Teror Si Jempal

oleh F. Moses

Pikirannya larut pongah, Jempal masih ke sana kemari seperti hari kemarin. Tampak linglung. Mondar-mandir sepanjang jalan toko buku milikku. Katanya, ia datang untuk mencari tokoh rekaannya yang telah lama hilang. Ia tampak terlihat frustasi. “Ini seperti requem paling gila,” Jempal membatin.

Seorang penjual di sebelah toko milikku selalu mengira Jempal kerasukan bahkan gila teramat sangat. Lantaran tiap bertandang tak pernah membeli buku, hanya melihat-lihat saja. Membuka lembar demi lembar dari buku dikaisnya. Mengamati tiap-tiap sampul. Lalu dibacanya jeli nan teliti tiap baris. Terlebih endorsement pada sampul bagian belakang.

Pernah seorang penjual di sebuah toko buku milikku kesal karena Jempal tak pernah membeli.

“Kerjamu cuma melihat-lihat saja, bikin sumpek lapak bukuku. Kalau tak punya uang lebih, mending tak usah lihat-lihat!”

“Mas-mas, toko sudah mau tutup, silakan keluar atau besok datang lagi,” kata seorang Satpam toko buku ternama.

Jempal tak pernah ambil pusing. Lantaran kepalang tanggung sudah pusing tujuh keliling. Bukan kepalang lantaran memang tak akan pernah mampu mengeluarkan masalahnya sendiri, bahkan obat maupun pil pahit lain yang sanggup menyembuhkannya sekalipun. Kalau sudah mumet begini, Jempal kerap mendamik wajahnya sendiri. Beberapa penjual di sebelah toko milikku, biasanya, cuma nyengir kesal kalau sudah melihat ulah si Jempal.

Paling diingat, hari-hari terakhir menulisnya waktu itu, Jempal memang sedang pusing; seorang tokoh rekaan dari cerita yang tengah dikerjakannya, tiba-tiba minggat dari ceritanya entah ke mana. Menurut sumber entah, sudah berkali-kali Jempal mencari tokoh rekaannya itu tanpa fakir letih; di kolong tempat tidur, balik lemari, atap genting, tiap-tiap pelipiran tong sampah, warung kopi, diskotik, kantor polisi, kelurahan, kecamatan, warung-warung kelontong hingga minimarket, kawasan rumah elit sampai kawasan kumuh, kompleks menteri, rumah-rumah kluster, bahkan bantaran kali ciliwung sampai kanal timur.

**

Sekadar informasi, dua hari lalu, seorang tokoh rekaan dari ceritanya itu bilang kepadaku, “Kalau kamu lagi kesepian, jangan pernah bilang tak punya pekerjaan, ya. Nanti bisa diseret Jempal si penulis itu. Lalu dijadikan tokoh dalam penceritaannya!”

Mendengar cerita tokoh rekaan itu, aku tak habis pikir, kok, begitu bisa seorang tokoh minggat dari pertengahan cerita yang tengah digarap si Jempal. Ah, Ada-ada saja.

Tiba-tiba tokoh rekaan itu menepuk pundakku.

“Hei, ini bukan ada-ada saja, Mas, tapi fakta. Bukan sekadar imajinasi bohong, melainkan sungguhan. Kalau tak percaya, belah saja bagian dadaku dan sekitar kemaluanku ini.” Di hadapan para penjual toko buku, semua orang yang mendengar ceritanya tampak bingung.

Seorang penjual dari toko buku sebelahku juga tak habis pikir; apa ada hidup seorang tokoh apalagi tokoh yang melindap dari rekaan penulisnya.

Lalu tiba saja tokoh rekaan itu juga bilang begini, “Hei, aku bukan tokoh buronan, aku hanya diperalat oleh kekuasaan imajinasi, dasar si Jempal, penulis kurang kerjaan. Kerjanya cuma melamun lalu memperalat para tokoh rekaan, termasuk aku ini!”

**

Sejak kejadian itulah, kampung para penjual toko buku di daerah kami mulai kesal dengan keberadaan si Jempal, kerjaannya menculik. Maksudnya, penulis bernama Jempal acap menculik seseorang lalu dijadikan tokoh rekaan dalam ceritanya. Mulai dari anak yang baru lahir sampai kakek-nenek. Semuanya hampir digarap dengan rapi.

Pak RT di tempat kami tinggal juga pernah sampai ketakutan, lantaran beberapa kali sosoknya dipinjam oleh Jempal.

“Bayangkan saja, baru lagi asik-masyuk menikmati hari Minggu, tiba-tiba seorang tetangga menyodorkan koran hari itu untuk saya baca, tepatnya rubrik cerita. Terus terang, saya tak suka baca cerita di koran. Tapi karena ulah si Jempal, apa daya, emosiku memuncak. Masak ia meminjam nama dan karakterku. Dalam cerita itu aku dibilang tukang kawin, pembual, main judi, keple, bikin onar, bahkan sampai biang kerok suka menyebarkan aliran gelap. Kurang ajar!”

“Terus, Pak RT?”

“Langsung saja ia aku laporkan kepada Pak RW, Pak Lurah, berlanjut ke kantor kepolisian. Aku ingin ia ditahan karena mencemarkan nama baik.”

“Kenapa tak Pak RT langsung pukul saja si Jempal.”

Lah, buat apa. Percuma, dong, kan, sudah ada petugas berwajib.”

Tapi lagi-lagi apa daya, di kepolisian semuanya cuma bisa nyengir lalu pecah suasana pada tertawa. Ujung-ujungnya, karena dipaksa oleh Pak RT, pihak kepolisian cukup merekomendasikan kepadanya agar orang itu diusir dari kompleks perumahannya saja.

**

Di tempatnya yang baru, pada sebuah kontrakan pinggiran kota, Jempal juga makin penuh dengan ancaman. Apalagi di daerahnya itu banyak penjual dan pemilik kios buku, bahkan tempat indekosnya para karyawan-karyawati beberapa toko buku ternama. Semua tahu, ia yang hari-harinya bekerja sebagai tukang bikin cerita. Imbasnya, banyak terjadi penculikan nama dan karakter orang-orang demi kebutuhan cerita. Atau kerjanya hanya mencari-cari lalu membaca buku tanpa pernah mau membeli.

Jempal tetap selalu saja bergeming, masa bodoh dengan itu semua. Intinya, ia justru yang tengah dirundung hari-hari sarat kesedihan lantaran tokoh rekaan paling dicarinya itu masih belum ditemukan. Kepada siapa Jempal mesti bertanya, berkeluh, atau barangkali mesti keberapa kalinya ia sampai membikinkan iklan untuk mencari tokoh rekaannya yang hilang.

Pada suatu malam, tatkala sendirian di rumah, terdengar begitu keras pintu rumahnya diketuk. Saat itu Jempal tengah menyelesaikan cerita yang lain. Tentu saja tanpa tokoh rekaan kesayangannya itu. Jempal tak menghiraukan ketukan itu. Mulai ketukan yang perlahan, keras, semakin keras, hingga terdengar seperti menggedor. Jempal pun membukanya.

Sontak kerah piyama Jempal langsung ditarik, sambil satu tangan mengepal siap meninju. Mata si tokoh itu melotot. Alis tebal si tokoh saling menyatu kuat mengerut. Tanpa ba-bi-bu lagi, tokoh rekaan dari ceritanya itu langsung mendorong tubuh Jempal yang malam itu sedang payah. Parahnya, Jempal nyaris dibunuh; sambil ditelentangkan di atas meja, dengan hunusan pisau ditancapkan tepat di samping mukanya.

Jempal bergidik ketakutan luar biasa. Suasana dini hari pun berubah mencekam sebab hanya mereka berdua.

“Pokoknya kau harus bertanggung-jawab, Jempal sialan, jangan bisanya cuma meminjam tokoh rekaan lain. Urusan kita belum selesai, kau sudah sibuk mencari tokoh yang lain!”

Jempal gemetar tak karuan. Spontan kencing membasahkan celananya. Ia meringkuk di sudut kamar dengan gigi yang masih bergemeletuk cepat. Diraihnya mesin tik sambil tergopoh. Ia hendak kembali menyelesaikan ceritanya. Tapi apa daya, ia pasrah dan pasrah kalau saja tokoh rekaannya itu kembali lagi. Ia mendekati kefrustrasian dan ketakutan begitu gigil.

**

Jempal beraktivitas seperti biasanya, yakni baca koran, menyeruput kopi, dan membakar rokok kretek. Setelah itu bergerilya mencari beberapa tokoh rekaan lain. Jempal kembali menerabas detik ke menit, menit ke jam, jam ke lingkaran hari, hari ke hari membentuk bulan hingga tahun. Jempal ingat, begitu banyak para tokoh rekaan yang meninggalkan dirinya. Bermaksud ingin berjelajah kembali di emperan kios-kios dan toko buku ternama kota ini, hatinya cemas dirundung ketakutan begitu dahsyat. Sebab ia mesti kembali mengais banyak buku lalu mencarinya dalam tiap lembaran.

Jempal juga masih ingat tatkala begitu sarat mengakomodasikan banyak tokoh rekaannya. Tokoh-tokoh itu dibimbing dengan baiknya. Ada tokoh anak-anak yang mampu membeli semua mimpinya, para perempuan dan lelaki bertampang pas-pasan minta dibikin cantik dan tampan seketika, suami yang meminta bisa kawin lagi untuk kesekian kalinya. Begitu pula kisah-kisah para istri yang diminta kelancarannya untuk bisa tetap eksis bersama berondong muda. Bahkan tak jarang politikus gadungan yang memohon kepadanya agar di pertengahan cerita dijadikan politikus serius bertampang meyakinkan di mimbar saat berorasi dengan sebuah massa kelak. Dengan tulus ikhlas Jempal menurutinya.

Akan tetapi, Jempal kian hampa dalam hari-harinya. Di saat frustrasi tak kunjung padam, Jempal justru dicari-cari oleh tokoh rekaan yang kembali menagih janjinya.

Pada suatu hari di tempat Jempal biasa mencari-cari buku, seorang bilang kalau kerabat dari toko buku miliknya dibunuh oleh tokoh rekaan si Jempal. Makanya, akhir-akhir ini menjadi banyak para penjual dan orang-orang yang berurusan dengan buku mulai mencari-cari dirinya. Katanya, Jempal paling bertanggung jawab karena membengkalaikan tokoh-tokoh rekaannya. Tentu saja, cerita dari seseorang itu kian membuat dirinya tunggang-langgang kaki dirasa ingin berlari dan kocar-kacir pikirannya.

**

Sore berhujan, gelegar petir dan dingin merasuk menyusup perlahan ke kepala, membuat bayangan Jempal kian terdesak untuk kembali bersegera menyelesaikan cerita. Tentunya untuk menghindari perkara runyam terhadap tokoh rekaan yang hampir saja merenggut nyawanya. Karena ia tak mau kejadian dibantai apalagi sampai dibunuh oleh tokoh rekaannya sendiri.

“Sudah, Mpal, lebih baik kamu berhenti saja jadi penulis, ketimbang tersiksa macam orang tolol diteror tokoh rekaanmu sendiri!” kata seorang temannya.

Ia bergeming mendengar ucap temannya itu. Baginya inilah puncak nikmat belantara kehidupan tatkala bermain dengan tokoh rekaannya sendiri. Dunia paling membahagiakan. Sejak dulu yang amat paling dicintai. Meski akhir-akhir ini kehidupannya kian terancam lantaran dianggap tak becus mengorganisasikan tokoh itu.

Pada suatu ketika, dalam gelap dini hari, tokoh rekaan itu membangunkan dirinya dengan sebilah pisau.

Jempal kembali tergeragap tak karuan. Meski makin pucat pasi di antara mimpi atau kenyataan, sesuatu mesti kembali ditunaikan, oleh tokoh yang kerap seperti hantu bagi dunia kepenulisannya. Kini, Jempal kembali dibangunkan oleh tokoh itu.

“Ada yang mesti kau tunai, Jempal. Ceritamu belum selesai, selamatkan aku dari kegagalan memimpin negeri ini. Bangun!”

Jakarta-Bandung-Cibinong, 2013-2014

Sumber: Lampung Post, 23 November 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s