Curhat Lewat Cerpen

F. Moses

Bayangkan jika anda bercerita atau curhat (curahan Hati) pada teman anda. Pastinya teman anda serius mendengarkan—terlebih jika curhat itu ikut menenggelamkan perasaan lawan bicara anda yang (mungkin) menjadikannya geram, tertawa, sedih ataupun senang, dan seterusnya. Tetapi, bagaimana jika sebaliknya? tentu hanya membuat waktu teman anda jadi terbuang.

Seperti halnya cerpen, salah satu bagian dari genre karya sastra—cukup di baca sekali duduk (meminjam istilah dari Edgar Allan Poe)—kurang lebih dapat di ibaratkan sebagai curhat¬an dari pengarang untuk pembacanya. Entah itu dari permasalahan keseharian maupun lainnya. Sedapat mungkin pengarang ingin mengajak pembaca ikut merasakan kehadiran suatu permasalahan. Lantas, bagaimana jika kehadiran permasalahan dari pengarang lewat cerpennya tidak greget? bisa-bisa membosankan pembaca.
Membaca cerpen Aku Ingin di Sisimu, Ayah!,secara implisit (mungkin) permasalahan sederhana begitu terasa, rasa yang tersirat seperti (layaknya) curhatan Nurul pada pembacanya. Sehingga secara tematik bisa ditafsirkan sebagai krisis perhatian seorang anak dari ayahnya. Dari permasalahan biasa Nurul olah menjadi (dapat dikatakan) luar biasa. Dan memang itulah tugas pengarang, selain permasalahan intrinsik di dalamnya.
Dari cerpen yang dapat dikategorikan realis itu—menceritakan tokoh aku bernama Aldy—dalam hidupnya semakin merasakan kesenjangan komunikasi (perhatian) dari ayahnya. Terlebih menjelang ulang tahun, ayah hanya disibukan oleh pekerjaan yang seolah tidak mau tahu bahwa esok hari adalah ulang tahun anaknya.
Usaha Aldy yang setiap waktu mengajak komunikasi juga tampaknya sia-sia dalam harapan, ayah tetap saja tidak menanggapi. Sesudahnya, Aldy hanya bisa meratap foto almarhum ibunya sembari berkomunikasi lewat hati. Dan rasanya, hanya padanya Aldy bisa komunikasi. Selebihnya, Aldy hidup dalam kepasrahan.
Seperti dikatakan di atas, Nurul (dapat dikatakan) handal karena kemampuannya mengolah imajinasi pemikiran sampai menjadikannya gambaran peristiwa: ayah yang tidak peduli pada anaknya. Sekali lagi, itulah kehebatan Nurul sebagai pengarang—mengemudikan pembaca lewat keragaman lintasan penceritaan.
Tetapi, Nurul (alangkah baiknya) mengatur rasa kata penceritaan supaya (paling tidak) tidak membosankan komposisi kalimat dalam paragraf—Anda yang mengatur rasa tersebut: ketika pengenalan, timbul konflik, konflik, klimaks, dan sampai pada pengakhiran. Dalam pengenalan, Nurul cukup sibuk mengulas malam di awal penceritaan: “Malam kian larut, aku belum terjaga.Terlihat, tirai berwarna coklat muda bergoyang pelan. Di hempas kelembutan angin malam…Kemudian paragraf berikutnya: “Ehm..angin malam menyapa tubuhku. Bukannya aku mecepat menutup jendela tapi aku makin membukanya. Tiba-tiba aku ingin menikmati malam. Apa yang aku nikmati. Malam begitu kelam. Jangankan sang dewi malam. Bintang-bintang pun enggan untuk berkedip. Tetapi, tak terasa sudah satu jam aku ditemani kelembutan dan kesunyian angin malam. Aku telah larut dalam kelamnya malam”.
Dari dua potongan paragraf di atas, Nurul (terasa) begitu “boros” dengan kata malam. Bahkan, pembaca yang jeli juga akan semakin kurang mengerti maksud Nurul. Jadi, akibatnya hanya menimbulkan kelucuan dan kekacauan. Maksud Nurul ingin kalimat lebih puitis—tapi justru rumusan makna kalimat yang dihasilkan menjadi tidak jelas. Tidak salah memang, jika penulis cerpen memainkan gaya puitisnya dalam kalimat (agar lebih estetik), tetapi tidak serta merta juga mengorbankan makna kan? Kemudian di antara kalimat Nurul (mencoba puitis) itu—pembaca juga akan tahu bahwa di antara suasana malam itu pastinya sunyi dan kelam.
Kemudian saat (dirasa) mulainya timbul konflik dalam penceritaan. Nurul harus hati-hati memainkan karakter tokoh bawahan mbok Lina yang seharusnya hadir kejelasan ekspresi: “Mbok! Ayah ingat hari ulang tahunku tidak ya?” tanyaku manja. Mbok hanya tersenyum tak bermakna. Semestinya, Nurul (paling tidak) dapat menggiring pembaca pada emosi tertentu (karena terlanjur timbulkan konflik dalam cerita) supaya lebih proporsional. Bisa saja dengan gambaran senyum si mbok yang kecut, cuek, dan sebagainya. Karena senyum tetaplah menyisakan makna. Lalu Nurul kembali mengulangi pemborosan citraan: “Aku pun menunggu Ayah di teras depan ditemani kesunyian dan kelembutan angin malam”. Andai saja Nurul lebih memainkan imajinasinya, bisa saja citraan (yang tidak itu-itu saja) menggambarkan psikologis tokoh aku lebih jelas dan kuat, syukur citraan jadi lebih akurat.
Selain itu, Nurul sebagai pengarang juga harus lebih cermat. Kehadiran Tokoh utama dan tokoh bawahan Nurul yang kendalikan—maka logis atau tidaknya penceritaan di pemikiran pengarang, seperti penggalan paragraf (konflik): “Akupun melangkah pergi menuju kamarku. Sempat aku berkata, “Ayah memang yang terbaik!” kemudian berlanjut: “Aku benar-benar telah meninggalkan ayahku. Tak ada kata yang dikeluarkan ayah untuk mencegahku pergi”.
Dari dua potongan paragraf di atas, (mungkin) bisa dirasakan banyak tafsir. Pembaca jeli akan mencari dari (sudut pandang) manakah asal konflik—di rasa kurangnya keseimbangan antara permasalahan dan emosi dua tokoh yang Nurul ceritakan. Karena permasalahan yang menyebabkan tokoh aku untuk pergi meninggalkan ayah (rasa-rasanya) janggal dan aneh seperti permasalahan tidak searah. Paling tidak Nurul bisa lebih mengimajinasikan kembali—kekecewaan yang terjadi dari tokoh aku—sampai (seolah mungkin) pergi meninggalkan (tokoh Ayah) tak kembali lagi.
Mungkin itulah beberapa kecerobohan Nurul—pada bagian-bagian tertentu saja, dan tidak serta-merta membuat cerpen ini menjadi gagal. Sebaliknya, Nurul (paling tidak) mampu mengakomodasikan kesederhanaan peristiwa biasa (masalah keseharian hubungan anak-orang tua) menjadi cerita; seperti curhat—dalam konteks cerpen—tetap menjadi ruang kontemplasi pembacanya. Selamat dan terus berlatih!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s