Topeng

Cerpen oleh Ema Luthfian, Penggiat di Forum Lingkar Pena (FLP)

“Astagfirullah..” sudah jam tiga. Kenapa tidak ada suara adzan? Muklas tergagap. Cepat-cepat dia mengambil air wudhu. Ia tarik kaos oblong yang tergantung di balik pintu sekenanya. Cepat-cepat ia letakkan kaos oblong dan siap takbiratul ihram untuk menunaikan sholat dzuhur.

Kring..kring..

Handphonenya terus berdering. Muklas masih khusyuk dengan ibadahnya.

Kring..kring..handphone berdering lagi untuk yang kesekian-kalinya. Usai sholat ia membuka kunci handphonenya. Ada Sembilan telepon tak terjawab. Handphone kembali berdering.

“Ya halo.”

“sudah sampai mana? Deadline sebentar lagi. Akhir minggu ini kita harus angkat cetak.” Suara dari seberang sana.

“Iya pak. Masih dalam proses. Mungkin Sabtu sudah vick.”

“Saya tidak butuh kemungkinan! Segera selesaikan!”

“Insya..”

Krek! Belum selesai Muklas menjawab, suara hantaman gagang telepon dari seberang sana sudah memekakkan telinga.

Ia tak menghiraukan apa yang baru saja terjadi. Ia buka laptopnya. Setumpuk file editan menantinya. Sejenak Muklas membuka aplikasi pengolah kata, suara adzan dari software digitalnya berkumandang.

“Sudah ashar. Benar-benar tidak ada yang adzan?”

Muklas beranjak menuju masjid.

***

Muklas terperanjat melihat masjid sangat kotor. Sawang-sawang mulai bergelantungan. Dedaunan dari luar masuk ke dalam masjid terhempas angin. Tempat wudhu kering. Semuanya terlihat ganjil. Pak Uut, yang katanya pengurus masjid yang setiap hari selalu merawat masjid, sepertinya sekarang memilih diam di rumah.

Muklas membersihkan masjid ala kadarnya. Seusai itu, ia mengumandangkan adzan. Ditunggunya hingga sepuluh menit, namun jamaah tak kunjung datang. Akhirnya ia putuskan sholat munfarid.

Keesokan harinya desas-desus dari warga sekitar mulai terdengar oleh Muklas.

”Aneh, kemarin itu, kok, ada adzan, ya?” cetus seseorang yang sedang  berbincang-bincang dengan lawan bicaranya sambil berpapasan dengan Muklas.

Apanya yang aneh? Mereka bilang adzan aneh? Bukankah aneh bila tidak ada adzan sama sekali? Gumamnya.

Beberapa langkah Muklas menjejakan kaki, ia mendengar desas-desus serupa di Warung Kopi pojok rumah Pak Lurah. Tepatnya di pojok tempat Muklas menginap di desa itu.

”Iya Pak. Semenjak adzan kemarin, warung saya jadi tambah sepi. Orang-orang pada takut keluar rumah.”

Kali ini Muklas benar-benar penasaran. Ia putuskan untuk ikut nimbrung.

”Kopi buk.”

”Mas ini orang baru itu ya? Yang wartawan dari kota itu to?”

Muklas tersenyum.

Iya buk. Saya numpang di desa ini sebentar. Di kota jenuh. Pengen cari suasana baru. O ya buk, kayaknya desa ini lagi ada masalah ya?”

”Iya mas, kemarin ada kejadian aneh. Masjid depan situ ada yang adzan.”

”Loh, apanya yang aneh buk? Bukannya memang seharusnya begitu?”

”Ya aneh lah mas. Kalau memang benar-benar sudah aman mustinya bukan cuma masjid situ aja yang adzan, tapi semuanya. Satu bulan ini tidak ada yang berani adzan. Dan satu lagi, suaranya itu lain. Nggak kayak yang kayak adzan biasanya. Biasanya itu yang adzan kalau nggak pak Somar, Mas No, dek Puji kalau nggak dek Rus. Saya ciren suara mereka. Tapi kalau kemarin itu, bener-bener beda. Orang sekampung aja nggak ada yang kenal sama suara itu. Orang pak Somar aja belum berani kok pergi ke masjid itu. Padahal biasa jadi imam sholat.”

”Sudah aman? Memang sedang ada bahaya apa buk?”

”Sampeyan itu belum tau toh? Anaknya pak Sumari, orang terkaya di desa ini sudah seminggu ini hilang. Gara-garanya berangkat ngaji ke masjid itu. Eh…sampai sekarang belum ketemu.”

panjang lebar penjual kopi itu bercerita kepada Muklas. Kabarnya satu bulan yang lalu di desa ini terdapat teroris dari negeri jiran yang tertangkap dan langsung ditembak mati oleh polisi.

Teroris itu bersembunyi di desa ini dan memilih bertempat tinggal di masjid itu selama satu bulan. Namun ternyata tertangkap dan meninggal di masjid itu juga tepat setelah ia mengumandangkan adzan ashar.

Masyarakat mengira bahwa adzan ashar kemarin adalah hantu teroris itu.

Muklas hanya diam saja. Dia tidak memberi tahu kalau muadjin kemarin adalah dirinya. Ia takut kalau warga di desa itu menuduh dirinya berbohong. Atau jika masyarakat percaya dengan ucapannya, mereka akan menuduh Muklas adalah hantu teroris itu. Ini bahaya. Bisa babak belur diamuk massa.

Sekarang yang ia pikirkan adalah mencari cara untuk meyakinkan masyarakat bahwa di desa ini tidak ada apa-apa. Ia memutuskan untuk mengumandangkan adzan lagi. Tapi kali ini ssaat dzuhur.

***

Adzan dzuhur siang tadi ternyata justru membuat warga semakin resah.

”Tenang…tenang…bapak-bapak, ibu-ibu, kita sedang menghadapi masalah serius. Tapi kita tidak boleh grusa-grusu. Putri pak Sumari pasti akan kita temukan. Mudah-mudahan hilangnya putri pak Sumari bukan merupakan tumbal hantu teroris itu. maka dari itu, kejadian dua hari ini kita ambil hikmahnya saja. Mungkin kita harus lebih berhati-hati dan berwaspada.”

Semua warga sudah bubar. Malam telah larut. Muklas semakin penasaran dan curiga. Ia yakin, pasti ada dalang di balik ini semua.

Tengah malam Muklas keluar untuk ke dapur mengambil air minum. Ia melewati ruang kerja Pak Lurah. Seperti biasa pak Lurah sering lembur sampai larut. Tanpa sengaja  dari balik ruangan kerja itu terdengar suara pak Lurah. Muklas merasakan ada yang aneh dengan pembicaraan pak Lurah. Cepat-cepat Muklas mengambil handphone dari kantong dan merekam.

”Saya juga tidak tahu siapa yang adzan kemarin itu bos. Saya juga sedang menyelidiki. Apa bos? O…itu, tenang aja bos. Anak itu masih aman. Kapan bos mau ambil? Saya khawatir keburu ada warga yang tahu.

”O, ya bos. Iya iya bos. Beres. Oke..oke..Malam.”

ternyata selama ini…

Saat Muklas akan menekan tombol save, tangannya menggigil. Hanphone-nya terjatuh. Masih dalam keadaan merekam.

”Siapa itu?!”

Muklas gugup. Tangannya meraba-raba lantai untuk merengkuh hanphonenya. Pintu ruang itu terbuka. Muklas menemukan handphone-nya kali ini. Belum sempat ia menekan tombol save, tubuhnya sudah tertarik oleh pak Lurah. Muklas sempat menyelipkan handphone-nya ke kantong tanpa sepengetahuan pak Lurah. Ia ditarik paksa. Tubuhnya dihempaskan di kursi kayu. Kaki dan tangannya ditali dengan tambang. Erat sekali. Bibirnya ditutup dengan lakban sehingga membuat dia tak mampu berteriak keras.

”Diam kau! Jangan macam-macam dengan saya, wartawan! Kamu tidak akan selamat!”

Muklas disekap di dalam gudang. Dia terus berusaha melepaskan diri. Di tengah usahanya, ia mendengar seperti ada sesuatu yang bergerak juga dari balik tumpukan drum-drum bekas. Ia yakin dibalik drum-drum itu ada seorang yang juga sedang disekap.

Ia berusaha menggerakan tubuhnya untuk mendekati suara itu, walau dengan posisi kursi yang terbawa karena tertali menjadi satu dengan tubuhnya.

Sejenak ia berhenti bergerak. Ia pandang wajah pucat dan keringat yang bercucuran dari bocah seumuran anak SD.

Mereka berdua tiba-tiba dikagetkan oleh suara handphone Muklas. Bocah itu menoleh dan sedikit terperanjat melihat seseorang di belakangnya. Tapi akhirnya bocah itu tenang mengetahui bahwa seseorang di depannya senasib dengannya.

Handphone terus berdering. Muklas memberikan kode dengan matanya melirik ke arah saku kaosnya.

Bocah itu paham dan berusaha menggeser tubuhnya mendekati Muklas. Mereka sama-sama merunduk ke samping untuk mengambil handphone yang ada di saku Muklas dengan posisi tangan yang tertali.

Akhirnya bocah itu berhasil mengambil handphone Muklas dan mengarahkannya ke tangan Muklas. Dengan keadaan tangan tertali, Muklas mencoba menekan tuts-tuts handphone-nya. Ia menekan tombol save sedari tadi masih dalam keadaan merekam.

Satu pesan baru.

Klas, saya ingatkan kembali. Deadline tinggal beberapa hari lagi.”

Muklas menekan tombol balas.

”Pak, tolong saya. Saya disekap di rumah kepala desa tempat saya tinggal saat ini. Bapak tahu kan alamatnya? Tolong saya Pak..”

***

Pukul empat pagi terdengar suara riuh dari luar rumah.

”Tenang…tenang. ada apa ini?”

”Sudahlah Pak. Tidak usah bersandiwara lagi. Jangan-jangan anak saya juga Bapak sekap di rumah ini.”

”Maksudnya apa?”

”Periksa rumahnya…!”

warga menyerbu, masuk ke dalam rumah Pak Lurah dan menggeledah semua ruangan.

Seorang laki-laki bertubuh gagah membuka pintu gudang.

”Muklas!”

Laki-laki yang dimintai pertolongan oleh Muklas tadi segera melepas tali yang membelenggu Muklas dan bocah tadi.

”Apa yang kalian lakukan?!” Pak Lurah kalut menghadapi warganya yang membabi buta.

Muklas segera bangkit dan keluar dari gudang sambil menggendong bocah tadi.

”Bapak-bapak, Ibu-ibu.” Ujar Muklas terputus-putus.

”Alif, anakku!” serang ibu dari bocah tadi langsung merebut bocah yang digendong Muklas.

”Bapak-bapak, Ibu-ibu, Pak Lurah ini yang telah menculik anak ini dan yang telah menyebar teror hantu teroris itu. Hantu teroris itu tidak ada. Dan adzan dua hari kemarin adalah saya. Tidak ada hantu di desa ini dan saya punya bukti kalau semua adalah akal busuk kepala desa ini.”

Muklas menunjukkan rekaman itu.

Polisi yang sudah diberitahu oleh laki-laki yang dimintai tolong Muklas datang menangkap Pak Lurah.

Kini beliau sedang meringkuk di tahanan.

***

”Saya suka dengan kerjamu yang menepati deadline.”

”Saya juga berterima kasih Pak. Kalau saja Bapak tidak datang menolong saya waktu itu. Ah…”

”Tuhan Maha Adil Klas.”

Ulasan

Oleh F. Moses

Seperti perseteruan drama kehidupan tak berkhatam, proses pencapaian kadang tak lepas dari rasa ”sepi energi”, kehilangan, kesunyian, bahkan keretakan yang acap membilur tak terlihat oleh seluruh indera. Bahkan pula tak tersentuh. Dan meski terlihat, itu tak jauh dan tak luput dari rasa angan kebelakaan yang akhirnya membuat ruang imajiner dengan sendirinya; semacam eksperimen pemikiran tak tersentuh yang menjadikannya dunia baru. Semacam dunia khayalan. Semacam adopsi dunia realita ke dalam cara realisme bercerita.

Kurang lebih begitulah, saya sebagai pembaca, sedikit menafsir buah kontemplasi dari cerpen Topeng karya Ema Luthfian, pemenang ke-3 dalam lomba cerita pendek (cerpen). Sebuah lomba yang diadakan oleh FLP (Forum Lingkar Pena) pada Februari lalu.

Cerpen Topeng menceritakan sikap heroik tokoh Muklas yang akhirnya—dengan kemampuan naluri tualangnya mampu membebaskan seorang anak kecil dari usaha penculikan disertai penyekapan—menjadi pahlawan bagi penduduk sekampung. Tak hanya itu, kehadiran tokoh Muklas juga dirasa mampu menciutkan skeptisisme masyarakat terhadap ”hantu teroris”; sebuah momok paling menakutkan akhir-akhir ini, seperti di negeri ini dan dunia, kalau boleh saya bilangnya demikian. Yang dengan sadar atau tak, kita kerap dirundung oleh skeptisisme tentang ”kehati-hatian bahwa teroris ada di sekitar kita”. Seolah-olah.

Sekira pengarang tahu betul atas jalan apa yang ingin ditempuh untuk mematahkan rasa skeptis itu dalam kehidupan bermasyarakat secara tak langsung, menurut saya. Dan sekira pula, ada beberapa catatan apresiatif juga kritik dari saya untuk cerpen Topeng ini. Dan semoga berterima pula bagi penulis pemula lainnya.

Pertama, cerpen tersebut saya rasa cukup mampu dalam mengadopsi pelbagai masalah rumitnya realita. Dan kerumitan itu telah pengarang pindahkan ke (menjadi) ”dunia baru”, sebuah dunia cerpen, sebuah dunia realis penceritaan ”terbatas” sebab tak sebebas  roman, novel, maupun cerita-cerita berkisah lainnya—apalagi cerita bersambung—dalam mengakomodasikan alur, tokoh latar, dan segala tetek-bengek intrinsikalitas lain di dalam teks sastra. Dan dari catatan pertama inilah, saya (bila boleh mencoba meyakini) tak lain adalah sikap mutlak yang mesti dimiliki oleh seorang juru cerita, cerpen.

Kedua, meskipun pengarang menempuh cara heroisme dari sikap tokoh utama yang begitu heroik, tidak serta-merta ia adalah pengendara sifat manusiawi paling lurus. Sebab ia juga manusia. Manusia yang diyakini dengan benar oleh si pengarang sebagai manusia belaka ciptaan-Nya. Manusia berdaging ke dalam tubuh tokoh cerita sekalipun yang tetap tak luput dari luka dan mudah terganggu oleh ”akrobatik” kehidupan sekitar. Hal tersebut dirasa penting, mengingat rasa keinginan serba tahu si pengarang, oleh para penulis pemula, selalu mendominasi jalannya penceritaan dari para tokoh di dalamnya.

Ketiga, dalam cerpen Topeng, saya sebagai pembaca seperti dibiarkan dan seolah mendapat suguhan menarik dari para tokoh yang ”dibiarkan” berkelindan dengan sendirinya oleh si pengarang. Sekira begitulah cara pengarang mengarang, sekalipun dengan aku narator, ia membiarkan pembaca untuk menebak dengan sendirinya arah penceritaan. Meski penuh risiko sekalipun. Sebab kurang lebih ia memberikan cita rasa visual tersendiri buat pembaca menyaksikannya.

Keempat, menjadi pencerita yang bukan serba maha tahu. Sekira begitulah yang sudah dilakukan pengarang cerpen ini. Sebab sekalipun cerpen adalah dunia imajiner, bahkan ada yang bilang sebagai cerita fantasi belaka, ia—sebagai cerpen bermutu sastra—tetap menyimpan pesan tersendiri yang dituntut selalu mampu membuat pembacanya berkontemplasi; semacam buah perenungan tersendiri buat sang pembaca mengingat pembaca adalah tuan dan pengarang tak lain sebagai hamba juru cerita. Menurut saya.

Kelima, sekali lagi, selain mampu mengontemplasikan pembaca dari buah perenungan, juru cerita yang baik juga tak mengabaikan ”logika” bercerita, mengingat cerpen berkualitas sastra bukanlah cerita kisah belaka yang melulu lurus bersenantiasa elok penuh keindahan, melainkan keindahan yang penuh lika-liku dan keretakan di sana-sini.

Keenam, dalam sebuah pesona tema tertentu, menjalankan cara bercerita dengan strategi jitu adalah kemutlakan pengarang. Semisal ketika ia dirundung oleh tema religi, ia bukan menempuh dengan cara berkotbah, melainkan menciptakan subliman dari keretakan paling menganga—penceritaan yang akan mampu dienduskan oleh pembaca selanjutnya sebagai bagian kelegaan emosional.

Sekira itulah Enam catatan saya buat cerpen Topeng karya Ema Luthfian. Sebuah catatan yang sejurus pula bagi penulis pemula lainnya. Sebuah enam catatan yang bagi saya bukanlah sebuah kesempurnaan apalagi sikap pembenaran bagi dunia proses kreatif bersastrea (cerpen), melainkan buah dari kontemplasi saya sebagai pembaca. Sebab terlepas dari sang pengarang, keutuhan sebuah teks menjadi milik para pembacanya.

Kepada Ema Luthfian, Provisiat. Teruslah menulis. Sekiranya, enam catatan di atas bukan berati tanpa ”kernyitan dahi” dari saya—yang secara tak langsung menunjuk bahwa tetap saja ada kekurangan dari sebalik sesuatu yang lebih. Setidaknya, dalam cerpen Topeng tersebut, ada endusan energi tersendiri dari si pengarang dalam menunaikan strategi bercerita hari ini: bahwa tema bukanlah segalanya, melainkan cara bercerita. Dari realita keseharian menjadi realisme penceritaan (cerpen). Salam.

Sumber: Radar Lampung, 9 Mei 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s