Bunga Tidur

Arisa
Mahasiswi Semester II STKIP PGRI

Belakangan ini, banyak sekali yang dimimpikan Rohmah. Dari suatu hal yang amat kecil sampai yang besar sekalipun. Tapi Rohmah tak pernah ingin mengusik mimpi¬ – mimpinya, baginya mimpi hanyalah bunga tidur, yang tidak perlu di klarifikasikan ataupun digembar gemborkan pada orang lain. Kalaupun teman temannya bilang bahwa mimpi bukanlah sekedar bunga tidur, dia tak pernah pedulli. Toh baginya tak ada yang aneh, dia hanya menjawab dengan ringan jika ada orang yang ngobrol mengenai hal itu. “Mimpi hanyalah bunga tidur, tidak perlu diambil pusing” kata Rohmah pada sahabatnya, Maisaroh.
☺☺☺
Berbeda dengan Rohmah, Maisaroh adalah salah satu orang yang amat percaya pada sebuah Mimpi. Kalau Rohmah mengatakan Mimpi adalah bunga tidur, Maisaroh malah sebaliknya.

Baginya Mimpi bukan hanya bunga tidur tapi ada suatu waktu mimpi itu bisa jadi pertanda atau petunjuk dari yang Maha Kuasa yaitu pertanda suatu peristiwa akan terjadi pada kita ataupun pada orang terdekat disekeliling kita. Keyakinan ini didapatnya dari Sang Nenek.
☺☺☺
Waktu itu Neneknya pernah bercerita tentang berbagai macam mimpi berikut artinya. Kata Nenek Ima (Neneknya Maisaroh) , Mimpi akan menggambarkan suatu keadaan yang akan kita alami dikemudian hari. Nenek Ima antuslas menceritakan kisah – kisah mimpinya yang selalu jadi kenyataan. Sebenarnya awal awal Nenek Ima menceritakan sernua itu Malsaroh tidak tertanik tapi akhirya Maisaroh jadi suka dengan cerita Nenek Ima, mungkin karena gaya bicara Nenek Ima vang bisa membuat Maisaroh jadi betah mendengarkannya.
☺☺☺

Di ruang kelas, Rohmah sedang curhat dengan Maisaroh.

” Mai, aku bingung Nih mau masuk kuliah dimana?” kata Rohmah membuka obrolan

” Ngapain bingung bingung, Pcrguruan Tinggi kan banyak” jawab Maisaroh sambil terus membaca Novel yang baru dibelinya.
” Mai, kalau itu aku tau. Kamu kok gak perhatiin omonganku sih?” keluh Rohmah.

” Yee…gitu aja kok ngambek. Aku kan tetep dengerin kamu. Gak usah bingung – ¬bingung, mendingan kamu shalat Istikharah aja, biar jelas pilihan yang tepat dari Allah buat kamu” terang Maisaroh dan menutup Novel yang ada di tangannya.

“Salat Istikharah?”Rohmah mengernyitkan dahi.

“Iya… Salat Istkharah!” Maisaroh menegaskan.

” Aku gak tau cara salat Istikharah, lagian apa hubugannya dengan pilihanku?”

” Aduh Rohmah, karnu ini gimana sih, salat istikharah aja gak ngerti. Salat istikharah ltu adalah shalat untuk meminta petunjuk dari Allah tentang apa yang akan kita pilih (kalau kita bimbang). Kalau kamu sudah salat istikaharah, kamu tinggal tunggu petunjuk Nya. Biasanya Allah ngasih petunjuk itu lewat mimpi” jelas Maisaroh menggebu gebu.

” Mimpi? Masa sih?” tanya Rohmah kurang yakin.

” Iya… Masa sih Aku bohong”

” Bukannya Mimpi itu cuma bunga tidur?”

” Nggak semuanya kaliee, Masa sih kamu gak percaya sama Allah, Dulu waktu Zaman Nabi Yusuf, Seorang Raja awalnya nggak percaya dengan apa yang dikatakan Nabi Yusuf ketika Raja tersebut bertanya tentang arti mimpinya tapi setelah semua yang dikatakan Nabi Yusuf itu benar, Raja malah takluk dan sadar. Asal kamu tahu aja sejak kejadian itu banyak orang yang bertanya tentang mimpi mereka pada Nabi Yusuf. Apa Kamu masih belum percaya?” tanya Maisaroh.

” Aku bukannya nggak percaya tapi… ” Rohmah terdiarn.

” Tapi apa?”

Rohmah masih diam. Maisaroh juga diam.
☺☺☺

Melihat Rohmah masih terdiam dan tidak ingin memberitahukan alasannya, Maisaroh berinisiatif untuk menceritakan Mimpi mimpi yang pernah Nenek Ima ceritakan padanya dengan harapan Rohmah merubah paradigmanya.
“Mah, Nenek Ima pernah cerita tentang mimpinya padaku. Katanya sebelum dia menikah, dia salat istikharah dulu untuk ¬menentukan laki. Iaki mana yang cocok untuk hidupnya. Dan akhimya dia menemukan jawaban itu tewat mimpi” I

Rohmah hanya terdiam dan mengangguk anggukkan kepalanya.

” Nenek Ima juga pernah cerita tentang mirnpi mimpimnya, waktu dia mimpi melihat air yang begitu keruh dia langsung beristigfar…”

” Memangnya kenapa?” kata Rohmah penasaran

” Aku kan belum selesai ngomong, makanya jangan motong pembicaraanku?.”kata Maisaroh sambil tersenyum menang. Akhimya temannya vang satu ini penasaran juga, fikir Maisaroh.

Nenek Ima beristigfar karena mimpinya itu berarti tidak baik, katanya mimpi itu menandakan akan ada kesulitan yang menimpa kehidupannya7′

” Terus apa benar kesulitan itu datang?” Rohmah antusias.

” Awalnya sih tak ada apa apa. Tapi beberapa hari kernudian atau tepatnya tiga hari setelah mimpinya itu Nenek Ima benar benar mengalami kesulitan. Dia dihadapkan dengan persoalan yang begitu membuat batinnya terpukul. Ternyata Suaminya telah berpoligami dan parahnya lagl rumah yang ditempati Nenek Ima akan dilelang. Nenek Ima tidak bisa lagi berkutik, Nenek Ima tidak tahu awalnya apa mengenai rumahnya yang akan dilelang itu. Nenek Ima hanya. pasrah dan menyerahkan semua urusannya itu kepada yang Maha Memiliki. Biarlah rasa sakitnya ini akan berbuah kebahagian dikemudian hari. Yah… hanya itu yang bisa. dia harapkan.”‘ kata kata Maisaroh terhenti ketika melihat Rohmah menitikkan air bening dari matanya vang indah itu,

“Sudah lanjutkan saja” Rohmah memberi isyarat dengan tangannya sambil sedikit menghapus air matanya

Maisaroh kembali melanjutkan ceritanya, sebenarnya dia ingin sekali menyudahi ceritanya karena takut akan membuat Rohmah menangis terus menerus. Rohmah memang adalah sahabatnya yang paling perasa dan jika ada kisah kisah sedih baik di dalam Cerpen, Novel, cerita lisan seperti yang sekarang sedang dilakukan oleh Maisaroh dan yang dia lihat secara nyata sekalipun, pasti akan membuat matanya berlinang bagai air sungai yang mengalir. Tapi sudahlah toh itu sudah jadi ciri khasnya…

“ Suaminya pun telah pergi entah kemana. Tidak ada ribut ribut sebelumnya bahkan suaminya tidak pernah berbicara tentang perceraian ketika suaminya tahu Nenek Ima tidak bisa mempunyai keturunan. Suaminya hanya berkata “Sabar saja mungkin suatu saat kelak Allah akan mengabulkan permintaan kita”, Nenek Ima senang dengan perkataan suaminya itu tapi setelah apa yang Nenek Ima alami, Nenek Ima baru sadar bahwa Suaminya telah menyakitinya secara perlahan. Nenek Ima, sekarang tinggal di rumahku.”

Hening. Maisaroh berhentl sejenak , lalu meneruskan ceritanya.

Meskipun dia bukan Nenek dari lbu dan Ayahku, Nenek Ima sangat baik dan begitu menyanyangiku”. Sampai saat ini pun Nenek Ima tidak lagi ingin mengenang kehidupan pahitnya itu. Ibu dan Ayahku pun bahagia ada Nenek Ima di rumah karena ada yang menemaniku jika mereka sedang pergi ke luar kota. Tapi ada yang tidak pernah bisa aku tanyakan pada Nenek Ima, kenapa dia bisa ada di rumahku? Sejak aku kecil Nenek Ima memang sudah ada di rumahku dan aku tidak akan berani menanyakan perihal keberadaannya di rumahku, aku takut dia tersinggung” kata Maisaroh sambil menghela nafas panjang
☺☺☺

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, Rohmah dan Maisaroh telah larut dengan obrolan mereka tentang Nenek Ima. Rohmah tidak tahu apakah dia sudah sepenuhnya percaya tentang cerita Maisaroh, akhimya Rohmah jadi ingin lebih banyak tahu tentang Mimpi mimpl.

” Sedih sekali kisah Nenek Ima? Apa karena itu saja Nenek Ima jadi percaya pada makna makna mimpi sehingga dia bisa menyimpulkan bahwa Mimpi bukanlah bunga tidur?” pancing Rohmah ingin tahu lebih banyak.

Nggak Cuma itu sih, banyak banget mimpi yang di alami Nenek Ima dan semuanya jadi petunjuk. ¬Waktu itu dia pernah mimpi mendapatkan lkan mas besar, katanya dia akan dapet rezeki yang lumayan.”

” Oo… gitu ya! ” bibir mungil Rohmah membulat menanggapi

” Kamu lucu deh… ” kata Maisaroh seraya mencubit pipi sahabatuya.

” Tapi masih banyak Iho cerita tentang mimpi Nenek Ima, kamu mau tahu gak?” tambah Maisaroh lagi.

Boleh gak aku ketemu Nek Ima? Aku pengen tanya tentang mimpiku semalam? Setelah mendengar ceritamu aku jadi gelisah” tanya Rohmah tanpa mengindahkan pertanyaan Maisaroh.

Ya boleh dong … Yuk ke rumahku” kata Malsaroh seraya menarik lengan Rohmah meninggalkan kelas.

Mereka pun berlarl menyebrangi jalan untuk menunggu angkot. Tapi….
“Maaai… ” teriak Rohmah.

☺☺☺

Ruangan ini begitu kental dengan warna putihnya. Juga khas dengan aroma obat- obatannya. Juga dengan segala kesedihan dan keharuan.

Rohmah masih menggenggam tangan Maisaroh yang kaku, pucat dan dingin. Maisaroh masih terbaring dikelilingi orang orang yang menanti kesembuhannya akibat kecelakan sepulang sekolah bersama Rohmah. Rohmah menyesal mclepaskan tangannya dari genggaman Maisaroh ketika menyebrangi jalan. Ahrg… semuanya sudah berlalu.

” Mah, apa yang kamu mimpikan semalam?” suara lembut Maisaroh membuat Rohmah tertegun.
” Memangnya ada apa? Kau belum sembuh Mai.. . kenapa kau tanyakan hal itu?” suara Rohmah lirih.
“ Sudah jawab saja, bukankah kau ingin menanyakannya pada Nek Ima? Nah,
katakanlah Nenek Ima kan ada disini” pinta Misaroh lemah
Dengan suara yang serak dan berat Rohmah pun menjawab.
” Aku bermimpi Gigi kanan sebelah atasku copot”
Maisaroh tersenyum menatap Wajah sahabatnya yang tertekuk dan berurai air mata

” Aku tahu apa makna dari mimpimu” kata Maisaroh dengan tenang.
” Apa?” tanya Rohmah pelan.

” Maafkan aku, karena aku kalian jadi repot datang kesini, waktu kalian jadi terbuang mengurusiku. Untuk semua itu, aku mengucapkan tenima kasih. Terima kasih banyak”.

Maisaroh tidak memberitahukan makna dari minipi Rohmah kepada Rohmah hanya permohanan maaf dan ucapan tenmakasih yang keluar dari bibimya, itulah kata-kata terakhir. Dan dengan menatap wajah Nenek Ima, dia seolah memberikan isyarat pada Nenek Ima agar memberitahu Rohmah tentang makna mimpi itu.

☺☺☺

Asyhadu’alaa illaahailallah wa asyhadu’ana muhammaddarosulullah7′ bibir Maisaroh tak henti hentl mengucapkan dua kallmat Syahadat. Sampai akhimya mata jernihnya terpejam.

Semua yang ada di ruangan rumah sakit itu membisu tak ada yang berani bersuara. Benarkah Mimpi bukanlah Bunga tidur?.

Ulasan

Awalnya adalah Ide

Oleh F. Moses

Siapakah manusia di dunia ini yang tidak pernah mimpi ketika sedang tidur? Tentunya pasti. Bermimpi. Beraneka ragam pula jawabannya. Tidur dan kemudian bermimpi—sesuatu yang kadang cukup sulit dipisahkan. Serta peristiwa keseharian yang jarang pula untuk diceritakan kembali. Terlebih, jika mimpi buruk—kemudian menjadikannya siuman lalu terngengah-engah seperti habis berlari ratusan meter—akan membuatnya sulit melupakan. Barangkali.

Berangkat dari masalah mimpi di atas bukanlah bermaksud menggembar-gemborkan tentang mimpi layaknya orang “pintar” yang pandai membaca mimpi, saja. Hanya saja, betapa peristiwa keseharian itu acap menjadi cerita: lisan maupun tulisan. Di sini, Arisa, setidaknya, telah menerjemahkan peristiwa mimpi yang sering disebut sebagai “bunga mimpi” menjadi rangkaian cerita. Cerita pendek.

Cerpen Arisa, “Bunga Mimpi”, menceritakan Rohmah sebagai tokoh yang selalu beranggapan bahwa mimpi adalah bunga tidur. Dan Rohmah menganggapnya pula adalah suatu hal yang tidak perlu diambil pusing. Suatu ketika Rohmah mencurahkan isi hati tentang mimpinya itu pada Maisaroh. Kemudian secara tidak langsung Maisaroh memerikan jalan keluar tentang mimpinya itu. Adalah nenek Ima, seorang yang dianggapnya mumpuni untuk menafsirkan masalah tersebut.

Setelah pembicaraan antara Rohmah dan Maisaroh, kemudian mereka sepakat untuk menemui nenek Ima. Akan tetapi, dalam perjalanan, peristiwa pun menjadi lain. Kecelakaan menimpa Maisaroh. Lantas Rohma pun merasa bersalah karena merasa tidak mampu melindungi Maisaroh sewaktu menyeberang jalan. Kemudian berlanjutlah, di Rumah Sakit.

Sebelum ajal menimpa Maisaroh yang berujung pada kematian, terjawablah mimpi Rohmah lewat pengakuannya pada Maisaroh yang selama ini tidak terjawab. Selain orang-orang yang memenuhi ruangan tempat Maisaroh terbaring, juga nenek Ima yang selama ini dianggap mumpuni, terdengar pengakuan Rohmah. Pengakuan yang berarti kamatian untuk sahabatnya: mimpi gigi kanan sebelah atasnya copot.

Dari sini pula, sejenak saya menyimpulkan, tentunya tanpa membeberkan masalah mimpi lagi, ada catatan khusus sementara bagi pengarang, di sini Arisa: telah berani “menangkap” keseharian yang selanjutnya tergagas menjadi sebuah cerpen, yaitu masalah mimpi. Berangkat dari keseharian—yang padahal, betapa sulitnya kita (terkadang) “menangkap” keseharian itu. di sini, setidaknya, Arisa telah membuktikannya. Pembuktiannya lewat ide. Ide keseharian.

Tanpa ide ataupun gagasan, rasanya akan sulit membangun cerita. Sekalipun ide dasar sudah baik, namun cukup sulit pula memaksimalkan penceritaan tanpa diimbangi “permainan” unsur-unsur: alur tokoh, latar, maupun tema. Selebihnya adalah imajinasi. Sebuah “bumbu” yang memberi rasa estetika tersendiri bagi pembacanya. Sebab tidak dapat dipungkiri lagi, cerpen yang baik (dapat dikatakan) yang mampu memberikan hiburan sekaligus kontemplasi bagi pembaca. Dan amat disayangkan, jika ide maupun gagasan yang seharusnya Arisa kemas menjadi konstruksi cerpen yang baik menjadi buruk karena beberapa permasalahan yang belum dipahami.

Dalam cerpen karya Arisa ini, alur yang ditawarkan cukup baik yaitu menggabungkan alur maju dan alur mundur, dapat dikatakan adalah alur sorot balik, yaitu pada, Waktu itu Neneknya pernah bercerita tentang berbagai macam mimpi berikut artinya. Kata nenek Ima (Neneknya Maisaroh). Mimpi akan menggambarkan suatu keadaan yang akan kita alami di kemudian hari…, penggunaan alur sorot balik juga Arisa pergunakan ketika mulai timbul konflik, pada Nenek Ima juga pernah cerita tetang mimpi-mimpinya, waktu dia mimpi melihat air yang begitu keruh dia langsung beristigfar…, bahkan sampai lompatan peristiwa sekalipun, Arisa mengemas alur sorot balik sampai peristiwa berikutnya. Menjadikan komposisi cerpen (seolah) menjadi/ memiliki dua “ruang” sekaligus, bahkan dua tokoh sentral sekaligus: Rohmah dan nenek Ima. Cukup unik. Ada cerita di dalam cerita. Sesuatu yang tidak asing pula dalam perkembangan cerpen Indonesia.

Hanya saja, cara “bangun ruang” dalam cerpen yang telah Arisa kemas/ ide maupun gagasan yang telah cukup mendukung akan menjadi hambar tanpa didukung penokohan yang kuat. Mungkin Arisa bermaksud ingin membaurkan tokoh sentral ke dalam tokoh-tokoh yang lain sehingga cerita akan menjadi lebih berenergi. Sah-sah saja. Akan tetapi, rasanya Arisa terlalu terburu-buru ketika tengah meminkan tokoh-tokohnya dalam penceritaan, seperti penggalan—sebelum lompatan peristiwa berikutnya—pada, “Rohmah masih terdiam. Maisaroh juga diam”, kemudian berlanjut pada melihat Rohmah masih terdiam dan tidak ingin memberitahukan alasannya, Maisaroh berinisiatif untuk menceritakan…sangat cukup Arisa berkesempatan mengisinya dengan imajinasi. Kenapa? Padahal, (barangkali) di sini, bukankah telah menjadi rahasia pengarang untuk menghadirkan suspense (rasa ingin tahu) bagi pembacanya? Ya. Barangkali itu adalah untuk membuat pembaca termotivasi rasa ingin tahunya. Akan tetapi tidak salah pula jika Arisa berbuat “Liar” terhadap tokoh Rohmah yang saat itu menjadi terdiam. Misalnya dengan memvisualisasikan kembali rasa kepenasaranannya tokoh Rohma. Entah bagaimana cara Arisa memvisualkan rasa tersebut. Terserah. Sebebas imajinasi Arisa. Sebab, diamnya—dalam dunia nyata—seseorang secara fisik (kadang) tidak pernah akan terpikirkan pada kita apa yang akan dilakukannya. Tapi, diamnya tokoh dalam cerita, di sini adalah fiksi, adalah hak Arisa sebagai pengarang untuk lebih memainkan tokoh-tokoh rekaan dalam cerita. Semata, diamnya (tokoh Rohma)—barangkali/ mungkin sebenarnya—menjadi kata-kata tersendiri untuk Arisa imajinasikan. “Seperti serbuk di udara” –yang tidak terlihat: Arisa dapat imajinasikan tokoh tersebut agar lebih menggoda pembaca. Misalnya. Namun demikian, bukan berarti salah pula jika Arisa tetap memertahankan cara yang demikian adanya. Pilihan untuk Arisa.

Selain itu, ada beberapa bagian/ruang yang setidaknya Arisa isi dengan imajinasi. Setidaknya Arisa harus lebih berani memainkan metafora, seperti penggalan pada, Rohma hanya terdiam dan menganguk-anggukan kepalanya, yang cukup memvisualkan betapa konflik batin menyergap tokoh Rohma saat itu, ketika harus mendengarkan cerita Maisaroh tentang nenek Ima. Kemudian pada, Hening. Maisaroh berhenti sejenak, lalu meneruskan ceritanya, dan pada, Mereka pun berlari menyeberangi jalan untuk menunggu angkot. Tapi…”Maaai…” teriak Rohmah cukup lebih memungkinkan Arisa mengisi ruang tersebut dengan imajinasi. Imaji-imaji yang semakin menguatkan isi cerita. Baik di waktu pengenalan, timbul konflik, konflik, maupun pengakhiran. Alhasil, konstruksi penceritaan menjadi lebih baik.
Itulah sebagian kurangnya kejelian Arisa. Tentunya, banyak berlatih dan membaca akan memberi ruang perbandingan tersendiri bagi imaji maupun karakter Arisa untuk lebih berkarakteristik dan semakin jeli. Paling tidak, di sini, penceritaan yang berangkat dari ide keseharian sudah di adaptasi jadi sebuah cerpen. Salam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s