Kolam

(Terima kasih saya kepada Benedita–seorang vokalis dari sebuah band di Yogyakarta bernama Airport Radio. Terus terang, catatannya–seperti pernah saya bilang kepadanya–membuat saya tertarik untuk menjadikannya penceritaan. Meski masih jauh menjadi cerita yang keren!)

oleh F Moses

CERITA 74 halaman baru saja selesai dibaca, lalu perempuan itu bergegas dari kursi santai di pinggir kolam renang. Mengenakan pakaian renang bermotif dark chocholate doty, perempuan bertubuh ramping itu melesat ke dalam kolam. Terlihat begitu mahir dan tak mengesankan laiknya perenang biasa, dalam jarak pandang dari sudut kafe itu.

Mendung tampak menggantung di kota itu. Semilir angin menggetarkan rerimbunan aneka bunga di taman sekitar area kolam, di antara jejeran kursi santai dan meja-meja kecil yang terlihat begitu kaku dan sepi, tiada lagi orang-orang untuk kembali berenang saat sore tak bersenja ini, mungkin lantaran sebentar lagi hujan, pikir lelaki itu. Kecuali bersama dirinya di pertemuan kali pertama ini, berawal dari janjian, sore hari di kolam renang hotel lumayan berkelas.

Lelaki itu seperti membelai kerinduan darinya dalam pertemuan ini. Kerinduan tak tertahankan. Dalam pikirannya tak tahu, apakah sebenarnya perempuan itu juga demikian. Lelaki itu tak ambil pusing.

***

Tak lama berselang, lelaki itu menyaksikannya berenang, tiba wajahnya yang manis menyembul di atas permukaan kolam. Disibak rambutnya yang basah tergerai menghalangi jarak pandang, ia menatap tajam lelaki itu, mengerdipkan kedua bola matanya yang bening, lelaki itu diam saja. Segera lelaki itu tahu, setelah mengenakan kimono handuk, perempuan itu bergegas menghampirinya, langsung diseruputnya segelas jus jambu merah.

Mereka saling terdiam beberapa saat. Hening. Terasa angin kembali mengirimkan semilir dari rerimbunan pohon.

“Jadi kau menginap di mana?” kata lelaki itu.

Sebatang rokok dihisapnya, dimainkannya di antara celah jemari. Perempuan itu tampak berkali-kali mengitari handuk mini merah marun pada permukaan wajahnya hingga sudut-sudut telinga, lehernya yang agak jenjang, serta lengan putihnya yang mulus. Dan wajah manisnya, yang sedari tadi menunduk, didongaknya pelan ke arah lelaki itu. Mereka saling bersitatap. Tiada kekosongan di antara keduanya.

“Aku menginap di hotel ini, butuh seminggu untuk mengurus berkas di Kantor Imigrasi besok. Kuharap kau mau menemaniku lagi. Cukup kau tunggu di tempat ini lagi maka aku segera menyusul. Ah, aku rindu kita ngobrol berduaan seperti masa lalu,” kata perempuan itu dalam ketenangan yang seperti mengemas kenangan dari waktu sekian lama yang barangkali diremasnya.

“Terus aku….”

“Ya kau pulang, masak mau bermalam juga, kecuali kalau mau ikutan berenang,” tukasnya semringah dipaksakan.

Mereka kembali sama-sama terdiam. Lelaki itu disergap ingatan masa kisah-kasih yang lama menjadi kenangan.

Selang beberapa menit, perempuan itu kembali mengatakan, “Juli ini kesempatan terakhirku untuk mengatakan kepada Platini, apakah aku diberikan hak untuk tidak ingin memiliki anak dulu.”

***

Hari kedua, gerimis dan macetnya arus lalu-lintas di kota itu tak mematahkan semangat lelaki itu untuk menemuinya kembali. Dari kantornya menuju hotel, seperti kemarin, lelaki itu langsung menuju tempat dari yang pernah dijanjikannya. Suasana di sekitar kolam masih tak seorang pun, kecuali perempuan itu yang tengah berenang.

Dalam jarak pandang, kesekian-kalinya lelaki itu memerhatikannya; bersandar, menyalakan rokok, menunggu teh manis hangat yang baru dipesan, sembari bersedekap kemudian menarik napas panjang, ingin menyambanginya untuk ikutan berenang, namun memalukan buat lelaki itu lantaran tak bisa.

Seketika sang perempuan melihat lelaki itu tersenyum. Senyumnya seperti masih menggetarkan masa lalu di antara mereka. Seperti melempar kenangan yang sekian lama dikemas dan diremasnya.

Kemudian perempuan itu bergegas menghampirinya. Seulas senyumnya menggoda, duduk di sebelahnya sambil memesan segelas minuman.

“Aku menunggumu sejak sore,” katanya.

Sambil menyalakan sebatang rokok, kembali dikatakannya, “Ternyata semua berkas di Kantor Imigrasi sudah beres, tiket untuk besok siang juga sudah kupesan. Tinggal mengambilnya di agen perjalanan. O, ya, terima kasih sudah kembali datang.”

Perempuan itu kembali memalingkan wajahnya ke arah kolam.

Sambil mengisap sebatang rokok, mengembuskannya ke mana angin sesuka hati membawa, lelaki itu menyentuh lengannya. Seperti masa lalu di dalam bioskop tatkala adegan menakutkan menyergap. Di mana sehari sebelum mereka saling memutuskan hubungan kisah-kasih yang hancur lantaran berbeda keyakinan. Kenang sang lelaki.

“Kau yakin atas keputusanmu itu?”

“Ya, seyakin-yakinnya.”

“Dari prinsipmu itu?”

“Ya, seprinsip-prinsipnya.”

Lelaki itu tertegun, perempuan itu pun tak menjawab. Mereka terdiam beberapa saat. Sambil menyeruput teh hangat, kembali lelaki itu berucap.

“Kau kan sudah menikah, sekurang-kurangnya, dalam ikatan berarti siap bagi anak-anakmu kelak.”

Perempuan itu terdiam. Tampak sibuk mengemas kalimat-kalimat berikutnya.

“Ya, pernikahan memang tak lain adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita, sebagai suami-istri. Bertujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal, selamanya.”

“Ya, itulah pernikahan, megah kan? Nah, itu kau tahu.”

“Ya, betapa megah dan dijunjung tingginya sebuah pernikahan yang diselenggarakan secara seremonial, keagamaan, dan adat. Dan dampaknya, tinggi pula riuhnya resepsi pernikahan yang dihadiri ratusan atau ribuan orang yang secara tak langsung mengumumkan legitimasi atas pasangan.”

Waktu menunjuk pukul 21.10.

“Senyatanya, sungguh indah memang, jika sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera-kekal selamanya itu memang terlahir dari sebuah pernikahan—yang sudah dirayakan secara adat maupun diumumkan dalam resepsi besar. Aku hanya berfokus kepada hasil. Sebab, bagiku esensi dan hasil akhir lebih penting ketimbang kertas yang tertanda tangan dalam upacara adat maupun keagamaan nantinya.”

“Nah, itu kau seperti sudah memiliki tujuan,” kata lelaki itu jumawa.

“Ya, aku memang memiliki tujuan dan keinginan untuk hidup berpasangan, tapi aku juga menganut paham banyak cara untuk menuju jalan, bahwa tujuan ini tidak dicapai hanya dengan satu jalan, pernikahan. Di mana berkas untuk mencatatkan diri ke pemerintahan mesti ditandatangi, atas nama kemudahan akses untuk berpasangan. Namun, aku memilih membentuk keluarga dengan cara yang lain, dengan bentuk pernikahan yang lain….”

“Maksudmu?” tukas lelaki itu.

“Tanpa seremoni, tanpa resepsi, tanpa ritual agama, dan tanpa perayaan besar-besaran dengan ratusan hadirin. Buktinya, kami dapat menjalani komitmen dan tanggung-jawab sebagai pasangan yang bahagia sejahtera kekal selamanya.”

“Bersama calon anak-anakmu kelak, tentunya.”

“Tidak, aku memilih hidup tanpa anak,” ucap perempuan itu yakin.

“Kau sudah katakan kepadanya?”

“Karena itulah aku ke sana,” pungkasnya tenang.

Kemudian perempuan itu pun berdiri untuk bergegas menuju kolam. Air hangat yang ditujunya.
Tak terasa pukul 22.05. Dari jarak pandang sekitar 50-an meter, perempuan itu menatapnya. Kembali mengajak lelaki itu seperti memohon menyambanginya agar berdiri dari pinggir kolam.

“Berenanglah di sini sambil kita ngobrol,” pintanya.

Lelaki itu menggeleng, selanjutnya pamit untuk pulang.

“Tolong jangan pulang dulu. Berenang, kan, bisa tak harus di kolam ini,” katanya.

Setelah beberapa langkah memalingkannya, perasaan lelaki itu luluh, berakhir menemaninya di kolam itu hingga larut malam. Mereka mengobrol seperti biasanya.

***

Seminggu setelah kepergian perempuan itu ke Prancis, lelaki itu tak kunjung padam membaca pikiran perempuan itu. Karena belum lama lelaki itu memang sering mendengar: seorang istri yang ditinggal suaminya karena dianggap tak kunjung memberinya anak. Lelaki itu tak pernah tahu, “Siapa yang tolol kalau demikian,” katanya membatin. Juga seorang suami yang ditinggal oleh istrinya untuk kawin lagi, lantaran suaminya memilih untuk tak mau punya anak.
Lantas, bagaimana dengan mantan kekasih hati lelaki itu? Ah, lelaki itu masih belum memikirkannya terlalu dalam.

O ya, semoga kita berkenan tahu apa yang dikabarkannya. Sehari setelah seminggu lalu perempuan itu pergi, lelaki itu menerima pos-el dari perempuan itu—dari negeri jauh di sana. Betapa perempuan itu, rupanya, hanya mengucapkan rasa berterima kasih kepada suaminya yang sangat menghargai hak seksual dan reproduksinya—untuk memilih bentuk berpasangan yang nyaman bagi perempuan itu. Dan untuk memutuskan akan bereproduksi atau tidak. Perempuan seperti menikmati pernikahan yang memerdekakan.

Maaf, memang tidak ada resepsi. Mungkin itu sebab tak turut mengundangmu pada waktu itu. Begitulah perempuan itu mengakhiri isi suratnya.

Lelaki itu menarik napas panjang. Semakin tenggelam di dasar kedalaman kolam air mata kebahagiannya. Kebahagian perempuan itu yang tersisa hanyalah untuk dikenangnya.

Yogyakarta-Lampung, 2011

Sumber: Lampung Post, Minggu, 17 Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s