Tentang Gadis di Koran Itu

Cerpen oleh Nurwinda Apriyani (SMAN 1 Pringsewu, Lampung)
Apa kamu baca koran pagi ini? Mereka bilang, orok itu dikubur di situ. Tempat di mana kamu buang hajat. Entah tangan siapa yang lakukan itu. Meski tangan ia cuci bersih, meski kuman tak terlihat oleh mata, tetap saja ada zat yang mampu melihat sesuatu yang tak dapat kau dan aku lihat.

***
Rumah. Cat putih. Bersih. Kursi kayu panjang bercat putih. Garis polisi. Aku berdiri diantara mereka orang – orang yang kukenal, berkerumun di sana. Orang -orang di rumah itu. Polisi yang mendadak jadi tukang gali kubur. Kamera yang terus merekam seakan ini adalah film layar lebar. Pak RT yang sok menampang, berharap mungkin diwawancara sehingga wajahnya dapat terpampang di Televisi. Orang -orang yang tetap melupakan hal yang seharusnya ia kerjakan sekarang. Seperti aku. Hal pagi ini membuatku lupa, kalau jam terus berputar, kalau aku sudah terlambat, terlambat masuk sekolah.

Kaki pun membawaku jauh dari tempat yang telah menghipnotisku. Hingga ada yang berbisik dan mengatakan “Buang-buang waktu”. Alhasil sekarang aku benar-benar terlambat. Dan sepertinya laki – laki berseragam hitam itu sudah siap menerkamku, serasa malaikat pencabut nyawa.

Kata-kata monster itu hanya membuat panas telingaku. Sungguh kata yang sia-sia karena pikiranku pergi melayang ke tempat tadi. Masih beribu tanya hinggap di otakku. Pertanyaan yang tak tahu harus pada siapa kupertanyakan dan harus pula siapa yang bisa menjawabnya. Hingga makhluk berseragam hitam ini pun lelah menceramahiku, akhirnya aku boleh masuk kelas.

Kalau bukan karena tuntutan dunia, tak mungkin sekarang aku di sini, duduk, sekolah, belajar, pakai seragam putih abu – abu dengan kewajiban SPP seratus ribu rupiah yang harus dibayar perbulannya.

Dan aku harus lalui ini setiap hari.

Aku pulang. Kembali jalan melewati tempat tadi. Lebih ramai dari tadi pagi. Aku pun kembali menyiakan waktu, ikut bersama mereka, berkerumun di situ lagi. Berdiri di batas garis polisi.

Gadis di sini tetap terpaku, tetap berdiri pada pandangan itu. Tetap ada orang-orang itu. Tetap bersama orang-orang yang hanya bisa sebagai penonton. Orang -orang yang hobi melihat sesuatu yang terjadi. Orang – orang yang terlibat sebagai peramai dan tetap salah satunya di situ adalah aku.

Aku seperti orang – orang itu.

Tatapan mata terus menarikku untuk melihat rumah itu, klinik bersalin bercat putih.

Di sini aku yang kembali lupa kalau aku masih mengenakan seragam, aku yang lupa kalau seharusnya aku pulang karena orang di rumah pasti mengkhawatirkan aku. Tapi di tempat ini benar-benar menyita perhatian dan otakku. Untuk kejadian di sini aku kembali terpaku.

”Kata polisi itu 20 jasad bayi dikubur di sini. Tempat di mana kamu buang hajat.”

Aku tak peduli apa yang ada di pikiran mereka. Aku berkuasa sendiri dalam pikiranku.

Di manakah hati nurani seorang manusia? Karena binatang pun tak akan membunuh anaknya.

Dokter itu, bukankan mereka yang berpendidikan, orang yang bergelar. Tapi rasanya sia dan telah terbuang. Karena, toh, orang yang berpendidikan dan bergelar itu pun tak berhati dan telah gila dibuai materi.

***

Hentikan pikiranmu ……… Sekarang. Diam …… Dengar …… Ada hati kecil yang bicara ………

Dia orang yang hinggap di hati saya. Malam itu, 8 Mei 2009, sekadar untuk merayakan bulan ke-7 hubunganku dengannya. Dia mengajakku ke sebuah tempat berkencan. Tanpa aku ketahui aku meminum minuman yang telah ditetesinya obat mata. Hingga hilang kesadaranku …… Lupa apa yang telah aku lakukan …… Lalu tersadar ……… menyadari aku telah ia kotori. Benih dalam rahim yang ia tanam membuahkan janin. Janin yang suci hasil keharaman perbuatan orang tuanya.

Kutakut …… aku malu, 3 bulan sudah janin ini terkurung di situ dan aku tak mau orang mengetahui itu.

Dia yang ada dihatiku melepaskan tanggung jawabnya.
Aku semakin terpuruk, sendiri tanpa sandaran. Malu …… dan malu, setan pun marasukiku, kujual Hp dan Baju – bajuku …… kulangkahkan kaki ke sebuah klinik…… kubunuh janinku.

***

Hari semakin larut, tapi klinik bercat putih itu tetap ramai. Aku pulang.

“Dari mana kamu, Nduk? ” wanita setengah baya yang selama ini aku panggil dengan sebutan Ibu, ia seperti menghawatirkan aku namun begitu acuhnya aku, anak yang selayaknya ia sebut durhaka.

“…… Aku cape mau tidur ! ”
Aku menghormatinya, aku mencintainya, aku menyayanginya. Tapi aku hanya menghormati, mencintai, dan menyayanginya dalam hati. “ Maafkan aku ibu ” adalah sebuah kalimat yang tertimbun dalam keegoisanku.

Tak pernah ada ibu durhaka, tak pernah ada anak mengutuk ibunya senista apapun ibu, di mata anak ialah makhluk yang paling mulia. Kasihnya tak terhingga sepanjang masa. Emas, intan permata, tak akan mampu membalas jasanya. Sebutlah anak durhaka jika tak hormati ibunya.

Begitu seharusnya.

Wanita itu selalu keluar di malam hari. Wanita itu menghabiskan malam demi sesuap nasi. Wanita yang telah mengandungku selama 9 bulan. Wanita yang telah mengasuhku penuh kasih sayang, wanita yang tidak pernah tahu suaminya. Suami sekaligus ayah dari anak yang ia lahirkan. Wanita yang tak pernah peduli omongan orang tentang dirinya. Wanita yang hanya memikirkan anaknya. Wanita yang selalu mengutamakan anaknya dan juga wanita yang selalu membuatku malu saat ditanya di mana ibumu, kemana ibumu, apa pekerjaannya. Wanita yang hina di mataku, anak kandungnya sendiri.

Ku anggap aku tak salah. Ku anggap aku wajar begini. Ketika pertama kuhirup udara di dunia ini tak pernah aku dapatkan, tak pernah kurasakan kasih sayang belaian seorang ayah. Kuanggap wanita itulah yang salah membiarkan aku hidup untuk menangis. Membiarkan aku lahir tanpa ayah. Membiarkan aku lahir untuk mendengar cacian orang tentang kehadiranku. Membiarkan aku lahir dari rahim seorang wanita tuna susila

“ Wanita itu jahat ”

Kujalani tahun kehidupanku bersama wanita itu 1 tahun, 2 tahun, sampai 7 tahun aku belum mengerti apa-apa. Aku masih lugu untuk mengerti, mengapa ibu bekerja malam hari. Yang ku tahu hanya kalimat yang ibu bilang sebelum pergi, “Ndok, ibu kerja dulu ya … Ndok tidur ya! ”
Tanpa pernah kuketahui apa pekerjaannya dan apa yang ia lakukan tiap malam. Saat itu aku tak mengerti apa-apa. Wanita itu selalu bilang kalau bapak sudah tidak ada sejak ia mengandung aku, ia tidak punya foto bapak, aku harus jadi anak kuat walau tidak punya bapak.

Bukan sekali atau dua kali orang-orang itu mencemoohku. Mengataiku anak haram. Anak pelacur. Lepas dari usia 7 tahunlah semua dimulai. Kumenyadari dan merasakan bahwa mereka terus mencemooh aku dan ibu. Maka sejak itu pula aku menimbun kekesalanku, kebencianku pada wanita itu, wanita yang terus membuatku malu untuk mengakuiku bahwa dia, wanita tuna susila itu ibuku.

Keegoisanku mengalahkan semuanya, segalanya yang seharusnya aku lakukan. Dan sekali lagi kutekankan bahwa di sini akulah korban. Jadi salahkan wanita itu yang telah membuat aku begini.

Dia menyayangiku, dia mencintaiku, dia berikan kasih sayangnya padaku, dia tak pernah lelah menjagaku. Tapi dia juga telah goreskan luka di hatiku saat malam tiba, saat itulah kulihat lukaku.

***

Gue ini gak pernah kenal ayah gue sendiri, ibu gue adalah seorang PSK, sejak gue berumur 7 tahun gue baru ngerti ini semua. Seandainya ia ada di posisi gue, seandainya lo bisa rasakan jadi gue. Anak PSK. ”

***

Lepas dari masa kanak, aku bebas. Wanita itu masih dan terus menceramahiku, seperti dulu. Tapi kini aku bisa menutup telingaku dan mengacuhkan perkataannya. Aku bebas.
Ku semakin membencinya, rasanya aku ingin sekali menutup mata, agar ketika kubuka kembali kuketahui ini semua hanya mimpi, hanya mimpi sebagai anak PSK. Tapi benar, tapi ini memang benar-benar mimpi atau khayalan semata. Karena toh aku tetap tak bisa melarikan diri dari kenyataan. Kenyataan yang menyedihkan. Kenyataan yang kaya akan tangisan. Aku lelah.

Aku bersekolah seperti mereka. Wanita itu membiayaiku, membiayai semua kebutuhanku dan aku hanya tinggal menadahkan tanganku kehadapannya jika aku menginginkan sesuatu.

Mungkin karena ia tidak muda lagi penghasilannya menjadi tidak sebanyak dulu, Ehm… Toh aku tetap tak peduli. Aku tetap menadahkan tanganku kepadanya. Bahkan tak sekali aku memaksa wanita itu untuk memberiku uang, hal ini kulakukan karena kalimat yang paling aku benci sering ia katakan, “Ibu tidak punya uang, Ndok…”

Aku muak dengan kata – kata itu.

Lihatlah, aku semakin beranjak remaja, tubuh tinggi besar, mata coklat, kulitku putih bersih, hidung mancung anggaplah aku seperti Manohara Odelia Pinot. Dan ada, datanglah seorang pangeran di hadapanku. Pangeran tampan yang baru pertama kali menyentuh hatiku. Dia bersimpuh di hadapanku meminta balas cinta dan katakan iya untuk menjadi ratunya. Ratu 14 tahun. Melayang aku, melambung tinggi, ku lYA-kan inginnya.

Siapa yang bisa menolak kebahagiaan. Siapa yang mau menolak kebahagiaan. Begitu halnya aku. Ketika seorang pria mendatangiku, memberikanku kasih sayang, kasih sayang dari lak-laki yang tidak pemah kudapatkan sebelumnya. Karena dari laki-laki yang selayaknya ku sebut ayah pun, aku tidak pernah dapatkan. Dan ketika seorang pangeran memberikan sesuatu yang selama ini aku inginkan, aku butuhkan, aku dambakan. Ketika itulah aku merasa bahagia. Merasa hidup tak sekelam dulu. Begitu buruk hanya aku dan wanita itu. Pangeran itu mewarnai hariku. Menutup warna hitam yang dulu dan menggantinya dengan warna pelangi, mengindahi hariku. Temani aku. Aku luluh di hadapannya. Hatiku miliknya.

Ehm, kamu pasti tahu cara berpakaian remaja zaman sekarang. Mereka bilang kurang bahan. Lelaki bilang “menggoda iman”. Ya…jadi mungkin itu sebabnya. Sebab nafsu telah mengalahkan cinta. Sebab setan telah kuasai hati. Hal itu terjadi. Aku tak menyangka ia yang selama ini kucinta, memberikan kasih sayang sepenuhnya. la nodai. Ratu 16 tahunnya. Hingga akhirnya kuketahui ada janin di rahimku. Dan ketika pangeran itu mengetahuinya, ia pergi, pergi dariku. Menghilangkan pelangi dan menggantinya dengan awan hitam, mendung dan kilat. Bahkan lebih hitam dari luka yang dulu. Orang yang kuanggap pangeran kebahagiaan adalah pendapat yang salah. Hujan semakin deras di pipiku.

“Huh. …………”

***

Kejadian di klinik bercat putih itu terus menyita pikiranku. Sampai malam tiba. Aku pun tak dapat menutup mata. Tak dapat enyahkan pikiran tentang klinik bercat putih itu. Tentang garis polisi. Tentang orang-orang itu. Tentang 20 jasad bayi yang dikubur di situ. Tentang semuanya.
Lelah akhirnya membawaku ke alam mimpi, sambil berselimutkan kain tebal.

“Ibu tau kamu malu, tapi apapun balasmu terhadap Ibu, kamu akan tetap di hati Ibu. Semangat hidup ibu, Ndok”. Dalam heningnya malam, lelap tidurku, kudengar bisikan kata-kata itu.

Pagi membangunkanku dari lelapnya tidur. Teriknya matahari memberi tahu bahwa aku bangun kesiangan. Aku bergegas mandi dan mempersiapkan peralatan sekolah. Padahal sesungguhnya aku masih ingin bersembunyi di balik selimut, lalu melanjutkan mimpi. Ya….sudahlah semua ini demi tuntutan dunia yang memaksaku setidaknya lulusan SMA.

Bangun lagi. Mandi lagi. Jalan lagi. Terlambat lagi. Dimarah satpam lagi. Main-main lagi. Belajar lagi. Bosan lagi. Pusing lagi. Ada PR lagi. Tidak mengerjakan lagi. Lupa lagi. Dihukum lagi. Gitu-gitu lagi, lagi, lagi dan lagi. Tak henti-henti begitu setiap hari. Begini lagi-begitu lagi. Akhirnya pulang lagi. Lihat klinik itu lagi. Lewat klinik itu lagi. Tidak seramai kemarin lagi. Tetap ada polisi itu lagi. Kamera itu lagi. Wartawan itu lagi. Garis polisi itu lagi. Tapi aku tak berdiri di situ lagi. Tak menonton lagi, klinik bercat putih.

Sampailah aku di rumah kontrakan yang kecil ini. Rumah yang selama 16 tahun aku tinggali. Rumahku bersama wanita itu. Kuinjakan langkah pertamaku ke dalam rumah itu. Kudapati rumah tak dikunci. Kubuka pintu tua itu, rumah yang sepi, seperti tak berpenghuni. Pandanganku langsung tertuju ke kamar. Kamar berpintu kusen rapuh, rapuh dimakan rayap. Ranjang tua dari bersi. Kasur lapuk yang sedikit pun tak empuk. Kulihat wanita itu. Wanita setengah baya yang selama ini kupanggil dengan sebutan Ibu. Kudekati dia. Kududuk di sebelahnya. Kulihat matanya terpejam. Kulihat tubuhnya yang lusuh, lemah, lelah. Kutatap wajahnya. Kubendung airmata. Dalam tidurnya, aku berkata-kata.

“Ibu maafin aku…… maafin aku yang telah durhaka padamu. Bu….orang itu telah memperkosaku. Bu… ..aku hamil, aku malu. Bu…… maafin aku, aku udah salah. Bu….Ibu yang selalu setia mengurus aku yang susah payah melahirkanku, Menyayangiku. Aku yang tak menghormatimu, tak menghargaimu. Aku yang tak pernah memandang kemuliaanmu, pengorbananmu selama ini. Padahal aku toh tak bisa sepertimu. Ku gugurkan janinku Bu…..!”

la masih tertidur. Aku beranjak dari tempat itu. Seandainya kubisa ucapkan kata-kata itu dari mulutku, seandainya kejujuran ini tak tersendat di leher.

Ibuku 39 tahun. Ibuku seorang tuna susila. Ayahku, ku tak tahu di mana dan siapa. Ayahku, ku tak punya ayah. Dan 19 Desember 2009 pukul 11.00 WIB kuharus relakan, ku tak punya ibu.

***

Apa kamu baca Koran pagi ini? Adalah gadis (16 tahun) anak seorang tuna susila, yang diperkosa oleh pacamya. Adalah tersangka yang menggugurkan kandungannya di klinik itu. Adalah gadis malang yang kini hidup di balik jeruji besi.

Apa kamu baca Koran pagi ini? la telah mengungkap kejadian itu. Orok yang dikubur di situ dan tangan-tangan yang terlibat di dalamnya.

Ulasan

Membaca Kabar

Oleh F. Moses

Berbicara cerpen (cerita pendek) tak lain bagaimana seorang pengarang dengan sedemikian mampunya mengemas sebuah persoalan menjadi sebuah cerita. Tentunya dengan kapasitas cerpen; bukan novel, roman, cerita bersambung, cerita kisah tak ”berjuntrung”, atau bahkan sebuah ringkasan belaka. Melainkan cerpen—sebagai cerita yang (dapat dibilang) sekali dibaca langsung selesai—yang tetap sebagai kapasitasnya tak terlepas dari alur, tokoh, latar, maupun tema. Selain, tentunya, lapisan penceritaan yang ”terendus” oleh adanya pengenalan, timbul konflik, klimaks, dan pengakhiran.

Atas dasar asumsi sederhana tentang sebuah cerpen, saya mencoba mengapresiasi sekaligus mengeritik cerpen milik siswi berikut.

Pembahasan cerpen hari ini, Nurwinda Apriyani, Siswi SMAN 1 Pringsewu, dalam cerpennya yang berjudul Tentang Gadis di Koran itu, lewat tokoh aku narator, menceritakan keganasan dari sebuah praktik aborsi. Sebuah praktik yang turut melibatkan seorang dokter bahkan dirinya sendiri (tokoh aku) yang sengaja menggugurkan kandungan dari hasil hubungan gelap dengan kekasihnya. Hingga harus berakhir dengan menerima kenyataan: hidup di balik jeruji besi.

Ada beberapa hal menarik yang kiranya pantas dijadikan catatan dalam cerpen tersebut, berawal dalam menyoal kalimat pembuka.

Dalam cerpen tersebut, Nurwinda membukanya dengan kalimat Apa kamu baca koran pagi ini? Mereka bilang, orok itu dikubur di situ. Tempat di mana kamu buang hajat. Entah tangan siapa yang lakukan itu. Meski tangan ia cuci bersih, meski kuman tak terlihat oleh mata, tetap saja ada zat yang mampu melihat sesuatu yang tak dapat kau dan aku lihat” yang secara langsung atau tak menawarkan sebuah ”ruang komunikasi” bagi pembacanya. Kiranya hal tersebut menjadi tawaran acuan dalam menyoal pentingnya kalimat pembuka sebuah cerpen.

Namun demikian, menyoal kalimat pembuka di atas bukanlah serta-merta dari saya tentang kebenaran sebuah standar kalimat pembuka. Melainkan, sekali lagi, betapa pentingya kalimat pembuka. Mengingat kalimat pembuka merupakan gerbang awal dari pembaca untuk kembali menelusuri kelanjutan penceritaan di dalamnya. Maka mestilah dibuat kalimat pembuka semenarik mungkin.

Selain kalimat pembuka, penguasaan dalam koordinasi antartokoh juga dirasa cukup lihai. Nurwinda tetap (dengan segala usahanya) berprinsip untuk tetap mengendalikan tokoh utama lewat tokoh aku narator. Sayangnya, kelihaian tak berbuntut pada konsistensi ’tokoh aku’ yang seketika berubah menjadi ’tokoh saya’, seperti dalam penggalan kalimat ”Dia orang yang hinggap di hati saya. Malam itu, 8 Mei 2009, sekadar untuk merayakan bulan ke-7 hubunganku dengannya. Dia mengajakku ke sebuah tempat berkencan…”

Hal lain juga berbuntut pada kata ganti orang kedua: ’ia’ berubah menjadi ’dia’, seperti dalam penggalan kalimat ”menyadari aku telah ia kotori. Benih dalam rahim yang ia tanam membuahkan janin…dan… Dia yang ada di hatiku melepaskan tanggung jawabnya.”

Masalah tersebut memang sederhana, namun cukup mengganggu pembaca. Dan (mungkin) memang tak soal, namun konsistensi dirasa hal mutlak agar tak mengecoh pembaca ke dalam hal yang tak perlu, bukan?

Kemudian lompatan pemeristiwaan juga dirasa cukup jeli dilakukan oleh Nurwinda, yaitu pada penggalan kalimat ”Aku semakin terpuruk, sendiri tanpa sandaran. Malu…dan malu, setan pun marasukiku, kujual Hp dan Baju – bajuku … kulangkahkan kaki ke sebuah klinik…kubunuh janinku” yang berlanjut pada pemeristiwaan ”Hari semakin larut, tapi klinik bercat putih itu tetap ramai. Aku pulang”. Dan berlanjut ke sebuah dialog “’Dari mana kamu, Nduk?’  wanita setengah baya yang selama ini aku panggil dengan..” cukup mengidentifikasikan bahwa Nurwinda memahami alur yang tengah dijalankannya. Sebab alur juga hal mutlak agar tak bertele-tele dalam mengolah penceritaan maupun mengolah emosional penceritaan; kapan mesti turun-naik dan naik-turun

Selain itu semua, secara implist, ketimpangan sosial (meski tak semua bagi cerpen) mudah terendus dari tiap karya cerpen. Seperti kritik keras dari penggalan kalimat ”Dokter itu, bukankan mereka yang berpendidikan, orang yang bergelar. Tapi rasanya sia dan telah terbuang. Karena, toh, orang yang berpendidikan dan bergelar itu pun tak berhati dan telah gila dibuai materi” karya Nurwinda. Suatu sikap sasrkasme dari pengarang ke dalam sebuah teks (cerpen).

Syahdan, variasi gaya berbahasa yang menyaran pada ”sikap aksentuasi (penekanan makna)” juga dilakukan oleh Nurwinda. Meski tak perlu, namun sah-sah saja. Sebab hal ini cukup menuntut sebuah kreativitas dari pengarang dengan sendirinya, yaitu seperti pada penggalan ” Bangun lagi. Mandi lagi. Jalan lagi. Terlambat lagi. Dimarah satpam lagi. Main-main lagi. Belajar lagi. Bosan lagi. Pusing lagi. Ada PR lagi. Tidak mengerjakan lagi. Lupa lagi. Dihukum lagi. Gitu-gitu lagi, lagi, lagi dan lagi. Tak henti-henti begitu setiap hari. Begini lagi-begitu lagi…” menjadi semacam satire yang dirasa tak berlebih.

Kira-kira itulah beberapa catatan saya buat Nurwinda. Lewat tokoh aku narator, pengarang dirasa cukup berhasil dalam mengolah cerita yang tak sekadar kisah belaka untuk menjadi cerpen yang cukup memenuhi penuntutannya. Penuntutan dari cerpen yang terdapat alur, tokoh, latar, maupun tema. Dan tak berlebih pula jika cerpen karya Nurwinda yang berjudul ”Tentang Gadis di Koran Itu”, mampu berbicara di pentas nasional sebagai pemenang harapan ke-3 yang diadakan oleh Pusat Bahasa, Depdiknas, beberapa waktu lalu. Provisiat.

Sumber: Radar Lampung, 27 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s