Pertemuan di Garis Pembatas

F Moses

Ia dan Aku, Suatu Ketika

AKU ingin kau tahu, sebab ini kali pertama aku mengetahuinya. Pertama ketika pernah tersergap oleh pesonanya. Tak apa. Meski demikian, toh, aku tak beringkar dalam pikir karena gelagatnya yang ingin selalu mengubah apa yang diinginkannya.

Sebab, sesekali pula selalu terpikir hingga terasa olehku: betapa kepesonaannya itu masih membekas kemudian selalu menempel menjadi ingatan. Terlebih karena merdu suaranya pada tiap kali dirinya ingin mengubah apa yang diinginkannya untuk dijadikan segala sesuatunya berubah. Apakah itu?

Ia, Musim, dan Cinta

IA sangat mencintai segala musim dengan perubahannya. Seperti dan di mana saja musim memang selalu berganti tanpa permisi. Tak akan pernah bisa diubah. Apalagi dihentikan. Bahkan kehadiran musim juga seringkali membingungkan dan memprihatinkan. Dan seringkali semua orang menjadi terheran-heran oleh kedatangannya. Seperti kedatangan sebuah pesona musim yang baru.

Pada suatu musim, di suatu tempat pada waktu entah di mana pernah terjadi, Ia juga masih ingat ketika si kekasih pernah berbisik padanya atas semangat cinta, tentang suatu saat bahwa dirinya akan berseteru dengan semesta, mengingat persentase antara kehidupan terhadap semesta tiada pernah begitu sebanding.

Apakah yang ingin kau pertaruhkan oleh tampak jumawa dirimu itu, kekasihku. Adakah kau rendahkan sedikit lutut pada kakimu itu barang sejenak, dan perlahan menekuk-lipatkannya, kemudian merendah-hatikan dirimu di atas tanah gersang ini sembari bergurau dengan semesta?

Ia dan Pengertian Malam

DI malam paling sunyi, suatu malam paling lain dari malam-malam sebelumnya, di suatu tempat dan pada waktu entah di mana itu terjadi, Ia kerap berkata-kata. Bukan kepada si kekasih, melainkan malam. Ya, hanya kepada malam. Ia saling bertukar getar untuk mencari pengertian antara Ia dan malam.

Ia dan Keseharian

MULAI hari itu, banyak orang di sekitar tempat Ia tinggal juga mulai bertanya sembari bersungut-sungut. Tentu tanpa sepengetahuannya.

“Ia begitu mencintai malam. Sungguh tak bosan Ia mencintainya. Padahal hanya malam. Bukankah pernah di waktu malam bapaknya pernah mati tanpa sepengetahuannya?” kata seseorang pada suatu ketika di tempat entah di mana pernah terjadi. Semua orang tak ada mengetahui Betapa keseharian Ia adalah malam itu sendiri.

Aku tak tahu mengapa Ia sedemikian mencintai malam. Malam tak lain tak bukan adalah bapaknya itu sendiri yang telah lama meninggalkannya. Sepertinya. Baginya.

Kemudian, seringkali pula Ia selalu tergoda untuk menjadikan segala sesuatunya adalah malam itu sendiri. Hanya kepada malam menjadikannya berterus terang, seolah. Hanya kepada malam Ia lebih merasakan getaran si kekasih maupun ketiadaan bapak pada waktu lalu yang menjadikannya dekat. Kedekatan yang terasa begitu berlebih. Orang-orang menyebutnya Ia lumer akan kasih.

Ia dan Pembicaraan Tentang Malam

PADA suatu ketika di tempat entah kapan itu juga pernah terjadi, semua orang juga pernah kebingungan akan dirinya. Adakah kau tahu siapa Ia sebenarnya? Semua orang, penduduk di sini, tak ada mengetahui siapa Ia sebenarnya. Yang mereka tahu, di sini, sejak Ia bertempat tinggal di rumah itu, tak lagi ada waktu yang lain selain malam. Nah..

Ia dan Rumah Malam

TAHUKAH kau, Ia hanya berhidup dengan malam. Sekali lagi, baginya malam adalah sesuatu dicintainya: si kekasih dan bapak yang telah lama meninggalkan Ia untuk selamanya. Bagi Ia, malam tiada pernah berkesudahan. Tanpa habis sebagai rumah berhidup untuk selamanya. Berhidup untuk selalu di bawah gemerlapnya gemintang angkasa jagat raya untuk selalu di bawah temaram rembulan. Dunia bawah rembulan.

Ia dan Kebencian Orang-Orang Malam

ORANG-ORANG malam karena keterpaksaannya, sehubung mereka tak menyukai malam dan merasa dirugikan karena selalu malam, mulai semakin memperlihatkan amarahnya. Mereka semakin sibuk mencari Ia. Beragam ancaman untuk Ia: di antaranya semangat akan kebencian.

Ia dalam Mimpi Malam, Suatu Ketika

PADA suatu malam entah malam kapan, Ia bermimpi.

Aku senantiasa memang ingin mengubah waktu dengan keinginan hati ini sendiri. Tak ada seorang pun pernah tahu, itulah sebabnya. Aku tak ingin kau mengatakan aku adalah kekonyolan untukmu.

Aku begitu mencintai malam. Terlebih segenap penglihatan atas malam tentang rencana-rencana begitu indah dari bintang-bintang maupun cahaya putih serupa kemuliaan yang datang entah dari mana ketika memendarkan cahayanya. Mungkin dari bulat bulan dalam kejauhan yang tersiram oleh matahari dari sebaliknya. Aku tak pernah paham untuk mendetailnya atas proses itu. Barangkali itulah sebabnya mengapa dalam berkehidupan memang senantiasa selalu berputar. Pada suatu saat tentang kehidupan ini yang terkadang berada di bawah dan berada di atas.

Pertemuan Dengan Ia

SEKARANG aku berada di luar dan terjadilah perjanjian untuk bertemu dengannya. Bertemu di garis pembatas mimpinya. Sebuah garis yang pernah terjanjikan: garis batas mimpi milik Ia. Ya, hanya dalam batas garis mimpi milik Ia untukku bisa bertemu dengannya. Suatu pembatas mimpi yang selalu malam. Selalu gelap. Gelap yang tak berarti gulita menjadikannya tak terlihat. Kecuali seperti keremangan. Keremangan yang membuatku serasa lebih jelas memperhatikan gelagat serta liuk dari gemulai tubuhnya. Serasa membaca sembari mengeja bahasa mimpi milik Ia.

Dengan sedikit ragu-ragu namun tetap mempercayakan diriku untuk berbicara dengannya, kami mulai sedikit bercakap. Percakapan dalam kegelapan yang tak berarti gulita. Percakapan dalam keremangan. Dalam garis batas mimpi. Garis batas mimpi yang serupa antara daratan dan lautan. Lautan luas dalam cakrawala tiada berbatas.

“Lekas naiklah ke perahuku dengan tanpa rasa ragu,” katanya.

Aku kaget, sebab pertemuan ini sengguh aneh. Semua ini di luar dugaanku. Bukannya diajak untuk ke rumahnya, melainkan malah seperti diajaknya melaut, kataku dalam hati. Namun apalah perlu ditakutan pada pertemuan dalam mimpi ini. Bukankah memang inilah niatku, untuk bertemu dengan Ia dalam garis batas mimpinya.

Aku pun menaiki perahu milik Ia. Perahu yang serasa tiada bergerak namun serasa begitu berjalan. Pelan dan lembut. Tiada pernah terdengar bunyi derum mesin. Kecuali desah napas Ia. Desah napas yang juga serasa gesekan dari angin malam yang menembus telingaku.

“Kita hanya bercakap di atas perahu, apalah nikmat ini semua?” kataku. “Bukankah lebih baik kita bercakap di rumahmu. Sambil minum kopi atau teh hangat diselingi keripik singkong, jauh lebih nikmat,” kataku melanjutkan.

Ia diam. Ia tiada bersuara. Kecuali desah napasnya. Serasa memanggilku untuk lebih mendekat. Dan aku pun semakin mendekatinya tanpa sadar. Serasa tanpa perintah dari saraf motorik tubuhku. Menjadikan aku lebih dekat dengan Ia. Kedekatan yang sepertinya memang tiada berbatas lagi. Lagi-lagi aku masih belum mendengar suaranya kembali. Kecuali tadi, sebuah ajakan untuk lekas menaiki perahunya. Ia hanya sesekali menoleh ke arahku. Selebihnya ke arah lautan lepas. Lautan yang begitu luas juga tiada berbatas dari garis antara lautan dan daratan ini. Di atas sebuah perahu yang hanya aku dan Ia.

“Aku ingin kau tahu atas semua keinginanku ini,” kata Ia dengan tiba-tiba. “Aku ingin kau menyaksikan. Bersaksi atas semua yang ingin dan mungkin akan terus aku lakukan,” kembali kata Ia melanjutkan.

Ia pun terus berkata-kata. Banyak sekali yang diucapkannya kepadaku. Saking banyaknya, tak mampu lagi untuk kuingat apa saja yang diucapkannya. Sampai akhirnya, hanya satu kuingat. Mungkin karena aku kaget.

Ya, dengan perasaan kaget bercampur tak paham ketika aku hanya menatap wajahnya yang sejak tadi. Menatap manis wajah dan suara lembut dari bibirnya dalam keremangan malam.

“Maksudmu? Apa yang kau ucapkan sejak tadi,” kataku dalam perasaan bingung. Lantas Ia kembali menoleh ke arahku.

“Aku harap kau bukan seorang peragu. Kau tahu, kan?” kata Ia.

“Hah? Maksudmu tentang malam yang selalu saja kau bicarakan tadi? Apa hubungannya. Membingungkan,” kataku.

Dan Ia kembali berkata.

“Mendekat dan semakin mendekatlah kepadaku hingga semakin tak berjarak lagi. Bukalah saku yang terkancing di dadaku ini.”

“Hah!”

“Ya, bukalah,” kata Ia dengan manis dan tegas kepadaku. Kemudian Ia menambahkan, “Tak perlu kau ragu, bukalah saku yang terkancing ini. Ada matahari pagi di dalamnya. Yang selalu menjadikan kesetiaan mentari menghangatkanmu dan semua orang, tentunya. Sebab aku telah lelah bosan dengan malam.”

Ia bosan dengan malam. Kalau begitu Ia yang selalu menjadikannya malam di daerahku, kataku dalam hati.

Masih dan selalu dalam keremangan malam. Ia hanya memberiku sebuah mentari pagi. Katanya hanya untuk hari esok. Selebihnya kembali malam. Gelap. Serupa gelap mata gelap hati gelap pikiran orang-orang di daerahku.

Gg. Manyar, Juni-Juli 2009

Sumber: Lampung Post, 23 agustus 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s