Catatan Terakhir

Pembaca terkasih, berikut cerpen “Catatan Terakhir” saya di Majalah Story edisi 25, 25 Agustus 2011 – 24 September 2011. Semoga berkenan.

Catatan Terakhir

Memorabilia kita, suka dan duka berkemeriapan tak pernah lelap, katamu berbisik malu kepadaku. Kala itu hujan rintik-rintik, seperti malu membasahi bumi. Tentu kamu ingat, berpapasan musim hujan itu tiba, selalu terpikir bahwa inilah kesempatan mencuri perhatianmu. Aku selalu teringat kala itu.

Senin, Novermber, kamu tak membawa payung, tapi kurelakan tas ransel sepeninggalan almarhum bapak, delapan tahun silam, untuk memayungimu—sembari sesekali kita berhenti menunggu hujan reda. Pada pemberhentian itu, di ujung gang sebelah jalan raya, dengan jumawanya kusiapkan beberapa kata dari perasaan paling tergesa-gesa. Rambutmu basah, kemejamu melepek, tapi matamu kian bening sebening air hujan dalam terpaan cahaya sore saat itu. Juga basah bibir tipismu makin membuatku salah tingkah. Gugup, jantung berdetak tak terkira begitu cepat. Seperti tabuh genderang suku Indian menyongsong peperangan. Dalam gemetar dan gugup, tak terlepas juga kalimat yang kusiapkan buatmu dalam semalaman suntuk kemarin. Mungkin terlalu lama kamu menunggu pengutaraanku, lantas membuatmu bergegas menaiki bus untuk pulang. Aku gagal, jeritku membatin.

Selasa, Desember, pada selembar kertas aku bikin puisi, hanya untuk dirimu. Tergesa-gesa dengan jemari tak tertahankan menuliskannya. Bagiku lebih jujur ketimbang aku bilang langsung padamu, bukan? Itu sebab pula mengapa ini kali lebih memilih bikin puisi. Semata berpuisi lebih mampu berisyarat. Bukankah puisi jauh lebih bermakna ketimbang kalimat lisan terlesat bak kilat sekali pun?

Pada malam itu, hanya selembar kuanggap berhasil. O, betapa sulit, seperti melarung samudera dalam terpaan cahaya cakrawala hitam pekat. Selain mencermati kata per kata, paling sulit saat mengunggah rasa dari kata paling tepat ke dalam puisi untukmu itu. Paling menggembirakannya, tatkala menyusurinya dalam kubangan kamus besar bahasa kita.

Setelah kuyakin sepuisi paling anggun, paling manis, dan paling berenergi, percaya diriku selalu berharap membawa kita kembali bertemu. Aku lega, tenang, jauh dari bimbang apalagi gamang. Kelegaan emosional jelang tidur malam ini. Aku terlelap. Kemudian mimpi bertemu denganmu.

Rabu, Januari, lewat SMS, kamu bilang kalau ibumu begitu marah kepadaku. Ia memilih menjemputmu dari  kuliah dengan mobilnya, agar kamu tak melulu dibuntuti oleh lelaki yang tak pernah bosan mengejarmu. Kamu sempat dibilang pembangkang, kerap berbohong kalau—sepulang berkuliah—ada saja kegiatan penting yang sekiranya tak ingin diganggu. Aku sangat membutuhkan privasi yang benar-benar tak bisa diganggu, katamu selalu kepada ibumu. Ada saja alasan kau membohonginya.

Kamis, Februari, adalah paling membahagiakanku, kamu menuruti permintaanku dari pesan yang terkirim sebelum mata kuliah itu berlangsung. Aku pun bergegas mencari tempat paling nyaman untuk kita makan bersama nanti. Meski tetap menyesuaikan isi dompet, tak soal, terpenting bisa mengajakmu. Aku menunggumu berteman buku, tak lama berselang, kau bergegas dari ruangan itu menuju arahku. Kita bercakap sebentar untuk kemudian pergi makan siang.

Di warung makan itu, betapa bersyukur karena berhasil mengajakmu. Ya, sekadar bisa bersitatap denganmu. Aku sekadar minum es teh manis, sementara kau menyantap makanan yang aku pesankan, soto mie. Aku asyik menatapmu sambil mengisap rokok kretek. Betapa bahagianya pula, ini kali tak ada hujan. Matahari begitu terik. Kau yang begitu menyukai pedas makin membuat buliran keringat di lehermu mengalir. Satu per satu tetesan itu, aku memperhatikannya sambil tersenyum. Kau makin cantik saat berkeringat, seperti perempuan yang acap bersetia menyimpan rahasia, kataku kembali membatin. Aku mengutarakan perasaanku, sekali lagi dari perasaan tergesa-gesa, ah, akhirnya kau pun menerimaku.

”Ya, ternyata aku juga cinta mati padamu,” katamu.

Jumat, Maret, kau menangis padaku. Kau seperti menyembunyikan perasaanmu. Ada sesuatu yang tak perlu kau tahu, katamu. Dan sejak pertemuan itu kau menghilang dariku. Ah, di mana kamu sekarang?

***

Setelah bulan Maret pada tahun itu, seorang ibu hampir gila memikirkan anak gadisnya. Ia tak pernah tahu di mana keberadaan si anak. Kesehariannya dilanda kekalutan. Seperti iring-iringan gemawan gelap menggantung di kepalanya menyerbu. Ia menjadi tak ingat segalanya, kecuali selalu mencari anak perawan satu-satunya itu. Disambangi kampusnya, teman-teman dekatnya, saudara-saudaranya maupun handai-taulannya, kecuali aku. Pada hari-hari yang menjadikannya berminggu-minggu menemui bulan akan mengantarkannya menjadi setahun, setahun yang selalu melipat harapannya, berharap kembali menemukan sang anak dari cengkeraman buruk bayangannya. Ini pernyataannya paling terakhir: aku dituduh menyembunyikannya.

Aku memang menyembunyikan, tapi bukan raga, melainkan hatinya. Aku tersenyum.

***

April-Agustus, sepanjang bulan itulah aku menunggu kabarmu selain mencari, dari keyakinan yang tak pernah pudar semoga mampu mengantarkanmu kepadaku. Aku tak tahu, mungkin dirimu sudah berjumpa dengan ibu yang sedemikian mencintaimu, juga sekaligus sedemikian membenciku. Andai saja ia bertanya padaku di mana keberadaanmu, pasti kubilang kalau dirimu sedang terlelap dalam hati kecilku, seperti aku bilang tadi. Adakah benar begitu? Ah, mana mungkin, kataku tertawa, semata menghibur diri. Seperti harap-cemas milik penyair saja.

Dan siang ini mereka berkabar bahwa sia-sia saja menunggu, untukku mendapat kabar darimu, apalagi dapat kembali bertemu. Kedua orang tuanya sudah membawanya pulang ke kampung halaman. Untuk selamanya. Untuk usahanya mengajarkanmu tentang kepolosan hidup bertradisi di ranah nenek moyang. Namun, aku yakin, seribu harapku akan membawa kita untuk kembali bertemu. Jika demikianlah keberadaanmu

Berapa lama membuatku menunggumu, aku tak pernah tahu. Kampung halaman kita yang berjarak, semoga mampu memulihkan pertemuan kita.

September, tak ada kegamangan dari laut yang senantiasa menyatu oleh ketegangan arah laut lepas bersamudera tak berhingganya. Tak terhitung semilir angin seperti merapal daratan. Aku menantimu meski lewat mimpi sekalipun. Tak kunjung angin berkabar firasat tentangmu, untuk meresap ke seluruh tubuh dan pikiranku. Kecuali ingatan ini, seperti letusan gunung berapi yang tak akan pernah terketahui. Aku mengingatmu, terlanda oleh kenangan, dari laut yang selalu tertampak anak gunung berapi keabu-abuan dalam kejauhannya.

Adakah kita kembali bertemu? Untukku berkesempatan menyucikan sebuah pertemuan agar seorang ibu yang pernah melahirkanmu menjadi berterima? Sebelum laut menenggelamkan sedalam-dalamnya harapanku. Dan sebelum tanah memendamkan mimpi-mimpimu. Aku tak ingin perasaan ini menjadi sia-sia terbunuh.

Oktober, o ya, surat yang kamu kirim baru aku terima tadi pagi. Dan aku pun semakin tahu, beberapa bulan sudah kamu tinggal bersama kedua orang tuamu di tanah papua. Aku jadi teringat, kamu pernah menangis saat bercerita kepadaku, tentang proyek pekerjaan ayahmu di wilayah perbukitan-perbukitan daerah Papua. Proyek pembalakan hutan-hutan liar.

Kamulah perempuan hitam manis dari tanah mutiara yang sering mereka sebut-sebut. Mereka bilang sia-sia belaka aku menunggumu. Karena semesta yang tak pernah berdendam, tapi para saudara kita telah menjadikan mimpi itu berkeping-keping. Di tengah tidur lelapmu, sebelum kabut memendar diterpa mentari pagi, aku mendengar perbukitan itu meniduri tempat tinggalmu. Aku masih tak tahu, bagaimana denganmu?

Adelia, kamu masih dan selalu mutiara hitam bagiku. Untuk kamu tahu saja, dari getaran catatan terakhir yang mustahil kau baca apalagi terdengar ini, semalam aku kembali memimpikanmu, mimpi kita; kita menikah kemudian berpesta di antara awan-gemawan. Wajahmu yang hitam manis, berkilau putih bersih. Kau tersenyum padaku, sebelum kau menangis dalam pelukanku.

Adelia, semoga itu bukan pertanda.

Telukbetung-Jakarta, Agustus-Oktober 2010

 


Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s