Jalan Konsistensi Suparto Brata

Oleh F Moses

suparto brataKadang (mungkin) oleh sebagian orang, menulis dianggap sebagai angin lalu saja, iseng, dan bahkan sekadar mengisi waktu luang. Tidak hanya itu, aktifitas menulis bahkan dianggap sekadar eksistensi belaka. Maksudnya, setelah seorang menulis lalu dimuat pada sebuah media atau sudah dianggap cukup baginya menjadi sebuah buku, setelah itu selesai. Melindap entah ke mana si penulis itu. Lantas, di manakah  konsistensi konkret bagi seorang penulis?

Menyoal di atas, rasa-rasanya, baiklah kalau kita mengingat kembali pencapaian seorang sastrawan bernama Suparto Brata, kelahiran Surabaya, 27 Februari 1932, dari pasangan berdarah Surakarta Hadiningrat. Konsistensinya sebagai penulis, suatu ketika pernah dikatakannya seperti ini: “Bukan bagaimana caranya berhasil setiap kita berproses kreatif dalam menulis, melainkan bagaimana caranya kita bersetia. Tentunya dengan tekun, terus mau belajar, dan terus berpikir.”

Fokus dan terus berjalan di dunia sastra, lelaki yang pada 2012 lalu genap 80 tahun, karier kepenulisannya kian matang. Seperti buah dari ranum pohon silam berakar getir-pahit menanggung beban hidup. Getir lantaran Suparto semasa sekolah sempat tersendat kala Probolinggo diserbu tentara Belanda, membuatnya mesti berpindah ke Surabaya untuk menempati rumah kosong milik keluarga yang ditinggal mengungsi.

Sementara kakaknya yang seperti biasa menafkahi diri dan ibunya mesti kembali ke sekolah tempatnya bekerja di Eindhoven (Belanda). Sejak itu, Suparto tidak mendapat tanggungan lagi. Hal itu memaksanya berjuang dalam pahitnya hidup, Suparto harus mencari nafkah sendiri. Pada saat itulah ia mencoba menulis karangan, tetapi karyanya pun selalu dikembalikan oleh redaksi penerbitan karena tak layak dimuat. “Saya telah mengarang sejak tahun 1950. Ketika itu lantaran terpaksa mesti mencari nafkah untuk hidup, dan mengarang sebagai pilihan saya,” katanya dalam sambutan penerimaan S.E.A. Award, 2007.

Dalam proses menulis, Suparto memang tidak patah semangat, berguru pada pengalaman selalu dilakukannya. Ia terus mencoba dan melaju. Hingga pada 1952, ketika bekerja di Kantor Telegrap, barulah karangan-karangannya dimuat di Surat kabar. Ia menulis apa saja, bebas-merdeka tak terikat instansi atau penerbit tertentu, tak bergantung jenis tulisan atau tema apa pun. Ia menulis berita, artikel, dan fiksi berupa cerita pendek, novel, drama, naskah sinetron, serta buku sejarah. Hasilnya pun bergeliat, tahun 1958 ia memenangi sayembara menulis cerita sambung berbahasa Jawa di majalah Panjebar Semangat; Mekar Sari, Jaya Baya, Djaka Lodang, Jawa Anyar, dan Dharma Nyata. Sejak itulah karangannya dalam bahasa Jawa terbit bertubi-tubi. Hingga pada 2007, dari 125 judul karya Suparto, 45 judul di antaranya berbahasa Jawa. Dari menulis dan menerbitkan  karya dalam bahasa Jawa itulah ia mendapat Hadiah Rancage 3 (tiga) kali.

Begawan sastra Jawa ini pun tajam memaparkan proses menulisnya. Ia mengakui bahwa proses sejak 1950-an itu terasa kian membuka jalan konsistensinya sejak 1952, tatkala karangannya berhasil diterbitkan di sebuah surat kabar. Betapa riang karyanya terpublikasi. Syahdan, meski bersanding dengan rutinitasnya terhadap pekerjaan lain, mengarang baginya memang tak dapat dilepaskan dalam derap kehidupannya. Hal itu juga yang sejak dulu membuat tulisannya kerap bermunculan di Majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Seni, Buku Kita, Sastra, Aneka, Vista, Sarinah, Kartini, Putri Indonesia. Sampai hari ini, sastrawan tiga dekade masih kerap menulis untuk surat kabar Surabaya Post, Harian Umuum, Suara Rakjat, Trompet Masyarakat, Jawa Pos, Sinar Harapan, Indonesia Raya, Kompas, Suara Karya, dan Republika.

Salah satu karya menarik dari Suparto di antaranya adalah novel “Saksi Mata” (2002). Sastrawan lintas tiga zaman ini cukup detail dan subtil meliriskan berbagai latar dengan bagus dan tajam. Tidak hanya itu, berbagai tempat/daerah pendukung latar cerita pada karyanya itu juga masih bisa ditelusuri keberadaannya. Sebuah riset yang menarik. Sebuah kajian berbungkus cerita tak main-main dari seorang Suparto Brata.

***

Suparto Brata sadar, dunia menulis yang ia jalani akan selalu untuk belajar dan berproses. Karena meski telah menghasilkan seratusan lebih karya, dari kesemuanya itu tak satu pun pernah dicetak ulang maupun diterjemahkan ke bahasa asing. Dari situ, dengan tenang ia pun mengatakan, “Itu membuktikan bahwa karangan saya mutunya kacangan. Barangkali, karena itulah sampai sedemikian usia saya. Bahkan saya uzur. Bahkan saya pun belum pernah mendapat hadiah utama tingkat nasional (Indonesia) dalam bidang tulis-menulis,” katanya merendah.

Meski demikian, ia selalu memaklumi kenyataan itu. Hal itu dibuktikan lantaran sampai sekarang, dari “tangan emasnya” Suparto masih bersetia menghabiskan hari tuanya untuk menulis buku; menulis yang baginya sebagai pekerjaan sarat akan ibadah, amanah, dan berkah. Semuanya mengalir dengan sebuah kesetian dan keseriusan, tentunya.

Karya

No

Buku

1 Kaum Republik pemenang pertama Sayembara cerita sambung Panjebar Semangat (1959). Judul diganti oleh Redaksi Jiwa Republik menjadi Lara Lapane Kaum Republik (CV. Ariyati, 1965)
2 Tanpa Tlacak (CV. Setia Kawan Surabaya, 1962)
3 Katresnan Kang Angker (Setia Kawan Surabaya, 1962), menggunakan nama samaran Peni
4 Pethite Nyai Blorong (CV. Ariyati Surabaya, 1965), menggunakan nama samaran Peni. Dibukukan ulang oleh Yayasan Penerbitan Djojobojo Surabaya, 1996.
5 Emprit Abuntut Bedhug (CV. Ariyati Surabaya, 1966)
6 Kadurakan Ing Kidul Dringu (CV. Ariyati Surabaya, 1965)
7 Tretes Tintrim (CV. Ariyati Surabaya, 1965)
8 Asmarani (PT. Bina Ilmu Surabaya, 1983), menggunakan nama samaran Peni
9 Pawestri Telu (PT. Bina Ilmu Surabaya, 1983), menggunakan nama samaran Peni
10 Sanja Sangu Trebela (CV. Ariyati Surabaya, 1967), menggunakan nama samaran Peni. Diterbitkan ulang oleh Yayasan Penerbit Djojobojo Surabaya, Juli 1996
11 Patriot-Patriot Kasmaran (CV. Gema Solo, 1966)
12 Lintang Panjer Sore (CV. Gema Solo, 1966)
13 Dinamit (CV. Gema Solo, 1966)
14 Pendekar Banjaragam (CV. Gema Solo, 1966-1967, 6 jilid)
15 Gempar Djojocoroko (CV. Gema Solo, 1967)
16 Boyolali Ricuh (CV. Gema Solo, 1978)
17 Asmara Jahanam (CV. Gema Solo, 1967)
18 Clurit Bataputih (CV. Gema Solo, 1967)
19 Nyawa 28 (dimuat bersambung Jaya Bay, 1967) menggunakan nama samaran Eling Jatmiko
20 Gempur-Gempuran Di Lereng Lawu (CV. Gema Solo, 1968)
21 Bidadari Cemarasewu (CV. Gema Solo, 1968)
22 Kucing Item Tergencet (CV. Gema Solo, 1968)
23 Jaring Kalamangga (CV. Bina Ilmu Surabaya, 1972) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan  judul sama dan dapat Inpres untuk bacaan SMA
24 Surabaya Tumpah Darahku (CV. Bina Ilmu Surabaya, 1978)
25 Sisa-Sisa Kemarin (Pemenang Harapan I, sayembara menulis novel DKJ 1974)
26 Harimau Mati Meninggalkan Belang (CV. Bina Ilmu Surabaya, 1978)
27 Oh, Surabaya (CV. Bina Ilmu Surabaya, 1975) dapat Inpres untuk bacaan SD
28 Damarwulan (PT. Gramedia Jakarta, 1976) dapat Inpres untuk bacaan SD
29 Mata-Mata (Pustaka Jaya, 1976) diindonesiakan dari Dom Sumuruping Banyu
30 Sayembara Di Mamenang (PT. Dunia Pustaka Jaya, 1977). Digubah ulang 25 Mei 2004 dan ditawarkan ke PT. Grasindo
31 Ali Baba (PT. Gramedia Jakarta, 1977)
32 Hisaplah Maduku, Lalu Campakkan, diindonesiakan dari Dlemok-Dlemok Ireng dan diterbitkan sebagai booklet VISTA 1979
33 Terjerat Buih Pantai Selatan (CV. Surya Raya Surabaya, 1978) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari judul Kepelet
34 Hancurkanlah Pasukan Tartar Itu (CV. Surya Raya, 1978)
35 Rembulan Kasmaran (PT. Cita Bandung, 1980)
36 Generasi Yang Hilang (Kartini Group, 1980) menjadi pemenang II sayembara menulis novel Kartini, 1979
37 Panji Gandrung Anggraei (PT. Bina Ilmu Surabaya, 1981)
38 Donyane Wong Culika (Narasi Yogya, 2004) mendapat hadiah Rancage 2005
39 Jatuh Bangun Bersama Sastra Jawa (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 1982) pemenang Harapan I naskah bacaan mahasiswa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1980
40 Kunanti di Selat Bali (Kartini Group, 1981) pemenang I Novel Majalah Putri Indonesia, 1981. Disadur oleh Prof. Madya Ju San Yuan dan diterbitkan dalam bahasa Cina di RRC, 1989 (berita Tempo, 11 Agustus 1990)
41 Pacarku di Bis Kota (PT. Bina Ilmu, 1995)
42 Kekenesan Partiyem terdiri atas dua bagian. Bagian pertama dimuat di Majalah Kartini bersambung dengan judul Tanahku, Darahku (1981). Bagian kedua dimuat di Majalah Sarinah bersambung dengan judul: Dalam Irama Musim (Desember 1985)
43 Memperebutkan Pusaka Jenggala (PT. Bina Ilmu, 1982)
44 Sugriwo Subali (Tga A Solo, 1983)
45 November Merah (PT. Bina Ilmu, 1984) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia  dari judul aslinya November Abang
46 Pahlawan November (PT. Bina Ilmu, 1985) pemenang I Lomba Naskah Buku Anak-Anak Penerbit IK Bandung
47 Pertempuran 10 November 1945. Buku sejarah karya bersama diterbitkan oleh Panitia Pelestarian Nilai-nilai Kepahlawanan 10 November 1945 di Surabaya (1985)
48 Sejarah Pers Jawa Timur. Karya bersama Panitia SPS Jawa Timur (1988)
49 Sejarah Panglima-Panglima Brawijaya (sampai Majen Sugeng Subroto). Karya bersama Panita LIPI Jakarta dan Seksi Sejarah Kodam V Brawijaya (1988)
50 Saputangan Gambar Naga (PT. Grasindo Jakarta, Desember 2003)
51 Mencari Sarang Angin (Grasindo Jakarta, Desember 2004)
52 Terjebak di Monitor pemenang Harapan II Sayembara menulis novel Majalah Kartini 1991. Dimuat bersambung di Majalah Kartini, Oktober 1992. Digubah kembali di komputer tahun 2004 dan ditawarkan ke PT. Grasindo Jakarta, dengan nama samaran Elizabeth Tan
53 Aurora, Sang Pengantin (PT. Gransindo Jakarta, April 2003)
54 Trem, antologi cerita cekak 1960-1993 (Pustaka Pelajar Yogyakarta November 2000). Mendapat hadiah Rancage 2001
55 Kremil (Pustaka Pelajar Yogyakarta, Juli 2002)
56 Saksi Mata (penerbit buku Kompas, Januari 2002)
57 Lelakone Si Lan Man (Narasi Yogya, Februari 2005)
58 Interogasi (Dewan Kesenian Jawa Timur Surabaya, Agustus 2001)
59 Gadis Tangsi, Versi Baru (penerbit buku Kompas, Februari 2004)
60 Kerajaan Raminem, sambungan Gadis Tangsi (penerbit buku Kompas, Januari 2006)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s