Kami Bukan Penjilat

Dona Dwi Antika
Siswi SMAN 2 Bandarlampung; Anggota Forum Lingkar Pena Lampung

”SIAL! Bagaimana negara ini mau maju kalau orang-orang model si-Z masih saja berkeliaran di negeri ini? Lagak-nya bagaikan orang paling intelek tapi hatinya gak lebih dari sekadar tumpukan sampah! Jijik! Cih! Seandainya masih ada Hitler di dunia ini, aku bakal berkolaborasi dengannya membantai sampah-sampah dunia!”
”Woy! Jelek amat tampangmu. Marah-marah di hari yang terik seperti ini? Kenapa pula, bah?” Suara Togar membuatku kaget. Sedang asyiknya aku berkeluh kesah tentang dosenku, dia datang dan langsung memukul pundakku.
”Gar, bisa tidak kalau kamu itu tidak selalu mengagetkanku? Hari ini sudah dua kali kamu bikin aku kaget!” protesku. Togar melebarkan senyum di bibirnya. Beberapa saat kemudian ia tertawa.
”Ha.. ha.. ha.. Ri, kau itu janganlah suka marah-marah, nanti kau itu cepat tua. Umurmu itu masih cukup muda, sobat. Jadi, apa pula isi kesahmu itu yang membuatmu semakin memanaskan siang yang sudah sangat terik ini? Mungkin kau bisa cerita padaku.” Togar menawarkan perhatiannya padaku. Sahabatku ini memang selalu ada di waktu yang tepat. Walau kami berbeda fakultas, tapi kami sering bercerita. Ya, Togar memang satu-satunya teman yang paling dekat denganku di kampus ini.
”Begini, Gar. Aku kan baru saja menyelesaikan tugas laporan penelitianku di desa-X. Aku mengadakan penelitian dengan anak-anak pecinta alam yang ada di jurusanku. Semua sudah kami kerjakan dengan baik. Pure, tanpa campur tangan orang lain dalam penulisannya dan kau tahu apa?” tanyaku di tengah-tengah pembicaraan.
Togar memicingkan matanya. Seperti mengisyaratkan kalau ia sudah tak sabar ingin mendengar kelanjutan ceritaku. Aku berjeda sesaat.
”Dan ternyata, Si-Z, dosen studiku menolak laporan kami. Katanya terlalu subjektif! Tidak ilmiah! Katanya, isi yang kami sampaikan terlalu emosional, tidak beralasan!” Aku diam sejenak, menarik nafas dalam-dalam. Kemudian berbicara lagi. ”Dan yang lebih mengenaskan, laporan penelitian Ayuni dan teman-temannya yang penjilat itu justru diterima bahkan menjadi yang terbaik.”
”Apa?” Togar keheranan, keningnya berkerut. ”Ayuni yang model majalah itu?” tanyanya pelan.
”Iya, kenapa? Kamu kenal?” tanyaku.
”Ya, tentu saja! Siapa yang tak kenal wanita seperti itu. Tidak berbudi! Tidak punya hati!” Togar berbicara dengan intonasi yang meninggi.
”Apa masalahmu dengan dia, Gar?” tanyaku.
”Nanti saja! Kau lanjutkan saja ceritamu.” pintanya. Aku diam dan kemudian mengangguk.
”Ya, aku lanjut. Ketika aku dan teman-temanku datang menemui pak-Z, saat itu juga Ayuni sedang ada di sana. Entah apa yang baru saja mereka lakukan. Mereka langsung gugup ketika melihat kami. Kemudian, Ayuni permisi dan meninggalkan pak-Z. Sekilas kudengar, ia mengumpat kehadiranku saat itu. Aku langsung mendekati pak-Z dan berbicara padanya. Kusampaikan maksudku dan kemudian menyerahkan makalahku. Wajahnya menjadi muram. Ia ambil makalahku, membacanya beberapa saat, dan kemudian membantingnya!” ”Shit!” bentakku kemudian. Aku tidak tahan menceritakan semua ini pada Togar.
”Lanjutkan, Ri!” ucap Togar. Kukepalkan tanganku, menahan emosi yang mulai membuncah, dan kemudian berbicara lagi.
”Dia hanya membaca makalah kami beberapa saat dan kemudian mengatakan kalau makalah kami tidak beralasan, terlalu subjektif, emosional, tidak ilmiah, dan lain-lain. Aku langsung bertanya, dimana letak kesalahannya? Ia menjawab kalau data yang kami sampaikan hanya sebagai data. Tidak dapat diambil kesimpulan. Kurang penelusuran yang lebih men-detail.”
”Memangnya permasalahan apa yang kau bahas dalam penelitianmu itu?” Tanya Togar di akhir kalimatku.
”Mengenai pengaruh perkembangan industri terhadap kehidupan perekonomian pedesaan dan kami menyimpulkan kalau industri tersebut hanya meningkatkan perekonomian kota. Sedangkan pedesaan sebagai penyuplai material industri hanya mendapatkan keuntungan yang tidak sebanding dengan keuntungan para penguasa industri kota. Mereka hanya dijadikan sebagai alat pemenuhan material industri. Mereka tidak diajarkan bagaimana meningkatkan taraf hidup mereka. Sehingga pemerataan ekonomi tidak berlangsung dengan mulus.”
”Aku setuju itu. Sama seperti kampungku. Kami bekerja siang malam dan hanya itu-itu saja yang kami lakukan, di sawah atau di ladang. Kami jual hasil panen kami pada orang-orang kota. Tak seberapa yang kami dapat, paling hanya menutupi modal kami. Sedangkan, mereka penguasa industri meraup keuntungan yang berlipat-lipat dari yang kami dapatkan. Makanya aku mau sekolah sampai ke kota ini untuk mengubah nasib kami.” Togar diam sesaat. Terpancar jelas semangat hidupnya. Seorang pemuda yang mempunyai banyak harapan untuk desanya.
”Lalu, bagaimana dengan Ayuni?” tanyanya setelah itu.
”Huh!” Lagi-lagi aku mengeluh. ”Kamu tahu? Sejak dua hari yang lalu setelah kami menghadap pak-Z, kami bertanya pada beberapa teman kami yang juga melakukan penelitian. Mencoba membandingkan penelitian kami dengan mereka dan tidak jauh berbeda. Dari segi teknis dan penarikan kesimpulan hampir sama. Joko bilang kalau penelitian Ayuni yang berhak mendapatkan nilai tertinggi. Aku merasa penasaran dan menanyakan pada mereka mengenai penelitian Ayuni. Mereka bilang tidak tahu jelasnya. Yang mereka tahu, Ayuni mengadakan penelitian mengenai kondisi perkuliahan di kampus kita.”
”Lalu, apa yang ia simpulkan dalam laporannya?” tanya Togar penuh selidik.
”Joko bilang kalau Ayuni menyimpulkan kondisi perkuliahan di kampus kita sudah sangat baik. Semua standar pola pembelajaran sudah diterapkan dengan baik. Indeks prestasi mahasiswa juga membuktikan kalau kondisi perkuliahan kita sangat kondusif.”
”Bah! Dasar penjilat! Jelas saja ia mendapatkan nilai terbaik. Ia tak menyertakan bukti-bukti penyelewengan hak di kampus kita. Aku berani taruhan, perempuan itu tidak menyertakan informasi mengenai mahasiswa yang bermasalah kalaupun ia sertakan pasti hanya yang benar-benar bobrok dan patut didepak dari kampus kita. Kondusif apanya? Sogok sana-sini saja masih sering kutemukan. Apanya yang sangat baik?” Togar mulai kesal. Sepertinya ia ikut-ikutan emosi sepertiku.
”Ya, aku dan teman-teman juga menyimpulkan seperti itu. Kami berusaha mencari tahu mengenai isi makalah Ayuni dan teman-temannya dan benar, mereka hanya melakukan penelitian pada orang-orang berpengaruh di kampus kita. Tak ada nama siswa seperti Munir, Hambali, atau Lukman yang melaporkan tindakan kesewenang-wenangan beberapa staf dan pengajar kita. Nama mereka seolah-olah tidak pernah muncul di kampus kita.”
Kami diam, menarik nafas dalam-dalam. Kusenderkan tubuh ke tiang yang ada di sampingku. Sebatang rokok kretek kukeluarkan dari kotaknya yang sejak pagi bersarang di saku kemeja yang aku kenakan. Tak lupa kutawarkan pada Togar. Ia menarik satu batang. Kusulut api di ujung batang rokokku. Togar menyulut dari ujung rokokku yang sudah terbakar.
”Gar, menurutmu apa yang salah dalam sistem hidup ini?” tanyaku pelan.
”Banyak, Ri. Tak dapat kusebut satu per satu. Mungkin kita harus menantikan satu generasi yang bisa memutus mata rantai kesewenang-wenangan ini. Kita harus menantikan satu generasi yang berani berbicara. Bukan cuma protes seperti kita saat ini. Tapi juga yang mau menyuarakannya dan mencari solusinya.”
”Harus seperti itu, Gar?” tanyaku sambil mengebulkan asap dari rokokku.
”Ya, seperti itu, Ri. Orang-orang seperti Munir, Hambali, atau Lukman seharusnya masih bisa berada di tengah-tengah kita kalau saja mereka didukung. Kalau saja ada pejabat-pejabat yang mau mendengar mereka.” Kini Togar pun bersandar pada tiang di sampingnya. Kami saling menatap.
”Gar, apa hanya karena kesewenang-wenangan, kita tidak bisa hidup bahagia di dunia ini?”
”Bukan seperti itu, Ri. Kita juga perlu sadar kalau semua di dunia ini sudah diatur oleh pencipta kita. Hanya saja semua ini adalah liku yang harus kita jalani. Semua ini adalah proses pembelajaran bagaimana kita seharusnya bersikap dalam menghadapi kehidupan. Semua sudah ada bagiannya.”
”Termasuk bagian untuk bertindak sewenang-wenang, Gar?”
”Ari, kita memang bukan Tuhan. Yakinlah, semua ini ada hikmahnya. Tak akan ada surga-neraka kalau dunia ini putih-putih saja.” Aku terdiam. Mencermati setiap kata-kata sahabatku. Mencoba menerima apa yang ia ucapkan. Perlahan kuangkat wajahku yang sejak beberapa detik lalu menatap lantai kantin Bu Sumi.
”Ya, kamu benar. Memang aku terlalu emosi beberapa hari ini. Terlalu sulit berpikir.” ucapku.
”O iya, tadi kamu mau menceritakan mengenai masalahmu dengan Ayuni.” lanjutku. Togar tersenyum. Asap rokok mengepul di sekitar wajahnya. Sesaat kemudian asap itu terbang dan memudar, menyatu bersama bergiga-giga partikel di udara. Aroma khas kretek tercium kuat di hidung mancungku. Togar mendekat kesampingku. Ia merapatkan tubuhnya padaku. Aku sudah tak menyender lagi di tiang. Togar berbisik ke telingaku. ”Ayuni, istri simpanan pak-Z.”

Ulasan

Bermain Realitas

Oleh F. Moses

Ketika berhadapan dengan permasalahan realitas kehidupan yang menyenangkan atau bahkan menyakitkan sekalipun, tentunya keinginan rasa ingin tahu juga bertambah. Maka, pertanyaan ”mengapa”, tanpa disadari ingin diungkapkan walau tersembunyi dalam kurun waktu. Alhasil, kelegaan emosi (paling tidak) didapat.

Membaca cerpen Dona Dwi Atika, Kami Bukan Penjilat, kesan permasalahan realitas cerpen dapat dirasakan (seolah mengadopsi —dari kenyataan di sulap jadi cerita). Sah-sah saja, tapi akan dirasa lebih seandainya cerita diberangkatkan dari peristiwa ke imajinasi (meminjam istilah Umar Junus).
Terlebih dialog antar tokoh mendominasi dalam cerpen ini. Sebenarnya tidak masalah, semua tergantung pengarang —yang acapkali memberangkatkan visual kehidupan sebanyak mungkin ke dalam penceritaan. Tinggal bagaimana meramunya untuk pembaca.
Cerpen Dona dengan latar kampus —menceritakan kekecewaan mahasiswa lewat tokoh Ari. Bersama Togar, temannya, ia curahkan seluruh kejengkelannya karena pengajuan penelitian dalam makalah yang tidak disetujui oleh dosennya. Dengan alasan yang tidak masuk akal, Ari harus menerima kenyataan pahit. Kenyataan yang sungguh menyesakan karena merasa ada persaingan tidak sehat dari temannya, Ayuni.
Tokoh Ari —yang sepertinya tidak bisa terima perlakuan sewenang-wenang dari dosennya —akhirnya mengetahui siapa Ayuni sebenarnya. Berdasarkan penjelasan Togar, akhirnya semua terbongkar. Bahwa jelas sekali Pak Z, dosennya, lebih memihak pada Ayuni karena statusnya sebagai istri simpanan.
Tentang dialog antar tokoh yang (dirasa) cukup mendominasi, seperti dikatakan di atas, perlu diperhitungkan kembali keefektifannya. Memang, sah-sah saja untuk banyak atau sedikitnya dialog. Semua bergantung pada keinginan pengarang.
Seperti salah satu bagian dialog berikut: ”Dan ternyata! Si-Z, dosen studiku menolak laporan kami. Katanya terlalu subjektif! Tidak ilmiah! Katanya isi yang kami sampaikan terlalu emosional. Tidak beralasan!” Aku diam sejenak, menarik nafas dalam-dalam. Kemudian berbicara lagi. ”Dan yang lebih mengenaskan, laporan penelitian Ayuni dan teman-temannya yang penjilat itu justru diterima bahkan menjadi yang terbaik”.
Pada bagian dialog tersebut benar adanya, terlebih realitas dunia kampus —kerap mengajak mahasiswa bersikap kritis di tiap ruang permasalahan. Tapi, Dona tidak sepenuhnya harus bicara tentang dunia nyata terus kan, melainkan (kurang lebih) sesekali Dona bungkus dengan memaksimalkan imajinasi.
Paling tidak, ada pemikiran (praduga) lewat imajinasi yang tentunya lebih menggoda imajinasi pembaca. Karena, dari bagian dialog di atas cukup banyak menyisakan ruang tentang; mengapa dosen menolak laporan, mengapa atas dalih (yang katanya) karya dianggap emosional belaka, dan mengapa justru Ayuni dan teman-temannya diterima.
Kurang lebih, itulah beberapa dialog yang seharusnya bisa Dona maksimalkan lewat imajinasi. Tidak harus fakta ataupun realitas —melainkan apa yang ada di belakangnya, karena pembaca jeli akan merasa bosan (mungkin) justru beranggapan dialog tokoh terlalu cerewet.
Selain itu, bagian dialog pada, ’’Ya, aku lanjut. Ketika aku dan teman-temanku datang menemui pak-Z, saat itu juga Ayuni sedang ada di sana. Entah apa yang baru saja mereka lakukan. Mereka langsung gugup ketika melihat kami. Kemudian Ayuni permisi dan meninggalkan pak-Z. Sekilas kudengar ia mengumpat kehadiranku saat itu. Aku langsung mendekati pak-Z dan berbicara padanya. Kusampaikan maksudku dan kemudian menyerahkan makalahku. Wajahnya menjadi muram. Ia ambil makalahku, membacanya beberapa saat…” cukup membuka ruang bagi Dona untuk ilustrasikan (mungkin, dialog itu menjadi monolog) lewat sentuhan permainan imajinasi. Syukur nyentil pembaca.
Kemudian, rasa-rasanya Dona juga harus sadar. Ketika Dona menulis cerita, rasa sifat merdeka dalam diri sendiri perlu lebih disadari. Jadi, tidak perlu lagi menulis seperti imajinasi yang terbelenggu.
Hal itu tampak dalam ungkapan-ungkapan Dona untuk nama orang dan desa seperti inisial belaka; si Z dan desa X. Sekali lagi, Dona menulis cerita fiksi dan bukan sedang menulis berita yang tengah dihantui rasa ketakutan. Dona bisa memberi nama tokoh dan nama tempat (desa) sesuka hati, syukur nama-nama tersebut (mengingatkan) menjadikan perenungan tersendiri bagi pembaca. Terserah pengarang, toh, nama —dari Dona tulis tidaklah berarti salah.
Selain itu, irama penceritaan dalam mendukung pemeristiwaan juga perlu Dona perhatikan. Pada lead awal, Dona terkesan terburu-terburu untuk masuk tahap konflik. Padahal, dari pemilihan judul cerpen sangat memungkinkan permainan daya imajinasi jelang masuknya timbul konflik. Dona bisa berimajinasi tentang kegelisahan hati saat itu, panasnya cuaca, dan sebagainya. Selain itu, pembaca akan lebih merasa terkoordinasi arus pemikirannya dari kejadian penceritaan —yang Dona tawarkan.
Memang, sah-sah saja jika pembaca langsung disuguhkan timbul konflik di awal penceritaan. Tetapi, alangkah baiknya Dona lebih memainkan rasa ingin tahu (suspense) pembaca. Jadi, rasa penceritaan dalam pengaluran juga tidak terasa tergesa-gesa. Akhirnya, alur lebih terkesan rapi dan logis.
Ibarat pasar; Dona adalah penjual cerita, sementara pembaca adalah pembelinya. Jika penjual memberi tawaran, maka pembeli merasa tergoda untuk tawar lebih lanjut —jika tidak —pembeli meninggalkannya.
Itulah sebagian kurangnya kejelian Dona. Tentunya, banyak berlatih dan membaca akan memberi ruang perbandingan tersendiri. Paling tidak, di sini, permainan penceritaan yang berangkat dari realitas sudah di adaptasi jadi sebuah cerpen.
Sekali lagi, semua kembali pada pengarang, khususnya Dona. Hanya mau bermain realis (dari realitas ke penceritaan) atau dari realitas ke imajinasi —yang sesungguhnya lebih menjanjikan. Salam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s