Dilema Resna

Cerpen oleh Dewi Kristiani
KELAS : XI IPA 2
SEKOLAH : SMA ARJUNA

Resna, biasa dia dipanggil teman-temannya. Resna adalah gadis berumur 16 tahun. Dia duduk di bangku kelas II SMA, dia sekolah di salah satu SMA negeri favorit di Bandung. Resna sangat pintar mungkin kepintarannya itu menurun dari kedua orang tuanya. Ayah Resna seorang pengacara terkenal sedangkan ibunya dokter spesialis kehidupan. Resna begitu berkecukupan dia begitu mudah untuk mendapatkan apapun yang dia mau tapi satu yang tidak dia dapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, karena pekerjaan yang begitu menyita waktu orang tua Resna tidak dapat menemaninya setiap hari. Tapi semuanya itu dia jalani dengan rasa syukur, karena jarang sekali orang bisa hidup seperti dia. Hari- hari selalu dijalaninya dengan kegembiraan karena ketiga sahabat dekatnya, yaitu Karda, Dani, Zeka,yang selalu menghibur ketika ia merasa kesepian.

Resna juga mengikuti berbagai les dan kegiatan extrakulikuler yang ada disekolahnya seperti osis dan les tari itu semua dia lakukan agar waktu luangnya ketika pulang sekolah tidak sia-sia, hal itu dapat dia lakukan siang hari tapi malam hari dia kesepian lagi, waktu dia diisi hanya dengan belajar. Selesai belajar Resna bercanda dengan “Mbokk Nah” pembantu yang dia anggap seperti orang tuanya sendiri, Mbok Nah selalu menemaninya ketika orangtuanya belum pulang kerja atau sedang tugas keluar kota, Mbok Nah yang selalu menjadi curahan hati Resna. Beberapa jam kemudian tepatnya jam pkl: 00:00 wib orang tuanya pulang, Resna membuka pintu lalu mereka duduk di ruang tamu. Resna duduk di samping orang tuanya, ia bertanya pada orang tuanya, “apakah semua pengacara dan dokter pulang sampai larut malam. Seperti ini?” “Tidak nak ,tapi sebagian,” begitu jawab orang tuanya nada lelah.

Resna menatap mata orang tuanya terpancar lelah yang begitu manumpuk dan rasanya ingin segera membaringkan badan yang lelah itu di kasur yang empuk. “Pergilah tidur besok kamu harus bangun pagi!!” kata orang tuanya sambil berjalan meninggalkanya dan tidur!! Resna juga meninggalkan tempat itu menuju ke kamar. Sebenarnya bibir Resna ingin bercerita dan ngobrol lebih lama tapi itu tak mungkin. Dia pun berdoa sebelum memejamkan matanya, dia berdoa agar Tuhan selalu menyertainya dan kedua orang tuanya selalu diberikan berkat dalam menjalankan pekerjaan. Perlahan ia mulai tidur keesokan paginya tepat pkl: 07:00 Resna belum bangun sedangkan orangtuanya sudah berangkat pagi-pagi benar. Mbok Nah sibuk dengan pekerjannya di dapur.

Namun ketika dia sedang masak di dapur, Mbok Nah melihat sepatu Resna belum dipakai. Mbok Nah berfikir, ia pun segera berlari ke kamar Resna yang berada di atas sambil melihat jam sudah pukul 07:05 wib sedangkan Resna masuk pkl 07:30 wib masih ada waktu tapi itu tidak memungkinkan. Di meja belajarnya dia menaruh jam beker yang dia setel pukul 06:00 tapi Resna tidak mendengar deringan jam, Mbok Nah berteriak dari pintu kamarnya, “ Mbak bangun.” Resna kaget dia melihat jam menunjukkan pkl 07:10 dia cepat-cepat bangun langsung memakai baju sekolah dan segera keluar dari kamarnya, ketika itu Mbok Nah berada di depan pintu Mbok Nah bingung melihat Resna. “Cepet banget mbak.” “Udah Mbok gak usah banyak tanya.” Resna lekas memakai sepatu lalu berlari keluar rumah ia memanggil supirnya “ Mang Ade cepet Resna telat nih.” Mang Ade menjawab, “iya mbak,” Mang Ade mengambil mobil dan segera menancap gas dengan kecepatan extra segera menuju ke sekolah. Sesampainya di sekolah pagar sudah terkunci rapat Resna memohon kepada satpam agar dibukakan, karena baru itu dia terlambat, akhirnya luluh juga hati satpam itu ia langsung membuka pintu tapi tetap mendapat hukuman, sekolah menetapkan satu peraturan bagi siswanya yang telat yaitu menjelaskan materi pelajaran yang sedang dipelajari saat siswa tersebut terlambat lama penjelasan sesuai waktu yang telah ditentukan, konyol sih kedengarannya tapi itu membantu siswanya berfikir , belajar kreatif dan bertanggung jawab dengan kesalahannya, di situ siswa juga dapat mengembangkan nalarnya menjadi semakin berkembang tidak ketinggalan pelajaran meskipun terlambat. Pada saat Resna terlambat guru sedang menjelaskan materi fisika. Resna mengetuk pintu dan mengucapkan salam, “Permisi, Bu, maaf terlambat,“ guru itu menjawab “Masuk. Kamu tahu kan hukuman apa bagi siswa yang terlambat masuk?“ Resna menjawab, “ya, saya tahu” meskipun kamu siswa paling pintar tapi ibu tidak membeda-bedakan, hukuman ini juga demi kebaikanmu karena materi itu sudah ia pelajari maka dengan mudahnya ia jelaskan berdasarkan nalarnya . Karena Resna telat 15 menit jadi ia menjelaskan selama waktu telatnya. 15 menit telah berlalu. “menakjubkan,” kata yang terucap dari teman dan gurunya.

Ya pantas mereka bilang begitu jangankan menjelaskan materi, dia sudah begitu pandai bahkan lebih dari itu karena Resna merupakan juara olimpiade fisika “Se-Kotamadya Bandung” Resna dipersilahkan duduk dan mengikuti materi pelajaran selanjutnya, Zeka sangat kagum dia pun berkata kepandaianmu tidak diragukan lagi, kamu juga pasti bisa seperti aku. Bel berbunyi tet…… tet….. waktu istirahat tiba, hari itu Resna merasa lapar ia pun mengajak ketiga sahabatnya ke kantin. Saat duduk berdampingan dengan Dani, ia pun bertanya “Res ko kamu tadi telat? Resna menjawab, “Biasalah, nunggu orangtuaku pulang, kenapa kamu gak tidur aja?” “gak gitu dong. Aku ketemu orangtuaku cuma malem, selain itu gak ada waktu lagi.” Karda menyela, “Maklumlah orangtuamu kan orang paling sibuk.” Kemudian Resna menjawab, “udah deh gak usah bahas itu aku laper niech.” Tiga sahabatnya menjawab dengan serentak, “ok dech cantik.” Tapi ada satu hal lagi yang ingin ditanyakan Zeka dan itu dia tanyakan ketika Resna serius makan, Zeka berkata, “kamu gak mandi ya Res?” Resna tersendak makanan, lalu dia batuk dia mulai berfikir dan mengingat kembali apa yang dia lakukan sebelum berangkat ke sekolah dan munculah fikiran bahwa dia belum mandi dengan tenang Resna menjawab, “Memang belum soalnya tadi buru-buru jadi bangun tidur langsung pake baju dan minyak wangi ……!! maaf bau badanku ganggu ya?” “Dasar bau…….. bau……..” Tak beberapa lama bel masuk berbunyi Tet…….. Tet………. Resna segera menghabiskan makanannya karena hanya punya dia yang belum habis setelah habis Resna dan ketiga temannya bergegas menuju kelas. Guru kesenian datang dan mengucapkan salam. “Selamat pagi anak-anak!!!” Dengan serentak para siswa menjawab salam itu, “Pagi, bu.” “Kalian sudah tahu bahwa sekolah kita akan mengadakan pameran karya Seni. Pasti kalian sudah tahu anak-anak, ibu ingin kalian mengisi acara itu dengan tarian tradisional dari Bandung ‘Es lilin’ dan tarian dari Aceh ‘Saman’.” Dua minggu waktu yang diberikan sekolah untuk mempelajari tarian itu, bagaimanapun sulitnya tarian itu anak-anak harus tampilkan yang terbaik . Berlatihlah dengan serius kalian pasti bisa melakukannya, bel berbunyi 3 kali siswa diperbolehkan pulang cepat , karena akan diadakan rapat lebih lanjut tentang acara pameran karya seni . Resna dan teman-temannya tidak langsung meninggalkan sekolah mereka menyempatkan untuk berlatih mereka ingin menampilkan yang terbaik, karena akan banyak yang datang hari itu selain siswa di sekolah lain, guru-guru, para wali murid turut diundang .Setelah dua jam mereka berlatih Resna pulang diantarkan Dani . Pada saat diperjalanan tanpa diduga Dani berkata, “Res, aku mau bilang sesuatu kalau gak punya jawaban cukup didenger aja ya? Aku mengagumi kamu lebih dari guru dan siswa di sekolah, aku barharap kamu mengerti perkataanku dan aku bisa nunggu jawabanmu kapan aja.” Tak terasa perjalanan begitu cepat Resna sampai di depan rumahnya, Dani pamit dan segera meninggalkan rumah Resna. Resna melihat di depan rumahnya ada mobil Ibunya, dia terdiam dan bingung sambil berkata sendiri, “Jam segini Bunda sudah pulang, masa sih?” dia lekas masuk dan menuju kamar Ibunya , Resna melihat ibunya sedang menangis seperti ketakutan dan seperti orang yang sedang melakukan kesalahan terbesar. Resna masuk dan menghampiri ibunya, “Bunda.” Ibunya terkejut, “Sayang, bunda sudah pulang sejak kapan,” ibunya menjawab dengan gugup. “Sejak tadi pagi tadi cuma satu pasien,” tambahnya. “O…. ya nak , Mbok Nah pulang kampung, karena mendadak sakit. Mungkin dia agak lama di kampung kamu gak apa-apa kan ditinggal? “Gak apa-apa bunda, kan masih ada Mang Ade.” “Bunda ini undangan, di sekolah Resna akan diadakan pameran karya seni, bunda dateng ya?” .Ibunya menjawab, “Bunda usahakan, sekarang kamu ganti baju dulu, makan dan istirahat pasti kamu capek sekali.” Resna pun pergi mandi, setelah selesai langsung tidur karena sangat lelah Resna tidak memikirkan semuanya lagi tentang Dani dan Ibunya . Keesokan harinya Resna bangun pkl : 05:30 wib dia melihat ruangan begitu sepi, ada selembar surat di atas meja makan yang berisi, sayang Bunda keluar kota ada urusan penting dan Ayah pergi juga untuk menemui kliennya, mungkin Ayah dan Bunda hanya dua hari, hati –hati di rumah sayang jangan telat makan, istirahat yang cukup sukses untuk hari ini .Resna menghela napas sebenarnya dia takut sendirian apalagi gak ada Mbok Nah, tapi sudahlah mau bagaimana lagi. Resna segera mandi, setelah selesai dia memakai baju yang telah disiapkan ibunya . Pada waktu Resna keluar pintu .Dani terlihat ada di depan pintu, Resna berfikir, pertanyaan Dani kemarin aku belum punya jawabannya. “Aku datang untuk jemput kamu bukan minta jawaban, aku mau ajak kamu ke sesuatu tempat.“ “Tapi nanti kita terlambat. Untuk hari ini aja kita gak sekolah. Gak aku gak mau. Gak usah aneh – aneh deh.” Pada saat itu wajah Resna terlihat pucat dia sudah sempoyongan karena tidak kuat lagi Resna pingsan Mang Ade mengangkat Resna ke kamarnya. Suhu badannya panas Resna juga sangat tinggi, segera Dani mengompresnya tak beberapa lama Resna sadar didapati Dani disampingnya serta Mang Ade yang berdiri di depan pintu. Kesepian Mang Ade menyarankan untuk menghubungi orang tuanya, tapi Resna menolak takut orangtuannya khawatir dan tidak bisa bekerja dengan tenang. Dani menghubungi Zeka bahwa Resna sakit dan memberitahukan kejadian yang terjadi tadi pagi. Zeka sontak kaget mendengarnya, karena kemarin Resna baik-baik aja. Dani pun mengatakan mereka tidak sekolah hari ini, tak lama kemudian terdengar suara deringan telepon, “Mang Ade berlari dan mengangkatnya, “hallo ……. ini siapa?” “ini Ibu … saya mungkin tidak pulang sampai dua minggu ke depan.” “Bukan kah ada acara kesenian di sekolah Mbak Resna.” tapi tiba- tiba telepon terputus .Resna memanggil Mang Ade, dia datang dgn terburu –buru “Ada apa mba!!!” Mang Ade menceritakan semua, tanpa saya harus bertanya. “Iya mba,” jawabnya. “Bunda tidak pulang sampai 2 minggu kedepan, jadi tidak bisa datang dalam acara karya seni di sekolah. Resna terdiam, dan menyuruh Mang Ade, Dani keluar dari kamarnya. Dani, Mang Ade pun keluar meninggalkannya sendiri. Resna terdiam dan hanya terdiam, dia terus berfikir, kenapa waktu sedikit pun tidak diluangkan untuk anaknya. Resna keluar dari kamarnya dan pergi keteras rumah, melihat itu semua, Dani mengikutinya,”boleh aku bertanya Res! “Stop jangan ada pertanyaan lagi, tak mampu otakku berfikir dan hatiku tak sanggup menerima pertanyaan lagi.” Dani termangu mendengar itu. Ia duduk diam dan hanya memandangi Resna yang sedang membaca koran.

Ketika serius membaca, Resna menemukan satu profil peristiwa yang begitu kejam. Seorang anak balita menderita tumor otak dan meninggal karena malpraktek. Ia adalah anak seorang pengusaha ternannya. Kasus ini terungkap karena banyak kejanggalan yang terjadi. Mulai dari hasil rongsen yang tidak diberikan dokter dan tidak diberitahukan dokter yang mengoperasi pada waktu itu, karena setelah kejadian operasi itu dokter menghilang tanpa jejak.

Telepon berdering, Mang Ade mengangkatnya “Ini siapa?”. “Ini Nela anak Mbok Nah”, “ada apa,” jawab Mang Ade. “Mbok Nah meninggal Mang karena serangan jantung dia tidak bisa bekerja di sana lagi. Prak…telepon itu terjatuh, dengan menangis Mang Ade berlari ke teras rumah, “Mbak, Mbok Nah tidak dapat menjaga dan menemani Mbak lagi, tetapi Mang Ade akan selalu ada untuk Mbak.” Resna menjawab “Ada apa mang?” “Mbok…..Nah meninggal.” air mata menetes, dia begitu terpukul, Resna menuju mobil, Dani mengikuti dari belakang, antar aku ke tempat Mbok Nah!!!…baik…? jawab Dani.
Mang Ade tidak ikut karena menjaga rumah……
Diam…..diam….. tidak bicara apa-apa… airmata terus mengalir hingga matanya begitu sembab terlihat seperti orang yang sangat kelelahan. Mobil berhenti tepat di depan gang. Resna turun dan berlari menuju rumah Mbok Nah, sesampainya ia menjerit sekuat tenaga. Padahal saat itu ia sedang sakit. Ia ingin melepas gundah, rindu dan marah yang ada di hatinya. Setelah itu ia lemas dan terjatuh. Dani membawanya ke kamar Nella. Wajah pucat, badan begitu kecil itu gambaran Mbok Nah sekarang. Resna pun sadar dan kembali mendekati Mbok Nah. Ia bercerita tentang apa yang Ia alami selama Mbok Nah pergi, meskipun baru sehari tapi sudah menumpuk kejadian yang ada di hatiku Mbok. Sekarang saat terakhir Mbok, karena besok aku nggak akan bertemu denganmu, hari mulai larut jam menunjukkan pukul 02.00 wib. Pagi, Resna masih duduk dan tak berkedip dia terus memandangi tubuh itu yang tak bergerak lagi.

Dani selalu setia menemaninya dan duduk berdampingan. Tak ada kata yang terucap sedikit pun dari bibir Resna. Dani tak berani berkata apapun. Dani melihat matanya begitu merah dan wajahnya begitu muram. Ayam berkokok dengan nyaringnya. Pagi pun tiba, ini adalah saat-saat terakhir bagi Resna karena tepat pukul 08:00 wib. Jenazah Mbok Nah akan dimakamkan. Nella mendekati Resna dan berkata,”Kamu masih ada aku, aku akan tinggal dirumahmu untuk menemanimu. Resna memeluk Nella, ia menangis dengan kencang seakan-akan hari yang akan ia jalani begitu suram. Teng…teng… jam menunjuk pukul 08.00 wib. Jenazah Mbok Nah dibawa ke pemakaman yang tidak jauh dari rumahnya di pemakaman, jenazah itu di kuburkan dan dimasukkan tanah sedikit demi sedikit akhirnya kubur itu penuh dengan tanah. Resna menabur bunga, dan berdoa, setelah selesai mereka pulang bersama dengan masyarakat setempat. Res, tadi Ayah kamu telepon, dia bilang ada persoalan penting, kita harus pulang sekarang. Tapi Dani, aku nggak bisa pulang sekarang. Nella kamu harus ikut aku, Nella menjawab! ya, aku akan ikut kamu, Nella menuju rumah dan berpamitan dengan ayahnya meski sedih tapi Nella harus pergi karena Mbok Nah berpesan agar dia selalu menjaga Resna. Nella menuju mobil yang pada saat itu Resna dan Dani sudah menunggu. Selama perjalanan Resna terlelap dalam mimpinya, dan Nella hanya duduk terdiam di sampingnya memandangi kota yang begitu sepi sama seperti hatinya yang sepi.

Tepat pukul 16.00 wib sampai di rumah Resna, Dani membangunkan Resna dengan hati-hati Resna bangun dan keluar mobil, di sana ia melihat rumahnya begitu ramai orang ia masuk rumah dan mendapati Ibunya ditangkap polisi, Resna bingung apa yang sebenarnya terjadi. Ia bertanya pada Ayahnya,”apa yang terjadi yah?”. Ibumu termasuk dokter yang melakukan malpraktek pada anak balita yang merupakan anak pengusaha ternama. Resna menuju mendekati Ibunya dan berkata, “Apakah ini pekerjaan bunda selama ini”. Maafkan bunda nak, jaga baik-baik dirimu. Polisi segera membawanya.

Resna mohon, Yah, bantu Bunda dalam persidangan nanti, “Tidak Ayah tidak mau membela orang yang bersalah, di sini ayah sebagai orang yang bertindak sebagai penegak hukum bukan membantu pelanggar hukum, Ayah ingin menerapkan kejujuran, bukan kemunafikan biarkan ibu merasakan sesuatu hal yang dibuatnya sendiri. Inikah sikap seorang suami kepada isterinya. Resna meninggalkan rumah dan menemui Ibunya, di sana ada 3 sahabatnya yang mengikuti dia sampai ke penjara sesampainya di sana Resna melihat Ibunya terborgol dan berkata, “Resna harus berbuat apa? kenapa bunda melakukan ini semua. Rasa dendam yang begitu memuncak, karena Ayah anak balita itu adalah kakak kandung Ibu, dia yang menyebabkan nenek meninggal. Saat itu ia akan pergi dari rumah, nenek didorong olehnya hingga terjatuh dari tangga. Ibunya berpesan Resna hiduplah dengan tenang jangan memikirkan ibu. Resna pergi meninggalkan ibunya, ia seperti orang yang kehilangan arah dan jalan hidup yang tidak menentu. Ia sempat duduk di sebuah taman di dekat rumahnya, ia mengatakan pada 3 sahabatnya, “aku bingung harus kemana?”. Zeka berkata pulang dan hadapi semua ini dengan senyuman semua masalah pasti akan ada jalan keluarnya.

Resna pulang diantar Dani, kedua sahabatnya kembali kerumah masing-masing. Ayah Resna menyambutnya dengan gembira. Resna berlari ke kamar dan mengunci pintunya. Sejak kejadian itu terjadi Resna sering murung, tidak mau sekolah dan bahkan tidak mengenali Ayah, Mang Ade, Nella dan ketiga sahabatnya. Akhirnya Ayahnya memutuskan bahwa Resna perlu perawatan, di mana ia depresi berat, jiwanya terganggu, dengan penuh rasa sedih Ayahnya diantar Mang Ade, Nella, dan ketiga sahabat Resna pergi ke rumah sakit jiwa. Resna diserahkan kepada pihak rumah sakit. Resna saat itu hanya diam dan air mata terus menetes, Dani mengusapnya,”Aku tetap mengagumimu dan aku tunggu jawabanmu sampai kapanpun. Mereka meninggalkannya sambil menangis.

Hidup adalah masalah
Tantangan adalah ujian
Jalani dan resapilah setiap masalah yang terjadi dalam hidupmu agar kelak kau mampu mendapat bahagia lewat masalah yang kau hadapi…………………..!!!

Ulasan

Sikap Tokoh

F. Moses

Meminjam penggalan dari kalimat di akhir penceritaan dalam cerita pendek (cerpen) karya Dewi Kristiani yang mengatakan bahwa hidup adalah masalah, dapat terbayang bagaimana jadinya—sebagai cerpen—bila tanpa masalah dalam penceritaannya. Tanpa suatu permasalahan dalam penceritaan dapat terbilang hambar. Ibarat masakan tertentu tanpa digarami. Kurang sedap. Kurang lebih begitulah, sebelum saya mencoba berlanjut mengapresiasikan cerpen berjudul “Dilema Resna” karya Dewi Kristiani secara lebih.

Membaca cerpen karya Dewi, sebagai penulis yang secara kebetulan terbilang muda, ketrampilannya mengakomodasikan sikap tokoh—tokoh Resna dalam cerpennya—dapat dikatakan menarik: seolah pembaca hanya disuruh melihat saja. Melihat tokoh Resna. Terserah akan terjerat ke dalamnya atau tidak. Melihat atau pun sekadar “berjalan-jalan” lewat keragaman permasalahan dalam cerpen lewat sikap tokoh. Pembaca seolah cukup berada dalam sikap tokoh Resna untuk (sekali lagi) melihat masalah demi masalah. Sekali lagi, kurang lebih begitulah sebelum saya, sebagai pembaca, mencoba mengkritisi lebih jauh.

Cerpen karya Dewi, “Dilema Resna”, menceritakan tokoh Resna sebagai anak remaja yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Kecuali oleh Mbok Nah, seorang pembantu yang sekaligus mampu menghadirkan rasa perhatian dari kesepian Resna di saat orang tuanya kurang memberi perhatian padanya.

Suatu ketika pula, Resna mendengar kabar tentang kematian Mbok Nah. Betapa terpukul batin Resna, seorang yang telah dianggap sebagai pengganti orang tua dalam memberikannya perhatian telah meninggalkannya. Kepergian yang tidak akan kembali.

Dalam pergumulan yang dirasa berkepanjangan oleh Resna karena merasa orang tuanya kurang memberi perhatian, kecuali Mbok Nah yang telah tiada dan teman-teman sepermainan di sekolah, Resna semakin merasa dalam tekanan batin.

Tekanan batin Resna semakin memuncak ketika harus mengetahui keadaan sebenarnya, bahwa orang tuanya sendiri, yang ternyata adalah ibunya, sebagai dokter telah melakukan tindakan tidak terpuji terhadap pasiennya.

Resna semakin dalam tekanan batin. Resna tidak kuasa lagi dalam tekanan itu. Semua masalah dari konflik batin pada Resna yang berkepanjangan menjadikannya semakin tidak sadarkan diri. Resna masuk Rumah Sakit Jiwa.

***

Seperti yang saya katakan di atas, dalam cerpen “Dilema Resna” karya Dewi Kristiani, telah hadir sebuah permasalahan. Permasalahan dari tokoh Resna. Dapat dikatakan permasalahan realitas, menurut saya. Suatu permasalahan yang digarap oleh Dewi (entah secara sadar atau tidak) lewat tokoh Resna, yang akhirnya secara langsung dan tidak, telah cukup membaur menjadi bangunan cerpen itu sendiri.

Membaur menjadi bangunan cerpen yang termaksud adalah alur. Dalam cerpennya, saya mengatakan sebagai alur maju. Sebuah alur yang mentendensikan sebab-akibat: berakhir pada ketaksadaran diri tokoh Resna karena kurangnya perhatian dari orang tua dan sebuah kenyataan “ketragisan” orang tua yang akhirnya ditangkap oleh pihak berwajib.

Kemudian latar yang dibangun oleh Dewi, latar sebuah rumah yang terlatar pula sebuah kamar maupun ruangan tamu. Dan sampai pada latar sekolah yang terlatar pula sebuah kelas hingga kantinnya. Selain itu adalah penokohan; tokoh utama sampai para tokoh bawahannya. Dalam cerpennya, Dewi, sebagai pengarang betapa cukup terlihat hendak memaksimalkan itu semuanya.

Hanya saja, sebuah catatan saja, menurut saya—yang setidaknya ini berlaku pula untuk para penulis muda, khususnya pelajar yang (barangkali) kebetulan baru memulai menulis cerita pendek, betapa kehati-hatian sangatlah diperlukan. Kehati-hatian yang barangkali agar tidak sekadar langsung menyalin: serta merta dari khayalan ataupun realitas untuk segera “menyulap” menjadi cerita. Sebenarnya tidaklah masalah dan tidaklah salah, hanya saja, menulis cerita pendek bukanlah sekadar seperti menulis catatan harian ataupun catatan dari kejadian yang berpindah menjadi sebuah cerita. karena, tentunya, bukankah cerita pendek yang terbuat ditujukan pada pembaca ataupun penikmat? Lain soal jika itu hanya cukup diperuntukan diri sendiri penulisnya.

***

Kembali pada Dewi Kristiani, sebuah permasalahan dalam cerpen telah dihadirkan dan bangunan untuk mendukung penceritaan telah terjalinkan dengan baik, hanya saja, jika boleh saya membeberkan, betapa kesan terburu-buru telah Dewi lakukan. Seolah ada yang terlupakan: kurang memaksimalkan imajinasi. Lantas apakah berarti Dewi tidak menggunakan (setidaknya telah mencoba) memaksimalkan imajinasi? Sudah. Sekalipun tadi saya mengatakan bahwa Dewi kurang memaksimalkan imajinasi. Perlu diingat, sebagai cerpen (yang dapat dikatakan) terkategorikan cerpen realitas, seperti cerpen karya Dewi ini tentunya, entah sadar ataupun disadari, sebuah rekaan dalam penceritaan telah dilakukan. Sebuah rekaan para tokoh dengan segala bentuk emosional maupun psikologisnya, kemudian latar tempat, waktu dan seterusnya yang telah dicoba dijalinkan; telah menjadi cerpen. Cerpen berjudul “Dilema Resna”.

Kembali ke persoalan kesan imajinasi yang kurang dimaksimalkan, barangkali dapat terlihat pada penggalan kalimat pada pengenalan di sebelum timbul konflik, yaitu pada, “Resna menatap mata orang tuanya terpancar lelah yang begitu manumpuk dan rasanya ingin segera membaringkan badan yang lelah itu di kasur yang empuk”, betapa sangat berkesempatan Dewi untuk lebih memaksimalkan imajinasinya. Dewi sangat bebas mengimajinasikan kembali. Karena saat tokoh Resna menatap mata orang tuanya, betapa sangat memungkinkan pula terdengar “jeritan membatin” dari tokoh Resna tersebut. Tugas Dewi sebagai pengarang: bahasakan dan imajinasikanlah. Sebuah Pilhan. Apakah mau atau tidak. Kemudian pada, “Resna juga meninggalkan tempat itu menuju ke kamar. Sebenarnya bibir Resna ingin bercerita dan ngobrol lebih lama tapi itu tak mungkin”, Dewi tentunya dapat pula meruangkan imajinasi tentang apa yang sebenarnya ingin tokoh Resna bahasakan ketika ingin bercerita lebih lama dalam ketidakmungkinan—yang barangkali karena masalah waktu, dan sebagainya. Sekali lagi, pilihan untuk Dewi sebagai pengarang. Ingin memaksimalkannya atau tidak. Karena, menurut saya, betapa terasa cukup banyak, untuk Dewi lebih memaksimalkan imajinasi.

Selain itu masalah lompatan dalam pemeristiwaan, ada baiknya Dewi agak lebih berhati-hati dan jeli. Masalah lompatan tersebut, seperti di (sebagai penutup) akhir cerita yang terlihat pada, “Resna pulang diantar Dani, kedua sahabatnya kembali kerumah masing-masing. Ayah Resna menyambutnya dengan gembira. Resna berlari ke kamar dan mengunci pintunya” sampai akhirnya cerita melompat pada “Sejak kejadian itu terjadi Resna sering murung, tidak mau sekolah dan bahkan tidak mengenali Ayah, Mang Ade, Nella dan ketiga sahabatnya. Akhirnya Ayahnya memutuskan bahwa Resna perlu perawatan, di mana ia depresi berat, jiwanya terganggu, dengan penuh rasa sedih Ayahnya diantar Mang Ade, Nella, dan ketiga sahabat Resna pergi ke rumah sakit jiwa”, betapa pembaca juga sangat membutuhkan tuntunan dari pengarang. Sebuah tuntunan logika. Karena—sekali lagi dapat dikatakan pula—inilah “efek” dari cerpen yang berangkat dari permasalahan realitas. Yang terkadang masih bermainnya “aturan” logika.

Akhir kata, mungkin itulah sebagian kurangnya kejelian Dewi. Karena cukup amat disayangkan, gagasan maupun bangunan cerpen yang telah terbangun baik menjadi rusak karena permasalahan lain. Tentunya banyak berlatih dan membaca, sekaligus tetap untuk menjadi diri Dewi sendiri, dengan tetap terus serta memerhatikan karya-karya lain, tentunya akan memberi ruang perbandingan tersendiri bagi imaji maupun karakter Dewi untuk lebih berkarakteristik dan semakin peka. Selamat untuk terus berlatih dan berkarya. Salam.

Sumber: Radar Lampung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s