Seperti Mengisahkan Seorang Lelaki yang Sedemikian Mencintai Senja

Cerpen F. Moses

AKU senantiasa memang melihatnya. Membiarkan penglihatan yang samar-samar ini untuk selalu melihat pada kedua bola mata yang seolah sepasang mata yang entah harus dideskripsikannya seperti apa, sebab tak pernah berhenti untuk melihatku. Seperti teratai yang terjulur untuk memberi sebulir air menetes menjadi air mata kebahagiaan. Aku selalu bertanya padanya, dalam hati yang selalu ingin mencapai suasana hati tak terbatas dalam pikiran maupun perasaan penuh getar antara aku dan dirinya. Entah adakah. Entah sedemikian dahsyatkah. Entah kebahagiankah?

Di laut. Ya, aku tengah berada di laut. Selalu memperhatikan rambutnya yang dibiarkannya tergerai sesuka hati sebab kesetiaan angin selalu mengibas ke mana suka pula kesana ke mari, seperti pendaran masing-masing dari ujung warna pelangi yang entah dari mana masing-masing berpangkal. Benar-benar membuatku mabuk kepayang. Seolah memang tak ada persoalan lain lagi saat aku menjumpainya. Suatu perjumpaan di laut. Hanya laut dan hanya dia yang benar-benar tertangkap oleh mata hatiku. Betapa laut memang selalu memberi perasaan tersendiri. Laut seperti memberi ruang kepada kami setelah berleha-leha dari kitaran jiwa yang letih yang kadang memesona dan tanpa.

Laut benar-benar memberi ruang buat para pejago untuk berfantasi. Sebuah pekerjaan rumah imajinasi terbaik dari semesta untuk ditunai.

Lantas, mengapa aku harus diam. Mengapa aku tak senantiasa menatap wajahnya dalam kegamangan yang akhir-akhir ini hampir mendidih untuk mutlak berperasaan memilikinya? Merengkuhnya sambil memeluk untuk menyatukannya ke jiwaku.

Ah, aku tak sabar untuk segera menggodanya dengan kata-kata sedemikian indah. Laiknya penyair terganggu dari alam imajinasi.

“Kau semakin cantik dan manis saja, Senja? Anggun. Aku selalu tak sanggup melihatmu. Sebab tak tahan. Mana tahan….”

“Ah….”

“Apa?”

“Gombal.”

“Apanya yang gombal? Aku jujur. Kejujuran dari hati paling dalam. Aku ingin memacari kamu, sungguh. Sungguh, Senja. Kalau tak percaya belah saja dadaku ini, ada sebungkus cokelat di dalamnya.”

Prek. Goblok. Matilah kamu kalau aku belah dadamu. Memang dada kamu itu warung pojok yang kayak di ujung gang itu?”

Senja tiba saja meninggalkanku begitu saja. Seperti lempengan matahari senja yang perlahan tenggelam pada ujung laut bergaris tipis tampak kejauhan. Seperti pelangi yang perlahan memudar. Senja berlari dariku. Ah, aku tahu, kebiasaannya memang selalu berlari setelah mendapat pujian, padahal biasa, bukan? Sekuat tenaga aku mengejarnya. Kukejar dan kukejar. Seperti pertengahan seru dalam adegan film India.

Tertangkap.

Dalam pelukan imajinasi lembutku, senja rupanya langsung menangis tiada berhenti. Senja menangis seperti lidah ombak menjilati pantai tiada berhenti. Kami larut di tepian. “Ah, seperti inikah larut hingga ke tepian hati perempuan yang selama ini aku cari?” kataku dalam hati.

Itulah kami. Kami sebagai sepasang kekasih tanpa kejelasan. Tanpa muasal sebenarnya dari mana ihwal kami bermain dalam perasaan cinta, meski kami kekasih. Sebab masyarakat tak akan mampu menerima kami demikian adanya. Makanya, kami lebih memilih di laut untuk selalu bertemu. Sebab aku yakin, cinta kami di sini kelak tiada pernah berkarat apalagi berperih. Pokoknya tiada berkesudahan. Itu pun andai pendaran redup indah senja mampu menerimaku.

Sayangnya, senja tak pernah mampu merasakan dari apa aku rasa. Makanya, aku selalu kembali ke laut setiap sore menjelang senja. Hanya untuk bertemu senja. Meski hampir semua teman banyak anggap aku gila. Demi mengejar senja untuk hidupku. Mungkin juga hidupmu—keseharian dari sore bersenja yang kerap dirimu alpa.

LAIN sekolah lain lautan. Lain ilmu manusia lain ilmu alam. Lain manusia tak berarti lain dari ikan. Aku merapuh tiap selalu kuingat senja; seperti rapuh gerak ikan di antara terumbu karang. Kembali kukejar meski cara pendekatan begini terbilang pongah.

“Senja, marilah kita kembali ke laut.”

Ngapain? Ah, paling untuk kembali merayu aku lagi.”

“Banyak sesuatu untuk kukatakan.”

“Kenapa tak di sini saja…, kan….”

“Karena bukan takdir kita!” sergah Aril.

Senja kembali tertunduk untuk ke sekian kalinya—lalu mereka pun menjadwal waktu.

Di laut segalanya selalu saja mungkin bagiku. Mesti kumiliki Senja yang selama ini banyak direbut. Perebutan terhadap dirinya yang tak hanya dilakukan oleh teman sekelas, tapi juga para guru bahkan, pernah aku dengar, oleh penulis hebat di negeri ini. Ah, ada-ada saja. Kurang kerjaan saja jika sampai separo hidup mesti mengejar senja.

Hmm, ini kali waktu paling tepat. Meski harapan sempat terputus-putus, tapi senja mau kembali menyambagi janjiku. Aku rasa pekerjaan rumah imajinasi terbesar telah terlewati.

***

SESAMPAINYA di laut hanya kekosongan. Masih kutunggu senja muncul perlahan di hadapanku. Betapa senantiasa kuat membayanginya. Betapa butuh kesetiaan paling utuh untuk memilikinya nanti, mungkin, tapi pasti,

Hingga pukul 17.00 lebih senja masih belum datang. Aku memang selalu tak peduli dalam hal menunggu. Karena buatku, kesetian dalam menunggu tak lain dari harapan. Antara ya dan tak. Antara mesti dan tak pasti. Aku tak peduli.

Berhari-hari orang tua Aril mencari sang anak. Dulu di Yogyakarta berulah dan kini di Jakarta juga berulah, seru sang ibu—hingga hari ke hari dan bulan ke bulan tanpa detik waktu tak terpikirkan. Bagimana mungkin Aril bisa kembali ke sekolah? Ah, dirinya masih bersetia menunggu kehadiran senja di laut.

Ya, aku tengah berada di laut. Selalu memperhatikan rambut tergerainya sesuka hati sebab angin selalu mengibas ke mana disuka, bak pendaran masing-masing dari ujung warna pelangi yang entah dari mana berpangkalnya. Membuat mabuk kepayang. Seolah memang tak ada persoalan lain lagi saat aku menjumpainya. Suatu perjumpaan di laut. Hanya laut dan hanya dia yang benar-benar tertangkap oleh mata hatiku. Betapa laut memang selalu memberi perasaan tersendiri. Laut seperti memberi ruang kepada kami setelah berleha-leha dari kitaran jiwa yang letih yang kadang memesona dan kadang tanpa.

Dan aku tak lagi menunggu, sebab senantiasa laut adalah sekolah ilmu alam terbaik buat aku: menikmati dan bercinta dengan senja yang sesungguhnya. Dalam setia hadirnya tiap sore. Sore bersenja. Senja bulat dalam sepi cakrawala. Senja yang bukan lagi bak sang surya, melainkan sang Suryowati kekasih hati yang sudah dan memang telah berlalu. Ah, kira-kira begitulah kalau aku tengah mabuk kepayang kepada senja. Senja yang berdaging dan mempunya hati seperti hatimu. Entah adakah. Entah sedemikian dahsyatkah. Masih kupertanyakan hingga detik ini. Hingga tarikan napas dan kerdipan mata terakhir saat kau baca kisahku ini.

Sumber: Lampung Post, 3 Juni 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s