Satu Hari Satu Minggu

F Moses

Saat pagi hari, di sebuah rumah kontrakan sederhana, setelah sarapan pagi, tiba-tiba berkatalah lelaki itu kepada istrinya—sembari mengelus dengan perasaan penuh kasih perut si istri yang mulai tampak membuncit lantaran usia kehamilannya di bulan ketujuh.

”Di pagi begini, mumpung belum siang, adakah rencana lebih mengasyikan ketimbang saban waktu kita selalu begini dan begini aja?”

”Begini gimana? Bukan kau pernah bilang dengan begini aja udah senang. Jangan gitu, dong.”

”Ya paling tidak jalan, kek. Entah main ke rumah teman lama untuk sekadar silaturahmi sambil berbagi cerita atau nggak kita berpesiar ke laut. Atau nggak kita nonton bioskop. Seperti waktu pacaran dulu. Atau apa aja, kek.”

”Emang nggak pakai duit,” kata istrinya dengan suara datar.

Tiba saja lelaki itu terdiam melompong sembari tetap mengelus perut istrinya. Di pandangnya langit-langit, jendela, pintu kamar, beberapa piring dan gelas dari sisa bekas makan. Kemudian kembali menatap istrinya, sembari sedikit melompong. Sesekali mengendus rambut istrinya yang masih bau pagi, sedikit genit. Menjadikannya sedikit menyadari.

”Lagi-lagi uang,” katanya dalam hati. Seperti hidup diperbudak oleh uang. Padahal, baginya, dengan mengelus dan tetap mengelus perut istrinya itu, adalah suatu hiburan tersendiri. Hiburan tiada tara. Hiburan tiada duanya di muka bumi ini. Hiburan terunik dari kuasa-Nya bagi sepasang suami-istri.

Masih terserak beberapa piring dan gelas dari sarapan pagi, juga beberapa lauk-pauk tersisa di antara mereka. Juga segelas kopi dan segelas teh celup hangat yang sudah tinggal sedikit. Serta suara televisi berukuran 14 inci bervolume sedang bercampur suara radio yang menangkap siaran rohani sejak pagi, juga masih terdengar. Semakin mengantarkan mereka pada suasana. Entah suasana yang bagaimana. Entah suasana apa. Barangkali suasana yang sedemikian romantisnya.

***

Saat siang hari, setelah makan siang, lelaki itu kembali berkata. Kali ini demikian.

”Barangkali lebih baik aku baca koran aja, hari ini. Atau menonton televisi. Atau nggak setel kaset sembari kuputar lagu kesayanganmu. Kau ingin kuputar lagu apa, sayang?” Katanya ringan.

Kali ini istrinya tak menjawab. Ia tampak sibuk membersihkan beberapa gelas dan piring dari sisa makan. Lalu kembali bergegas dengan tampak sibuknya, mengambil sapu dan sula. Setelah itu, kembali mengambil apa saja untuk dilakukannya membersihkan rumah. Ia begtu tampak ingin selalu bersih, meski bertempat tinggal di rumah kontrakan. Dan kemudian, sembari tampak asyik dengan kesibukannya membersihkan rumah, berkatalah kepada lelaki itu.

”Lelaki macam apa sih, kamu itu! istri lagi sibuk bukannya dibantuin malah ongkang-ongkang kaki begitu. Mentang-mentang hari libur,” katanya sembari sedikit gemas.

”Loh, aku, kan, juga sibuk. Membaca koran sambil mendengar, juga sesekali melihat siaran oleh raga dengan segala tetek bengek beragam beritanya. Memang nggak butuh pemikiran dan penalaran,” kata lelaki itu seolah tak mau kalah. Kemudian katanya lagi, “Lagi pula, boleh dong di hari libur begini aku santai-santai aja. Kau tahu sendiri aku begitu lelah dan sumpak setelah enam hari sibuk bekerja.”

Sejenak istrinya kembali diam. Kecuali oleh kesibukannya yang semakin menampak, seperti kemerungsung; dibersihkannya meja maupun rak dari debu dengan sula—yang kemudian kembali dibersihkannya dengan kain serbet basah. Lantas kembali menimpali. Seolah tak mau kalah.

”Ya hari libur tinggalah hari libur. Setidaknya, kan, kamu bisa sembari berkegiatan. Entah apa sajalah itu. Terpenting yang kamu lakukan itu halal. Toh, kata temanmu, tetangga sebelah yang kebetulan satu tempat kerja sekaligus teman dekatmu itu, kegiatanmu di kantor untuk tahun ini juga nggak begitu banyak, kan? dan…”

”Huss..dan apa? Jangan ngaco, ah. Ngawur. Meski sedikit tapi, kan, tetap saja tanggung jawabnya besar” tukas lelaki itu.

”Ya iya, siapa yang ngaco. Apapun tugas dari pekerjaan juga memang tetap butuh tanggung jawab besar. Bukannya kamu yang bilang semalam. Kalau kegiatan sedikit, ya, rezekinya juga jadi sedikit. Makanya, aku mau bilang rezeki, kan, di tangan Tuhan. Selagi kamu berusaha, aku yakin pastinya tak pernah jauh rezeki itu.”

”Ya sudah! cukup, sok menasehati. Malah berkotbah. Cukup aku dengar kotbah dari Pastor saja di sore nanti kita ke gereja.” Kata lelaki itu yang rupanya sedikit jengkel.

”Aku tak bermaksud menasehati, kok. Apalagi berkotbah. Lebih baik kau kembali menulis. Seperti tahun lalu. Syukur  menjadikannya rezeki, kan, lumayan.

Kali ini lelaki itu benar-benar terdiam. Diletakannya koran. Dikecilkannya suara televisi dengan perlahan, kemudian dimatikannya. Ia begitu tampak berdiam. Diam seribu bahasa. Sedikit menerawang. Begitu terlihat merenung. Dibukanya gorden tipis yang sedikit menghalangi pandangannya. Tampak begitu dilepaskannya wajah untuk memandang ke luar.

Seperti musim yang tak pernah mengingkari janjinya di awal tahun, suatu musim untuk menjadikannya hujan, angin kencang, dan udara malam menusuk tulang. Begitu dirasakannya sebagai kesegaran oleh lelaki itu. Ia mulai berpikir untuk melakukan sesuatu di hari libur.

***

Di malam hari, sesuatu mulai terpikirkan oleh lelaki itu. Sesuatu direnungkannya. Sesuatu ingin dijadikannya. Untuk segera menampilkan pembuktiannya atas percakapannya sejak siang bersama si istri. Entah apakah itu. entah apakah yang ingin dilakukannya? Hanya lelaki itu yang tahu. Tidak seorang pun mengetahui itu. Bahkan istrinya sekalipun.

Seperti datangnya malam yang selalu datang dan kedatangannya memang tanpa permisi. Kecuali janjinya untuk menjadikannya sebagai bagian di antara pagi dan siang sejak dunia ini ada. Itulah yang terjadi maupun dirasakan oleh lelaki itu: ia atas namakan cinta itu hadir dengan sendirinya dan bersekaligus mengejutkan—oleh kini yang sudah selayak dan sepantasnya dan kemudian dalam kenyataan berakhir menjadikannya anak setelah beristri. Lelaki itu mulai menyusun.

Mulailah lelaki itu menysusun malam ini dari perasaan-perasaan kurang begitu menentu. Diraupnya pena dan beberapa kertas untuk menulis untuk kemudian disalinkannya kembali pada sebuah komputer persewaan. Kini, bersama pena dan beberapa kertas dihadapannya, entah apakah yang ingin ditulisnya.

Ya, entah apakah yang ingin dituliskannya. Tak banyak pengetahuan dikuasainya, kecuali dari perasaan. Menjadikannya terlelap oleh perasaan, tanpa tersadari. Kini ia begitu ingin sekali bermain tanpa ilmu pengetahuan, melainkan perasaan-perasaannya kurang begitu menentu di malam ini—bukankah ilmu pengetahuan terkadang lebih melukai ketimbang perasaan? Entahlah.

Sekali lagi, lelaki itu hanya ingin memberangkatkan tulisannya lewat perasaan. Bersama sebuah pena dan beberapa kertas, diungkapkannya kedalaman perasaan-perasaan itu menjadi sebuah cerita. Dengan perasaan polos lagi apa adanya.

Lelaki itu menulis tentang nyanyian berpenuh air mata milik manusia-manusia yang terlahir oleh situasi penuh kemiskinan. Lelaki itu menulis tentang matinya penguasa untuk menafsir bahasa keringat para manusia bawah yang dikuasainya. Ya, pokoknya, lelaki itu menulis dan menulis tentang perasaan-perasaan lainnya. Apa adanya. Apakah itu? hanya lelaki itu yang tahu.

***

Terasa tak ada sesuatu lebih penting dari lelaki itu di tengah asyik masyuknya bermain dengan perasaan. Dari seolah yang begitu malas dirasanya berhenti menulis meski hari menjelang pagi. Menjelang berkumandangnya azan subuh dari sebuah masjid beberapa jam lagi.

Tiba-tiba terbangunlah istrinya, karena kebetulan ingin kencing. Cukup mendadak kaget tanpa suami yang selalu biasa dan memang untuk selalu terus dan terus bersamanya seranjang, namun kali ini tak didapatinya.  Melainkan, terpergokinya tengah berlesehan dengan meja kecil di sebuah ruangan bersama pena dan beberapa kertas. Tidak seperti siang tadi dengan rada jengkelnya, kini dengan sedikit manjanya berucap.

”Uh..apa-apaan, sih, udah jam berapa nih? Kok, masih belum juga tidur. Aku mau pipis, tolong antarkan. Takut sendirian.” Kata si Istri sembari bergerutu.

”Sudah mau pagi begini, bahkan hampir subuh, malah belum juga tidur. Besok, kan, kamu kerja. Nanti malah akhirnya susah bangun lagi.”

”Sedikit lagi selesai, kok.”

”Kayak orang penting aja,” kata si Istri dengan sedikit cemberut. “Lagi pula, kan, ada yang lebih penting  di mana sebentar lagi kamu harus berangkat ke kantor.”

”Ini bukan masalah penting atau nggak penting, melainkan kepentinganku untuk mendahulukan kepentingan perasaan terlebih dahulu sebelum beraktivitas nanti,” kata lelaki itu sedikit tak mau kalah. Tampak sedikit berjumawa.

”Apalagi, tuh? Gak ngerti. Aneh. Gak nyambung, ah. Diberitahu selatan jawabnya malah ke utara. Ya sudah, aku mau tidur. Segera susul. Jangan kelamaan.”

”Aneh, dasar perempuan, sebenarnya siapa yang gak menyambung, ah..sudahlah, tak soal” kata lelaki itu dalam hati.

***

Lelaki itu kembali dengan asyik masyuknya menulis. Keasyikan yang akhirnya selalu merasa tertuntut menyelesaikan segala macam tetek bengek dari perasaan-perasaannya. Meski sebentar lagi selesai.  Ya, meski sebentar lagi selesai di penyelesaiannya hari ini, namun dirasa tak akan pernah selesai di berikut dan berikutnya. “Kecuali, barangkali kematian,” pikirnya suatu ketika.

Setelah semua perasaan-perasaan itu selesai, lelaki itu bergegas menyusul istrinya ke kamar.

”Aku harap kelak, jika aku memang pantas untuk menulis, ingin kau selalu membaca tiap tulisanku, sayang. Entah ia tercecer di antara rak buku di rumah kita. Atau barangkali malah dipublikasikan oleh sebuah media cetak. Anggaplah itu bagian atas tafsiran cintaku di tiap hari libur, untukmu,” bisik lelaki itu kepada istrinya yang tengah terlelap.

Malam semakin larut; lelaki itu masih belum bisa tidur juga. Barangkali, karena kecamuk dalam pikiran untuk segera dituangkannya ke dalam tulisan.

Telukbetung Gg. Manyar, 2009

Sumber: Surabaya Post, 31 Januari 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s