Indehoy

indehoy

F. Moses

“Soal indehoy dengan Maharani, cerita Fathanah berbeda dengan versi penyidik. Sumber Tempo di KPK mengatakan penyidik masuk ke kamar Fathanah bersama petugas keamanan hotel yang membawa kunci duplikat….” kutip berita tempo.co beberapa pekan lalu. Menyoal kutipan tersebut, media lain di negeri ini juga (seperti) berbondong membuat berita yang sama. Paling menarik, yakni tatkala menyorot kata/istilah yang terlontar oleh Fathanah dalam berita tersebut: indehoy.

Menyoal kata indehoy, secara umum (sebagaimana kita tahu), kata tersebut berasal dari bahasa Belanda, yakni in de hooi; pembentukan asal dari frasa bahasa Inggris in the hay. Hay berarti jerami. Konon, bahwa orang Belanda, katanya, kalau sedang berduaan (lawan-jenis) paling senang di balik tumpukan jerami.

Masalah kata indehoy (yang memang sudah melejit) di Indonesia, akhir-akhir ini, kian terdengar “asal bunyi” menjadi  makna yang makin tak berjuntrung “mana suka”/arbiter. Rasanya mudah betul bagi pengujar untuk sekadar berucap indehoy. Parahnya, yang bilang begitu, justru seorang dianggap terdidik bagi masyarakatnya. Tapi apa daya, dunia semantik dan semiotika  dalam berbahasa (mungkin) acap mampu saling menggulingkan. Maksudnya, makna menjadi tafsir yang berubah/biasa dalam ranah masyarakat ketika membaca tanda (dalam konteks ini: tanda zaman). Atas tafsir yang berubah tersebut, sebagai contoh, yakni kala terjadinya seorang pasangan (bukan pasutri) berada dalam sebuah kamar yang lantas menganggap dirinya sekadar indehoy saat berduaan, seperti pengakuan seorang Fathanah.

Saya jadi terbesit (mungkin bentukan tawaran), bagaimana kalau lema indehoy dimasukan saja dalam KBBI (atau tesaurus)? Meski lema tersebut hanyalah sebuah kata (dari bahasa) “cakapan”. Tapi persoalannya, kalau indekos (sekonsep dengan home stay—zaman sekarang) bisa, mengapa indehoy tak bisa? Ketimbang tak berjuntrung lalu seenak-udel dalam masing-masing bentukan tafsiran para pengguna bahasa. Entah keseriusan, kebanalan, atau kepongahan.

Atas itu semua, setidaknya, cerita Fathanah, menyoal sekadar indehoy dengan Maharani, secara pragmatik tak akan mampu melenceng seperti pemain bola amatiran: sudah tendangannya melenceng hingga keluar garis, tak mengakui pula kalau dirinya baru saja melakukan kesalahan. Hilirnya bisa ngeblunder, bukan? Kartu kuning bahkan merah dari wasit.

Akhir kata dari saya, tiba-tiba saya jadi teringat teman sastrawan Lampung, Iswadi Pratama, menyoal pilihan kata pada puisi terasa begitu semlohoy. Kocar-kacir sampai buka kamus Indonesia dan daerah, tidak ada. Akhirnya pun terjawab; kata semlohoy tersebut adalah kata bentukan dalam tradisi lisan/pelisanan bagi “orang-orang pinggiran” di seputaran Kaliawi dan Tanjungkarang yang bisa berarti: bahenol, montok, semok, dan sejenisnya. Nah.

sumber: Lampung Post, 19 Juni 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s