Fasih

*)F. Moses

Kopi masih panas dan Memet menunggu dingin sebelum menenggak.

“Quot linguas quis callet, tot homines valet”—bunyi tersebut menyiratkan bahwa kefasihan berbicara dalam pelbagai bahasa pertanda keluasan pergaulan seseorang, ckckck. Dari bunyi tersebut, seorang teman bernama Memet, mencoba yakin; betapa memang sungguh fasih lintas komunikasi di negeri 230 juta umat bernama Indonesia. Belum lagi lantaran keberagaman suku maupun dialek yang selalu mampu memicu serta memprovokasi lembaga tertentu untuk kepentingan penambahan perbendaharaan kosakata. Silakan berbangga. Silakan angkat topi. Silakan sekadar bilang menjura, namaste, atau apalah namanya. Pokoknya sila atau silakan.

Atas dasar tersebut Memet pun yakin, bahwa pantaslah bila bahasa Indonesia kian mengemuka di ASEAN (meski tak semendunia Prancis, Rusia, China, Spanyol, dan Arab—sebagaimana diafirmasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai bahasa resmi yang digunakan dalam forum-forum internasional) karena selain digunakan oleh ratusan juta penduduk bagi negerinya, bahasa Indonesia juga dipahami bahkan digunakan bagi masyarakat di negara-negara Asia Tenggara. Terlebih bagi beberapa negara maju di luar Asia Tenggara, seperti Australia, yang sudah memiliki pusat pengajaran bahasa dan kurikulum tentang bahasa Indonesia. Gegapnya lagi, hingga kini sudah 45 negara mengajarkan bahasa Indonesia, di antaranya Australia—di negeri kanguru (kelahiran band grunge bernama Silverchair) tersebut bahasa Indonesia menjadi bahasa populer keempat. Kemudian Amerika, Kanada, dan Vietnam—kalau tak keliru beberapa pedagang di Ho Chi Minh memang mulai bergiat belajar bahasa Indonesia mengingat penjual mesti ngeladeni wisatawan/pekerja Indonesia.

Menyoal perkembangan bahasa Indonesia di Australia, sudah 500 (barangkali saiki udah nambah jadi 504/507, amin) sekolah mengajarkan Bahasa Indonesia. Bahkan mereka (Australia) mengakui kalau anak-anak kelas VI Sekolah Dasar cukup banyak menguasai Bahasa Indonesia. Baiknya lagi, selain Australia, Vietnam (Pemerintah Daerah Ho Chi Minh City) juga mengumumkan bahwa bahasa Indonesia secara resmi pada 2007 menjadi bahasa resmi kedua di negara tersebut. “Selanjutnya adalah tugas kita bersama terhadap bahasa Indonesia: akan semakin kita fasihkan atau kian ‘dijungkirbalikkan’ tak karuan,” tegas Memet.

Kekacauan berbahasa Indonesia memang sudah bukan hal khusus dan khusyuk lagi—saking umumnya, sensibilitas terhadap kekacauan berbahasa Indonesia pun “melumpuh”. Terlebih pada banyak papan reklame yang sudah masuk tingkat “stroke”.

Barangkali kita masih ingat, tatkala penyakit bahasa gado-gado cukup ramai (sekali lagi menyoal Indoglish). Biang segala biang tertuju lantaran SBY (kepala negara) yang kerap mencampuradukan bahasa Inggris dalam padato resmi kenegaraan. Padahal, beliaulah yang menandatangani sendiri Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Negara lainnya (selanjutnya disebut Perpres 16/2010). Semoga saja presiden berikut tak membuat kekacauan berbahasa Indonesia yang sama—meski pemakluman datang dari sebagian masyarakat luas bahwa mereka tak terlalu mempermasalahkan perihal Indoglish yang digunakan oleh Presiden SBY. Ironisnya, Menteri Hukum dan HAM dan Pimpinan DPR memberikan pembelaannya: menurut mereka, penggunaan bahasa Inggris tersebut harus dipermaklumkan agar komunikasi dengan para pendengar dapat lebih mudah ditangkap. Duh!

Seorang penulis di blog salah satu jejaring pun, bahkan, pernah menyatakan bahwa ia menyetujui apabila ada komentar yang menyatakan bahwa banyak hal yang lebih penting untuk diurus seperti pemberantasan korupsi dan pengentasan kemiskinan, ketimbang urusan penggunaan bahasa semata. Sungguh, Memet pun berang (bila perlu tak segan mencabut badik) tak setuju atas pernyataan penulis tersebut! Bagaimana dengan Anda?

Kembali pada pernyataan pepatah latin di atas, bahwa interpretasi kefasihan memang mesti diperlukan. Tapi bagi Memet asal dengan beberapa syarat: di antaranya tetap menjunjung tinggi sarana ruang dan waktu tatkala bermain di “lapangan identitas kebahasaan”.

Kopi terlanjur dingin dan Memet kembali memesan.

Catatan: tulisan di atas adaptasi dari sumber tulisan saya-Lampung Post, 21 Mei 2014

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s