Mengolah Cerita

F. Moses

Sebab bukan hanya masakan yang mesti diolah, melainkan juga cerita—entah cerita pendek atau cerita panjang (roman, novel, dan sejenisnya—maaf saya membenturkannya dengan sebutan cerita panjang. Tak bermaksud mengistilahkan apalagi sekadar melegitimasikannya, ya). Karena cerita yang setidaknya menjurus ke “kebaikannya bercerita”, tentunya sadar dan paham betul untuk mengolahnya; entah bagaimana rasanya kelak: asam, asin, gurih, manis, pahit, kecut, dan berakhir enak atau tidak untuk disantap. Tak soal, terpenting tahu benar untuk memasaknya. Berujung olah sadar sang penulis itu sendiri untuk menerima dan berterima. Hmm, semoga bagian pengutaraan saya ini, secara umum dan khusus tak melamurkan penikmat sastra apalagi penulisnya.

Dalam kesempatan ini kali anggaplah saya sedang tak mengulas cerpen “Aku Siapa??” karya penulis Dewa Made Suyadna, tapi hanya racauan ringan kebersamaan kita sambil minum teh hangat atau kopi panas plus gorengan. Tentunya ditengarai pertukaran pikiran di antara kita yang senantiasa saling “bertukar getar” tatkala menyoal cerpen.

Mengolah cerpen, kalau boleh saya bilang lagi, memang tak lain dari masakan. Tinggal siapkan pena dan kertas (seperangkat mesin tik atau komputer atau laptop), kumpulan perbendaharaan kata dalam “laci pikiran”, serta penyedap rasa yang bukan instan dari rempah-rempah imajinasi. Selebihnya niat tulus untuk bilang, “Mari kita mengolah menjadi masakan paling sedap untuk dinikmati menjadi cerita pendek.”

Sekadar imajinasi? Mungkin tak akan pernah cukup bahkan sanggup. Karena tak semua penulis memiliki daya imajinasi kecuali ia memang luar biasa kedatangan “ilham”. Kecuali juga, bila ia memang sekadar mendatangkan imajinasi ala kadarnya. Rasanya pun (mungkin) bakal bisa terasa; hambar dan kering. Dibaca pun hanya berjumpa dengan kebosanan. “Tak menarik, mending langsung baca kalimat paragraf terakhirnya saja,” sela si penikmat cerpen dalam hati. Tentu sebagai penulis tak ingin mengetahui pergumaman dari sela si penikmat yang seperti itu, bukan?—terpenting dalam imajinasi bukanlah sekadar mengada-ada, melainkan bagaimana caranya melebarkan sayap penceritaan menjadi berterima dan meresap ke benak pembacanya. Itu saja, sederhananya.

Baiklah, seperti saya bilang tadi, saya memang tak membahasa cerpen “Aku Siapa??”, kecuali teringat akan momentum Anne Frank. Siapakah Ia?

Usianya masih sangat muda, 13 tahun. Kala itu bulan Juni 1942, pertama kalinya ia menulis dalam buku diarinya. Beberapa bulan kemudian, bersama orangtuanya, ia bersembunyi di sebuah loteng gelap karena diburu oleh rasisme Nazi yang sedang ganas-ganasnya. Seringkali ia mendengar suara deru pesawat tempur dan rentetan senjata api yang mengawang di atas Secret Annex itu.

Untuk mengisi hari-hari panjangnya di tempat persembunyian tersebut dan untuk mengatasi rasa takutnya, ia mencurahkan segala perasaannya ke sebuah buku diari, catatan harian, yang dikemudian hari mengantarkannya menjadi seorang “pengisah sejati” yang terkenal di seluruh dunia. Gadis itu bernama Anne Frank.

Aku berharap, demikian ia mengawali tulisannya pada diarinya yang diberinya nama Kitty, aku bisa  mencurahkan isi hatiku padamu dengan cara yang belum pernah aku lakukan pada siapapun sebelumnya, aku harap kamu dapat memberi rasa nyaman dan juga semangat untukku.

Berbulan-bulan ia tidak melihat matahari dan tidak mengetahui dunia luar. Namun ia terus saja menulis, “…aku suka menulis, banyak hal yang terlampau menarik dan luar biasa dalam hatiku, akan aku tumpahkan lewat tulisan. Kertas memiliki kesabaran yang lebih ketimbang manusia.”

Pada bulan April 1944 ia mencurahkan hati pada diarinya bahwa ia rindu ingin sekolah lagi, Andai perang tidak juga berakhir bulan September, aku tidak akan kembali ke sekolah. Dan memang terjadi, Anne Frank tidak pernah lagi melanjutkan sekolahnya hingga akhir hayatnya. Karena pada tanggal 4 agustus pagi, delapan orang yang bersembunyi di Secret Annex, termasuk Anne Frank, disergap oleh intelejen bayaran Nazi lalu digiring ke Penjara, lalu ke kamp pembuangan sampai akhirnya dicampakkan ke sebuah kamp mengerikan di dekat Hannover (Jerman) tahun 1945. Bersama dengan impian remaja dan cita-citanya, akhirnya Anne Frank meninggal dunia karena terlalu lelah, sakit dan lapar. Mayatnya dilempar ke sebuah pemakaman umum Bergen-Belsen. Ia mati dalam usia belasan tahun tanpa sempat tahu bahwa beberapa waktu kemudian, setelah perang usai, diarinya ditemukan oleh petugas berceceran di lantai Secret Annex yang akhirnya menjadi sebuah dokumen sejarah yang dipublikasikan di seluruh dunia.

Nah, dari kisah di atas, setidaknya kita dapat memetik pelajaran penting bahwa menulis adalah sebuah cara untuk mendokumentasikan segala pikiran, pengalaman dan imajinasi kita ke dalam bentuk tulisan.

Untuk melengkapi jawaban ini, saya semakin teringat penggalan-penggalan bagus dari diari Anne, “Saat aku menulis, aku dapat meluruhkan seluruh deritaku. Ketakutanku lenyap, gairah hidupku bangkit kembali—aku berharap, semoga bisa, oh, aku sangat berharap, hanya dengan menulis aku dapat merekam segalanya, seluruh pikiran, ide fantasi maupun segenap imajinasiku..

Pada awalnya, si Anne tidak berpikir kalau buku diarinya akan dipublikasikan secara luas. Ia menulis untuk dibaca sendiri dan berdasarkan motivasi seperti yang diuraikannya di atas. Dan sebetulnya, dipelajari atau tidak, menulis itu tetap mengiringi hidup kita sehari-hari karena memang sudah menjadi kebutuhan. Baik untuk kepentingan seperti mengerjakan tugas sekolah maupun untuk keperluan yang lebih bersifat privasi seperti menulis surat cinta, sms atau menulis curahan hati di buku diari.

Sekian.

***

Membaca “Mengolah Cerita” di atas, sesungguhnya merupakan rangsangan saya atas pembacaan terhadap seorang cerpenis di bawah ini.

Aku Siapa???

Karya: Dewa Made Suyadna

 

“Lihat ini adalah salah mereka orang-orang tak bertanggung jawab, mereka memerangi orang-orang yang tak bersalah…”. itulah kalimat yang selalu kudengar dari orang berpenampilan rapi yang mempresentasikan hal yang aku rasa intinya sama. Entah sudah berapa kali aku dengar dan aku pun tak tahu kenapa aku tak bosan-bosan mendengarkannya sampai-sampai aku tak ingat apa pun selain kata-kata itu.

Aku sering menjalani misi kemanusiaan yang bertujuan untuk memerangi bangsa jahat yang sudah menghancurkan negara tak berdosa, tiap kali menjalani misi aku serasa tak kuasa berhenti dan hanya kata-kata ketua komunitas kita yang terngiang di pikiranku, “Bom hotel itu, ledakan tempat itu,” dan blablabla huffft lelah mendengarnya .

Rasa jenuh mulai merasuk pikiranku, saat hampir terlelap kau raba kantungku dan mengeluarkan dompet yang ada di dalamnya, iseng aku melihat foto cantik yang ada di dalam foto itu seketika itu juga rasa cinta ku timbul dan perasaan aneh menerkamku seketika itu pun rasa sakit seperti menghancurkan kepalaku membuat aku tak sadarkan diri.

Burung-burung bernyanyi menyambut pagi yang sudah menyiapkan matahari hangat untuk membangunkanku, teringat kejadian semalam membuat kepala ku menjadi kembali pusing. Aku pun izin dengan ketua komunitas untuk pergi ke klinik, obat dari klinik itu sedikit meringankan kepala ku yang sedari tadi serasa sangat berat. Aku kembali melihat foto cantik yang berada di dompetku. Huuvft… aku menarik napas panjang ketika hatiku berdegup kencang kusentuh dadaku dan kurasakan kencangnya dentuman hatiku.

Rasa penasaran menyambar kepalaku, aku melarikan diri dari tempat itu dan mulai mencari tahu siapakah gadis yang ada di dompetku ini. Kucari alamat yang tertera di KTP-ku puluhan kali aku bertanya kepada penduduk untuk mencari tahu di mana ruamahku sampai aku temukan rumah yang sederhana berwarna putih dengan pagar bambu. Kembali perasaan aneh itu merasuki pikiranku sampai saat aku sadar keempat sosok yang serasa tak asing mencoba membangunkanku. “Nak..oh Nak.. Akhirnya kau pulang juga sudah berbulan bulan kamu tak pulang kemanakah kau selama ini..?” kata perempuan tua yang berbicara sambil terisak, aku coba mengingat tapi rasa sakit di kepala ini melarang aku untuk mengingat. Kulihat banyak orang menangisi kehadiranku dan membuat pesta kedatangan untukku, sungguh aku merasakan kehangatan yang membuatkku nyaman yang membuatku tenggelam di dalamnya. Suasana yang tak bisa aku dapatkan di tempat dingin nan mencekam yang ada di komunitas itu.

Sedikit demi sedikit aku ulang mengingat perkataan mereka dan kembali berkenalan dengan mereka walau sambil menangis atau sedikit bersedih mereka menjabat tanganku. Memoriku serasa terisi kembali walau tak dapat mengingat yang lalu aku bisa menjalani kembali hidup ini. Hmmm… kulihat di televisi banyak jatuh korban tak bersalah akibat pengeboman yang terjadi dimana-mana, sebenarnya aku sangat sedih sekali melihatnya. Sambil mencari tahu siapakah gadis dalam foto itu aku berjalan-jalan dengan sahabat-sahabat baruku, sampai mereka menyuruhku menanyakannya pada sahabatku Adi yang mereka bilang dulu dia adalah sahabat terbaikku.

Sampailah aku di rumah mewah yang ada di perumahan elit di kotaku.

“Teeet” suara bel itu terdengar seperti sering ku dengar dulu. “Heii prana kawanku lama tak jumpa…” jerit pria sebayaku dengan berlari, ia membuka pintu pagar yang menghalangi kami dan mengajakku masuk kami berbicara sangat lama panjang lebar, aku menceritakan semua yang terjadi kecuali yang kulakukan di komunitas itu. Dengan senyum khas yang tak asing di mataku itu dia bertanya “Gimana hubungan mu sama si Lina itu.” Aku terdiam, “Aku lupa, hahaaha,” ia tertawa keras. “Masak sih,” lalu aku ambil dompetku dan memperlihatkan foto itu. “Apa lina itu yang ini ya?” “iya lah pran,” jawabnya. “Kamu tahu rumah nya..?” tanyaku.  “Loh kan kamu yang kasih tahu rumahnya sama aku” jawab Adi. “Eh anterin ke rumahnya sih,” pinta ku. “oke sob” jawab Adi singkat.

Ketika tiba di rumah yang kurasa cukup mewah dengan cat hijau mobil adi berhenti. “Nih bro rumahnya good luck ya. Tar aku jemput jam 6 sore ya bye,” kata adi dari dalam mobil. “Wow jauh juga dari rumah ku” ucapku dalam hati. Sesosok tubuh yang berperawakan tinggi dan berambut panjang keluar dari rumah tanpa harus aku panggil. Wuuuzz merinding rasanya, badan ku dingin jantungku berdetak kencang dan peeeep.  “Hahaha sorry ya bro cuma bercanda,” kata Adi yang berbicara sambil membuka pintu mobilnya. Seketika kami tinggalkan ratusan gundukan tanah beserta beberapa patok yang bertuliskan nama dan tanggal. “Parah loe masak bawa gue ke sana sih” kataku, “Hehehe, sory Pran kirain loe pura-pura lupa,” kata Adi.

Mobil itu kembali ke rute pulang ke rumah Adi namun berhenti di depan gang rumah Adi, “Neh rumahnya…hehehe,” Katanya. “Ya udahlah makasih ya, Di,” ucapku. Jantungku berdegup keras sangat keras sampai rasa-rasanya kau dapat mendengar suaranya. Sesosok wajah yang wah cantik ayu terlihat dari balik pintu yang setelah melihat wajahku tiba-tiba ia langsung memelukku dan berbisik di telinga ku. “Kak aku yakin pasti kamu kembali aku udah nunggu kamu berbulan bulan lho..” Ucapnya mesra.

Kami terlibat dalam percakapan panjang yang dihentikan oleh sinar rembulan. “Udah dulu ya tar orang rumah nungguin aku,” ucapku. Iya kak oya besok ketemu di tempat belanja dekat rumah sakit itu ya sambil menunjuk ke arah utara”katanya,  “Iya..” jawabku enteng.

Malamnya meskipun sangat lelah aku masih sempat ber-sms-an ria dengan Lina. “Huufvt sungguh gadis yang cantik,” ucapku seraya menaruh hape-ku lalu beranjak tidur.

Tak seperti biasa burung tak bernyanyi hanya matahari saja yang menyambut pagiku dengan hangat, “Hmm mungkin gara-gara aku bangun telat,” pikirku. “Ibu..ayah… dik..”teriakku tapi percuma tak seorang pun di rumah. Ketika mau buka kulkas aku melihat nota yang bertulisakan, “Aku ibu sama ayah lagi ketempat belanja di samping rumah sakit, kalau lapar makan dah ada di meja”. Setelah makan aku pergi mencari teman-teman ku tapi mereka juga gak ada kata ibunya mereka main entah ke mana, ya sudah deh langsung saja aku ke tempat Adi. Setelah sampai aku minta Adi untuk ikut dengan ku ke tempat aku berjanji dengan Lina, dengan mobil ia mengantarku ke sana entah mengapa Adi dari tadi senyum-senyum saja di mobil. Ketika tinggal 200 m lagi ketempat perjanjian. “KAAABOOOMM….DUARRR….DUAAAM….KABBOOM,” terdengar suara ledakan dari tempat perbelanjaan itu dengan pandangan kosong Adi langsung tancap gas menuju TKP. Tempat perbelanjaan itu luluh lantak rata dengan tanah. Mengingat nota yang ditinggalkan adikku aku serasa jatuh ke lubang penderitaan terdalam. Sambil menangis Adi mengerem mobilnya di dekat TKP. Ia berteriak histeris setelah mencari-cari sesuatu yang tak ia temukan. “Prana sebenarnya kami ingin membuat pesta menyambut kedatanganmu di sini dan mereka sebenarnya telah menyiapkan ini dari subuh tadi semua telah datang semua ada di dalam ta..tap..tapi.. sekarang semuanya tak ada, tak ada seorang pun yang selamat semua mati” Adi menangis tersedu-sedu, setelah mendengarnya aku jadi semakin bersedih rasa penderitaan ini serasa tak berujung.

Lalu riuh suara sirine polisi dan ambulans memadati tempat ini. Tangis Adi terhentikan oleh badanya yang terkulai lemas, dengan cepat aku menangkapnya dan memnggil tim medis yang ada banyak di tempat itu. Setelah meyerahkannya pada tim medis aku beranjak untuk mendekati TKP dan menerobos police line yang dipasang oleh polisi. Saat aku dicegah untuk tidak memaskuki TKP terdengar suara riuh yang menambah suasana mencekam di tempat itu “DDDUUUOAAAR….KAAABOOM… KAAABOOM… KAAABOOM… KAAABOOM… KAAABOOM… KAAABOOM… KAAABOOM… KAAABOOM… KAAABOOM… KAAABOOM… KAAABOOM…,” suara bom-bom susulan itu terdengar dari belakang dan depanku yang menghancurkan dan membunuh tim medis, polisi dan wartawan yang ramai berada di tempat itu. Tuhan menyelamatkanku walau dengan beberapa luka yang membuatku berlumuran darah tapi tidak dengan Adi yang berada di dalam mobil tim medis yang meledak oleh bom susulan itu.

Dendam mulai menutup semua indra ku yang membuatku memiliki tujuan yaitu menghancurkan komunitas itu, yang pernah aku ikuti. Aku tahu pasti mereka otaknya karena merekalah gembong teroris dunia aku habiskan semua warisan dan uang peninggalan orang tuaku untuk membuat bom berdaya ledak tinggi, puluhan jumlahnya. “Nyawa harus dibayar dengan nyawa,” kataku dalam hati.

Dengan berpura-pura ikut kembali dalam komunitas itu aku diam-diam menaruh bom-bom itu serta mengaktifkan bom yang ada di gudang penyimpanan setelah kurasa cukup aku kembali kabur dengan alat pemicu yang aku bawa dan pergi ke bukit tak jauh dari markas besar komunitas itu dan menyaksikan kembang api kemenanganku. “Hahaha,” tawa ku keras saat menyaksikan tempat itu hancur berkeping-keping, tapi tawa kemenangan itu tak menyelesaikan semuanya, dendam ini terasa malah makin membara lalu sejenak aku berpikir tentang keluarga orang yang telah aku habisi nyawanya pasti mereka akan berfikir sepertiku ingin membalaskan dendam itu dan akan memicu banyaknya bom-bom dan komunitas lainnya yang lebih banyak. Penyesalan melanda pikiranku akupun menyerahkan diri kekantor polisi dan mengatakan semuanya semua tentang bom-bom itu semua pernyataanku diliput di seluruh dunia dan hampir seluruh isi dunia membelaku dan mengecam polisi untuk membebaskanku dari hukuman mati yang akan kuterima. Hmm.. setelah kejadian itu aku mendapatkan penghargaan nobel di bidang kemanusiaan. Dan sekarang inilah aku. Aku menjadi ketua penyelamatan korban perang, bencana, dan terorisme dunia.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s