Maafkan Aku Icaku Sayang

Cerpen Oleh Euis Kurniasih
SMA Negeri 2 Bandar Lampung
XII A 2

Jleger!!
Suara petir jleger menggelegar sontak menghamburkan lamunanku. Gerimis kecil di luar seakan turut berbelasungkawa atas kesedihanku saat ini. Kesedihan yang teramat pedih, yang membawaku pada penyesalan tak berujung karena kesalahanku. Hingga kapan aku akan terlepas dari belenggu rasa bersalah ini? Entahlah…

Kusapu air mata yang deras membanjiri pipiku. Aku hanya berusaha tak terlihat rapuh di mata semua orang, meski begitulah sesungguhnya diriku. Lantas kusembunyikan foto seorang wanita cantik berkacamata yang sejak tadi kupegang erat. Aku selalu tak kuasa menahan air mata tiap kali melihatnya. Dan tak butuh waktu lama untuk memutar kembali semua kenangan bersama Ica, wanita dalam foto itu. Sambil aku berkhayal, akankah semuanya terulang kembali. Yah, walaupun itu sebuah kemustahilan. Aku terus memandang mendungnya langit di balik jendela kamarku.

* * *
Fiuh..
Akhirnya UAN selesai juga. Tadi pelajaran fisika, mata pelajaran tersulit yang pernah kutemui. Meski sebenarnya semua pelajaran kerap kali membuatku tercengang. Aku ingin mengetahui komentar Ica mengenai pelajaran tadi. Tapi pasti Ica lancar-lancar saja mengerjakan soal-soal itu. Dia kan pintar.

Oya. Aku baru ingat bahwa aku ada janji dengan Ica akan membeli kado sore ini untuk perpisahan nanti malam. Bergegas kuraih ranselku di atas meja, lantas menuju kelas Ica. Kulihat temanku sejak kelas X itu sedang sibuk berbincang dengan seseoreng. Pria.
Tas ROXY coklat itu…
Itu kan tas…

“Reni ?? Sini masuk !” Ica memanggilku, dan pria itu menoleh.
Benar saja dugaanku. Itu Andi, mantan pacarku yang masih aku sayangi. Mantan pacar yang belum dapat kulupakan. Dan sekarang, apa yang sedang dilakukan Ica bersama Andi? pasti lebih dari membahas soal fisika. Tatapan mata Andi sungguh mengisyaratkan perasaan lebih dari teman kepada Ica. Bahkan, Andi sama sekali tak menggubris keberadaanku. Ia terus memandangi Ica kagum.

Aku segera berlalu dari situ. Aku tak sanggup menyaksikan adegan mereka selanjutnya, yang mungkin akan membuatku sakit hati. Lantas aku makin mempercepat langkahku. Tak kupedulikan Ica yang sejak tadi memanggil-manggilku. Bukankah ia tahu bagaimana perasaanku terhadap Andi? Tapi sekarang, apa yang ia lakukan?

Aku memang tak sepintar Ica, juga tak menyamai kecantikannya. Tapi, apakah karena itu aku tak pantas menyayangi seseorang, atau memiliki orang yang kusayang?

* * *

Kring…
Dengan malas kuangkat gagang telepon. Sisa mata sembap masih menghiasi wajahku, bekas menangis beberapa jam tadi.

“Halo…”
“Halo, Reni ya? Reni, tadi kamu kenapa?” suara lemah lembut di sana, aku tahu pasti Ica. Aku baru berniat menutup teleponnya ketika Ica berbicara lagi, “Jangan diputus ya Ren teleponnya”, dengan nada memohon. Aku memang selalu tak tega jika ada orang yang berbicara padaku dengan nada seperti itu kepadaku.

“Mau apa sih?” tanyaku sedikit sewot.
“Aku mau minta maaf soal tadi siang. Andi hanya minta dijelaskan soal fisika…” Ica mulai menjelaskan.
“Sudahlah Ca. Tak ada yang patut disalahkan, juga tidak ada yang perlu dipermasalahkan.”
“Aku tahu, kamu pasti cemburu. Reni, aku tak ingin kamu membenciku. Persahabatan kita jauh lebih berharga dari itu semua…”

Aku diam. Ragu. Haruskah aku mempercayai kata-katanya yang menurutku amat menjijikkan itu?

“Terus, kita jadi beli kado?” lanjutnya tanpa beban. Aku tertohok. Berani-beraninya dia berkata begitu saat aku sedang membencinya?!
Aku mendengus, “Aku diantar Kak Mira nanti”, jawabku malas.
“Oh, ya sudah. Kalau begitu sampai ketemu di Pesta Perpisahan nanti malam”, tutupnya disertai nada pemutusan sambungan. Dia benar-benar bicara santai tanpa rasa sesal sedikitpun. Akupun membanting gagang telepon kesal.

* * *

Panasnya Kota Bandar Lampung sore itu terasa sekali tatkala aku berbonceng dengan Kak Mira. Segera kutancap gas agar cepat sampai di pusat perbelanjaan yang kami tuju. Bahkan saat melewati kerumunan orang di jalan Kartini, aku tak menggubrisnya.
“Ren, ada apaan tuh?” Tanya Kak Mira heran di belakangku sambil terus memperhatikan kerumunan orang. “Ada kecelakaan Ren!” Kak Mira makin berseru. Memang sepintas terlihat olehku ada polisi yang sibuk di sana. Namun tetap kupacu makin cepat motor yang kami kendarai. Toh, sudah ramai orang yang menolong, pikirku.

* * *

Pukul tujuh malam.
Aku sudah siap dengan kostum strawberry shortcake-ku untuk ke acara perpisahan. Tema lucu kali ini telah kupersiapkan dari jauh-jauh hari. Kado untuk bertukar dengan teman-teman pun telah sedia. Namun seperti ada yang kurang.

“Lho Ren, kamu bilang akan pergi bareng Ica? Opo ndak ditelepon dulu?” Mama tiba-tiba saja mengagetkanku.
Ya Tuhan! Aku lupa bahwa aku telah berjanji akan pergi bersama Ica. Tapi kejadian tadi siang membuatku malas mengajaknya.
Telepon tidak ya? Telah kuangkat gagang telepon, namun kurungkan lagi niatku menelepon Ica. Ah, pasti Ica kan meneleponku lebih dulu jika inging pergi bersama. Mungkin saja ia telah pergi bersama Andi malam ini. Hatiku miris lagi teringat kejadian tadi siang.

Akupun lekas pergi diiringi wejangan Mama yang khas. Dalam hati aku masih menyesalkan kejadian tadi siang. Namun entah kenapa, aku masih belum bisa memaafkan Ica. Meskipun jelas, Andi menyukainya, bukan kesalahannya. Bahkan konon itu terjadi jauh sebelum Reni menyukai Andi.

Sudahlah, aku tak ingin mengingatnya lagi. Aku sudah sangat cukup sakit hati berulang kali akhir-akhir ini. Dan semua itu karena persoalan yang sama. Aku jenuh dengan semuanya, hingga emosiku meletus tadi siang.

* * *

Sepanjang jalan perasaanku tak enak. Aku tak mengerti kenapa tadi aku begitu gelisah. Bahkan, aku hampir menabrak kucing dan kendaraan lain di jalan. Humpfh… semoga tidak sedang terjadi apa-apa.

Setelah kuparkir mobilku, kulihat Ica melambai ke arahku dari kejauhan. Sepertinya ia menungguku di tempat yang agak sepi itu. Atau mungkin saja ia malah sedang menunggu Andi. Tanpa kupedulikan, aku terus berjalan ke tempat pesta. Aku sedang malas berbicara dengannya.

Ica terus membuntutiku. Dari kilasan raut wajahnya, sepertinya ia mencoba ingin mengatakan sesuatu. Aku malas menggubrisnya. Untung saja aku segera bertemu dengan teman lain yang juga akan ke ruangan pesta, jadi aku punya alasan untuk menghindari Ica. Benar saja, segera ia tak kelihatan lagi batang hidungnya.

Aku bercipika-cipiki sejenak dengan teman-teman, aku mengambil kursi yang menghadap pintu masuk. Kuperhatikan kostum teman-teman yang makin ramai, lucu-lucu sekali. Ada Sailormoon, Dora, hingga Batman. Cekikan sendiri aku melihatnya.

Namun tiba-tiba saja masuk seseorang yang membuat perutku tiba-tiba mual. Yap! Dialah Ica, seseorang yang terlihat amat berbeda dari siapapun malam itu. Mengapa ia memakai gaun malam yang berkerlap-kerlip begitu? Apakah ia ingin mendapat perhatian dari teman-teman sebagai gadis anggun? Huh!

Ia berjalan mendekatiku. Dari sorotan wajahnya, terlihat sekali ia ingin mengatakan sesuatu. Ia duduk tepat di sampingku.

“Reni, aku mau kasih tahu kamu sesuatu. Hal yang amat penting!” ungkapnya dengan mimik serius. Aku tak peduli.
“Reni, aku cuma mau bilang kalau aku sayang sama kamu sampai kapanpun. Kamu sahabat terbaikku, dan aku ingin melihatmu bahagia…” Ica menggenggam tanganku. Namun seperti ada yang berbeda dengan genggamannya kali ini. Tangannya dingin. Mungkin gaun yang sedikit terbuka begitu membuat angin malam menyambanginya. Entahlah, aku malas menanyakannya.

“Reni…”, Ica melepaskan genggamannya. Namun sedetik kemudian listrik padam, sehingga aku tak sempat melihat Ica, apalagi berbicara dengannya. Setelah itu aku tak lagi merasakan kehadirannya. Ia seperti ditelan bumi. Entah kemana lagi ia pergi.

Tiba-tiba sesorot cahaya menangkap keberadaan seseorang di atas panggung. Hiruk-pikuk seketika berubah jadi senyap, memberi kesempatan kepada orang tadi berbicara.

“Teman-teman, malam ini seharusnya kita berpesta lengkap dengan semua teman-teman kita. Namun, ada seseorang yang tak bias menikmati pesta ini. Sore tadi, salah seorang teman kita mengalami kecelakaan di Jalan Kartini..”

Apa? Jadi yang kecelakaan di Jalan Kartini tadi salah seorang temanku? Aduh, aku amat merasa bersalah tak menolongnya jika benar-benar temanku.

“Inalillahi wa inna ilaihi roji’un. Dan ia telah berpulang ke pangkuan Illahi. Mari kita doakan agar arwah Ica diterima…”

Apa?! Ica?? Ica telah meninggal dunia dalam kecelakaan di Jalan Kartini tadi siang?! Dan aku tak sempat melakukan apapun untuk menolongnya?
Seluruh persendianku lemas. Aku hanya terpaku menyadari seluruh kesalahanku. Rasa sesal tumpah-ruah, sehingga pipiku derasoleh air mata. Aku benar-benar menangis sejadi-jadinya, hingga semuanya tak mampu kulihat lagi. Aku pingsan.

* * *

Kulihat sekeliling, ada beberapa orang mengerumuniku. Andi salah satu di antaranya. Aku segera mengingat semuanya, terutama Ica. Ya Tuhan! Icaku sekarang…
“Mana Ica?!” aku mengguncangkan tubuh Andi, teman-teman lain hanya terdiam. Tak terasa air mataku mengalir lagi. Aku hanya tertunduk menyesali semua sikap dan perbuatanku.

“Ren, kamu harus kuat”, Andi mencoba menjelaskan. “Ica benar-benar telah meninggal…” kulihat mata Andi mulai berkaca-kaca.
“Ndi, kamu harus bilang kalau ini semua pura-pura. Ini semua bohong kan?” aku makin kalap tak karuan, menangis sejadi-jadinya.
“Enggak, Ren. Ica meninggal di tempat saat kecelakaan tadi sore. Orang tuanya bilang dia pergi sendiri saat akan membeli kado. Padahal mereka telah melarang, karena Ica tak bisa pergi sendiri. Vertigonya sering kambuh di tengah jalan…”

Apa? Vertigonya kambuh, dan ia…
Ya Tuhan! Semua ini kesalahanku. Batinku terus menjerit, menyalahkan diriku sendiri. Mengapa aku begitu egois, membiarkan Ica pergi sendiri, dan akhirnya seperti ini. Padahal aku tahu betul, jika vertigonya kambuh, ia bisa pingsan di tengah jalan.

“Tapi Ndi, tadi Ica bersamaku. Ica di sini, dan ia sempat bicara denganku..” aku terus berontak.
“Ren, mungkin itu halusinasimu karena terlalu memikirkan Ica”, ucap Andi.
“Oya, sebenarnya malam ini aku dan Ica mau kasih kamu kejutan,” Andi mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, “Ica titip ini buat kamu”, diserahkannya kotak kecil berbalut kertas kado yang cantik sekali kepadaku.

“Dia telah mempersiapkannya sejak lama. Dan tadi siang, ia bilang bahwa kau yang harus memberikannya padamu. Aku dan Ica tak ada hubungan apa-apa. Aku hanya berkonsultasi untuk memperbaiki hubungan denganmu akhir-akhir ini.”

Aku menahan napas. Aku benar-benar tak sanggup mendengar penjelasan Andi. Ternyata Ica jujur. Ia sahabat yang baik. Makin deras saja air mataku.

“Ndi, kenapa ya Ica cepat banget perginya? Di saat aku belum sempat minta maaf…” aku berisak hebat.
“Aku yang bersalah, Ndi. Aku yang menyebabkan kecelakaan itu, dan aku juga yang membuat Ica jadi begini. Harusnya kalau Ica pergi denganku, kejadiannya tak seperti ini. Dan aku tak perlu merasa bersalah seperti ini. Apalagi semua tuduhanku pada Ica tak benar sama sekali. Aku memang egois!” aku memukul-mukul kepalaku dengan kepalan tanganku. Persendianku makin tak kuat menopang tubuhku, hingga aku kembali jatuh ke bantal.

Samar-samar kudengar Andi berseloroh.
“Sudahlah, Ren. Semua ini takdir dari Tuhan, dan tak bisa ditentang siapapun. Aku yakin Ica pasti tahu penyesalanmu, dan ia akan senang jika kamu bahagia.”
Kalimat Andi begitu meneduhkanku, namun tak bisa membuatku lepas dari penyesalanku. Pantas saja Ica tadi terlihat ingin menyampaikan sesuatu. Tapi bodohnya aku, tak kugubris semua perkataan Ica. Ica benar-benar ingin melihatku bahagia.

Samar kulihat dari kejauhan sesosok bayangan melambai ke arahku. Tersenyum. Akh! Itu Ica. Aku hanya diam dan tak mampu berbuat apapun. Persendianku makin lemas. Tapi sebelum aku kembali tak sadarkan diri, aku sempat berseloroh.

“Maafkan aku Icaku sayang…”

Ulasan

Mengintip Keseharian Cerpen Remaja

F. Moses

Membaca cerpen Euis Kurniasih, Maafkan Aku Icaku Sayang, seperti tercerita kembali persoalan remaja. Persoalan, jika boleh dikatakan sebagai “dunia keseharian”, sebuah dunia yang tak jauh dari persahabatan dan cinta—dan segala tetek bengek lainnya yang (seolah) menyumput menjadi bagian dari psikis remaja. Pokoknya sebuah kecenderungan dari yang tak jauh dari “situasi emosional” para remaja. Lantas, apakah sedemikian adanya? Dan apakah itu saja persoalan remaja? Antara ya dan tidak. Masalahnya, intinya, lagi-lagi persoalan keseharian telah ditangkap kemudian menjadi sebuah cerita pendek untuk dihadapkan pada pembaca. Sah saja.

Cerpen oleh Euis, menceritakan runyamnya psikis tokoh utama bernama Reni, yang bersekaligus dinaratologikan lewat tokoh aku, ketika harus menyaksikan bahwa sahabatnya, Ica, dianggap mencuri hati pria idamannya yang bernama Andi. Lalu cerita berlanjut menjadi tumbuhnya rasa kecewa Reni pada sahabatnya tersebut. Konflik pun semakin menjadi, peristiwa buruk menimpa Ica. Sebuah peristiwa yang dianggap Reni—oleh rasa berlebih dari penyesalannya karena terlanjur amat membenci sahabatnya tersebut—barangkali karena dirinya begitu membenci Ica sehingga menyebabkan beban pikiran turut mengganggunya saat di jalanan dan menjadikannya kurang berhati-hati kemudian kecelakaan menimpanya.

Sebagai pembaca, lewat cerpen tersebut, saya ternikmati oleh alur yang pada akhirnya membawa suasana tertentu. Kemudian saya juga dihadapkan oleh keanekaragaman perwatakan dari para tokoh, dan masalah intrinsik lainnya. kembali lagi, saya sebagai pembaca, lantas apakah saya benar-benar mampu “mengunyah” cerpen tersebut dan pada akhirnya mengenyangkan saya? Rasanya tak perlu saya beberkan. Setidaknya, decak kagum—tanpa rasa berlebihan—saya acungkan untuk Euis, bahwa kecenderungan dari situasi emosional remaja diungkap lewat cerita. Hanya saja, beberapa catatan saya sampaikan untuk Euis.

Pertama, sebuah catatan yang, ya, cukup membuat saya bersimpati untuk membaca lebih lanjut. Hal itu terlihat bagaimana Euis, dapat dikatakan, cukup menyontak pembaca lewat kata yang sekaligus dilanjutkan oleh kalimat pembuka. Adalah kata “Jleger”, Hmm. Cukup membawa pembaca untuk membayangi sesuatu. Apakah itu? terserah pembacanya. Barangkali. Kemudian berlanjut, Suara petir jleger menggelegar sontak menghamburkan lamunanku. Gerimis kecil di luar seakan turut berbelasungkawa atas kesedihanku saat ini. Kesedihan yang teramat pedih, yang membawaku pada penyesalan tak berujung karena kesalahanku. Hingga kapan aku akan terlepas dari belenggu rasa bersalah ini? Entahlah…, seolah lewat narator tokoh aku mengajak pembaca untuk menyelami terlebih dahulu, bahwa konlik psikologis mulai menyergap si tokoh. Dapat dibayangkan. Sekali lagi, kalimat pembuka semacam “eye catching”, istilahnya, setidaknya adalah penting dilakukan oleh setiap penulis.

Kedua, sederhana saja, jika memang boleh dikatakan demikian. Tentang “susupan” imajinasi—barangkali bermaksud untuk lebih bermain dengan imajinasi oleh Euis. Tidak hanya Euis, melainkan acap terjadi juga pada kecenderungan penulis remaja. Yaitu dengan mengimajinasikan terlalu “berlebih”. Dalam cerpen tersebut pada, “Reni…”, Ica melepaskan genggamannya. Namun sedetik kemudian listrik padam, sehingga aku tak sempat melihat Ica, apalagi berbicara dengannya. Setelah itu aku tak lagi merasakan kehadirannya. Ia seperti ditelan bumi. Entah kemana lagi ia pergi, menyeolahkan tokoh Ica seperti (maaf jika dapat dikatakan) hantu yang hendak pamit. Bukankah justru hal tersebut menjadikan penceritaan berkesan malah menjadi tak bernalar? Ingat, permainan realisme dari cerita yang Euis suguhkan justru menjadi terganggu. Mengingat kecenderungan cerita realisme acap pula “bertakluk” oleh hukum logika. Namun demikian, bukan pula berarti salah dari penggalan cerita tersebut.

Ketiga, kecenderungan dari penulis remaja yang terkadang kurang “bersabar”. Kurang bersabar untuk “memancing” atau setidaknya memberi kesempatan pembaca untuk sibuk berkira-kira tentang konflik apa yang sebenarnya tengah terjadi, sepertinya. Seperti pada penggalan, Teman-teman, malam ini seharusnya kita berpesta lengkap dengan semua teman-teman kita. Namun, ada seseorang yang tak bias menikmati pesta ini. Sore tadi, salah seorang teman kita mengalami kecelakaan di Jalan Kartini…berkesan terlalu terburu-buru. Mungkin, dapat dibayangkan, bila andai saja Euis tetap merahasiakan kematian dari tokoh Ica. Dan, kemudian, secara tak langsung membiarkan pembaca sendiri yang menemukan kematian dari tokoh tersebut. Sekali lagi, dapat dikatakan, memberi ruang tafsir untuk pembacanya.

Selain dari beberapa catatan saya di atas, sedikit ingin saya berbicara tentang imajinasi dalam cerpen oleh Euis. Dari cerpen oleh Euis tersebut, setidaknya, sesungguhnya—jika boleh saya ingin menyungguhkan—betapa tebaran imajinasi meruap di tiap langkah cerita itu bergerak. Hanya saja, mungkin, imajinasi dapat saja menjadi kaku sehubung sudut pandang yang diangkat berkesan dangkal (artifisial). Hal tersebut, barangkali, dapat dilihat dalam pengakhiran pada, Samar kulihat dari kejauhan sesosok bayangan melambai ke arahku. Tersenyum. Akh! Itu Ica. Aku hanya diam dan tak mampu berbuat apapun. Persendianku makin lemas. Tapi sebelum aku kembali tak sadarkan diri, aku sempat berseloroh. Dari penggalan kalimat tersebut barangkali akan lebih menggoda pembaca, andai saja membiarkan tokoh aku (seolah) tidak melihat sosok bayangan yang melambai ke arahnya. Kemudian membiarkan pembaca lebih bebas menebak hingga akhirnya bahwa Ica-lah sebagai sosok yang memang benar-benar “mengganggu” tokoh aku. Barangkali. Meski demikian, bukan berarti adalah kesalahan dari pengakhiran dalam cerpen Euis tersebut. Ini hanyalah masalah pilihan. Bagaimana dengan anda?

Sedikit pesan saya untuk Euis, tanpa bermaksud menggurui apalagi memutuskan tentang salah atau tidaknya sebuah cerpen—bilamana memang ada kesan demikian, Euis telah memilih untuk bersudut pandang dan segala persoalan intrinsik lainnya; bukan berarti cerpen anda gagal atau justru sebaliknya. Namun sejujurnya, saya sebagai pembaca, merasa ada kematangan dari cerpen oleh Euis. Tentunya, terus berlatih sambil menulis dan terus menulis adalah mutlak untuk Euis lakukan. Sembari menikmati karya-karya penulis lain hingga akhirnya Euis terinspirasi dan menjadikannya tantangan baru untuk mencapai “kelegaan emosional” dalam tiap gagasan atupun ide. Maka, banyak berlatih tersebut secara tak langsung memengaruhi sikap “kepekaan serta keliaran” Euis. Salam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s