Simbolik Khas Remaja

Karya Melisa Sanchiagoh

Akulah sepotong kain.

Ehm, sekarang inilah aku.

Aku sekarang adalah selembar kain halus yang terbentang gemulai seelok badan penari.

Dan aku dikagumi dengan decak bangga oleh berpasang mata di toko kain.

Dan aku juga dihela oleh desah kecewa saat mereka tahu mahalnya tubuhku.

Ketika tangan halus seorang memegangku, aku yakin dialah pemilikku yang baru.

Tubuhku dibentang dan dibentuk oleh tajamnya gunting hitam.

Aku disemat oleh berbagai bentuk yang membuatku yakin jika nanti orang yang menggunakanku akan tersulap bak permaisuri atau raja dalam dunia mimpi.

Namun, malam ini aku menangis.

Tidak, aku meraung.

Karena aku tercabik jatuh di ujung ruangan.

Terdengar desah nafas menjijikan dan suara lemah wanita,

‘Kenapa?’

‘Maaf, pakaianmu yang mengundangku melakukannya’

Dan detik itu juga, tubuhku terbaret, tercaik, terkoyak.

Namun tak apa, aku masih bisa menjadi yang lain daripada sehelai kain.

Aku si kayu.

Hah, sekarang aku menjadi sepotong kayu kekar.

Tubuhku sekarang kuat bak otot seorang petinju.

Aku mampu membuat beratus pasang mata tercengang melihat kegagahan tubuhku.

Aku mampu membuat beratus mulut ternganga lebar melihat tingginya tubuhku.

Dan ketika seorang membawa sebuah alat besar, aku berteriak kesakitan

Tubuhku dibelah. Namun, aku tetaplah sepotong kayu yang kekar.

Tubuhku diamplas, dipotong dan diukir, namun, aku tetaplah aku, sepotong kayu kekar yang dikagumi banyak orang.

Dan aku menjadi kokoh untuk dipasang disebuah pintu, aku mewah bung! Begitulah mereka memujiku.

Namun, aku kembali mengerang saat sebuah peluru kekar milik seorang laki-laki yang terus berteriak,

‘tangkap teroris itu!’ menembus tubuhku. Aku lemas, namun, aku lebih lemas karena seorang ibu dengan perut membuncit berlari mencari perlindungan dari peluru-peluru brutal yang terus menembus tubuhku.

Stop! Aku mau menjadi benda lain sebelum aku sekarat.

Aku sebuah manik berkilau.

Yes! Aku menjadi berkilau!

Lihat badanku! Lihat!

Teriakan pamerku seperti salak anjing di tengah kuburan.

Hening dan tak ada yang tahu.

Semua mata berkilau melihat tubuhku dan semua tangan gatal ingin memilikiku.

Namun, aku hanya memandang angkuh kepada mereka saat sebuah kertas tersemat di tubuhku bertuliskan jutaan harga tubuhku.

Dan aku tahu jika semua itu hanya sementara,

Ketika malam ini aku merasakan aliran darah di tubuhku dan bunyi tembakan meletus di samping telingaku.

Majikanku teriak dan mengerang.

Dan seorang yang memakai baju hitam-hitam mengambilku dan berkata,

‘Oh, berlian cantik impian istriku!’

Jrrrrk. Hancur. Aku remuk dalam satu injakan sepatu.

Ah, aku mencari kehidupan lain.

Aku si kaca durja.

Huh! Aku kembali menjadi sebuah benda.

Kaca! Hah! Aku kaca terbaik di seluruh negri.

Mulus dan berkualitas tanpa tandingan.

Semua orang terpukau menatapku, lidah tak henti berkata dan memujiku.

Tangan-tangan lembut terus mengelus tubuhku yang semepurna.

Namun, aku tersentak kaget melihat seorang bayi, seorang anak kecil, remaja, wanita muda, ibu-ibu dan nenek-nenek.

Akankah semuanya menjadi seperti itu?

Kemulusan dan kesempurnaan tubuh masa muda akan menjadi kenangan angkuh saat masa tua?

Deg! Aku sadar sekarang!

Apa tujuan hidup ini.

Yah, aku tahu.

Karena kita hidup untuk terus menciptakan sebuah fatamorgana.

Fatamorgana bak drama palsu kehidupan.

Waspadalah jangan sampai menjadi peran utama dalam kehidupan, karena drama kehidupan berputar tanpa henti seperti fatamorgana.

Aku pencipta fatamorgana

Siapa yang tak kenal aku?

Akulah fatamorganis nomor satu di dunia!

Aku menciptakan semua cerita khayal, semua cerita dongeng dan semua duniaku dalam selembar kertas.

Banyak tokoh utama mengumpat kepadaku akan nasib pahit mereka.

Aku hanya tertawa.

Deretan gigi ompongku membuat mereka jijik dan meninggalkanku.

Namun, aku tetap tak mengganti ceritaku.

Karena aku mau membalas dendam pada semua cerita tentangku.

Cerita fatamorgana yang dibuat oleh dia!

Karena memang sebenarnya keberadaanku hanyalah dalam fatamorgana yang diciptakan oleh empunya fatamorgana.

(Bandar Lampung, 2 Juni 2010)

Ulasan

Simbolik Khas Remaja

Membaca kelima sajak Melisa Sanchiagoh, (tak berlebih) seperti memberikan pembaca kebutuhan gizi. Gizi yang dimaksud ialah keberhasilan Melisa dalam memberikan pemaknaan yang menukik sehingga (seolah-olah) tak ada jarak antara sajak dengan pembacanya. Memang begitulah etos kerja sebuah sajak karena sajak bukan kitab.  Isyarat pembenaran si penyair untuk pembacanya merupakan buah kontemplasi yang merupakan kewajiban mutlak si penyair terhadap pembacanya dalam bersajak. Hanya saja, kontemplasi yang bagaimana?

Karakter dalam lima sajak karya Melisa juga merupakan bagian dari sajak yang tak lagi ”berpola”. Hal tersebut secara eksplisit juga bisa dikatakan bahwa sajak yang baik tak selalu berpola a-b-a-b maupun tipografi yang bervarian—sebuah pembentukan yang sejujurnya sekadar disengaja atau tak sengaja dilakukan penyair. Semacam ”eksperimen sentimentil” penyair itu sendiri. Jadi, bisa dikatakan pola itu bergantung pada kebutuhan si penyair dalam memosisikan bunyi maupun aksentuasinya, demi kebutuhan di dalam sajak. Kebutuhan yang saya sebut tak lain ialah gizi itu sendiri.

Sebagai penikmat puisi, saya cukup tertarik pada gaya bersajak penyair pemula satu ini. Pada kesempatan inilah, sikap apresiatif dan tentunya juga kritik akan saya berikan. Sebab tiada sajak yang sempurna, bukan? Apalagi, seluruh pembacaan tetap bergantung pada kedalaman intuisi subyektif si pembaca.

Dalam sajak ”Akulah sepotong kain”, ”Akulah si kayu”, ”Aku sebuah manik berkilau”, ”Aku si kaca durja”, dan ”Aku pencipta fatamorgana, pembaca (seperti) diajak ke dalam pesona simbolik lewat aku liris oleh penyairnya. Semacam usaha penyair untuk berbagi tegangan antara aku dan pembacanya. Pembaca (penikmat) puisi seolah disadarkan atas pengalegorian yang implisit. Demikianlah yang terjadi pada kelima sajak tersebut.

Lantas, menjadi sedemikian hebatkah kelima sajak tersebut. Meski kebutuhan gizi yang dapat dikatakan tercukupi? Rasanya persoalan sajak tak berhenti di situ.

Sejujurnya, tak mustahil sajak ini akan dijumpai oleh pembaca (penikmat puisi) yang akhirnya ia mengatakan: O, ini bukan sajak seorang pemula, melainkan sajak dari seseorang yang cukup berproses (berpengalaman). Namun apa daya, pilihan kata (diksi) yang terkesan terburu-buru masih cukup mudah untuk ditemukan.

Dalam pilihan kata seperti dalam sajak ”Akulah sepotong kain” bait kedua pada larik satu dan dua: Namun, malam ini aku menangis// Tidak, aku meraung. Sebagai penikmat sekaligus pemerhati puisi, sulit buat saya untuk menangkap penjelajahan nalar si penyair. Karena bagaimana mungkin saya mesti membayangkan sebuah kain dapat menangis? Apalagi hingga mampu meraung.

Memang, puisi itu bebas untuk ditafsirkan. Akan tetapi, tak berarti pilihan kata dibuat menjadi seenaknya. Sebab kandungan kata (diksi) tetap ada gizinya tersendiri—atau dengan kata lain merupakan rasa kata, di luar pemaknaan utuh sebuah sajak. Mungkin akan lebih saya menalarkan apabila kata menangis menjadi tersobek. Itu menurut saya, tentu si penyair bisa lebih jeli memosisikan padanan itu. Jika tidak, tak salah jika pembaca yang jeli akan menyebutnya sebagai kata yang cacat. Cacat kata.

Kemudian dalam sajak ”Aku si kayu” pada  bait kedua. Bait pertama menurut saya sudah cukup baik, tetapi malah makin tak berjuntrung tatkala penyair justru melampirkan beberapa kalimat—yang mungkin bermaksud memberi ketajaman pengalegorian—yang tak perlu, yaitu Namun, aku lebih lemas karena seorang ibu dengan perut membuncit berlari mencari perlindungan dari peluru-peluru brutal yang terus menembus tubuhku. Pikirkanlah, kalimat itu justru menambah kerancuan. lalu pemakaian kata Yes dalam sajak ”Aku sebuah manik berkilau”, terasa kesan berlebihan dari sajak yang sebetulnya sudah indah nan sederhana. Karena  masih cukup banyak kata yang sepadan.

Sekurang-kurangnya inilah sedikit catatan apresiasi dan kritik atas beberapa dari kelima sajak Melisa. Seyogyanya, sajak yang baik tak selalu dengan pilihan kata (diksi) yang berlebih. Juga bukan yang egois dengan menampilkan sikap penyair bebas dan sebebas-bebasnya dalam mengolah maupun memilih kata. Melainkan penyair yang cenderung berbagi (menghadirkan pertukaran getar) dengan pembacanya. Terlebih pembaca yang sejujurnya berucap begini: ”Aku ingin menikmati sajak ini”. Tabik Pun. (FMT)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s