Sebuah Kesepakatan Atas Nama Simbol

F. Moses

WaltWhitmanSimbol secara langsung memperkokoh kedigdayaan puisi itu sendiri, seperti kian melegitimasikan bahwa pembaca puisi ialah makhluk cerdas lantaran ketersedian kemampuan (hak otonomi) mengisi ruang interpretasi. Saat kegelisahan melanda bahkan mengancam si penyair, simbol pun menjadi penengah hebat di antara penyair dan pembaca.

15 April 1865, tepat usia ke-54, Lincoln terbunuh. Kematian presiden Amerika Serikat ke-16 tersebut membuat rakyatnya larut dalam duka. Bukan hanya Amerika Serikat, melainkan keseluruhan Amerika. Tapi beberapa waktu setelah kejadian itu, penyair Walt Whitman (1819-1892) pun “terganggu”—imajinasinya seperti tengah diserang puluhan tujahan; ia lantas membuat puisi atas kedukaannya terhadap Lincoln. Maka terbitlah sepuisi berjudul When Lilacs last in the Dooryard Bloom’d.

Puisi Whitman menyoal tanaman lilac yang sedang berbunga pada musim semi, kala saat itu presiden Lincoln terbunuh. Tambah Whitman, kedukaan memang tak lagi melanda keseluruhan Amerika, tapi juga termasuk alam dan binatang yang ada di sana. Bahkan burung hermit thrush pun bak mewakili duka orang-orang dengan menyanyikan lagu yang amat sedih.

Selain kedukaannya yang sangat dalam, Whitman juga mendeskripsikan perdamaiannya dengan kematian melalui lirik lagu dalam puisi ini. Awalnya ia tak dapat menerima kematian, karena kematian sangat membuat orang-orang menderita, terutama orang-orang yang ditinggalkan, namun akhirnya ia menyadari bahwa kematian itu suatu hal yang tak dapat dihindari oleh makhluk hidup. Walaupun puisi ini dipersembahkan untuk Lincoln, namun Whitman juga mempersembahkan puisi ini untuk semua orang, terutama bagi para tentara yang meninggal dalam perang.

Setidaknya ada tiga usaha simbol dalam puisi ini, yaitu lilac, star, dan burung hermit thrush. Ketiga simbol tersebut mengacu pada Abraham Lincoln. Lilac mengacu pada karakter Abraham Lincoln yang baik. Lilac merupakan simbol cinta., sama seperti Lincoln yang memiliki cinta dan dicintai oleh rakyatnya, termasuk Whitman. Star mengacu pada Lincoln sebagai pemimpin dan kepribadian yang hebat dan indah. Ia memimpin Amerika saat perang saudara antara Amerika bagian utara dan selatan, mengakhiri perbudakan, dan berusaha agar negara-negara di Amerika dapat tetap bersatu. Syahdan, burung hermit thrush mengacu pada perjuangan Lincoln untuk mengakhiri perbudakan dan mempertahankan kesatuan negara-negara Amerika.

Atas catatan tersebut, simbol secara langsung memperkokoh kedigdayaan puisi itu sendiri, seperti kian melegitimasikan bahwa pembaca puisi ialah makhluk cerdas lantaran ketersedian kemampuan (hak otonomi) mengisi ruang interpretasi. Saat kegelisahan melanda bahkan mengancam si penyair, simbol pun menjadi penengah hebat di antara penyair dan pembaca.

simbol dengan terang juga mengacu pada kata-kata bermakna ganda (konotatif), sehingga untuk memahaminya seseorang harus “kaya bertafsir” dengan melihat bagaimana hubungan makna kata tersebut dengan makna kata lainnya, sekaligus berusaha menemukan figur konkretnya, mengembalikan kata ataupun bentuk larik (kalimat) ke dalam bentuk yang lebih sederhana lewat parafrase.

Kekuatan Simbol

Sebagaimana Renne Wellek dan Austin Warren menyoal simbol, bahwa simbol juga merupakan suatu istilah  dalam logika, matematika, semantik, semiotik, dan epistemologi; karena itu simbol memiliki sejarah panjang di dunia teotologi; simbol tak lain adalah bak sebuah sinonim dari “kepercayaan”. Simbol semacam perwakilan dari sesuatu yang lain. Seperti simbol “Burung Hitam” karya WS Rendra.

Berikut secontoh sebuah puisi karya W.S. Rendra atas kepiawaiannya mengolah simbol “Burung Hitam” dalam buku Empat Kumpulan Sajak (1961). Simbol yang langsung tampil secara terus-menerus menampilkan dirinya: Burung hitam manis dari hatiku//Betapa cekatan dan rindu sepi syahdu//Burung hitam adalah buah pohonan//Burung hitam di dada adalah bebungaan//Ia minum pada kali yang disayang//Ia tidur di daunan bergoyang//Ia bukanlah dari duka meski si burung hitam//Burung hitam adalah cintaku yang terpendam

Simbol dalam puisi juga dapat berupa kata tugas, kata dasar, maupun kata bentukan—yang selanjutnya simbol dapat dibedakan antara (1) blank symbol, yakni bila simbol itu, meskipun acuan maknanya bersifat konotatif, pembaca tidak perlu menafsirkannya karena acuan maknanya sudah bersifat umum, misalnya “tangan panjang”, “lembah duka”, “mata keranjang”, (2) Natural symbol, yakni bila simbol menggunakan realitas alam, misalnya “cemara pun gugur daun”, “ganggang menari”, hutan kelabu dalam hujan”, dan (3) Private symbol, yakni bila simbol itu secara khusus diciptakan dan digunakan penyairnya, misalnya “aku ini binatang jalang”, “mengabut nyanyian”, “lembar bumi yang fana”. Namun demikian, batas antara private symbol dengan natural symbol dalam hal ini sering kali kabur. Bentuk pengaburan dimaksud lantaran terlalu dekatnya penyair dengan alam (semesta) itu sendiri. Meski demikian tetaplah dapat dikenal antara yang natural dan privat. Kita  dapat mengendeus dari puisi “Celana I” karya Joko Pinurbo, ia kerap bermain dalam ranah privat: seperti “kebersihan diri”, “keaslian diri”. selain itu pada puisi “Tukang Cukur” atas peleksikalan “di kepalaku” bermakna kepala bumi itu sendiri.

Bagaimana dengan Lampung? Saya berani bilang, “simbol liris dan imajis” sangat “merasuk baik” para penyairnya—barangkali kelirisan dan keelokan alamnyalah yang paling bertanggung-jawab. Sebut saja Iswadi Pratama dengan kekhasannya bermain dengan sebuah kenangan bernama Tanjungkarang. Isbedy Stiawan ZS yang kerap seperti terganggu oleh momen puitika laut Telukbetung dan sekitar, Ari Pahala yang pernah dirundung oleh kedalaman sumur; hingga ia pernah mengahadirkan puisi “Sumur Bapak”, Udo Z. Karzi memberikan tawaran estetika baru (usaha tindakan penyelamatan ucap lokal menjadi estetika ingatan sebuah sejarah atau tradisi lisan dalam wahana puisi). Selain itu, Inggit Putria Marga yang menghadirkan “estetika  agraris” ke dalam mantra puisi, Agit Yogi Subandi dengan kelirisan taman/tangkai/kumbang, daun, serta embun pagi hari suasana pedalaman Lampung. Kemudian ada juga Fitri Yani yang sepengamatan saya, ia terganggu oleh gagasan dari sebuah dermaga. Kira-kira demikian sepenggal catatan ingatan saya.

Seturut dikatakan Barthes, bahwa simbol juga merupakan lapangan dari tema, secara tegas simbol menguatkan makna itu sendiri. Simbol membawa rangkaian puisi ke arah tujuan paling estetis, mengkomunikasikan makna, dan penyampaian segala bentuk gagasan. Maka, bermain simbol, secara langsung juga siap bermain dalam ranah “perwakilan makna”. Seyogianya, simbol pun mesti kian menerangkan tubuh puisi; bukan menggelapkan. Apalagi menyesatkan pembacanya. Masih sepatkah kita untuk senantiasa menawarkan simbol dalam wahana puisi?

Sumber: Lampung Post, 13 Oktober 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s