Kelompok Aneh

F. Moses

Sekilas terekam dan menjadikan tersadar saja, olehku. Dari—bila boleh aku katakan sebagai—keberagaman atau variasi dalam berkehidupan, barangkali. Beginilah keadaannya. Menjadi suatu cerita, suatu ketika.

Dari suatu perjalanan teramat melelahkan, tibalah kami di suatu negeri. Negeri berpenuh rembulan. Negeri yang tak pernah letih, dapat dikatakan begitu. Suatu negeri yang di tiap sudutnya tak lagi beraroma seperti masa lalu pernah terlalui—dari masa lalu, yang mengonflik dalam diri karena selalu beraroma asin keringat bercampur air mata.

Tentunya kami bersuka. Seolah bernapas baru dari keengapan waktu itu. Menjadikan kami lebih mudah bergandengan tangan serta saling berpelukan. Semua atas nama kebersamaan serasa menjadikan kami teramat berarti. Berpenuh kasih. Atas nama kebersamaan. Hmm.

Di manakah kita ini? Seperti mimpi dan seperti tak habis pikir, begitulah kata selalu terucap bagi semua pendatang dari pelbagai penjuru di belahan daratan oleh anak-anak sampai tua-tua. Semua merasakan seolah seperti mimpi. Maklumlah, betapa perjalanan teramat melelahkan serasa begitu terlepas ketika keinginan tercapai. Terlepas dari perjalanan yang acap berlintas karena terjalnya daratan, tingginya bukit-bukit dan ganasnya lautan pada waktu itu. Belum lagi,  dihadapkan oleh kesengitan dalam hati kami ketika seolah mesti berlapang dada menerima keserakahan pemimpin negeri waktu itu. Dalam ketersisaan pikiran kami.

Itulah hal paling terberat selama perjalanan kami. Kini, semuanya seolah terbebas sudah. Menjadi lebih berpengharapan.

“Apakah kau masih ingat, Nak? Dulu, saat kita di negeri itu, selalu berlarian tunggang-langgang manakala rumah kita diserbu oleh para jagoan pecundang dari makhluk itu untuk diratakan. Mereka menghancurkan segalanya tanpa rasa belas kasih,” kata lelaki separo baya. Aku lupa dan hampir tak tahu lagi tepatnya kapan ia berkata demikian.

Sekarang, aku tak bertempat tinggal di negeri penuh rembulan. Betapa mulai merindunya aku mulai hari ini untuk kembali ke sana.

***

Sejak bertempat tinggal dekat laut ini, aku semakin merindukan  negeri penuh rembulan yang pernah aku singgahi. Aku ingin kembali ke negeri itu. Melepas segala onak. Melepas segala pernah maupun sedang terbebani sejak hari ini. Terlebih, aku begitu merindukan kekasihku di negeri yang selalu penuh rembulan itu. Sebuah negeri yang, ya, aku rasa begitu sangat sulit bagiku untuk mendeskripsikannya—sehubung betapa iri oleh kehidupan negeri itu. Negeri penuh rembulan. Negeri berpengharapan. Negeri kejujuran. Dan sebagainya. Hmm.

Meski demikian, peristiwa seolah sudah menjadi daging. Seperti tertakdirkan menjalani hidup di dekat laut. Laut berbatasan dengan daratan. Laut berbatasan dengan perbukitan. Ironisnya, laut begitu sangat berbatasan dengan sekolompok makhluk berekor. Ya, mereka memiliki ekor seperti binatang. Entah kenapa pula, di kedua sisi kepala mereka juga bertanduk. Tetapi, mereka bukanlah binatang sungguhan. Dan mereka juga bukanlah manusia, tentunya. Betapa sulit dimengerti. Betapa cukup membingungkan. Adakah kebingunganmu sama denganku?

Tentang semua itu, seperti tidak masuk akal. Tetapi demikianlah adanya. Demikianlah kenyataannya. Kenyataan yang benar-benar di luar batas nalar; sehubung mereka berkehidupan di daratan. Daratan yang seperti menjadi satu dengan lautan namun begitu terpisah. Seperti menyatu padahal tidak sama sekali. Seperti melekat padahal tidak menempel sama sekali.

Sekali lagi, walaupun demikian, tiada salah bagiku. Aku menikmatinya. Hal terpenting, barangkali, semata karena aku memang penyuka laut. Aku begitu menyukai suara angin dari arah laut lepas ke pepohonan kelapa yang kembali dipantulkannya ke arah telingaku. Aku begitu menyukai mengilatnya terumbu karang oleh matahari saat menembus batas permukaannya lewat celah air yang kebiru-biruan. Aku begitu menggemari berlarian seorang diri tanpa alas kaki di atas pasir yang begitu putih mengilat. Ya, aku berlari dan berlari—kemudian kembali berlari ke arah tempatku memulai berlari sambil mengikuti bekas telapak kakiku sendiri yang seolah bagiku adalah telapak kekasihku. Begitu seterusnya.

Ya, seperti aku katakan: aku hanya berlari dan berlari. Acap berlari sambil mengikuti bekas telapak kakiku sendiri yang seolah bagiku adalah telapak kekasihku. Berangan untuk segera berlari dari negeri makhluk berekor di sini.

Tentang negeri makhluk berekor di sini, o ya, betapa ketakutan dan menakutkan. Saban seolah berpesiar oleh ketakutan. Namun apalah mesti tertakutkan? Sementara laut dengan segala keadaannya di saat pagi, siang, petang, maupun malam—sampai pagi berikutnya, selalu berjaga. Laut berjaga  lewat debur ombak yang saling balap di tiap saat maupun waktu hingga menembus zaman. Laut berjaga lewat kuat maupun rapuhnya gerak ikan di antara terumbu karang di dalamnya. Laut berjaga lewat  keindahan senja di lepas petang. Dan laut, selalu berjaga karena angin yang memang tak pernah berhenti dari arah laut lepas untuk diantarkannya selalu menembus malam. Menembus kenyataan di senyata-nyatanya kehidupan. Kehidupan di bibir laut dan pulaunya, daratan. Bila boleh terkatakan, maupun harus mengatakan, untungnya ada laut. Bersebelahan oleh laut.

***

Kembali dalam kenyataan, aku masih di bibir laut ini. Sampai akhirnya, suatu ketika aku mendengar ada sebuah kelompok para mahkluk berekor. Mereka tak jauh dari bibir laut ini. Tepatnya daratan adalah keberadaan mereka. Daratan yang begitu mereka manfaatkan sebagai ajang berpesta serakah.

Tentang makhluk berekor dan bertanduk, mereka sangatlah menakutkan. Betapa tidak, karena ironisnya, kehidupan mereka berbaur dengan para manusia pada umumnya. Jadi sangat sulit untuk membedakannya. Paling mudah mengingatnya adalah bahwa mereka merupakan sebuah kelompok. Semacam kelompok yang terdiri dari bagian sesama anggota, ya, dapat dikatakan mereka adalah satu bagian sebagai satu darah. Atas nama satu darah itulah mereka mengelompok. Entah satu darah mana dan berasal dari darah yang mana. Entah apakah darah manusia atau binatang. Entah darah berwarna merah, kuning, hijau, atau lainnya. Dan entah berasal dari dunia atau luar dunia? Aku tidak tahu. Sekali lagi, tindak-tanduk mereka sangatlah jauh berbeda dengan manusia di muka daratan itu ada.

***

Sampai hari dan detik ini yang masih begitu ternikmati, atau dapat dikatakan untungnya, aku masih di dekat laut ini. Ternikmati oleh debur maupun nyiur, serta angin  dari arah laut  lepasnya yang seolah bagiku acap membawa wewangian maupun kabar tentang negeri penuh rembulan, di tengah kehidupanku bersama para makhluk berekor di sini—yang sekali lagi, karena begitu sulit membedakannya sehubung berbaur dengan para manusia pada umumnya. Terlebih dari yang paling ternikmati adalah kabar tentang kekasihku. Bagaimana kabarmu di sana?

Dan sampai  hari maupun detik ini, para makhluk berekor memang semakin menjadi. Dari tindak tanduk mereka yang selalu berusaha memirip-miripkan tingkah dan pola manusia pada umumnya, mereka seringkali berbuat sesuka hati.

“Kau harus lebih hati-hati. Mereka itu selalu menyelamatkan kelompoknya saja. Mereka serakah dari yang paling serakah dan rakus dari yang paling rakus. Perjuangan mereka menghalalkan segala cara. Dan parahnya, barngkali supaya tindak tanduk mereka tak terlihat, mereka selalu setia berucap, ‘atas nama kebersamaan kita,’ cuih, menggelikan sekali mereka. Acap bernepotisme. Acap membunuh tiap pergerakan sikap tulus dari yang, ya, dapat dikatakan karena bukan hubungan dekat.” Kata orang di dekat tempatku tinggal. Aku sudah tak ingat lagi kapan tepatnya ia pernah mengatakan itu.

Betapa semakin mengerikan saja hidup di sini. Padahal sudah di dekat laut. Tapi apa dapat dipungkir. Sementara laut dapat saja teracuni sehubung berbatasan dengan daratan. Daratan ironis. Daratan yang acap bertempat-tinggalkannya para makhluk berekor.

Tidak hanya lelaki paro baya dan orang itu saja yang pernah mengatakan tentang para makhluk berekor yang semakin menjadi dan ganas. Karena setiap hari dalam paro waktu kehidupanku di sini adalah kenyataan itu sendiri. Kenyataan yang begitu sudah sangat lama.

Betapa kini aku merindukan pulang, dari indahnya laut kebiru-biruan dengan arah laut lepasnya yang senantiasa selalu ajak berharap, oleh perahu dari tubuhku sendiri.

Aku merindukan makam Ayah yang berselimut rerumputan hijau di suatu tempat bertanah merah, di antaranya. Aku merindukan bertemu kembali para makhluk yang tak lagi angkuh dan kotor. Terlebih kekasih dan anak yang masih di dalam rahimnya, merindu.

Semua itu hanya di suatu tempat. Tempat yang senantiasa tak hentinya berpenuh rembulan. Negeri berpenuh kasih. Negeri tanpa kekerasan oleh para makhluk berekor yang kejam, serakah, dan berhobi nepotisme.

Sekilas, kembali terekam dan menjadikanku tersadar: para makhluk itu mau jadi kepala di sebuah instansi.

Jakarta-Lampung Telukbetung, November 2008

Sumber: Batam Pos Minggu, 1 Febuari 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s