Sebab Pengrajin tak Berarti Rajin

F Moses

ANDAI ada sebuah kalimat berbunyi demikian: “Kemarin saya melihat pengrajin itu tengah membuat barang-barang kerajinan berupa boneka yang terbuat dari serat kain.” Mungkin, Anda juga akan mengatakan kira-kira demikian: “Ya, bukan hanya pengrajin boneka, melainkan pengrajin layang-layang, pengrajin topi, dan pengrajin kaus oblong.”

Mengapa pengrajin dan bukannya perajin?

Kedua kata itu acap saya temukan baik dalam situasi lisan maupun tulisan. Apakah kata perajin lebih tepat daripada pengrajin? Memang. Akan tetapi, nanti dulu. Mari kita “berkorek-ria” sejenak.

Dalam bahasa Indonesia, huruf yang diawali konsonan r tak berhak untuk memperoleh bunyi sengau apabila mendapat awalan me-N- atau pe-N-. Dengan kata lain, awalan tersebut berbentuk me- dan pe- apabila ditambahkan pada kata dasar yang diawali dengan konsonan r, misalnya untuk kata dasar racik menjadi meracik dan peracik, rangsang menjadi merangsang dan perangsang.

Untuk menyatakan pengertian mereka yang pekerjaannya membuat barang-barang kerajinan, bentuk manakah yang benar: pengrajin atau perajin? Apakah kata pengrajin, sebenarnya, dapat kita gunakan untuk mengganti kata perajin?

Dalam bahasa Indonesia, sekali lagi, awalan pe-N- menyatakan pelaku dari suatu perbuatan, peramu: orang yang meramu, pemanjat: orang yang suka panjat. Tetapi peN- , ketika dirangkaikan dengan kata sifat menyatakan “orang yang mempunyai sifat atau yang suka berbuat” misalnya pada kata pemalas: Orang yang mempunyai sifat malas, pembohong: Orang yang mempunyai sifat suka bohong.

Lantas, dalam hubungan ini, tepatkah makna perajin digantikan kata pengrajin? Bukankah semua pengrajin itu adalah perajin. Setiap pengrajin itu tak berarti rajin, ada juga yang malas. Jadi, tak semua pengrajin itu adalah perajin. Pengrajin dan perajin menyatakan makna yang berbeda. Tak dapat saling menggantikan.

Ya, (mungkin) tak dapat saling menggantikan; dari segi makna kata pengrajin tidak berhubungan dengan kata rajin, melainkan dengan kata kerajinan (tangan). Itulah yang menyebabkan bila boleh dikatakan secara maknawi serasa tak pas ketika kata pengrajin dinalarkan dengan kata rajin. Kemudian salahkah kata perajin? Tidak.

Terlalu arbiter? Apalagi itu. Bukankah bahasa tidak langsung merupakan “citraan” atas peradaban zaman itu sendiri, dari balik suara hati yang bernamakan komitmen bersama, entah zaman apa dan komitmen yang bagaimana dari milik siapa. Intinya, mengapa mesti dipertahankan apabila tak bernalar? Itu saja.

Kembali pada andai ada sebuah kalimat, berbunyi demikian: “Kemarin aku melihat pengrajin itu tak membuat kerajinan berupa boneka dari serat kain, lagi”. Rajinkah ia? Apakah layak disebut perajin?

Kembali pada makna, andai akhirnya kata pengrajin tetap dipertahankan sebab pengrajin tak berarti rajin, mungkinkah? “Ya,” jawab saya.

Sumber: Lampung Post, 27 Mei 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s