Paranoid

F. Moses

Sara selalu ingat dengan benar atas malam yang tak pernah mampu dilupakan. Malam seperti selalu bergerak tak terbatas dari mata air imajinasinya. Mata air imajinasi dari kehadiran sosok yang tak pernah hadir.

Seperti gerak tak terbatas. Dari sosok yang tak pernah hadir.

Namun, selain bergerak tak terbatas, juga menjadikan kepuasan tersendiri bagi Sara, pada waktu bernama sembilan lamanya. Kesemuanya, ya, Sara menyebutnya demikian-sebab tak terhitung olehnya untuk menyimpulkan saratnya imajinasi serupa butiran-butiran kecil yang setia berkelebat di dalam pikirannya. Seperti kian membubung ke mana Sara berada. Terlebih dengan jabang bayi di dalamnya. Seperti sudah suratan. Selain disebutnya sebagai takdir.

Kenyataan membisikkan: ada kehidupan di dalam tubuhmu.

Ya, berkelebat di dalam pikiran. Seperti ungkapan yang pernah dan bahkan selalu berada dalam genggaman para penyair tentang sebuah pesona atas nama cinta, masih selalu bagi Sara mempertanyakannya; siapa lebih dahulu menciptakan cinta dalam hati dua insan di antara diri Sara dan sosok suami yang tak pernah hadir.
Lantas, bagaimana bila seorang Sara yang hingga kini masih mempertanyakan keberadaan cinta itu sendiri kepada sang lelaki sebagai sosok suami yang tak pernah hadir itu hanya serupa bayangan berkelebat di dalam pikirannya sendiri.Sementara Sara hanya mempunyai cinta dalam satu malam saja. Selebihnya tak.
Meski demikian, sekali lagi, Sara selalu tak berkesudahan untuk mencintainya. Meskipun hingga hari ini, detik ini, Sara masih tak paham dengan benar apakah yang Sara cintai itu.

Bukti mengatakan: jabang bayi suci hidup di dalam tubuhmu.

“Siapakah yang saya cintai, mengapa saya mencintai, dan dari mana saya hingga mampu mencintai. Bukankah sebagai perempuan sudah seharus dan sewajar untuk sadar betul atas apa yang terjadi olehnya, bukan? Dalam sadar maupun tak akan tetek bengek lainnya,” Sara membatin.
Seperti filsafat kalau sudah begini-kalau boleh Sara menganggapnya demikian. Ah, sudahlah, Sara seorang yang tak begitu memahami rumitnya filsafat, mengapa pula berpretensi macam begini.

***

Seperti Sara pernah bilang: bahwa dirinya selalu tak berkesudahan untuk mencintainya. Sebentuk cinta serupa kronologi. Dan beginilah kira-kira Sara pernah  menghimpunnya.
Mungkin inilah suatu perasaan dari yang paling gawat. Seorang dara muda yang sering disebut oleh para orang tua adalah gadis, memeroleh satu cinta pada hari yang paling gawat. Kegawatan yang terjadi karena dalam hitungan menit dapat kehilangan sebuah keperawanan. Benih merasuk menjadikannya kehidupan.
Suatu bentuk penistaan yang sepertinya terobek oleh si entah dengan begitu saja. Tanpa pernah ada rasa cinta sedikit pun.

***

Di malam berhujan menjadikan menggigil bergemeletuk tak jelas, Sara seperti membaca surat fiksi dari belahan jiwanya. Yang tak pernah hadir.
Seperti surat berbentuk puisi dari lelaki yang tak pernah hadir, Sara membuka dan membaca surat di dalam keremangan malam berpenuh kegamangan.
1
Jeritanmu memekakan pendengaranku yang serupa telinga anjing ini.
Selalu bersyukurlah atas jeritanmu itu ketimbang lolongan ini. Yang seperti selalu mampu menggemakan seantero langit hingga langit ketujuh. Barangkali jelas dan tentu mampu menembus telinga tuhan di sana.
Terima kasih atas inspirasi yang kau berikan, perempuan. Sungguh nyaris mampus ketika membuat puisi ini karena dalam pengerjaannya, asap rokok yang terhisap selalu kembali lewat jalur yang benar menuju rongga hidung ini.
2
Menjadikan Sara teringat akan pesan umum orang tua dari waktu ke waktu: bahwa anak perawan jangan sering bermain hingga malam melarut, tak bagus. Sebab malam selalu mampu menghilangkan keperawananmu dari  tubuh lelaki yang selalu enggan menyebutkan namanya. Makanya, selalu pamit jika kau hendak bermain entah ke mana.
3
Sebuah pesan umum anak gadis kepada orag tua. Semacam aforisme belaka: Satu larangan darimu justru mampu menjerumuskanmu menjadi sebuah “kemaluan”.
4
Kehendak sebuah cinta sering tak membuat siap bagi si pencinta: Barangkali itulah sebabnya sungguh enggan menyebutmu sebagai kekasih dari hubungan yang terlalu banal dan selalu membias kekalahan tatkala kau menyoal cinta. Sebab, itu mungkin, seringkali kau lebih menyiapkan peti kematian buatmu ketimbang rumah persinggahan-apalagi buat kita. Sepetak buat teratak kehidupan.
5
Dan Sesaat kemudian pada sore hari, tepatnya menjelang senja, kau merayu sekuat tenaga agar selalu setia menunggumu. Rasanya sia-sia saja jika mesti menunggumu. Sebab dalam penantian ini sama saja dengan menunggu sebuah perencanaan yang sudah kau atur dengan benar dari naluri membunuhmu.
6
Seperti perumpamaan dengan cara mengupas apel: dan bilamana gilirannya datang sebuah kesedihan, kau senantiasa mengingatkan pada sebuah kejadian romantis: bahwa ingatlah selalu akan diri ini yang pernah mengupaskan sebuah apel bagi kita berdua.
Apel mengkal yang kau belah menjadi dua:
“Perhatikanlah bentuknya,” katamu.
“Seperti tanda cinta,” kata lawan bicaramu.
Kemudian menangis tanpa busana hingga pagi buta.
7
Dalam kenyataan yang tak pernah selesai; sebab hingga hari ini, terutama di musim hujan macam begini, sebuah kenyataan dari keseharian yang selalu terjadi tak pernah selesai dan memang tak akan pernah selesai hingga kapan pun.
Kecuali, atas cinta membara ini kepadamu dari ketragisan suara hati termanis ini; masih selalu berharap darimu yang tak pernah ada.
Maka banyak orang-orang sekitar sering menyebut hal itu adalah paling gila di muka bumi: sebuah tindakan tolol atas kenyataan yang memang tak akan pernah selesai.

***

Masih di malam mengigil, Sara seorang diri di muka cermin.
Kembali Sara bilang: saya selalu tak berkesudahan untuk mencintainya. Dari cermin yang tak pernah mampu menghadirkan diri ini. Kecuali bayang-bayang darimu yang tak pernah ada itu.
Sara masih ingat benar malam yang tak pernah mampu untuk dilupakan. Malam selalu bergerak tak terbatas dari mata air imajinasinya. Mata air imajinasi dari kehadiran sosok suami yang tak pernah hadir. Dan sampai kapan pun memang tak akan pernah hadir.
Ya, dirinya memang tak pernah hadir. Namun, kehadirannya senantiasa berkelebat di dalam pikiran Sara. Itu akibat pesona cermin dari hadapannya. Cermin yang senantiasa memantulkan kehadiran sosok suami di dalam diri Sara-menjadikan penasaran bersekaligus sering dikerubung oleh ketakutan berlebihannya tersendiri. Semacam terserang paranoid. Kalau boleh mengatakannya demikian.
Tentang ketakutan berlebih itu sering menjadi masalah bagi Sara. Berikut beberapa masalahnya.
Saat Sara berada di Mal-suatu ketika membeli beberapa kebutuhan kecantikan, Sara disuguhi cermin oleh si penjual untuk lebih mencobanya agar mana lebih pantas buatnya. Sontak hal itu menjadi ketakutan tersendiri. Sebab terbayang kehadirannya yang tak pernah hadir itu berkelebat di dalam pikiran Sara. Seolah dirinya sebentar lagi akan menerkam sembari bergerayang menciumi tubuh Sara dan seterusnya.
Berikutnya saat tengah menyetir mobil, seringkali yang ikutan menumpangi mobil Sara-entah keluarga maupun kerabat-menjadi ikutan kebingungan.
“kau begitu melotot tiap kali menoleh ke spion.”
Sara hanya diam saja. Mencoba menenangkan diri sambil berlagak mendengarkan musik. Sambil sesekali mengutak-atik radio.
Susungguhnya Sara memang ketakutan dengan spion bercermin itu. Sebab dari pantulannya tak lain bayangannya dari sosok yang tak pernah hadir. Memantulkan sosok yang seolah menerkam Sara.
Sara masih ingat benar malam yang tak pernah mampu untuk dilupakan. Malam selalu bergerak tak terbatas dalam mata air imajinasinya. Mata air imajinasi dari kehadiran sosok suami yang tak pernah hadir. Dan sampai kapan pun memang tak akan pernah hadir.

***

Tentang sosok yang pernah hadir itu, baiklah, saya mencoba berterus-terang kepadamu, bahwa sebenarnya saya pernah bersama dirinya yang pernah ada.
Saat malam pertama setelah pesta pernikahan kami, saya begitu sukses menerkam dirinya. Ya, menerkam, begitu saya menyebutnya. Sebab begitu mustahil dari cinta malam pertama tanpa terbalut napsu, maaf, binatang. Seperti Komodo jantan kelaparan berhadapan dengan kambing betina di hadapannya.
Saya membuatnya mati tak berdaya. Hingga akhirnya waktu, tepatnya siang, membangunkan bersekaligus membuat kedua bola matanya membeliak sambil terkesiap: menyaksikan diri saya terbujur kaku dengan pisau yang masih terhunus di leher.
Saya meninggalkannya tepat di muka cermin dalam kamar ini yang masih menyisakan anyir darah sampai saat ini. Cermin yang tengah aku ceritakan kepadamu ini. Cermin Sara.
Dan di mana pun cerminnya berada, itulah kebersahajaan sekaligus ketragisan saya: tentang bayangan diri saya sendiri yang sampai kapan pun tak akan pernah hadir untuk dirinya yang bernama Sara. Kecuali berkelebat di kepalanya.

***

Dalam kesabaran, Sara masih terus seperti diburu untuk diterkam kemudian bercinta dengan diri ini. Dari diri saya yang tak pernah hadir untuknya. Dari diri yang selalu memantul dari cermin-cermin yang Sara jumpai. Barangkali juga cermin di dalam rumahmu: cermin yang seperti biasa Sara sering gunakan untuk merias diri.
Adakah saya di tiap cermin yang sering pembaca jumpai? Cermin yang benar-benar mampu membuatmu berkaca dari dalam hatimu.

Telukbetung, Gg. Manyar, Januari-Maret 201
Sumber: Harian Global,  2 April 2010
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s