Sebuah Rahasia dari Lilin Buatan Ibu dan Kisah Gelap

F. Moses

KATA Ibu, ini lilin lain dari yang lain. Tak seperti terjual di warung-warung umumnya, kecuali bentuknya yang sama. Kelak kamu tahu ini bukan sembarang lilin, sebab tak akan habis saat kamu mulai membakarnya. Melumer tapi tak bisa habis. Bukan lantaran bentuknya jauh lebih besar dari umum, melainkan memang kualitas lilin ini yang luar biasa.

Bermula setelah malam kudus beberapa waktu lalu, aku bersitegang dengan kakak paling besar di atasku, bahkan tanpa dugaan ia sempat melesatkan tinjuan dan tendangan ke arahku. Gaduh. Keributan bermuasal karena masalah lilin yang pernah Ibu berikan kepadaku saat memasuki gereja, waktu itu.

Setelah Ibu datang, situasi pun mereda.

Rupanya kakak masih menyimpan dendam kesumat; selalu berniat mencuri lilin yang ada padaku ini. Sementara aku menyimpan penasaran. Menyimpan tanya saban malam tiap selesai berdoa, sebab lilin yang aku bakar ini tak kunjung habis. Padahal melumer.

***

Tiap malam tiap waktu, sejak dulu Ibu memang selalu mengajari kami agar senantiasa berdoa.

“Kenapa mesti berdoa, Bu?”

“Supaya masuk Surga.”

“Memang Ibu pernah ke Surga?”

Itu dulu–pertanyaan naif selalu aku bilang kepadanya. Jawabnya tak lain begitu melulu. Dan setiap mengotot agar ia memerincikan, selalu saja dialihkannya ke persoalan lain.

Berbeda dengan Bapak, meski berjuluk si pemabuk, masih selalu ingat Tuhan–bahkan ia masih ingat benar kesepuluh perintah Musa; buktinya, sejak dulu aku kanak-kanak ia selalu bilang kalau surga itu ada di telapak kaki Ibu. Dan segala larangan yang mesti tak boleh dilakukan manusia.

“Surga itu rumahnya Tuhan, jadi jangan macam-macam, dosa,” katanya sambil terkekeh. Bercampur sendawa seperti orang kurang minum air putih. Atau bahkan kebanyakan arak?

Lalu biasanya setelah mendengar begitu aku pun segera berlari mencari ibu. Hanya untuk mengecek telapak kakinya. Apakah benar ada sorga ditelapaknya.

Aku tak melihat apa-apa, kecuali warna sawo kecoklatan bercampur daki dari telapak kakinya. Setelah begitu, biasanya aku langsung menuju kamar bertanya-jawab seorang diri—yang kadang-kadang bergumam seperti monolog di muka cermin.

Setiap hari selalu begitu, simpan tanya. Aku menyimpan tanya seorang diri seperti pemurung, tentang surga dan terlebih lilin dari Ibu yang tak pernah habis ini. Lilin yang sungguh lain dari lainnya.

***

Hari ke hari, aku makin dikitari rasa takut; hasrat kakak yang ingin sekali memiliki lilin yang luar biasa ini—sebab bermacam rencana pernah ia beritahukan kepadaku bahwa suatu ketika harus memilikinya.

Dalam kesekian-kalinya aku di kamar, ketakutanku terhadapnya makin berlebih. Tak lama kemudian benar juga dugaanku; darah hasrat untuk memiliki lilin oleh kakak sudah di ujung kepalanya. Sebab sungguh jauh seperti hari-hari sebelum seperti biasanya Kakak mengetuk pintu kamarku. Ini kali ia tampak begitu emosi. Dan inilah saat paling gawat ia berulah di muka pintu.

“Semi, Sem.., Sem! buka pintu!” katanya perlahan berangsur keras. Terdengar begitu geram.

O, Kakak, sekian-kalinya ia memaksaku agar memberikan lilin ini. Ah, aku tak sudi, mending kubiarkan saja pintu terkunci, kataku membatin. Kuatir ia kembali meninju dan menendangku kembali.

Suara pintu terus terdengar makin keras oleh tendangan kuatnya. Beruntung pintu terbuat dari campuran kayu jati. Setidaknya cukup melecetkan saja. Sedikit ringsek tapi tak jebol.

Dari dapur aku mendengar panci terbanting, disusul derap langkah terburu Ibu menyambang ke arah kamarku.

“Jon, kau sinting, apa-apaan pintu kamar adikmu itu kau tendang?”

Jon tak acuh. Ya, sepertinya ia memang tak menggubris. Seperti psikopat tak bertelinga, ia terus saja menendang kamarku sembari sesekali mengambil beberapa langkah untuk menendang pintu. Semacam ambil kuda-kuda dalam ilmu bela diri. Sontak Ibu langsung menarik kausnya hingga sobek. Kemudian menamparnya. Darah di kepala Ibu mendidih.

Aku keluar dari kamar. Dan tak lama berselang Bapak datang. Aku kaget, tak seperti biasanya Bapak bersikap ini kali. Bapak memang melerai, namun bukan untuk aku dari serangan kakak, melainkan letupan emosi Ibu kepada kakak yang dilerainya secara kasar. Sembari melotot nyalang ke arah Ibu. Terdengar gemeretak gemas dari giginya.

Aku melihat bapak rona memerah.

Sikap Bapak terhadapnya membuatku tak percaya bahwa ia pernah bilang kalau sorga ada di telapak kaki Ibu. Bapak bersikap kasar.

Ibu berkali-kali merintih dijambak Bapak. Bapak berkali-kali pula menamparnya. Aku melihat Ibu tertelungkup. Lalu Bapak menyeretnya ke arah dapur. Aku tak kuasa melihat kejadian itu. Entah apa dilakukan Bapak selanjutnya.

Yang terdengar olehku hanya suara Bapak. Sesekali bunyi benturan ke tembok.

“Semi anak jadah, anak tak jelas dari mana kau jadikan, masih saja kau membelanya.”

“Bukan! Semi bukan anak jadah. Ia anakmu, darah dari dagingmu sendiri. Kau tak akan pernah tahu. Sebab bukankah kau tak sadar pula waktu menjadikannya?”

“Perempuan jahanam!”

Bapak dan ibu bertengkar cukup lama, aku mendengar semua yang mereka saling katakan. Tak tahan mendengar suara gebukkan Bapak ke tubuh Ibu, apalagi bunyi benturan itu. Aku hanya meringkuk di dalam kamar. “Tuhan, kirimi aku pistol sekarang juga,” jeritku.

***

Suatu ketika, rupanya Bapak memang makin bersikap sepihak, ia makin paham apa yang sebenarnya diinginkan oleh Jon. Gawat, ia akan membantunya untuk mendapatkan lilin yang pernah Ibu berikan kepadaku. Meski taruhannya tak segan membunuhku bila tak memberikannya.

Entah mengapa makin akut begini. Semata hanya persoalan lilin yang pernah Ibu berikan kepadaku. Segalanya sudah dipersiapkan oleh Ibu. Ya, Ibu memang hanya memberikannya kepadaku agar senantiasa menyimpannya. Sebab tatkala lilin ini aku bakar, tak pernah bisa habis meski melumer.

O, lilin ini, sesuatu yang ternyata sudah direncanakan sejak aku dikandungnya. Seperti rahasia ajaib dari Ibu kepadaku.

Aku selalu bertanya kepada Ibu mengapa lilin ini tak bisa habis meski berkali-kali melumer tiap aku membakarya, tapi Ibu hanya menjawab bahwa kelak aku akan tahu mengapa lilin ini tak bisa habis-habis. Itu saja.

Itu sebabnya pula, aku tak habis pikir saban malam untuk memikirkan lilin ini yang tak pernah habis tiap kali membakarnya.

Pernah juga, dari fenomenalnya lilin ini, saat dulu aku kemping bersama teman-teman sekolah ke daerah Curug Nangka, kami tak perlu membawa lampu patromak, senter, atau pun beberapa bungkus lilin yang biasa terjual di warung-warung. Melainkan cukup membawa satu lilin dariku; lilin buatan Ibu. Membuat malam kami nyaman tanpa rasa takut gelap di alam petualangan ini.

“Dari mana sih bisa dapat lilin kayak begini, aku mau dong, Sem.”

“Unik sekali lilin ini. Benar-benar kayak lilin modern saja. Tak habis-habis, pun terang-benderang cahayanya.”

“Besok-besok kalau di rumahku mati lampu, aku pinjam lilinnya Semi, ah..”

“Sayang, besok kalau kita menikah, bercintanya ditemani cahaya lilin ini aja. Jadi aku tak perlu takut mati lampu,” kata kekasihku berbisik.

***

Di malam dingin lain dari lainnya, tatkala kebetulan hanya aku dan Ibu, ia memanggilku. Wajahnya begitu muram. Begitu sepi. Semacam penuh kesedihan yang sulit untuk aku deskripsikan seperti apa. Ia selalu bilang agar aku senantiasa memertahankan lilin ini supaya menyimpannya baik-baik. Ingatlah selalu bahwa Ibu adalah lilin itu sendiri, katanya. Bagaimana mungkin aku menganggap lilin ini adalah Ibu itu sendiri? kataku membatin.

“Pokoknya kau harus selalu menjaganya, Semi. Dan…”

Aku lupa Ibu mengatakan apa selanjutnya, pokoknya banyak sekali percakapan malam sepi itu yang Ibu bilang kepadaku. Dan pokoknya lagi, cukup lama bagi Ibu membuatkan lilin ini untukku. Tepatnya sejak menikah dengan Bapak. Cerita Ibu membuatku bergidik.

Seingatku, katanya lagi, Ibu menikah tanpa cinta dengan Bapak.

Persetan dengan cinta, tahi kucing kering dengan cinta, begitu kata bapak yang masih terngiang ditelinga Ibu sampai saat ini. Mungkin bisa dibayangkan, bahwa sebenarnya Ibu tak akan menikah dengan Bapakmu kalau bukan karena diperkosa sebelumnya, katanya lagi. Sebelum akhirnya isak tangis Ibu menghentikan pembicaraannya kepadaku, ia bilang kalau Bapak berprinsip gila: menikah itu hanya pewangi status sosial dan berhubungan badan tak lain tujuan utamanya.

Ibu begitu tersedu. Tak mampu berlanjut, menangis tak berhenti. Sekali lagi, tiap mendengar begitu, aku hanya mampu meringkuk di kamar. Membatin bertanya-jawab sendirian.

Sampai detik ini masih menyimpan tanya mendalam olehku: mengapa lilin ini tak bisa habis-habis? Padahal melumer.

***

Sudah 39 tahun berlalu tak terasa, selalu aku ingat Ibu atas ketabahannya. Ia sudah tiada. Bahkan bagiku ia sudah di Sorga. Juga selalu aku ingat Bapak dan kakakku atas perlakuannya yang begitu—entah di mana mereka sekarang, aku tak tahu, sejak lama pula kami saling meninggalkan. Memilukkan bercampur menyakitkan yang sekiranya tak perlu lagi aku ceritakan kepadamu. Bagiku mereka tak lain adalah bekas luka jahitan dalam ingatan ini.

Lilin dari Ibu masih kusimpan dengan baik. Masih selalu kupergunakan saat gelap datang.

“Pah, di mana ada lilin seperti Papah ceritakan kayak waktu itu, lilin yang nggak pernah habis-habis,” kata anakku sembari terus-menerus menarik lenganku.

Maklum, aku memang selalu menjanjikannya tiap selesai bercerita, semata agar ia tak bermain hal lain yang sebenarnya aku tak suka. Dalam niatku yang juga selalu merahasiakannya dengan mengelak.

“Lilinnya sudah habis, kok, sayang,” kataku coba mengelak. Sebab aku tak ingin saban waktu ia hanya menanyakan lilin yang tak pernah bisa habis-habis itu.

Sepertinya anakku yang kedua ini memang perayu ulung, dan ini kali memaksa sebelum akhirnya ia bersaksi atas mimpinya semalam.

“Ayah, semalam aku mimpi ketemu Nenek. Wuih, Nenek tampak cantik banget. Bergaun putih dikelilingi bidadari. Pokoknya bercahaya banget.”

“Terus bilang apa kepadamu?” kataku sambil menyeruput kopi panas. Sesekali mengisap sebatang rokok kretek yang sebentar lagi habis.

“Hmm, Nenek bilang sambil bercerita, hmm, bahwa kalau lilin yang tak pernah habis itu adalah air mata dari Nenek yang sebenarnya sampai hari masih menangis.”

Seketika kopi aku letakkan. Aku bergegas ke luar. Mesin mobil aku hidupkan, bergegas ke rumahnya; mengurung dalam-dalam atas niatanku untuk memiliki yang lain. Darinya yang semalam merayuku untuk menjadi istri gelapku.

Barangkali itulah sebabnya, lilin itu adalah Ibu dan air matanya sendiri. Makanya tak bisa habis. Semacam kesedihan yang belum selesai. Dan tugaskulah menyelesaikannya.

“Papah, kok, terburu-buru, sih? Tak pamit kepadaku seperti biasanya?” kata istriku. Aku tak menjawabnya.

Telukbetung, Gg. Manyar, 2010

Sumber: Lampung Post, 6 Juni 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s