Di Sajak Ibuku Namaku Disebut

F. Moses

Di tengah rasa letih perjalanan pulangku dari pulau seberang, aku rehat sejenak. Di sebuah kedai kopi, sambil menyeruput kopi panas kemudian mengisap rokok kretek, pinggir stasiun. Selebihnya, sejenak bermain dengan ingatan. Betapa hidup tak bergaram tanpa ingatan. Beringat-ingat. Terlintas demikian.

Hidup di pinggiran ibukota berumah sederhana, ibu masih setia menempatinya.
“Ibu tak akan tinggalkan rumah ini, meski kesan butut makin terlihat dari hari ke hari, apalagi menjualnya. Bagi ibu, rumah ini kenangan sekaligus keringat dari almarhum bapakmu itu sendiri,” katanya suatu ketika.
Aku lupa tepatnya kapan. Yang kutahu ibu semakin tua, usianya mendekati 73 tahun. Kalau tidak keliru. Sekujur tubuhnya juga kian menyusut saja. Kecuali mata ibu. Bermata penuh kata. Kata harap untuk anak-anaknya.
Kemudian, dari suatu sikapnya, seingatku ibu juga masih tiada hentinya pula: acap menghabiskan waktu sambil memandangi kali tepat muka rumah yang sampai hari ini kian terlihat suram, menurutku. Kali yang dahulu selalu menjadi tempat bagi anak-anaknya menghabiskan waktu berenang di musim hujan akhir tahun. Kini kali itu telah menjadi pembuangan limbah industri sebuah pabrik.
Kami bersaling dorong menceburkan diri ke dalam air, kala itu. Kalau sudah begitu, ibu cuma tersenyum.
Kemudian, esoknya, di penghujung tahun yang acap selalu hujan, biasanya kali meluap. Luapan yang acap tak segan membanjiri rumah-rumah dan sekitar. Dan kami pun sambil bercanda-ria membantu ibu menyelamatkan seisi rumah dari luapan air bercampur sampah. Dan tak jarang pula, terkadang bangkai tikus pun menghanyut di mana-mana. Setelah itu, keesokan harinya, bila hujan tak turun lagi, yang tersisa adalah aroma sampah dan bangkai. Meruap ke mana-mana. Itulah masa lalu.
Ibu masih tak berhenti sampai hari ini, menghabiskan waktu memandangi kali dari teras rumah, berduduk di kursi sambil menggoyang-goyangkan kedua kaki. Begitulah seterusnya. Seperti memandangi ingatan. Seperti ingin melarutkan masa silam supaya tak lagi sesuatu mengganggu pikirannya, Semenjak bapak pergi untuk selamanya. Dugaanku. Entah apa pula yang terpikirkan olehnya.
Ya. Itulah sekilas tertangkap olehku saat coba membaca ingatan ibu di kepulanganku setahun lebih yang lalu.
***
Tiba saja ingatan itu terputus. Tak terasa hampir tiga batang rokok kretek kuhabiskan. Bersamaan habisnya kopi.

Riuh kembali terdengar. Entah keriuhan apa yang menjadikannya. Dasar kesibukan manusia yang memang tak pernah berhenti. Ya, namanya juga stasiun. Pikirku.
Stasiun yang kini acap terkatakan paling elite–dari masa lalu yang sempat terkatakan tempat gudangnya copet bersekaligus para lelaki pemburu malam sunyi

untuk melacur–di tengah gemerlapnya ibu kota. Bersekaligus sebuah stasiun yang kebetulan pula berdekatan dengan tugu yang konon paling menjulang. Simbol metropolitan, begitu penduduk ibu kota menyebutnya. Atau barangkali, dapat dikatakan, simbol tingginya kesulitan kota ini? Kesulitan menangani pengangguran beserta kemiskinannya. Entahlah. Apakah perlu terkatakan demikian. Sekali lagi, entahlah. Tak berpikir sejauh itu.
Tak terasa hampir menjelang sore. Ingin segera pulang. Tinggal sebentar lagi. Aku merindukan rumahku dengan segenap isi maupun suasananya dari masa lalu, terlebih ibu. Aku merindukan pelukan kerinduan dari keriput tubuhnya. Merindukan keluh kesahnya. Terlebih terindukan: membaca kasih dari matanya. Seperti doa. Tak berkesudahan.
***
Berlanjut aku berbis kota. Tak kalah riuhnya dengan suasana stasiun. Kini menuju terminal.
Terminal masih saja persis sama seperti dulu. Tak ada ubahnya. Betapa potret ketakdisiplinan maupun kekonsistenan pembangunan dari sebuah kota, yang katanya Ibukota, benar-benar menjadi terlihat menakutkan. Terlebih di malam begini. Semrawut. Sekalipun begitu, aku tetap ternikmati. Apalah arti ketakutan bilamana ada kesukacitaan. Barangkali saja semua itu berangkat karena rasa kangen terhadap ibu. Dan masih tersimpannya rasa mengangeni tanah kelahiran. Dan sebagainya.
Hampir larut malam, sampailah aku di rumah. Rumah yang saat ini ditempati oleh ibu bersama keponakan yang berusia enam tahun.
Bergegas dengan mudahnya aku masuk lewat pintu pagar, yang entah kebetulan atau tidak, kali ini tak terkunci. Tidak seperti biasanya. Yah, mungkin ibu lupa. Berlanjut ke pintu masuk menuju ruangan dalam rumah, Ternyata sudah dikunci. Aku berdiam sejenak. Ingin mengetuk, tapi ragu-ragu. Takut mengganggu lelap tidurnya.
Kemudian aku coba bergegas ke arah samping rumah, untuk melihat kamar ibu. Dari celah gordin yang kebetulan pula tak semuanya tertutup rapat, terlihat ibu masih belum tidur. Tak terlihat jelas apa tengah dilakukannya. Kembali lagi aku bertanya dalam hati: tidak seperti biasanya. Sekali lagi, barangkali sedang kebetulan saja, ibu belum tidur. Ah, sudahlah, rasanya ingin segera saja menemuinya.
Lantas langsung saja aku memanggilnya. Terlihat dari celah gordin, ibu langsung bergegas dengan gontainya untuk membuka pintu sambil kembali memanggil-manggil namaku. Rupanya ibu langsung tersadari bahwa itu aku, pikirku.
Kemudian langsung saja aku berbalik arah menuju pintu masuk ruangan dalam rumah.
Kini aku bersitatap dengan ibu. Betapa rasa saling kangen antara ibu dan anak seperti menggelegarkan malam larut. Menggetarkan rasa kangen bercampur keringat dan air mata.
“Ibu merindukanmu sekali, Nak,” katanya. Sambil mendekapkan lemah tubuhnya ke tubuhku. Dekapan seolah penuh kata dan, sekali lagi, seperti bercampur air mata. Sekalipun tak setetes pun air matanya mengalir. Sambil sesekali aku memperhatikan wajah, leher, dan lengan ibu. O, ibu semakin tampak tua saja. Dalam hatiku.
Kami pun semakin larut saling berdekapan. Betapa rasa saling lepas rasa kangen antara ibu dan anak terlihat jelas di malam larut.
Kemudian ibu berucap dengan lemah.
“Mandilah dulu, Nak. Kemudian makan dan minum. Ibu siapkan pakaian untukmu.”
“Tidak perlu, Bu. Biarlah kita ngobrol terlebih dahulu. Aku kangen sekali. Itu pun bila ibu tidak kantuk.”
Bersama tas ransel cokelat yang warnanya semakin memudar, masih tergantung di punggung, aku ngobrol bersama ibu di sebuah ruang tamu. Ruangan masih sederhana seperti dulu, tiada berubah. Dan masih terlihat jelas pula–tanpa setitik debu pun menempel–bingkai foto kami yang masih tergantung rapi di antara dinding yang semakin menampakan ketakjelasan dari warna cat. Memudar.
Di antara dinding tersebut, aku meratapi.
Aku melihat foto ibu di kampung halaman bapak sambil memeluknya dari belakang, di atas seekor kuda berlatar perbukitan di daerah Ruteng, Manggarai, Flores. Aku melihat foto bapak di waktu delapan tahun silam dengan gagahnya berdiri tegap di atas kapal penyeberangan berlatar Pulau Komodo. Aku melihat foto kami sekeluarga di sebuah studio sederhana berlatar lukisan pemandangan. Menjadikanku semakin teringat saja pada saudaraku Nanus, Tomi, Joni, Agus, dan Friska.
Terlebih Friska, kakak di atasku, sekarang dirimu bersama suami dan tiga anak yang masih kecil lebih memilih hidup di tanah kelahiran bapak ketimbang di Ibukota. Aku tak tahu mengapa kau kian jauh saja, kini. Tapi sedikit aku tahu, ya, setidaknya, kau pernah katakan bahwa di sana nantinya anak-anakmu menjadi lebih mampu memahami keprihatinan dalam berhidup. Kataku dalam hati. Seingatku dari ucapannya.
Kemudian, pada tatapanku di foto selanjutnya, menjadikanku semakin tersandera ke dalam ingatan: saat melihat foto ketika aku bersama bapak berpose berlatar Gereja Stelamaris di Labuan Bajo, Flores.
***
Ibu tak banyak bicara. Hanya saja, sepertinya, ibu tahu benar betapa aku tengah terperangkap oleh kubangan ingatan lewat bingkai-bingkai foto yang masih dipajang rapi olehnya.
Entah kenapa ibu sekarang lebih banyak berdiam. Ternyata dugaanku salah. Tiba saja ibu berkata padaku.
“Tahukah kamu, Nak, semakin hari bawaannya ibu mau pergi saja dari kota ini. Maunya pulang saja ke kampung almarhum bapakmu di sana. Semata biar ibu lebih merasa menyatu saja dengan bapakmu. Namun ibu terasa berat juga meninggalkan rumah ini. Seperti dulu ibu pernah bilang bahwa rumah ini adalah bapak itu sendiri.”
Aku diam saja. Karena terlintas olehku dari mata ibu yang semakin terlihat kuyu, seolah, banyak sekali ingin diucapkan.
Sambil menerawangi bingkai-bingkai foto satu per satu. Aku masih menunggu ibu bicara kembali. Ternyata benar, ibu kembali berbicara.
“Sejak ibu hanya tinggal dengan cucu yang bagi ibu itulah hiburan satu-satunya, ternyata belumlah cukup mengatasi kesepian ibu. Kota ini sungguh tak cocok buat janda seperti ibu.”
“Hah, maksud ibu?” tukasku, kali ini sambil menatapnya.
Kemudian tiba saja ibu kembali menyergah.
“Asal kau tahu, Nak, dari hari ke hari, di antaranya ibu menulis surat. Bermaksud mengirimkannya untuk semua anak-anak ibu yang pada merantau.”
“Tapi aku tak satu pun pernah menerima surat dari ibu,” kataku dengan rasa terheran-heran.
Ibu kembali berdiam. Kali ini cukup lama. Ibu masih berdiam saja. Aku melihat air matanya meleleh perlahan-lahan. Sambil terselingi batuk-batuk kecil darinya. Akhirnya aku menyarankan supaya ibu beristirahat dulu.
***
Dengan rasa letih, kemudin aku bergegas menuju kamar mandi. Lalu berganti pakaian. Kemudian menuju meja makan.
Sambil menikmati makanan seadanya, aku masih terganggu saja oleh pikiran: entah kenapa kali ini sikap ibu lain dari seperti biasanya.
Setelah itu semua, sambil membakar rokok, aku kembali melihat-lihat bingkai foto. Aku semakin tercebur ke dalam kenangan. Menikmatinya. Betapa gambar-gambar dalam bingkai foto lebih mampu berbicara tentang suatu kenangan.
Masih sambil merokok, aku berduduk-duduk di sebuah kursi yang masih tiada ubahnya sejak dulu. Kembali lagi, seperti berduduk dalam kenangan. Kenangan saat kami masih berkumpul semua.
Sambil berduduk, kontan saja tanganku menyambar tumpukan kertas dan koran-koran yang tak jelas lagi tanggal dan tahun berapa. Ternyata terambil olehku, sebuah kertas berisi tulisan. Awalnya biasa saja, kelamaan menjadikanku kaget. Ternyata yang tengah kubaca adalah sebagian surat-surat dari ibu yang sebenarnya ditujukan pada anak-anaknya, termasuk aku.
Sekali lagi, awalnya aku merasakan biasa saja saat membaca tulisan ibu. Kelamaan seperti hanyut ke dalam suasananya yang tengah meliriskan sesuatu. Sepertinya, ibu tengah membawa suasana hatinya ke dalam surat. Ibu seperti berkata-kata tentang kegelisahannya selama bermukim di Ibukota. Ibu seperti berkata-kata tentang ketakadilannya hidup sebagai janda dari pensiunan sebuah instansi. Ibu seperti berkata-kata tentang kerasnya hidup di Ibukota. Ibu seperti berkata-kata tentang mudahnya petinggi kantor memutuskan hubungan kerja di kota ini sehingga ibu harus kehilangan anaknya mencari pekerjaan baru di negeri rantau.
Betapa aku tak habis pikir. Ya, betapa tak habis pikir aku membaca surat-surat ibu. Selebihnya, dalam surat-surat itu, ibu menyebut nama anak-anaknya. Di antaranya namaku, pastinya. Aku mengatakannya betapa ibu menuliskannya seperti sebuah bahasa kasih.
Entah, aku tak mengerti. Ingin aku namakan seperti apa surat-surat yang dituliskan ibu pada anak-anaknya. Barangkali seperti sebuah sajak. Kalau boleh.

Jakarta-Gg. Manyar Telukbetung, September 2008

*) Judul ini mengacu pada judul lagu yang pernah dinyanyikan Nikita, Di Doa Ibuku Namaku Disebut, Ciptaan Petter B. Bilham, Fanny J. Crosby.

Sumber: Lampung Post, 28 September 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s