“Cabs” dari Hegemoni Nirvana(isme)

F. Moses

Apakah itu “Grunge”? Mau apa di “Grunge”? Siapa biang kerok, asal muasal si musisi “Grunge” itu sendiri? Rasanya tak perlu dijawab di sini. Semua kembali dari si pelaku yang mengatasnamakan bahwa saya menyukai–bahkan bermain (memainkan musik “Grunge” milik musisi itu) sembari mengimajinasikan si entah milik kelompok siapa itu; semisal sebut saja Nirvana: grup band dari Seattle, Amerika serikat, yang terkenal dengan aliran grunge.

Band itu–menurut Wikipedia (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Heavy_metal) memiliki banyak pengikut di Indonesia terutama komunitas musik underground. Nirvana terdiri dari Krist Novoselic, Kurt Cobain, dan Dave Grohl. Band ini bubar setelah Kurt Cobain bunuh diri pada tahun 1994.Tahun 1990-an ketika wabah musik Grunge yang awalnya adalah percampuran kental antara Heavy Metal dan Post-Punk bahkan Hardcore bermunculan di Seattle, walaupun sedikit cenderung ke alternative Rock. Band Grunge dari Seattle, seperti Nirvana, Soundgarden dan Alice In Chains sebelum band itu ada sebenarnya grunge sudah ada oleh band-band seperti Malfunkshun dan Green River setelah itu ada Temple Of The Dog Mad Season, Mudhoney sampai Melvins. Setelah kematian Kurt Cobain musik Grunge jarang datang lalu kembali di-ilhami dengan band-band seperti Skin Yard dan PJ Harvey. Jika suatu band memainkan musik Grunge tapi band itu bukan berasa dari Seattle. Nama yang dipakai bukanlah Grunge, tetapi Post-Grunge seperti L7, Stone Temple P{ilots, Paw, Hole.

Semacam Post-Grunge belaka


Dari situlah, barangkali, sebelum maupun setelah kematian Kurt Cobain, kecenderungan terhadap Nirvana mulai meradang. Euforia panggung dalam kancah grunge di negeri ini menjadi tak sedap tanpa membawakan musik Nirvana. Nirvana-kah pencetus grunge? Nirvana-kah yang mengganggu jiwa kalian? sekali lagi, rasanya tak perlu lagi saya bahas di sini.

***

Sepengetahuan saya, selama acara beratribut grunge itu ada; entah di Yogya, Solo, Surabaya, dan Ungaran selalu saja ingar-bingar oleh musik milik Nirvana menjadi di atas rata-rata. Ya, memang, siapa saja boleh mengusung Nirvana. Dan tidak ada salahnya. Apalagi larangan.

Akan tetapi, ironisnya, budaya Nirvana(isme) menjamur–barangkali mentradisi. Jika sudah demikian, di manakah pemberontak (memberontak atas Nirvana)? Apakah legitimasi grunge itu sendiri dari Nirvana? akhirnya, para pencinta grunge pun bersikap: bahwa grunge itu tidak melulu Nirvana. Lantas seperti apa? inilah persoalan kita. Persoalan selayak dan sepantasnya kita renungi. Ah..

***

Berangkat dari olah bermain musik–barangkali untuk masalah satu ini semuanya sepakat–terutama instrumen gitar: kecenderungan menjadikan instrumen satu ini minimalis melodi (bukan berarti tanpa melodi) dan bersuara kasar (efek terdengar parau); barangkali itulah kecenderungannya. Lainnya, dapat kalian bayangkan: gabungan atas jeritan “Heavy Metal” dan “Punk”, sebuah gabungan yang dipercayai oleh kelompok musik Nirvana. Dan rasanya tak hanya Nirvana yang demikian; melainkan kelompok musik Mudhoney.

Satu hal lagi–jika boleh kita memercayai–tak hanya Nirvana maupun Mudhoney, melainkan masih banyak kelompok musik lain; sebut saja The Melvin, Pearl Jam, Alice In Chain, Soundgarden, dan Silverchair. Dan barangkali masih banyak lainnya yang tak bisa saya sebutkan.

Di manakah “pemberontak”? barangkali ialah mereka yang bukan lagi melulu memainkan kreativitas milik Nirvana, melainkan kelompok musik lain–tentunya tetap pada semangat grunge. Bahkan kreativitas milik sendiri sekalipun. Bagaimana dengan kelompok musikmu? :)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s