Arah Laut dari Kota Ini

F. Moses

AKU merasakan segala ­sesuatunya berlalu sangat cepat. Semua terasa begitu melesat tak terkejar dan tak terkira.

Semua waktu seolah menjadikan pikiranku menggelembung oleh keingintahuan. Namun, rasanya semua terlambat. Semua seperti ­kegelapan tak terhindarkan. Kegelapan yang menyeruak tanpa permisi. Seperti tak mengetuk daun pintu terlebih ­dahulu.

Aku selalu senantiasa berharap kabar darimu, Uni. Meski hanya berupa bayangan berkelebat dalam pikiranku.

Pagi ini aku terbangun lebih dari biasanya. Hari Sabtu yang sedikit sekali kecerahan sebab lebih banyak mendungnya.

Udara begitu terasa dingin. Sedingin perasaan akibat mimpi kurang menyenangkan tadi malam. Menjadi seperti kegelisahan tepatnya. Meski demikian, aku masih tak melupakan koran hari ini di atas meja, seperti biasanya, untuk segera kubaca. Ingin kubaca. Harus kubaca. Mestikah kubaca? Haruskah yang kubaca kali ini akan menjadikan perasaanku justru semakin rawan?

Langkah perlahan aku lakukan, sambil memegang koran yang semula hendak aku baca kini masih kupegang dengan erat, kemudian aku pun membuka jendela; selalu kulihat barisan pulau kenamaan di sana. Dari laut yang menjorok ke arah kota kami. Lautan indah mahadahsyat nan luas cukup mengobati perasaan rawan hari ini. Lautan yang selalu setia berpapasan dengan perbukitan yang mengelilinginya. Meski beberapa bibir dari bukit itu sudah tergerus menjadi permukiman massal.

Aku selalu senantiasa berharap kabar darimu, Uni. Meski hanya berupa bayangan berkelabat dalam pikiranku. Dalam terawangku. Aku larut. Melarut.

Setelah melarut tak berasa, aku tiba saja langsung meraup telepon genggam, kunci motor, juga agenda kecil—sebuah agenda untuk sesuatu yang mesti aku catat sekecil apa pun itu dalam ingatan. Untuk aku langsung bergegas ke laut, sebab hanya di sana bagiku mungkin dapat menemuinya. Entah  kali ini aku bergegas atas niatan apa sebenarnya. Barangkali atas kerinduan. Menurutku.

Sesampai di sana aku tak menemukan Uni dalam pikiranku. Sepi.

Aku hanya menemukan seorang perempuan tua penyewa tikar tengah bermain seruling di bawah pohon kelapa dengan bermacam irama. Perlahan aku mendekatinya.

Rupanya ia tahu kedatanganku. Kedatangan yang kali ini lumayan menjadikanku terkaget karena selain di sini sangat sepi, anehnya lagi, hanya ada satu penjual tikar. Keanehan yang bertambah dari penjual tikar itu karena sembari bermain seruling. Aneh. Iramanya cukup menjadikanku teringat akan daerah tertentu. Tepatnya seperti daerahmu, Uni. Kalau aku tak keliru.

“Ada hendak kau cari, Nak? Kau tampak gelisah. Silakan bersantai di pantai ini dengan menyewa tikarku. Tikar asli buatan orang pesisir. Seasli keringat dan air mataku untuk membuatnya. Cukup dengan uang lima ribu rupiah saja.”

Sungguh aku tak paham dari akhir kalimatnya itu. Mengapa harus mengatakan keringat dan air mata segala. Hmm.

Aku hanya diam setelah menyewa tikarnya, sebab ia kembali memainkan serulingnya. Yang kali ini tak begitu banyak irama dimainkannya. Ditiupnya seruling itu begitu lembut. Syahdu. Iramanya terasa begitu menggetarkan sesuatu dalam perasaanku; serasa angin laut seperti tengah membawa kabar kepadaku menerpa dengan kencangnya. Seperti membawa pesan. Ah, entah pesan apa. Barangkali sebuah pertanyaan atas kerinduanku kepadamu, Uni.

***
PEREMPUAN tua itu masih tetap asyik dengan irama serulingnya. Sebuah irama yang, sepertinya, tak asing lagi saat menembus telingaku. Dan sekarang irama itu sepertinya berhenti. Sepertinya giliran kesempatanku untuk berlanjut menjawabnya.

”Aku berjanji dengan seseorang di sini. Hmm, apakah ibu melihat?”
Ia diam saja. Kemudian melanjutkan irama serulingnya. Gila, tak jelas, kataku membatin. Kemudian aku pergi agak menjauh darinya.

***
KINI aku duduk tak jauh dari bibir pantai.
Laut ini begitu sepi. Hanya beberapa perahu nelayan yang teronggok dari bibir pantai. Sisanya pulau kenamaan yang tertampak jauh dari arahku—dan ada beberapa yang hanya menyerupai seperti jazirah. Padahal itu sungguhan. Lainnya hanya pasir putih dan ombak yang senantiasa bergulung-gulung menjilati pantai yang begitu terlihat tak pernah lelah dan berkesudahan.
Aku menerawang sendirian dari pantai ini. Dan mulailah mengabadikan ingatan.

Selalu kuingat dirimu, Uni. Kita pernah di pantai ini, sebelum akhirnya kau pamit kepadaku.

Aku akan pergi meninggalkan tempat ini untuk kembali ke tanah kelahiranku, begitu katamu sembari menggamit tanganku dalam ingatan ini.

Ya, Uni memang tak lagi di sisiku hari ini. Namun, percakapanku dengannya seolah masih begitu membekas. Begitu masih merekat. Seolah aku memang masih bercakap dengannya. Seperti dalam percakapan dengan berpuluh khayal. Seperti perumpamaan, kalau boleh aku mengumpamakannya, kertas dan lem. Begitulah kerekatanku dengannya.

Dalam ingatan bercampur khayal, selalu kuingat dirimu, Uni. Dirimu yang acap mengatakan bahwa indah sekali negeri kita ini. Keindahan yang memang patut dan harus untuk kita selalu banggakan. Dalam kebanggaan bertempat tinggal di tanah kaya dan subur. Lautan mahaluas juga mahadahsyat berselimut cakrawala yang senantiasa bersahaja menemani kita di bawah temaram rembulan yang tak pernah berhenti memendar, apalagi memudar.

Perbukitan yang seolah dalam kesetiaannya tak pernah beringkar untuk selalu berbaris dengan rapinya—orang-orang senantiasa menyebutnya sebagai Bukit Barisan. Juga sukacita malam berselimut gemintang dalam kesenantiasaannya menghangatkan perasaan kita menjadi semakin ranum saja.

Ah, betapa indahnya negeri ita ini, begitu katamu sembari memelukku pada waktu itu. Ingatanku. Semacam ingatan yang menyembuhkan.
Selalu kuingat dirimu, Uni. Kita larut dalam pelukan hingga pagi buta.
Sebuta akal sehat kita untuk memperhitungkan dalamnya permasalahan kita yang sebenarnya. Yang sesungguhnya kita berbeda dalam segalanya, Uni. Kecuali dalam cinta.

Lagi-lagi cinta. Betapa pelik dan tak berjuntrung ketika menyoal urusan itu. Cinta, cinta, dan cinta. Namun, cinta itu sendiri seperti tengah menyelinap di sebalik terumbu karang.

Dan dari waktu itu pula, aku lupa tepatnya kapan, kita juga nyaris terpisahkan hanya karena mereka menyebut kita sebagai dua kehidupan yang sangat berbeda. Kau yang bermuasal dari pesisir dan aku dari perbukitan. Lantas mereka sering pula menyebut bahwa apabila aku hendak meminangmu suatu saat nanti, silakan saja, asal kelak aku membawamu ke dalam kehidupan sebuah kota.

Uni, kembali masih kuingat: saat aku mengatakan itu, kau pun menangis. Memelukku begitu erat sembari berbisik: jangan ajak aku ke kota itu, sebab kota itu tak lain adalah kampung asliku yang segalanya telah musnah. Kota itu sudah menjadi peradaban yang mustahil untuk dikembalikan; peradaban yang sudah lekang oleh waktu. Tergerus ke dalam paru-paru zaman.

***
SEMUA memang berlalu begitu sangat cepat, aku sudah kembali terbangun pada pagi hari dalam hari yang sudah entah keberapa.
Aku membuka daun jendela di kamarku: masih selalu kuingat dirimu, Uni. Dari lautan yang menjorok ke arah kota ini. Sebuah kota yang selalu berkemeriapan oleh kenangan dalam ingatanku kepadamu. Seperti membaca surat-suratmu untukku yang masih tersusun rapi di dalam almari kamarku.

***
SEMUA memang terasa begitu melesat tak terkejar dan tak terkira. Semua waktu seolah menjadikan pikiranku menggelembung oleh keingintahuan. Aku, seperti biasa, senantiasa membaca koran. Ada fenomena dari dalam berita itu.

Namun, rasanya semua terlambat. Semua seperti kegelapan tak terhindarkan. Kegelapan yang menyeruak tanpa permisi. Seperti tak mengetuk daun pintu perasaan terlebih dahulu.

Sebuah keajaiban dari fenomena alam telah berujung menjadi bencana. Kampung beserta kotamu, Pariaman, luluh lantak oleh fenomena itu. Lantas bagaimana denganmu, Uni?

Seperti irama seruling yang berirama khas Minang dari perempuan tua pada waktu itu, menyayat perasaanku dengan perlahan. Namun, selalu dan masih selalu kuingat dirimu, Uni. Dari lautan yang menjorok ke arah kota ini. Yang aku rasa sudah tak cukup lagi dengan air mata untuk mengenangmu.
Selalu kuingat dirimu, Uni. Dari laut yang mengarah ke kota ini.

Telukbetung, Gg. Manyar, 2009

Sumber: Sinar Harapan, 21 November 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s