri sendiri dalam melahirkan pikiran, tetaplah sekumpulan bentuk atau beberapa macam bentuk yang biasa dipergunakan. Sebuah jenis bentuk yang biasa dikatakan sebagai sarana retorika (rhetorical devices)–.

Syahdan, dalam “etos kerja puisi” (yang kalau boleh dibilang baik), berikutnya adalah gaya bahasa tautologi, yang tidak lain sebagai sarana untuk menyatakan hal atau lebih dua kali; maksudnya supaya arti kata atau keadaan itu lebih mendalam bagi pembaca atau pendengar. Kemudian keterangan berulang, penguatan suatu pernyataan, paralelisme yang mengulang isi kalimat dari maksud tujuan serupa, penggunaan titik-titik banyak untuk meleburkan perasaan yang tidak terungkapkan, retorika hiperbola sebagai sarana yang melebih-lebihkan suatu hal atau keadaan, maupun retorika paradoks yang menyatakan sesuatu secara berlawanan—kalau boleh dikatakan kembali, ekstremnya, adalah semacam “penyegaran anomali”. Usaha menakik keterbiasaan menjadi ketidakbiasaan.

Setelah puisi siap dihidangkan, penyair tanpa sadar terusik oleh titik keberangkatan itu semua, yakni tema; sesuatu yang bisa saja akhirnya terumuskan sebagai masalah atau objek tertentu atau kejadian tertentu yang menjadi acuan penyajak saat menulis atau merekonstruksi sajak; maksudnya, jadi tak mungkin ada sajak yang tanpa tema. Meskipun bisa saja saat penyair mulai menulis ia secara sadar menyiapkan temanya; kajian makna yang terkandung, namun di dalamnya terdapat tawaran makna. Maka masalahnya adalah: makna khusus mana yang dapat dinyatakan sebagai tema itu. Dari situlah kiranya keterampilan pemahaman “kenyataan tandingan” penyair teruji.

Lalu dapat dikatakan juga, sesuatu yang tersirat kemudian muncul ke permukaan terhadap sebuah tanggapan pokok pikiran (baca: pergumaman) seorang penyair atau pembaca tatkala hendak memulai (penyair) dan setelah membaca (pembaca).

Setiap perlakuan hermeneutik (tafsiran utuh) terhadap sebuah puisi kerap meninggalkan kesan atau impresi; kesan dimaksud secara langsung pula adalah moral dalam kerja karya sastra—biasanya mencerminkan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikannya kepada pembaca.

Apalagi tatkala menyoal moral dalam karya sastra, dapat juga dipandang sebagai amanat dan pesan. Bahkan unsur amanat itu sebenarnya merupakan gagasan yang mendasari karya itu, gagasan yang mendasari diciptakannya karya sastra sebagai pendukung pesan.

Selain beberapa kandungan intrinsik untuk memahami karya sastra berupa puisi, sastra tidak juga terlepas dari sifat keterpengaruhan dari semesta (mimetis), pembacanya, dan sifat-sifat lahiriah yang secara tidak langsung merupakan curahan si pengarang.

Dalam ”prinsip kritik sastra” (sebagaimana ilmuwan sastra bilang), bahwa kritik mimetik memandang karya sastra sebagai tiruan, pencerminan, atau penggambaran dunia luar dan kehidupan manusia. Kriteria yang utama dikenakan pada karya sastra adalah ”kebenaran” penggambarannya terhadap objek yang digambarkan atau hendak digambarkan. Lalu kritik pragmatik (pracmatic criticism); sebuah kritik yang memandang karya sastra sebagai sesuatu yang disusun yang mempunyai tujuan untuk mencapai efek-efek tertentu pada pembaca. Kritik pragmatik cenderung menimbang nilai karya sastra sesuai dengan keberhasilannya dalam mencapai tujuan tersebut.

Kemudian kritik ekspresif yang mendefinisikan puisi sebagai ekspresi, curahan, ucapan perasaan, atau sebagai produk imajinasi penyair. Kritik ini menghubungkan karya sastra dengan pengarang. Kritik ini menganggap karya sastra sebagai sesuatu yang berdiri bebas dari penyair, pembaca, dan dunia sekitarnya. Lainnya yakni, kriteria pratama seturut objek, tak lain ialah kritik objektif–pengupasan terhadap (pun bagi) kriteria intrinsik di dalamnya. Sekian. Selamat “berkritik”.

Sumber: Lampung Post, 27 Desember 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s