Imajinasi Lebih

F. Moses

MEMBACA cerpen Yoga, ”Cinta, jangan kau pergi…”, pembaca seperti berkunjung dalam dunia remaja. Permasalahan cinta dalam ruang realitas remaja begitu terasa. Seolah—dan memang—cintalah yang menggiring penulis untuk menjadikannya cerita. Tidak masalah, para cerpenis lainnya (mungkin) lewat beberapa karyanya juga kerap tidak lepas dari masalah cinta. Tinggal bagaimana sudut pandang pengarang mengakomodasikan cinta ke dalam ruang penceritaan. Dalam cerpen ini, Yoga cukup berhasil mengolah permasalahan cinta menjadi cerpen lewat daya abstraksi yang cukup memukau.

Cerpen Yoga menceritakan Arma sebagai cowok idaman di sekolah. Arma yang kerap membuat hati cewek terpikat padanya—banyak cewek ingin memikat hatinya, termasuk tokoh aku, Anda. Anda menyukai Arma secara diam-diam, tapi sering kecewa ketika melihat pujaannya, Arma, kerap dekat dengan cewek-cewek di sekolah. Suatu saat, Anda mengatur waktu pertemuannya dengan Arma. Semula dalam bayangannya berhasil, tapi gagal. Kegagalan yang diakibatkan oleh kematian Arma, penyesalan bagi Anda.
Pada awal penceritaan, Yoga cukup baik dalam penegasan arah metafor, yaitu pada ”Seperti habis dikagetkan oleh malaikat pencabut nyawa yang akan membawanya ke neraka” yang seolah menyarankan betapa Arma kaget atau tersentak hingga termenung dengan wajah pucat. Di tambah lagi, pembaca (paling tidak) semakin bisa merasakan arah metafor yang Yoga suguhkan lewat sosok malaikat pencabut nyawa. Bahkan sampai ke neraka.
Selain itu, ada lagi potongan-potongan kalimat berupa penegasan metafor pada ”tetes air hujan sudah tak terhitung” yang menyarankan pada betapa lamanya Arma beranjak dari tempat berdirinya, ”seakan kakinya dibanduli 1.000 ton baja yang tak kuasa ia pindahkan” yang menyarankan pada tak kuasanya Anda melangkahkan kakinya menuju Arma, ”terasa disilet-silet lalu ditaburi dengan garam” menyarankan pada sakitnya hati Anda, “jantungnya berdebar-debar seperti Paskibra yang akan mengibarkan bendera sang Merah Putih” yang menyaran pada kerisauan Anda memikirkan Arma—dapat dikatakan—sebagai penguatan bentuk imajinasi terhadap cerita yang ingin disampaikan. Ada citraan lebih yang ditampilkan Yoga untuk pembaca. Jadinya lebih bertenaga.
Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah keefektifan penggunaan kalimat. Karena, cukup disayangkan ketika bagusnya penceritaan menjadi (terkesan) berlebihan/ aneh oleh kalimat-kalimat—yang mungkin—maksudnya agar lebih puitis, tapi malah membuat cerita jadi kehilangan arah estetikanya, seperti dalam ”serasa gempa bumi, badai, tsunami, gunung meletus, dan guntur melanda Anda dan Mela secara bersamaan” terasa berlebihan. Tidak salah, itu adalah imajinasi Yoga sebagai pengarang. Sah-sah saja dengan imajinasi. Bebas. Tapi, imajinasi bukan sekadar khayal lalu ditumpang-tindihkan begitu saja. Tiap kata (terlebih agar lebih puitis) punya rasa kata. Alangkah arifnya, jika Yoga pilih salah satu saja. Konstruksi kata pun akan lebih terbidik arahnya. Gempa bumi (tentunya) berbeda dengan badai, tsunami, gunung meletus, apalagi guntur. Mana yang dipilih?
Selain itu, masalah lompatan pemeristiwaan—sebelum maupun sesudah—pada ”Belum sempat langkah Anda terjulur, tiba-tiba Arma jatuh tak sadarkan diri. Anda berlari sambil meneteskan air mata yang bercampur dengan hujan. Anda mengangkat kepala Arma, dan ia melihat suntikan masih menancap kuat di tangan kirinya. Anda baru menyadari kalau Arma sedang meregang nyawa karena suntikan itu” cukup membuka ruang imajinasi Yoga untuk memaksimalkan rasa ingin tahu (suspense) pada pembaca. Yoga bisa berimajinasi tentang ragam masalah yang menjadikan “kenapa” Arma berbuat senekat itu, misalnya. Selain itu, akan memberi kesan alur lebih rapi dan padat. Alur yang rapi akan membuat jalannya cerita semakin terkontrol, dan padatnya alur akan membuat jalannya cerita lebih bertenaga.
Sekali lagi, permasalahan cinta dalam penceritaan—Yoga sebagai pengarang—telah dijadikan cerita. Hanya saja, Yoga (rasa-rasanya) tidak perlu lagi mengorbankan bagusnya penceritaan dengan permasalahan (yang semata-mata) tidak perlu. Alhasil, pembaca semakin bisa menikmati jalannya cerita. Pilihan untuk Yoga, ingin karya anda bisa dinikmati pembaca atau sebaliknya. Paling tidak, Yoga sudah cukup berani memberi tampilan lebih pada imajinasi dalam cerita. Ada sebuah energi abstraksi baru lewat citraan-citraan sebagai pendukung. Selamat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s