“Membaca Novel”

F. Moses

Pendekar bahasa bernama Harry Hoijer (1904-1976) berujar—kurang lebih begini: bahasa tak lagi sekadar alat komunikasi, tapi strategi bagi persepsi pembicara menjadi ruang penciptaan dari cara-cara biasa untuk menalarkan buah pengalaman dalam kategori-kategori penting.

Seturut ujaran tersebut, seperti tampak mudah bahasa itu—layaknya rangkaian kereta permainan yang berjalan lurus. Tinggal cara kita membuat kelokan serta latar sekeliling dan stasiun perhentian sesuka hati. Mungkin.

Di negeri ini, sebagaimana kita ketahui, sejak kebebasan bagi media (mungkin lebih khusus pada media lokal) dalam penyampaiannya, bahasa terus melesat—berkembang dalam penciptaan kata maupun frasa-frasa baru bahkan lebih banyak lagi. Sebagaimana kalimat di atas menyoal penciptaan dari cara-cara biasa bagi penalaran buah pengalaman dalam kategori penting, justru etimologi nama maupun kata dasar lain juga menjadi sarat makna dan interpretasi tercipta dari olah bahasa si jurnalis.

Pada media cetak paling umum bagi warga Jakarta yang senantiasa menghadirkan lembaran bergambar—katakanlah, misalnya Warta Kota atau Pos Kota—satu rubrik secara konkret “menghalalkan” cara berbahasanya, sebut saja bagaimana media tersebut (kolom agak “saru) bermain awalan (prefiks) main sikat (asal ucap lalu dicetak).

Bentuk penghalalan tersebut misalnya, pada kata dibooking, dikumbah, diinceng, dan dilajo—khusus pada di-booking itu tercipta dari sebuah kenekatan. Maksudnya, si jurnalis berani memadankan interferensi dari bahasa Inggris. Meski ternyata tetap saja punya tujuan untuk memperhalus wacana tersebut, lantaran semisal menggunakan kata dipesan dianggap berhubungan dengan konteks barang. Jadi, kecenderungan dibooking lantaran dianggap akrab terdengar dalam keseharian. Begitu pula dengan kata yang diserap dari bahasa jawa sebagaimana disebut diatas.

Barangkali itu semua tak lepas dari mudahnya proses keterserapan yang datang bertubi. Satu kata bisa menimbukan banyak arti serta kesamaan. Belum lagi campur tangan penyertaan imbuhan—katakanlah kata benda menjadi kata yang dibendakan dari akhiran ‘an’: siulan, cairan,makanan, serta kuningan. Masih banyak lagi.

Selain itu, “permainan” dalam pembentukan sembarang imbuhan (afiksasi) yang dianggap tepat dan sekenanya. Maksudnya, afiks yang di antaranya prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), dan konfiks (gabungan prefiks dan sufiks) membuat kata menjadi sarat interpretasi. Kita sebut saja “massa”—tentu sudah tak asing lagi terdengar istilah “dimassa”; awalan ‘di’ tersebut seperti kian mengonktretkan bahwa tak perlu lagi terjadi penjelasan tentang terjadinya bentuk pemukulan, penendangan, penonjokan, penghantaman, maupun penganiayaan—itu semua menjadi konkret atas perwakilan “dimassa”.

Selanjutnya, kecenderungan afiksasi kadang memberi “pelayanan makna” tersendiri. Maksudnya, penempelan imbuhan tak lazim sebagaimana biasa, saya rasa inilah sikap atas cara-cara biasa untuk menalarkan buah pengalaman menjadi begitu penting meski terdengar sepele: bagaimana semisal persilangan prefiks-sufiks seperti “dijadikan”, “dikuatkan”, dihancurkan”, dilemahkan, dikhianatkan”, dan sebagainya—juga bisa menjadi “dinovelbaswedankan”.

Atas penggabungan afiksasi baru tersebut, sebagian masyarakat pemerhati pun (barangkali) bakal bertafisir: “Oh, itu, kan, sosok orang yang kembali disoalkan atas peristiwa 11 tahun lalu. Ia ditangkap serta ditahan tanpa kesesuaian aturan yang berlaku.”

sumber: 27 Juni 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s