“Kemasan Cerita”

Pembaca terhormat, berikut cerpen saya apresiasikan. Semoga berkenan dan bermanfaat, khususnya dunia prosa Indonesia. Salam literer

C I N T A

Karya Bagus Yuli Hidayat–DCC Lampung Kampus Antasari (Semester III)

“Hendra, turun Nak,” teriak seorang guru kepada seorang siswa yang membawa pistol di lantai dua SMA Abdi Bangsa itu.

Hendra. Seorang siswa yang berubah 180 derajat dari sifatnya yang pendiam dan pintar, sudah sebulan ini dia menjadi sosok yang arogan, bodoh, dan nakal. Sifat diamnya selama ini menjadi tanda tanya besar malam ini.

Di atas sana Hendra sedang menyandera empat siswa, tiga putra dan satu putri.

“Hendra, turun Nak! Apa yang kamu lakukan? Kamu bisa dipenjara nak. Lepaskan Leo sekarang!” teriakkan guru itu menggema kembali setelah melihat seorang sandera digantung di pagar lantai dua SMA favorit itu.

“Ibu jangan paksa Hendra, Bu! Ibu lihat? Kalian semua lihat? Ini yang mereka lakukan kepada saya, Bu. Dan yang kalian lakukan apa? Kalian semua tertawa. Sekarang kalian ketawa, ketawa dong. Ayoo ketawa!” ujar ali kepada Ibu Ike dan seluruh siswa yang sedari siang berkerumun akan hal ini.

“Tapi semua bisa dibicarakan Hendra,” ujar Ibu Ike lagi. Ibu Ike adalah sosok yang selalu peduli dengan Hendra, selalu memotivasi, selalu membela Hendra dalam segala hal bila ia tertindas.

Malam ini menjadi malam paling menakutkan dan malam paling mengharukan. Ratusan pasang mata meneteskan bulir-bulir Kristal yang mereka miliki.

“Semua percuma Bu, tetap saja Sheila tidak mencintai saya,” ujarnya terbata.

“Ini semua salahmu,” Hendra menunjuk seorang sandera. Dialah Sheila seorang wanita yang sangat dikaguminya.

“Ini semua salahnya Bu! Dia bilang aku terlalu baik untuknya dan inilah yang dia mau, Bu. Dia mau saya menjadi Leo yang selalu merampas hak orang lain, yang selalu menjadi jagoan ditakuti semua orang Bu,” mulutnya membara.

“Aku mencintainya, Bu! Tapi aku terlalu baik,” ujarnya pelan sambil menjatuhkan kristal bening dari matanya.

“Kamu tak perlu menjadi siapa pun Hendra! Banyak yang mencintaimu melebihinya,” Bu Ike terus mencoba menenangkannya.

Sore itu Hendra mengutarakan cintanya pada Sheila setelah jam sekolah usai.

“Sheila tunggu.”

“Sheila ada yang ingin aku bicarakan,” tambahnya sambil membawanya ke taman sekolah tanpa menunggu jawaban darinya.

“Sheila aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi pendampingku?”

“Katanya pendiam kok blak-blakan gini ya?” candanya sambil tersipu.

“Aku mencintaimu, tak ada basa-basi sedikit pun,” Hendra mencoba meyakinkannya.

“Ya, aku mau,” jawabnya singkat disertai anggukan kecil.

Senang tak terkira Hendra saat itu, walau hanya beberapa saat saja. Sheila berpaling pada Leo.

“Hendra. Maafkan aku, kamu terlalu baik buatku,” ujar Sheila terbata meluluhlantakkan Hendra bagai debu.

“Aku terlalu baik? Karena itu kamu pilih Leo?”

Hal itulah yang membuat Hendra berubah. Yang dulu selalu menjadi juara semester, yang dulu pendiam, yang dulu penurut berubah menjadi Hendra yang bodoh, anarkis, dan arogan.

“Hendra kamu tidak perlu menjadi siapa pun untuk dicintai seseorang,” ulang Bu Ike meyakinkannya setelah beberapa detik sunyi.

“Hendra jangan main hakim sendiri, biarkan pihak sekolah yang menyelesaikan tindakan Leo terhadapmu”

“Percuma, Bu! Pihak sekolah memihak Leo, Bu.”

“Turunkan dia Hendra.”

“Ibu, jangan paksa Hendra, Bu, atau saya tembak dia supaya lenyap orang seperti dia,” ujarnya semakin membawa sambil mengarahkan Pistolnya ke kepala Leo.

Suasana semakin mengharukan, tanpa terasa halam sekolah swasta tersohor ini dibanjiri air mata. Polisi dan wartawan pun mulai berdatangan mencari informasi di sekolah seluas satu hektar ini.

“Segera telepon orang tua Hendra dan para sandera,” ujar pihak sekolah memberi aba-aba.

Tak ada seorang pun yang memercayai bila Leo telah anarkis padanya. Di mata mereka, Leo adalah anak yang pandai dan penurut, walau sesungguhnya itu hal yang sangat berlawanan. Leo yang bodoh dan nakal membuat ayahnya yang notabenenya seorang pejabat menjadi donator tetap sekolah ini. Ya! Sehingga sekolah ini menjadi sebesar sekarang.

“Ibu! Aku harus membunuhnya, Bu. Dia hanya akan menjadi sampah,” kata-katanya semakin geram bila melihat Leo.

“Biarkan polisi yang mengurusnya. Ibu jamin kamu tidak akan menjadi tersangka.”

Baru beberapa jam penyanderaan itu dilakukan. Namun sudah menjadi breaking news di berbagai TV dan radio lokal.

***

“Ada surat panggilan dari guru BP untuk kalian,” ujar seorang siswa sambil menyerahkan empat surat kepada Leo, Sheila dan dua temannya.

Siang itu, Hendra menyelinap masuk ke ruang BP dan membuat surat panggilan palsu kepada empat siswa ini setelah pulang sekolah. Ibu Ike selaku guru BP tak ada jadwal hari ini, sehingga Hendra leluasa melakukan hal ini.

“Woi, ada apa lagi ini. Berani-beraninya BP panggil kita,” ujar Leo sambil menyobek surat itu.

Setelah bel pulang dibunyikan keempat siswa ini lekas masuk ke ruang BP, saat itulah Hendra melakukan penyanderaan yang telah direncanakannya ini. Meskipun sempat melakukan perlawanan, Leo cs akhirnya rapuh setelah acungan pistol dan pukulan yang dilakukannya secara bergilir.

***

“Dari mana Hendra mendapatkan pistol Bu?” tanya seorang polisi kepada Ibu Ike di antara kecemasan dan keharuan di halaman sekolah ini.

“Saya tak tahu pasti, Pak! Yang saya tahu dia takkan senekat ini.”

“Cepat cari tahu dari mana anak ini mendapatkan pistol,” pandu seorang polisi membuat timnya bubar.

Sementara di atas sana kesedihan melanda Sheila, dia hanya bisa menangis melihat perubahan Hendra hanya karena ucapannya.

“Ini kan yang kamu mau? Aku sudah jadi jagoan, aku sudah terkenal. Jadi mau kan kamu jadi pacarku lagi?” teriak Hendra sambil meremas dagu Sheila yang sedang duduk terikat.

“Ayoo, jawab.”

“Ampuni kami Hendra, kami tahu kami salah,” ucap dua sandera berbarengan.

Byuuuurrr, guyuran satu ember air membasahi mereka.

“Ampuni kami Hendra,” Leo berucap

Byuuuurrr, guyuran satu ember air lain membasahi Leo yang masih tergantung di pagar.

“Ib lihat? Kalian semua lihat, kan? Ayoo dong ketawa. Kok gak ada yang ketawa sih.”

“Ampuni kami Hendra,” suara Leo terdengar serak.

“Hendra, sudahi ini Hendra. Aku tahu aku salah, maafin aku Hendra, ini salahku,” ucap Sheila terbata yang sejak tadi tak henti-hentinya menelurkan air mata.

“Apa sih yang kamu mau? Aku sekarang sudah hebat, sudah gak terlalu baik lagi, kan? Tapi kenapa kamu masih pilih dia?”

Sontak semua yang melihat kejadian ini semakin larut dalam kesedihan dan rasa bersalah kepada Hendra. Mereka ingat saat Hendra digantung Leo cs di tempat yang sama, mereka hanya tertawa tak ada satu pun yang membantunya. Guru yang melihat pun membutakan matanya hanya karena anak seorang donator tetap.

“Hendra, cepat turunkan mereka atau kami akan jemput paksa kamu,” ujar seorang polisi kepadanya menggunakan TOA.

“Cepat turun! Dalam hitungan ke sepuluh kamu tidak menyerah, kami akan bertindak”

“Sepuluh…… Sembilan……”

“Hendra, menyerahlah Nak. Kita selesaikan masalah ini secara bijak.”

“Ibu tahu peluru kamu cuma satu, jadi menyerahlah,” tambah Bu Ike setelah tahu peluru yang ada dipistolnya dari seorang polisi yang telah berhasil menangkap penjualnya.

“Oh, jadi Ibu sudah tahu kalau peluru ini cuma satu? Kalian semua tahu?” ujar Hendra lalu mengarahkan pistol itu ke Leo.

“Jaaaangggaaaan……….!” teriak semua mata yang melihat.

“Dooor….”

“Heeeennnnnddddrrraaaaaa,” teriakan semua orang yang ada di sekolah itu pecah, tangisan menyeru di antara bulir-bulir kristal yang jatuh dari mata mereka.

Ayah dan Ibu Hendra yang baru datang langsung berlari menuju tubuh Hendra yang terjatuh setelah mengubah arah pistolnya ke kepalanya sendiri.

“Heennndddraaa… ! Maafkan kami.”

***

Satu kata yang membuat orang bahagia, satu kata yang bisa membuat luka. Satu rangkai kalimat bisa membuat bijak, satu kalimat yang juga bisa merubah insane. CINTA kata yang bisa merubah segalanya.

Bandar Lampung, 8910

Ulasan

Kemasan Cerita

Oleh F Moses

Menyoal cinta, betapa banyak dan memang tak akan pernah selesai. Cinta bagian dari warna hidup. Cinta bagian dari pesona hidup. Cinta bagian gambaran kehidupan. Bagian dari asam garam kehidupan yang acap meresap, terkadang menjadi pahit-manis, hitam-putih, terang-gelap, dan sebagainya. Ya, itulah cinta. Cinta selelu cenderung menjadi emosi kehidupan itu sendiri. Bahkan emosi literer sekali pun. Menjadi bumbu dasar napsu literer cerita cinta; cinta yang terpendam, cinta yang tertunda, bahkan cinta yang tak sampai sekalipun. Hmm.

Pada cerpen Cinta karya Bagus YH, mungkin, cinta menjadi ketragisan dari suara hati paling dirasa manis sekali pun—ke dalam tokoh Hendra. Baiklah, terlepas dari perkara cinta yang tak akan pernah selesai, terpenting bagaimana kemasan cinta ketika merasuk dan memagut ke dalam cerita itu sendiri. Dalam hal ini cerpen. Yang pada dasarnya tak akan bisa terlepas dari seratan alur, tokoh, latar, maupun tema itu sendiri. Sebut saja semuanya itu adalah kemasan.

Sekarang bagaimana cerpen Cinta tersebut dikemas oleh penulisnya?

Alur cerpen Cinta, menurut saya terbilang unik. Unik yang berakhir, bagi saya (sebagai pembaca), menjadi keunikan yang—semestinya menarik—malah tak menarik. Padahal, dapat saja sebaliknya, karena penulis telah memilih ”perjalanan cerita” yang langsung sedemikian menohok pembacanya dengan ”kegaduhan perseteruan”. Kalau boleh, ibarat bus, terlampau melaju kencang tanpa melihat rambu maupun marka jalan. Bahkan tanpa merasakan ”medan suasana” sekeliling perjalanan yang ditempuh. Lantas, pada cerpen tersebut, apa yang menjadikannya tak menarik? Berikut catatan sederhana saya. Terutama kelogisan.

Logika bercerita. Apapun alasannya, meski cerita tak lain hanyalah sebuah fiksi yang sedemikan menuntut imajinasi—bahkan daya khayalan tingkat tinggi sekalipun—tetaplah bukan lamunan belaka, melainkan alam ” bawah sadar” yang tetap dituntut kesadaran dan kebenaran dalam berasbstraksi. Jadi, tetap tak irasional tatkala ia menciptakan ”ruang bahasa” ke dalam cerita itu sendiri.

Dari cerpen Cinta, bagi saya, paragraf keempat cukup mengganggu logika bercerita, pada “Hendra, turun Nak! Apa yang kamu lakukan? Kamu bisa dipenjara, Nak. Lepaskan Leo sekarang!” teriakkan guru itu menggema kembali setelah melihat seorang sandera digantung di pagar lantai dua SMA favorit itu.

Sulit buat saya menafsirkan kisah (seperti heroik) seorang remaja yang mampu menggantung orang seusianya pada sebuah pagar di lantai dua. Saya sebagai pembaca menjadi lamur membayangkan kejadian seperti itu. Mungkin saja menjadi logis, bila yang diceritakan ialah seorang ibu yang nekat menggantung bayi berusia satu bulan di sebuah pagar karena depresi atau gila, misalkan. Kembali dalam kutipan paragraf keempat tersebut, bagi saya cukup irasional.

Kemudian dalam paragraf selanjutnya, Malam ini menjadi malam paling menakutkan dan malam paling mengharukan. Ratusan pasang mata meneteskan bulir-bulir Kristal yang mereka miliki. Bagimana mungkin, sementara yang menetes dari mata adalah air mata. Baiklah, sah saja, imajinatif. Namun tetap tak berterima bagi pembaca jeli, kecuali bila berkalimat: ”Ratusan pasang mata yang mereka miliki meneteskan air yang menjelma bulir-bulir kristal”, misalnya.

Selain itu, logika bercerita juga dapat berakibat dari kurangnnya deskripsi yang memadai, atau lompatan peristiwa menjadi kerancuan pemeristiwaan—kesan sumir menjadi tak sebanding dari (mungkin) tujuan penulis itu sendiri. Hal itu, sekiranya, dalam penggalan Siang itu, Hendra menyelinap masuk ke ruang BP dan membuat surat panggilan palsu kepada empat siswa ini setelah pulang sekolah. Ibu Ike selaku guru BP tak ada jadwal hari ini, sehingga Hendra leluasa melakukan hal ini, yang sarat untuk dimaksimalkannya deskripsi latar yang tak hanya mengenduskan perihal yang jelas, tegas, dan kritis. Tapi juga indah. Penceritaan akan terasa lebih bersahaja, detail, dan subtil.

Sekian catatan saya, perihal logika bercerita. Semoga catatan ringan ini bermanfaat untuk proses kreatif penulis selanjutnya. Tentunya, proses kreatif yang konsisten akan membuat seorang penulis mahir. Terus belajar dan semangat. Salam

Sumber: Radar Lampung, 21 November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s