Bulan Tanpa Huruf ‘H’

oleh F. Moses

Jika penulisannya itu masih mempertahankan keasliannya, berarti kata dan istilah itu masih kita anggap asing sehinga penulisan menggunakan huruf miring, kata Abdul Gafar. Saat ngopi bersama pada suatu pagi.

Sekali lagi menyoal kata ramadan. Ya, penulisan istilah/ kata: ramadan dan ramadhan, masih terjadi. Bukan benar atau salah, apalagi pembenaran, melainkan keliru dan tepat—dalam kapasitasnya yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Karena kata tersebut, dengan maupun tanpa h, tetap satu maknanya.

Memang, kelaziman itu sulit dihilangkan lantaran tulisan yang sudah digunakan selama ini masih dipertahankan. Syahdan, Keinginan kalangan tertentu yang ingin mempertahankan keasliannya sehingga sebuah istilah atau kata yang berasal dari bahasa Arab diucapkan setepat bahasa aslinya. Hal ini, terlebih muncul dari kalangan yang berlatar belakang bahasa Arab atau santri. Akan tetapi, sebagai catatan ingatan, dalam abjad kita, terdapat lima huruf vokal, yaitu a, e, i, o, dan u. Sisanya adalah konsonan sebanyak 21 huruf; keseluruhan (vokal dan konsonan) ada 26 huruf. Dan dalam bahasa kita juga menggabungkan konsonan sebanyak empat pasang, yaitu kh, ng, ny,dan sy.

Selain itu, dalam keseharian, kata serapan bahasa Arab memang tak bisa dihindari. Berujung pada pengetahuan kitalah, tentang bentuk nonbaku dan baku, seperti adzan ’azan’, sholat ’salat’ azas ’asas’, ashar ’asar’, aqiqah ’akikah’ maupun maghrib ’magrib’ (tentu masih banyak lagi), kita mesti memilih bentuk penulisan setepatnya.

Kembali ke bulan ramadan atau ramadhan, beberapa media cetak maupun elektronik, yang daya jangkau pemasyarakatannya cukup luas, dirasa perlu menimbang bentuk kata yang setepatnya dari bahasa serapan tersebut. Mengingat setiap kata atau istilah yang disajikan, sekurangnya, dapat menjadi acuan bagi pembaca atau pemirsanya.

Kembali mendulang catatan ingatan saja; transliterasi hanya digunakan untuk mengalihhurufkan tulisan Arab ke tulisan Latin (Indonesia). Pada umumnya, penerapan transliterasi itu sesuai dengan kaidah masing-masing, baik kaidah yang digunakan oleh organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, maupun media massa. Yang perlu dipahami adalah bahwa kaidah transliterasi itu tidak lagi digunakan untuk menuliskan kata-kata maupun istilah yang terserap ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, kata misal, pasal, hadir, taat, sabar, izin, dan sahabat tidak lagi ditulis mitsal, patsal (fatsal), hadlir, tha’at, shabar, idzin, dan shahabat. Kata-kata itu tidak lagi kita pandang sebagai bahasa Arab walaupun asal-usulnya berasal dari bahasa Arab. Begitu pula, istilah subuh, zuhur, asar, magrib, Safar, Rabiulawal, Rabiulakhir, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah sudah merupakan istilah agama Islam yang sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia. Penulisannya jelas tidak dilakukan seperti shubuh, dzuhur, ashar, maghrib, Shafar, Rabi’ulawwal, Rabi’ulakhir, Sya’ban, Ramadhan, Syawwal, Dzulkaidah, dan Dzulhijjah.

sumber: Lampung Post, 18-September-2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s