Sajak Mesra

Oleh F. Moses

Sajak Sakit

I

Di antara gelas bersisa air putih yang tak lagi hangat, susu steril nestle yang kau beli kemarin di sore pucat; hampir beku disergap dingin pagi.

Tubuhnya masih mengigil memangil-manggil mustahil

Gemeretak giginya sengaja ditahan agar tak bunyi

“Biar tetap sunyi,” katanya

Setidaknya tersisa dua butir penurun rasa panas dan mual

Semoga jauh lebih mampu dari seperti biasa kau memeluknya

Lantas sempatkan bercinta dari panas yang tersisa, meski ia masih tampak kesulitan menahan demam; andai saja kau di sebelahnya

Hanya dua buah buku kusam berkisah  tokoh merah itu, asbak berisi debu dari empat batang rokok mentol, gitar bersenar nilon kendur ditambah copot satu senar, dan tiga charger tampak berserakan

II

Di luar hampir terang

Sepagi ini, kau mengingatkan dirinya dari setetes embun

“Ah, aku masih tak biasa, menikmati segar pagi dari sakit yang belum rampung,” katanya sambil menahan gigil dan beberapa linu pada persendian

Ia pun pergi. Ternyata menahan sakit lebih mesra mengingat-Nya.

Telukbetung 2012

Sajak Mesra

merapal khusyuk lembah paling ngaraimu

tersesat tak tahu jalan pulang

mengendus lekuk ranum tengkukmu

menjawil ingatan pelipiran beranda rumah kenanganmu

menjimpit gerak bulan paling lambatmu

menanti  hadir mesra detak jantung lain

:semesra baca kitab suci

Barangkali ini bernama sejati hidup; mesra itu doa

Yogyakarta 2012

Kepung

sepi mengepung

angin tingkap berlalu

kudengar sedihmu bertalu-talu

kutetak rindu

biar rampung segala cemas

dari resah tunas

tiup satu rindu

kepada kerap

tersergap sula rindumu

seperti rapuh gerak kaki-tangan ikan di antara terumbu karang

: aku menujumu

menebar sejumput rindu

di halaman teratakmu

Kedaton-Telukbetung, 2012

Belajar Mesra

lelaki itu mencangkung

menghadap anak pohon kenangan

yang ditanam setahun lalu

temaram bahu bulan

semilir angin menetak ingatan

tiada sesiapa

ini baru suka nestapa, katanya ringan

dibakar lalu ditarik sehisap

: tiada lebih indah selain belajar mesra dengan sepi

Pelantun Bisa

ia bernyanyi dengan sendu

bagi kekasih malam sunyi berangin sedih

“Ini lagu buatmu, tanda kasih kukalungkan

pada permukaan ranum lehermu.

Biar tergantung selalu dendang rindu di dadamu,” katanya

Lantas menarilah perempuan itu di padang duri

sendiri bak kelebat bintang

membubungkan berahi mesra bagi lelaki sepi

bersarang lantun santun rupa pantun

“Ini lagu kita?” tanya perempuan itu

Lelaki itu tak menjawab

Sumber:  Lampost, 5 Agustus 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s