Puisi

F. Moses

Perihal Kejujuran

tidurilah aku dengan puisi-puisimu, kekasihku, di ranjang tua yang tentunya tahu benar

setiap kita mengakhiri tiap perjalanan ini; sebab ia lebih polos dan jujur.

sepolos mata malam yang senantiasa menelanjangi kegelapan.

Sejujur perasaan malam yang selalu menepati janji kepada sang pagi.

…kecuali maut, terkadang ia tak pernah jujur kepada kita

2009

Teratak

mungkin sebaiknya kita memang tak perlu ragu, sebab selalu terancang hari esok untuk kita, katamu.

bukankah hari esok memang selalu berawal dari hari ini, kembali katamu.

kata-katamu yang selalu beterbangan sampai ke celah-celah rak piring, meja makan, kaki-kaki kursi di ruangan tamu, vas bunga hias di atas meja, bahkan hingga terselip di antara lipatan-lipatan baju ataupun kemeja di almari pakaian kita, kataku dalam hati imajinasi. Ya, kataku dalam hati yang selalu membayangkan di mana pun berada kita tak lepas dari konsep teratak. sebuah teratak yang selalu aku bangun di atas tubuhmu.

sayang, kau selalu jarang menyadari itu. kecuali menangis sembari balik bertanya.

2009

Seperti Tokoh

:Seno Gumira Ajidarma

I

aku mencarimu di setiap tengah malam, saudara, hingga berlembar kertas aku buka dengan jemari yang tak tertahankan; hingga ia membusuk dalam kertas-kertas itu—selalu dan selalu mencari namamu, saudara.

II

aku mencarimu di setiap tengah malam, saudara, menelusuri lorong-lorong museum purba tanpa nama dari kota yang paling tua ini; mencari namamu, saudara, di antara para manusia yang sudah berubah menjadi patung—yang konon mereka, pada zaman dahulu, adalah para penunggu kekasih masing-masing yang hendak kembali bilamana berhasil menenteng kepala iblis setelah senja tiba.

III

aku mencarimu di setiap tengah malam, saudara, bersama taksi yang pernah kau kemudikan—di mana empat lelaki pernah menumpangi mobilmu sembari mengancam agar kau tutup mulut sebab mereka hendak membantai keluarga di perumahan mewah di ujung pertigaan jalan itu.

IV

ya, aku selalu mencari dan mencarimu di setiap tengah malam, saudara

:ternyata  kau di lembaga pemasyarakatan yang hanya berjumlah satu orang; sebuah penjara serupa istana, begitu aku mengatakannya—kau yang pernah tertangkap atas tuduhan telah mencuri senja di kota tua itu.

Saudara, aku iri, maka ajarilah aku sebuah jurus mencuri senja. biar aku serupa antagonis denganmu. Sebab dunia ini butuh tokoh antagonis agar hidup menjadi berimbang, bukan?

2009

Pisah dan afiksasi; per-an, ber-, ter-, hingga ter-kan

seperti waktu bagi pagi, siang, sore bersenja, dan malam bergemintang selalu berpisah beberapa waktu untuk kembali bertanya siapa unggul bermesra mencumbu hari: mereka memang pemaham bagi waktu  itu sendiri.

terkecuali kita: pengrajin untuk menampung air mata terlihat atau ’tak untuk kemudian menamakannya sebuah perpisahan.

adakah pernah perpisahan tanpa tetes air mata? baiklah kalau begitu:

mana pernah (aku) menyukai perpisahan

sebab airmata perpisahan milik pencatat kesedihan

mana pernah (aku) membenci perpisahan

sebab airmata perpisahan milik pencatat kesenangan

mana pernah (aku) takut berpisah

sebab airmata berpisah serupa kelegaan

mana pernah (aku) berani berpisah

sebab airmata berpisah serupa pekerja penampung airmataku

maka sampai hari ini hingga berikut tak berbatas

jangan pernah beranggap kita dari bagian yang terpisahkan

kecuali kau yang pernah mati

kita pernah berpisah untuk sementara waktu

November 2009

Sumber: Lampung Post, 13 Desember 2009

Iklan

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s