Ode Kota

oleh F. Moses

Cerpen Ode KotaKepadamu yang baik, suatu ketika teman lamaku pernah bilang sesuatu. Malas bagiku mendengar, tapi sehubung dengan sungguh, tak berasa larut juga di tanah pijak ceritanya. Beginilah kisah itu.

Tiba di stasiun sore ini, sontak paman langsung menyalam dan memelukku erat.

“Selamat datang De, selain bekerja katanya juga sekaligus cari jodoh ya? Jangan berharap banyak di kota ini.”

Aku tersentak.

Stasiun riuh dari biasa, tugu tampak kesepian di belantara pencakar langit itu, sungguh tampak tak megah lagi seperti sebelum merantau ke Yogyakarta dulu. Tugu itu, tak bertenaga lagi untuk  menampakkan keseksiannya.

“Ayo, lekas kita naik, sudah jam macet, nih,” ujar Paman.

Dengan dua tas ransel agak kembung kududuk bersama istri baru paman yang baru saja diperkenalkan. Tak sangka, cakap betul paman memilih. Usianya jauh lebih muda, ramah, molek, dan bersih pula.

Sejak kepergian bunga hati paman beberapa tahun silam, tak lama berselang paman memang langsung ke kota. Alasan ada proyek yang mesti dikerjakan. Saat itulah, aku bersama kedua anaknya, disuruh agar menjaga rumah kos di bilangan jalan Kaliurang. Anaknya sebaya denganku, kini mereka lebih memilih menetap di sana.

Selama perjalanan, tak banyak pembicaraan terjadi, kecuali melongok meratap arah jendela. Sekadar bernostalgia dengan ingatan. Semakin bikin pangling saja kota ini, lirihku. Tak banyak obrol,  kecuali kicau mereka, selebihnya macet.

Pengendara motor bak kumpulan tawon selap-selip terabas celah-celah kemacetan di antara kepulan hitam dari bus-bus yang masih tak berubah. Deruman dan dentuman sahut-menyahut klakson seolah-olah memaksa tiap pengendara agar tak saling halang. Semua berlalu dengan kenafsuan. Lampu merah tak lagi diartikan sebagaimana mesti.

“Di kota ini, merah tak mesti berhenti. Semangat cepat sampai tujuan sudah awur,” kata sopir paman berceloteh.

Kemacetan dari ruas ke ruas jalan nama menggiring kami kian malam, pendaran lampu-lampu kota dan gedung-gedung bertingkat adalah pelita dalam penggapaian sebuah kepastian mengupak cinta di kota ini. Semoga. Maklum, malu juga sudah berusia 36 tapi belum menikah. Kadang terpikir berat buatku menikah, bagaimana mungkin, pacaran saja belum. Ah, pandanganku langsung tertuju kepada paman dan istri barunya itu.

***

Sudah pukul delapan malam, makin kurasa gerak dari laju percepatan kota ini. Belok ke kiri, sesaat melintasi The Plaza. Masuk jalan Gatot Subroto, bagian dari antrean merayap acak entah kelak sampai titik mana.

“Ini mal baru, paling bagus di kawasan pusat. Tapi payah, terlalu Indoglish!” kata paman menoleh ke arahku, “Itu baru satu, tentunya masih banyak lagi.” Katanya menambahkan.

“Iya ya, Paman, jadi ingat dulu Paman bilang, orang-orang Prancis malah justru bangga dengan bahasanya sendiri,” kataku.

Di sela obrolan kami berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam serentak, kembali pecah suasana tentang obrolan baru, tapi hanya paman kepada istrinya. Pak Muis, sopirnya, bergeming saja.

Arus merayap padat, tampak jejeran lampu kota dengan pendarannya sibuk masing-masing; tiang-tiang lampu sepanjang pelipiran jalan, taman-taman penghias jalan serta pendaran lampu-lampu gedung pencakar langit seperti menerpa debu maupun asap dari laju perlahan tiap kendaraan yang tiap detik per detik kencang deru bising. Kota ini serupa perputaran derap roda paling asing, gumamku. Kilatan pelita seolah bersaksi bagi genderang hati dan benderang mata semangat kedatangan ini.

“Hei De, jangan melamun,” tiba saja paman mengagetkan.

“Pusing ya melihat kota?” tambah istri paman lembut.

Aku menggeleng, mengusap-usap muka, sembari sesekali membenarkan rambut, tersenyum. Paman melanjutkan percakapan.

***

Sesaat lantaran sesat dalam sesap bayangan, perlahan mobil melintas tepat bersemuka dengan tiang tinggi melengkung di mana terdapat patung menunjuk seperti hendak menyerbu ke arah utara. Jalan Pancoran makin melelapkan kemacetan ini.

Tepat di daerah itu, samar-samar kulihat tukang tambal ban tengah dipukulin oleh dua orang pengendara motor. Dari siraman pendar lampu kota, tertampak bibirnya pecah dan masih menempel bekas lelehan darahnya. Rambutnya tampak dijambak sementara kakinya terus saja ditendangi. Sekejap cepat pula massa mengerumuni pertikaian mereka. Kemacetan bertambah seksi. Kuturunkan jendela setengah. “Bangsat lo, nyari makan tinggal nyari makan, tapi jangan lantas tebar paku di pinggir jalan, mentang-mentang…”

Oh.., kunaikkan jendela, tak kuasa letusan rintihan ampun si tukang tambal itu. Entah sebenarnya motif tujuannya apa, tak jelas. Padahal tak hanya tukang tambal itu yang berpangkal, kulihat beberapa meter juga tampak lapak tambal ban yang lain, gumamku.

Paman masih dan semakin larut dalam percakapan.

Terlepas dari jalan itu, tak terasa perlahan arus perlahan kembali lancar rmeski tampak sedikit merayap. Tak terasa di perempatan Cawang, selanjutnya menuju tempat paling timur untuk tiba di rumah paman.

Tapi tiba saja mobil berbelok masuk apartemen. Sebelum turun di muka lobi, istri paman langsung saja menyalamiku, lantas mereka berbicara beberapa menit sebelum diantar masuk menuju lift. Setelah itu paman bergegas kembali menuju mobil. Aku berlagak menyandarkan kepala sambil berpura pejamkan mata. Seolah tak memedulikan mereka.

***

Tak terasa, entah sudah keberapa kali paman membangunkan saat mobil sudah terparkir rapi di garasai, baju paman pun sudah berganti. Dua tasku juga sudah dibawanya masuk.

Rumahnya masih seperti dulu, bedanya pada tampak jauh lebih berantakan. Kecuali beberapa rak tempat koleksi buku, lukisan-lukisan,  aneka pose mesra dalam bingkai bersama almarhumah istrinya, dan foto keluarga berpigura besar. Tampak tak terawat.

Malam memuncak, setelah bersantap dan berbincang cukup lama, paman pamit beristirahat. Tubuhnya yang menua, namun semangatnya dari percakapan tadi memperlihatkan jiwa muda.

Percakapan tadi begitu menggebu, lembut dan penuh kasih ia menasihatiku. Tak jauh berbeda seperti anaknya saja. Kerapkali ia memperbincangkan atau menyoal segala sesuatunya. Ia memberi tantangan buatku agar mampu bertahan di kota ini. Karena paman kembali menegaskan kembali terhadap tujuan utamaku ke kota ini. Melekat sungguh dan mengahantui pikiran.

Di antaranya paman tadi bilang lagi, yang aku pikir bercanda dan ternyata serius, bahwa jangan sekali-kali kau berpikir untuk mencari cinta di kota ini. Cinta sudah terlanjur sengat dan karat jika menyoal itu. Apalagi sebagai tujuan utamamu di kota ini. Sia-sia belaka. Lebih baik besok pagi kau kembali memesan tiket untuk kembali lagi ke kampung halaman perantauanmu. Ketimbang sakit hati tak kunjung sembuh kau dapatkan nanti.

***

Di sini, di kota besar ini, cinta sudah terlanjur menjadi daging. Daging yang fakir gizi. Aku sebenarnya tak paham maksud paman tatkala berbicara seperti itu. Karena takut dimarahi, aku hanya mengangguk saja. Seolah mampu menangkap maksudnya dengan cara lain.

Sepemahamanku, paman seperti bermaksud bilang begitu lantaran kota ini sudah terlalu penuh dengan cinta. Karena masih ingat benar kala paman bilang tentang seantero nusantara ini sudah sesak pada kubangan satu cinta, yaitu di kota ini. Jadi cinta, saking penuhnya, dan tak kunjung pula dilakukannya, cinta itu sendiri akhirnya menggumpal seperti pecahan beling yang hendak dipaksakan menjadi satu. berujung menimbulkan goresan luka di tangan. Katanya menambahkan.

***

Tak berasa sudah tiga bulan lebih beberapa hari aku tinggal di rumah paman, cinta  dari seorang perempuan pun masih tak kunjung datang. Kecuali membantu keseharian paman.

Istri paman juga membantuku, maksudnya dengan memberi ruang waktu agar kumampu memanfaatkan tiap detik kehidupan ini agar tak kosong.

“Cuma orang bodoh yang tak mau dan mampu di kota besar ini,” katanya. Matanya yang lentik menatap tajam ke arahku. “Terus terang saja, ya, para perempuan di kota ini paling malas berjalan dengan lelaki yang tak punya pekerjaan. Perkara apa pun yang dikerjakan. Halal atau tak halal, itu urusan nomor dua,” katanya menambahkan.

***

Tak berasa kisaran tiga jam Ode berkisah.

“Jadi apa yang kamu dapatkan di kota itu?”

“Aku tak mendapatkan apa-apa,” katanya menyudahi obrolan perjumpaan kami.

Aku masih tak paham apa yang diinginkan temanku itu, setahuku ia berharap banyak, di antaranya cinta. Cinta yang terlalu abstrak dan tak sedap untuk selalu dibahasakan kembali—dari saban pagi, siang, malam, hingga dini hari ia mengupak cinta yang hilang tapi belum tertambat juga. Tiada ia dapatkan di kota ini. Meski sebenarnya ia begitu iri dengan orang-orang di kota ini. Di antaranya paman dan bibi yang baru-baru ini ia tinggalkan.

“Apa yang mesti aku lakukan lagi terhadap cinta yang bernama kekasih, pekerjaan, tempat tinggal, dan kota. Semua yang kuanggap sebagai harapan seperti khatam. Paman sudah terlalu banyak bicara kepadaku!

***

Semua yang kudengar dari temanku itu menjadi tak penting buatku. Tapi, setidaknya, aku berusaha menjadi pendengar yang baik saja. Andai saja temanku tahu siapa aku dan siapa kamu. Bahkan siapa kita.

Mungkin aku akan terlalu sok tahu lagi, kalau memang mesti kuyakinkan kepadanya, bahwa memang tak perlu berharap banyak untuk memberanikan diri tinggal di kota ini. Kalau pun mampu, itu bernama kemujuran. Kalaupun sebaliknya, itulah dusta dari buah kejujuran.

Siapa lagi yang masih berani mencari cinta di kota besar ini? Ah, aku sendiri juga masih tak tahu. Barangkali kau jauh lebih tahu.

Bali-Jakarta, 2012

Sumber: Lampung Post, 2-12-2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s