Restumu Berkahku

M. Agung Wansyah
Siswa SMAN 1 Gadingrejo Tanggamus

Mulai kemarin Iman tak lagi memegang bola voli, indahnya matahari sore dan tepuk tangan penonton itu harus ditinggalkannya. Perceraiannya dengan jagad lapangan sungguh menyakitkan hati Iman. Sebab, bermain kulit bundar di lapangan baginya tidak sekedar mencari keringat atau bermain-main. Melainkan juga dengan kebutuhannya untuk selalu menimba ilmu di dunia. Betapapun harus mengorbankan masa remaja atau menempuh rintangan yang jauh sekalipun.

Di kamarnya, Iman menerawang jauh. Ibu dan adiknya sudah tertidur lelap. Ia memainkan tinta pen di bukunya yang sudah menunggu pekerjaan rumah dari sekolah sejak tadi.

Ketika pak Budi dewan juri seleksi pemain bola voli se-Lampung memutuskan untuk tidak megikuti seleksi, dengan sendirinya ia harus cabut dari club ARC itu. Untunglah Pak Mulgiyanto memberikan semangat untuk selamanya tidak bersedih.

“Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda,” cetus Pak Mulgiyanto.

“Tapi, lama-lama juga rikuh sebab itu kesalahan saya,” ujar Iman. Bagi pemain voli yang sudah berlatih hingga muntah darah seperti Iman, kehidupan lapangan memang sebuah tantangan. Tantangan yang senantiasa ia taklukan. Tantangan yang membuat ia cukat trengginas, meskipun sesungguhnya tulang itu tidak memberinya nilai baik di kelas dan prestasinya di sekolah.

Jika ia bermain sebagai all round, maka orang akan mengangguk kagum di sambung dengan tepuk tangan. Orang yang hidup sehari-hari penuh ambisi, setiap ia menghadapi kehidupan khususnya di lapangan bola voli. Ia merasa sebuah pengakuan bahwa dirinya ada.

Iman seperti mencapai eksranse ala wong cilik. Jika begitu, biasanya ia lupa pada persoalan-persoalan kecil. Ia lalai bahwa ada kewajiban yang ditinggalkannya. Tapi begitu pertandingan selesai, net turun, penonton sudah pulang. Iman seperti terlempar ke alam suwung. Kesunyian menggigigit kegagalan mencengkeram dinding-dinding batinnya. Ia baru sadar bahwa dirinya bukanlah apa-apa.

Iman sendiri tak pernah mampu menjelaskan, kenapa tidak pergi ke Jakarta mewakili daerahnya? Yang pasti ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang terulang saat ia di atas kejayaan.

Ia pun membayangkan ketika mau berangkat seleksi. Ia lebih memikirkan dirinya sendiri dari pada berada di lingkungan keluarga.

“Allahu akbar, Allahu akbar.”
Tiba-tiba terdengar suara dalam yang muncul dari peti ingatannya. Ia kenal betul, itu suara Pak Supar. Pak Supar yang memanggil-manggil lewat pengeras suara mengajak seorang anak muda yang melamun sendirian untuk menunaikan kewajibannya. Anak sulung dari pasangan Ibu Mindarti dan Bapak Mulgiyanto itu tetap berdiri kebingungan sambil sesekali menengadahkan muka ke langit.

“Wah gawat nich, kok mau hujan ya!”

Remaja yang mau menginjak praremaja itu menggumam kesal, sambil memegang rambut yang agak panjang dengan gaya belah pinggir. Kaos olahraga yang kebesaran di tubuhnya, ditambah kolor hitam di atas lutut bercap sepakbola AC Milan. Anak itu kembali duduk di semen kasar depan rumah. Dilihatnya sepatu kets putih kecoklatan, dengan garis hitam di samping yang jahitannya sudah banyak lepas, diwarnai bau yang menyengat berasal dari dalam sepatu kaos kaki cokelat kumal padahal warna putih sewaktu baru. Anak itu tersenyum.

“Hai sepatu, sebentar lagi kita berangkat.”

Anak itu belum selesai bicara, matanya memandang ke atas terlihat awan hitam menyelimuti. Anak itu pun tertunduk malu kepada sepatunya.

“Ya, Allah jangan hujan sich?”

“Sudahlah Man, sebentar lagi ‘kan turun hujan, sebaiknya kamu tidak usah berangkat!” kata Ibu mencoba menasehati Iman.

Rahmat Saiman, biasanya dipanggil dengan ibunya dengan Iman yang baru beberapa hari menjadi murid SMA kelas X-2 itu tidak menghiraukannya. Iman tetap bersih keras pergi, karena ini adalah hari penting dan ini mengenai nasib Iman di masa depan.

“Ya sudah kalau kamu tetap bersikeras, Ibu sih setuju-setuju saja, tapi ingat kalau hujan jangan berangkat ya!” ujar Ibu.

“Kalau hujan deras ya, Bu!” tukas Iman.

Iman baru selesai bicara terdengar suara halilintar yang membuat Ikhsan menangis. Iman tidak mau menenangkan adiknya, ia malah masuk ke dalam rumah. Dengan hati bingung dan terpaksa Iman mengambil air wudhu. Iman kembali keluar, ia menengadahkan muka ke langit dan apa yang ia lihat ialah langit cerah berwarna biru tanpa awan hitam sedikitpun. Matahari sudah agak condong ke barat, panasnya tumpah menyinari jagad, sawah cerah kekuning-kuningan. Wajah Iman berseri-seri terkena panas matahari sore. Diambilnya sepatu putih kecokelat-cokelatan yang telah menanti sejak tadi. Iman menutup hidung, namun ia tetap memakai sepatu tersebut. Iman berlari kebelakang, masuk ke dalam barat, disambarnya kunci motor.

“Nder-Nder”.

“Ini helmnya, di pakai ya, Man.”

“STNK sudah dibawa!” ujar Ibu memperingatkan.

“Ya sudah dong, Bu,” tegas Iman acuh.

Ketika Iman hampir tancap gas, Ibu meminta tolong pada Iman agar ia mau beri makan si Salaseh, karena Ayahnya belum pulang dari kebun memanen cokelat.

Salaseh adalah nama kerbau betina milik Pak Mulgiyanto yang sudah dipelihara sejak satu tahun yang lalu. Iman menolak permintaan Ibu karena ia buru-buru. Iman juga kapok, ketika mengembala si Selaseh di kebun belakang, Selaseh marah dan berlari ke sawah tetangga. Iman pun di marah Pak Kasyo, ia harus mengejar Selaseh hingga badannya kotor berbanjir keringat dan telapak kakinya tertusuk duri. Oleh karena itulah Iman langsung tancap gas, tanpa memedulikan Ibunya.

“Tadi jam di rumah menunjukan pukul 03.45. kalau jaraknya 10 km dan kecepatan 60 km/jam apakah saya akan sampai dalam waktu 15 menit ya. Ah sepertinya itu tidak mungkin tapi aku harus sampai benar ke Wiyono tepat waktu, kalau terlambat tentulah aku tidak akan ikut seleksi,” hati kecil Iman berdebat.

Suara knalpot bodol miliknya, tidak dihiraukan. Sudah 8 km jarak ia tempuh, tibalah di kota. Kendaraan di dana lebih banyak, Iman tenang-tenang saja karena ia hampir tiga kali seminggu kesana untuk latihan bola voli di club “ARC”. Kebetulan hari itu adalah seleksi pemain bola voli untuk bertanding ke tingkat nasional di Jakarta. Iman terus menancap gas, tidak memaklai helm hanya topi hitam kebesaran di atas kepala, angin kencang membuat topinya terjatuh. Iman harus berbalik arah dan memungut topinya.

“Dasar topi jelek buang-buang waktu saja,” tukas Iman.

“Hai Man, ayo berangkat,” suara Redi mengajak Iman segera berangkat.

Iman langsung menancap gas. Iman kaget. Ia langsung memakai helm yang di letakan di bagasi. Iman takut, ia berhenti di pinggir jalan.

Tiba-tiba polisi mematikan motor Vega R yang dikendarai Iman dan mengambil kuncinya.

“Siang dek, tolong perlihatkan SIM,” kata seorang polisi ramah.

“Maaf pak saya belum punya SIM,” ujar Iman memelas.

“Kalau begitu STNK nya?

“Ya pak saya ambil di dalam jok,” saat Iman membuka jok di lihat isinya tiada apa-apa jua.

“Ya Allah dompetku ketinggalan tambahnya sambil membongkar isi bagasi.

“Pak ini ada uang 50 ribuan,” kata Iman latah.

“Tidak-tidak saya mau uang haram,” kata pak polisi.

“Emangnya untuk bapak inikan punya saya,” tegas Iman.

“Kamu menghina saya,” bentak polisi itu. Matanya merah mulutnya bergetar.

Iman di interogasi. Iman pun menjawab apa adanya dengan terbata-bata. Akhirnya di suruh pulang untuk mengambil dompet yang ada surat-surat motor di rumahnya. Iman kebingungan, memikirkam motor dan ia takut di marahi Bapak. Iman duduk di pinggir jalan, meraba-raba uang yang ia miliki.

Iman menoleh, motor Honda telah berdiri disampingnya. Pak Herma menghampiri Iman. Iman langsung pulang, menceritakan musibah yang menimpa dirinya kepada pak Herman.

Sesampai di rumah Iman langsung masuk rumah, tanpa sepengetahuan orang tuanya. Iman mengambil dompet dan ia langsung pergi.

“Kalau begitu kamu tidak ikut seleksi,” tanya Pak Herman.

“Oleh karena itu saya takut kalau saya saya terlambat. Hilanglah semua angan dan cita-citaku. Ibu dan Bapak pasti akan marah mengetahui hal ini,” ujar Iman.

“ Tapi kamu belum terlambat Man.” sergah Pak Herman sambil menarik gasnya lagi.

“ Akhirnya kita sampai juga, sudahlah kamu jangan bersedih. Paman akan mengurusnya,” kata pak Herman menenangkan hati Iman yang meledak ledak.

Sementara itu Iman ketakutan melihat banyak orang yang melanggar lalu lintas sedang di data oleh bapak polisi. Dilihatnya kertas kecil surat tilang tertera:

“ Anda sidang tanggal 26 April 2007 di Kalianda.

Iman tercengang, ketakutan kalau bapaknya tahu bisa mati di pukuli. Soalnya ini pertama ia ditangkap polisi dan langsung berhadapan dengan polisi karena kesalahannya sendiri.

Iman berdiri di pegangnya dompet coklat yang terbuka. Isinya sudah dibawa polisi untuk diselidiki termasuk kartu pelajar.

Seorang polisi keluar dari kantor mendekati Iman. Iman terdiam menunduk, ia memandang wajah beringas, tertera sebuah Nama “Paijo Sunyoto”. Tiba-tiba keluar suara kecil yang ditahan-tahan. Polisi tersebut marah membentak Iman.

Kamu ini mau di bantu malah ngelunjak, ini kuncinya bentak Pak Paijo, kumisnya bergetar, matanya merah.

Terima kasih pak,” ujar Iman ketakutan.

“ Berterima kasilah kepada Paman kamu, motor kamu di situ, jangan sampai kamu ketemu saya lagi,” tambahnya seraya ngeloyor pergi.

“ Iman pakai helmnya! Mudah-mudahan kamu berhasil,” ujar Pak Herman memberi semangat.

“ Terima kasih ! saya tidak akan mengecewakan Paman.” ujar hati Iman.

Sebelum pergi tersirat sebuah jam dinding menunjukan pukul 5 tepat. Iman berkelahi dengan perasaan gundah yang menghantui, antara terlambat dan tidak.

Padamlah semua otot-otot, otak yang cerdik, kelunturan tubuh dan api yang membara ketika Iman sampai di Wiyono tempat di adakan seleksi pemain voli untuk bertanding ke Jakarta.

Iman segara menemui dewan juri.

“ Maaf pak, saya Iman, saya mau ikut seleksi,” ujar Iman berharap.

“ Kamu tahu sekarang jam berapa?” kata Pak Budi.

“ Tahu pak ! tapi saya tadi kena tilang pak,” tukas Iman menjelaskan.

“Lebih baik kamu pulang dan berlatih, kapan-kapan ada seleksi lagi. Kami membutuhkan pemain yang disiplin. Kami berharap adik bisa mengerti,” serga Pak Budi.

Perkataan pak Budi itu memojokannya. Iman membalikan tubuh sambil menatap hampa ke lapangan yang tiada penghuni memandang semua itu dari kejauhan, hanya net dengan Bau Tai Cina mengantung di Dua tiang.

Darah segar itu di rasakan keluar dari mulutnya, saat ia pertama berlatih.

Matanya, tanpa sadar, basah. Ia rasakan kepedihan yang tak mampu di tahannya, itu hanya kenangan yang tidak bisa di lupakan.

Darah segar di atas kelalaian. Kelalaian hal-hal kecil yang tidak dicamkan.
Ulasan


Membaca Tokoh

Oleh F. Moses

Membaca cerpen Agung, “Restumu Berkahku”, saya jadi teringat pada filsuf Perancis, Rene Descartes, 1596-1650, aku berpikir maka aku ada. Ya. Barangkali itulah energi “eksistensi atau keberadaan” dalam kehidupan: di dunia nyata ataupun rekaan. Di sini, aroma eksistensi kehidupan dunia rekaan, lewat karakter tokoh, seolah dihadirkan oleh M. Agung Wansyah.

Cerpen ini menceritakan keeksistensian yang diperjuangkan lewat tokoh Iman. Seluruh hidupnya (seolah) telah “dikiblatkan” pada olah raga kegemarannya, bola voli. Pernyataan sikap eksistensi terejawantah dari tokoh Iman yang sepenuhnya—bahkan separuh waktu hidupnya—untuk olah raga bola voli. Kemudian, perjuangan tokoh Iman demi eksistensinya terhadap olah raga tersebut, sekalipun pernah muntah darah ia tetap berjuang.

Sebagai penulis muda, setidaknya Agung telah berani bersikap dan percaya diri. Hal itu terlihat lewat sebagian olahan perwatakan tokoh Iman, pada “Bagi pemain voli yang sudah berlatih hingga muntah darah seperti Iman, kehidupan lapangan memang sebuah tantangan. Tantangan yang membuat ia cekat trengginas.” Ya. Kehadiran eksistensi lewat tokoh cukup terasa.

Dalam hal lain, eksistensi tokoh Iman, dalam kegigihannya bersikeras mengikuti seleksi olah raga bola voli, terlihat pada, “Ya sudah kalau kamu tetap bersikeras, Ibu sih setuju-setuju saja, tapi ingat kalau hujan jangan berangkat ya!” dan pendeskripsiaannya pada, “Orang yang hidup sehari-hari penuh ambisi, setiap ia menghadapi kehidupan khususnya di lapangan bola voli. Ia merasa sebuah pengakuan bahwa dirinya ada.”

Setiap pengarang, tentunya, ide awal dalam menulis adalah hal paling utama. Setelah ide di dapat, imajinasi lewat “banyolan” rekaan-rekaan pun berkeliaran. Nah, tinggal sejauh mana pengarang mampu menangkap keliaran itu. Kemudian, sampai sebatas mana kepekaan: pendengaran, penglihatan, perabaan pengarang dalam menyikapi kehidupan. Selanjutnya, tinggal konstruksinya dalam membangun beberapa aspek: alur, tokoh, latar, tema dan sudut pandang (point of view) ke dalam cerita.

Di sini, Agung (dapat dikatakan) telah cukup berani pula memainkan alur, tokoh yang mencakup tokoh utama dan bawahan, latar—kebetulan, di sini, sebagai pelajar Lampung, Agung cukup berani memainkan warna lokal (di sini: Lampung)—cukup jelas, yaitu pada, “Ketika Pak Budi dewan juri seleksi pemain bola voli se-Lampung memutuskan untuk tidak mengikuti seleksi…” dan “Anda sidang tanggal 26 April 2007 di Kalianda.” Kemudian tema, dan sudut pandang yang berujung ke sebuah keeksistensian. Eksistensi tokoh Iman.

Hanya saja, Agung, dalam cerpen “Restumu Berkahku”, masih terlihat jelas keminiman referensi yang membantu cakrawala pemikirannya. Karena Agung masih pelajar? Satu hal perlu diingat, kematangan penulis tidak terletak pada status, terlebih usia. Terpenting, sejauh mana kerja keras penulis untuk selalu belajar dan belajar. Terlebih berani “membuka diri” dengan banyak membaca karya tiap penulis.

Tentang cakrawala di atas, seharusnya Agung lebih berani menuangkan imajinasi. Padahal, di sini, Agung (rasa-rasanya) sudah cukup banyak memainkan tokoh bawahan. Lantas, apakah semakin banyak tokoh semakin baik? Bisa ya dan bisa tidak. Karena kekeliruan mengorganisir tokoh pada fungsinya dapat membuat cerita menjadi hambar. Pilihan. Toh, sebagai penulis karya fiksi, kebebasan berimajinasi adalah hak yang tanpa batas.

Dari beberapa tokoh bawahan dalam cerpen Agung, di antaranya, adalah tokoh Pak Supar, yaitu pada, “Tiba-tiba terdengar suara dalam yang muncul dari peti ingatannya. Ia kenal betul, itu suara Pak Supar. Pak Supar yang memanggil-manggil lewat pengeras suara mengajak seorang anak muda yang melamun sendirian untuk menunaikan kewajibannya. Anak sulung dari pasangan Ibu Mindarti dan Bapak Mulgiyanto, itu tetap berdiri kebingungan sambil sesekali menengadahkan muka ke langit” seharusnya dapat Agung maksimalkan lewat imajinasi. Memang tidaklah salah—dari dialog tersebut—tetapi, cukup disayangkan karena penceritaan menjadi terkesan tidak efektif. Padahal, cukup banyak ruang dari “Tiba-tiba terdengar suara dalam yang muncul dari peti ingatannya…” untuk Agung kelola menjadi imaji yang memukau. Agung dapat berimajinasi tentang jenis-jenis suara sebagai penghantar ingatannya, kemudian lamunan yang membawa suasana tertentu dalam kegigihan untuk menunaikan kewajibannya, misalnya.

Kemudian satu hal perlu diingat, Agung menulis cerpen tidak lewat bahasa lisan, melainkan tulisan. Sebaiknya, Agung kembali untuk belajar. Dalam hal ini adalah bahasa Indonesia. Pembelajaran konstruksi kalimat maupun tata bahasa adalah mutlak. Di sini, dapat dikatakan, cerpen Agung nyaris “dikalahkan” oleh tata bahasa Indonesia yang kurang baik. Sayang sekali. Tanpa disadari, Agung digelayuti oleh permasalahan tanda baca. Kefatalan tersebut dilakukan pada, “Ya, Allah jangan hujan sich?” kemudian pada, “ Kalau begitu kamu tidak ikut seleksi,” tanya pak Herman. Dari permasalahan tersebut, Agung dapat dikatakan sangatlah perlu untuk memahami tanda baca dalam bahasa Indonesia.

Itu adalah beberapa kecerobohan Agung. Utamanya adalah kecerobohan mengorganisir tokoh dan penggunaan bahasa Indonesia yang kurang baik dan benar. Karena betapa ironisnya penulis—sekalipun handal berimajinasi—tapi tidak baik dalam konstruksi kalimat. Walaupun demikian, selamat. Paling tidak, Agung telah berani bereksistensi lewat tokoh. Tabik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s