27 JULI

Yudi Priadi
Ketua Komunitas Jendela Dunia DYRA

Minggu, 27 Juli adalah hari ulangtahunku. Seperti biasa, pagi ini ibu sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan spesial keluarga kami saat ulang tahun setiap anggota keluarga tiba. Nasi Kuning. Suiran ayam dan telur ditambah sambal dan kerupuk ikan menambah semarak pagi ini. Kecupan kebahagiaan aku dapatkan pagi ini dari ayah dan ibu. “Salamat Ulang tahun Dinda” Ucap mereka pagi ini. Tiada kado atau barang istimewa yang mereka berikan padaku hanya sebuah kecupan dan ucapan kasih sudah mampu meluluhkan hatiku. Membuat seolah pagi ini begitu bahagia. 27 Juli sebuah tanggal dan bulan yang berarti bagiku. Di mana di setiap tanggal dan bulan tersebutlah tujuan hidupku dirayakan. Apalagi kalau bukan kebahagiaan dari orang-orang terkasih.

27 Juli merupakan hari dan bulan yang selalu kunanti. Pagi ini setelah selesai sarapan nasi kuning buatan ibu, aku duduk di dekat telepon sambil memegang handphone menunggu telepon berdering dan pesan singkat lewat SMS masuk. Seperti biasanya teman-temanku mengucapkan selamat kepadaku, selamat karena hari ini adalah hari spesial buatku. Harapan serta doa tiada henti teriring buatku hari ini. Aku selalu tertawa mendengar celoteh mereka. Mendengar candaan jenaka mereka. Sahabat selalu menambah warna dalam hidupku. Rasanya sangat senang memiliki orang-orang yang peduli dan sayang terhadapku. Karena sahabat adalah keikhlasan, keikhlasan untuk saling berbagi, menyayangi serta perduli satu sama lain untuk lebih mewarnai bahagia dalam hidup.
Saat pagi menghilang dan siang pun beranjak. Ayah dan Ibu mengajakku untuk pergi kesebuah tempat. Backplace. Aku menamai tempat itu. Setelah memakaikan baju dengan hiasan renda-renda hitam di kedua bahunya, ibu menyisir rambutku sambil menggumamkan lagu happy birthday buatku.

“Happy birthday Dinda..” Begitu bunyinya. Aku hanya tersenyum mendengarnya, ibu pun tersenyum melihatku. Kudorong Kursi rodaku menuju ruang tamu. Ayah sedang serius memandang sebuah kertas yang tampaknya penuh dengan tulisan.
“Ayah..” Panggilku. Ayah menoleh kearahku ambil tersenyum.
“Sudah siap?” Tanyanya sambil bangkit dari duduknya. Aku hanya mengangguk. Ayah mendorong kursi rodaku menuju pekarangan rumah yang dipenuhi oleh tanaman hias ibu. Kami bertiga berangkat menuju tempat itu. Backplace. Dengan diam.
Backplace. Sebuah tempat yang sunyi. Tempat yang dipenuhi oleh gundukan-gundukan tanah dimana disetiap gundukan tersebut ditancapkan sebuah papan dengan hiasan tulisan nama dan tanggal. Pohon-pohon kamboja sebagai satu-satunya peneduh di tempat tersebut. Backplaceku adalah sebuah pemakaman yang jaraknya tidak jauh dari rumahku, di sanalah kembaranku, Nanda dikembalikan. Bahkan sebelum ia bisa merasakan kecupan kebahagiaan yang kudapatkan selama ini. Sebelum ia mendapatkan ucapan tulus serta doa dan harapan yang selalu menjadi pengiring dalam hidupku. Nanda hanya bisa merasakan sunyi dan kelamnya backplace. Aku tidak tahu, mungkin dia bahagia di sana. Di papan itu, tertulis sebuah tanggal dan bulan yang berarti bagiku. 27 Juli. Sekaligus tanggal dan bulan yang amat berarti bagi Nanda walaupun aku tak tahu bagaimana perasaannya saat dia bertemu dengan tanggal dan bulan tersebut di setiap tahunnya. Nanda. satu-satunya nama yang membuatku begitu terharu dan sedih saat 27 Juli menghampiriku.
xxxxxx
Aku dilahirkan ke dunia tidak seperti bayi normal lainnya. Kembar siam. Begitu orang-orang biasa menyebutnya. Aku dan Nanda tidak hanya berbagi tempat di rahim ibuku, tetapi kami pun berbagi jantung. Organ yang terpenting dalam tubuh manusia agar bisa terus melanjutkan hidup. Namun pada hari itu, tepatnya tanggal 27 bulan Juli dokter memvonis salah satu dari kami harus ada yang mengalah dan bertahan. Mengalah untuk meninggalkan dunia ini dan bertahan untuk terus melanjutkan hidup. Aku tahu aku adalah manusia yang paling beruntung. Manusia yang begitu banyak mendapatkan nikmat dariNya. Aku tahu aku dan Nanda adalah pemenang sehingga kami terlahir di dunia ini. Tapi pada saat kami baru merasakan segarnya udara dunia, salah satu dari kami harus ada yang mengalah untuk meninggalkan dunia dan akulah yang terpilih untuk tetap bertahan.
Aku memandang gundukan kecil tersebut. Yang selalu kulakukan setiap datang ke tempat itu adalah diam. Ayah dan ibu seperti biasa membaca surat Yasin, menaburkan kembang ke atas tanah dan tak lupa menyiramkan air dari kendi. Aku hanya diam, membayangkan jika kami ditakdirkan untuk lahir dalam kondisi normal pasti 27 Juliku lebih diwarnai dengan kebahagiaan. Huh..aku menghembuskan nafasku yang terasa berat. Manusia hanya bisa merancanakan dan Allah yang menentukan semuanya. Kata-kata itu yang selau kudengar dari ibu setiap kali terik matahari perlahan menyinari hari 27 Juliku. Satu kata yang tak pernah tertinggal saat aku beranjak untuk pulang dari backplace. “Terimakasih Nanda.” Ucapku tulus.
27 Juli 2008. Umurku kini sudah 17 tahun. Aku bahagia walaupun kondisiku tidak seperti kebanyakan orang yang bisa berjalan dengan kedua kaki mereka. Aku bahagia karena ada cinta dari ayah, ibu dan sahabat-sahabatku. Aku tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik kata ibuku dan juga pintar kata teman-temanku. Aku bahagia karena aku yang terpilih untuk menjalani hidup. Semakin bertambah usiaku semakin bertambah pula kecintaanku terhadap hidupku dan kecintaanku terhadap Sang Maha Pemilik Hidup. Walaupun aku memiliki keterbatasan bukan berarti aku lupa dan menyerah terhadap tujuanku untuk tetap terus hidup. Menjadi orang yang bermanfaat dan selalu membuat semua orang nyaman di dekatku. Itu adalah satu-satunya tujuan yang terbesar dalam hidupku. Karena dengan begitu aku bisa lebih mengerti dan memaknai arti dari kesempatan terpilihnya aku untuk tetap bertahan.
Suatu hari ayah pernah bertanya kepadaku “Kelak, apa cita-citamu nak?” Tanya ayah kepadaku.
“Aku ingin menjadi seorang pencerita kehidupan ayah.” Jawabku tegas.
“Akan kuceritakan dan kusebarkan keseluruh dunia bahwa aku begitu mencintai hidup dan kehidupanku, bahwa aku begitu bahagia diberi kesempatan untuk terpilih, bahwa hidupku adalah sebuah tujuan untuk jadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, bahwa hidupku dipenuhi oleh cinta dan kasih dari orang-orang sekitar. Dan akan kuceritakan kepada semuanya ayah bahwa aku bersyukur telah menjadi bagian dari dunia ini dan menjadi bagian dari kalian.” Ayah hanya menatapku dengan mata yang berkaca-kaca sambil berkata, “Ceritakanlah nak, karena dengan ceritamu, kamu sudah menciptakan sebuah keabadian bagi hidupmu.”

Say I Love My Life…
10 Juli 2008
04.40

Ulasan
Berkonflik Dari Ingatan

F. Moses

1
Tersebutkanlah apa yang pernah diucapkan Sapardi Djoko Damono: hendaknya suatu cerita itu mengandung “tikaian” atau konflik. Kira-kira, dari pendapat tersebut, alhasil sedapat mungkin konflik dalam penceritaan akan terbentuk dengan sendirinya. Di sinilah kelihaian maupun kejelian pengarang dipertaruhkan. Bukankah demikian? Karena, barangkali saja, betapa hambar penceritaan tanpa dihadirkan sebuah konflik. Terserah konflik apa maupun bagaimana. Maka dapat dikatakan, terkatakanlah bahwa konflik, terkadang, memang mutlak sebagai bagian dalam penceritaan. Kira-kira. Entah lewat siapa, mana, maupun apa. Serta lewat sisi mana pengarang memunculkan konflik tersebut.

Di sini, tanpa bermaksud membeberkan ataupun melegitimasi terhadap bagaimana pengarang menghadirkan sebuah konflik dalam pelbagai pencaraannya, saya, sebagai pembaca mencoba mengapresiasikakan bersekaligus memberanikan diri, dari mana konflik itu hadir dengan sendirinya. Setidaknya, saya berpendapat, kehadiran konflik—bisa dikatakan adalah bagian dari “alam bawah sadar” tanpa tersadari dari tokoh-tokoh rekaan yang dihadirkan pengarang—tidak melulu bermula lewat kontak antar tokoh. Melainkan seperti konflik batin.

2
Adalah cerpen “27 Juli” karya Yudi Priadi, saya maksud. Lewat kesederhanaan tematis, yang dapat dikatakan menyoalkan keseharian—yang barangkali saja, disekitar kita pun bertebaran pada persoalan yang sama seperti cerita yang ia hadirkan—cerpen karya Yudi mengajak pembacanya untuk melihat betapa penokohan lewat tokoh aku dalam menggiring penceritaan seperti memberi “keluwesan” tersendiri. Renyah pengungkapan. Renyah ber-ide. Akhirnya pemeristiwaan pun mengalir.

Adapun dalam cerpen tersebut, menceritakan lewat pengisahan tokoh Dinda. Dinda berulang tahun tepat di tanggal 27 Juli. Tanggal tersebut mengingatkannya pada Nanda, saudara kandung—semasa dilahirkan yang kebetulan mereka berdempetan (kembar siam)—yang harus rela menerima kematiaannya. Kematian karena operasi yang harus dilakukan oleh dokter untuk memisahkan salah satu dari mereka.

3
Yudi membuka cerpennya dengan sebuah paragraf yang menarik. Dalam teori penulisan kreatif, paragraf pertama memang harus dibuat semenarik mungkin. Istilahnya: eyes-catching. Pada paragraf tersebut, Yudi mengemas suasana latar dengan deskripsi sebuah keluarga sederhana pada sebuah rumah. Yudi mendeskripsikan ibu yang sudah sibuk di dapur tengah menyiapkan sarapan menyambut ulang tahun, seperti pada Minggu, 27 Juli adalah hari ulangtahunku. Seperti biasa, pagi ini ibu sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan spesial keluarga kami saat ulang tahun setiap anggota keluarga tiba. Nasi Kuning. Suiran ayam dan telur ditambah sambal dan kerupuk ikan menambah semarak pagi ini…

Kemudian secara sederhana namun menarik, ketika Yudi mendeskripsikan konflik. Konflik, yang menurut saya, terkatakan sebagai konflik batin dari tokoh Dinda lewat sudut pandang tokoh aku. Konflik batin tersebut, konflik yang dirasakan oleh tokoh Dinda, sebagai (yang terkadang) dari peyesalannya, keinginannya untuk berhasrat memutarbalik waktu, berangan-angan, seperti pada Aku hanya diam, membayangkan jika kami ditakdirkan untuk lahir dalam kondisi normal pasti 27 Juliku lebih diwarnai dengan kebahagiaan. Huh..aku menghembuskan nafasku yang terasa berat. Manusia hanya bisa merancanakan dan Allah yang menentukan semuanya.

4
Singkatnya, konflik merupakan hal terpenting dalam suatu jalannya penceritaan. Sekalipun konflik berihwal dari suatu ingatan. Semacam kilas-balik.

Di luar itu semua, kiranya cerpen Yudi dapat menjadi contoh buat adik-adik yang barangkali saja sudah/sedang berkreativitas lewat menulis cerpen. Bercerita. Seperti yang tertangkap pada penggalan paragraf terakhir: karena dengan bercerita, maka kamu sudah menciptakan sebuah keabadian bagi hidupmu. Salam.

Sumber: Radar Lampung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s