Sepasang Kekasih yang Mencari Arah Laut Lepas

F. Moses

Terceritalah kisah sepasang kekasih yang entah kapan tepatnya bermulai melaut.

Dalam kesekian waktu yang seolah tak akan pernah berhenti dan memang tak berhenti dan barangkali saja telah berlangsung berbulan-bulan bertahun-tahun berabad-abad dalam waktu yang tak pernah terasa kecuali bayangan serupa pagi serupa siang serupa petang serupa malam, kami masih berada di perahu cadik berkayu cokelat yang semakin tua serta kusam juga masih kuat sekalipun cukup waktu lama bagi kayu perahu kami berdua melapuk, ini mencari tempat pulang.

Ya, asal kau tahu, kami memang belum pulang. Entah kapan kami berpulang. Dan apakah suatu keharusan bilamana kami mesti kembali pada daratan negeri kami dalam—yang bagi kami—kesementaraan kami masih di laut. Tidak.
Sekalipun perjalanan kami berdua menyusuri tiap arah laut menjadikan waktu seolah dan barangkali saja melumut hebat, kami masih di laut. Di laut tanpa kami takutkan berapa kali lagi usia kami mesti berlanjut. Kami seperti manusia tanpa usia. Seperti keberusiaan di sepanjang keberadaan alam ini ada. Demikianlah adanya kami.

Di waktu ini pula, ketika sempat kami mempersoalkan usia, kami menyebut usia kami sekitar 300-an tahun. Barangkali lebih. Meski demikian kami belum luput. Kami masih bersuka mencari mata angin. Mencari arah. Arah laut lepas; arah yang acap bagi kami seperti sejengkal menuju kebahagiaan. Dalam kesadaran kami, kebahagiaan tak akan pernah mengeriput.

Setidaknya begitulah cara kami memperoleh kebahagian: berpikir bahwa sejengkal pada jarak di depan adalah harapan kami. Semacam cara menguji perasaan maupun firasat kami terhadap waktu. Kira-kira. Begitulah.

Di laut, terarungi oleh kami sejak puluhan tahun sampai hari ini, betapa kami semakin ternikmati oleh percakapan. Percakapan yang seolah tak sebatas kata, melainkan firasat dan rasa. Percakapan sepasang kekasih. Begitulah.

“Masih adakah tempat terakhir di laut ini sebelum kita memutuskan untuk segera berlabuh dari rasa letih?” kata kekasihku.
Sambil memandang ke arah laut lepas yang seperti hanya tertampak garis tipis di hadapan kami, dari katanya yang seolah dalam benak terdengar olehku, bahwa sepanjang kehidupan ini tak pernah terbesit kalau laut menyediakan sebuah akhir. Entah masih adakah akhir? Entah adakah. Entah adakah.

“Laut tak akan pernah menyediakan sebuah akhir. Sampai kapan pun,” kataku.
“Ehm… Ya. Barangkali karena itulah, karena laut sepertinya selalu dan memang tanpa akhir, aku begitu masih mempertanyakan apakah cintamu utuh padaku. Sekali lagi, apakah cintamu utuh dan sejati padaku seperti sepanjang, seluas, sehebat, bahkan sedahsyat laut ini yang senyata-nyatanya dalam kenyataannya tanpa akhir, kekasihku? Seberapa tahan kau mampu mempertahankan cintamu padaku? Sekali lagi, sementara laut ini memang tanpa akhir,” katanya membalas.

Dari ucap yang seperti menampakkan kegelisahannya terucapkan kembali.

“Lantas kau akan mengakhiri cintamu saat di laut yang benar-benar terakhir nantinya?”
Aku tak menjawabnya.

Katanya lagi, ”Jika demikian, kita seperti dan hanya mengemas cinta palsu saja di sepanjang mengarungi laut ini.”

Kami sama-sama terdiam. Kecuali, deburan ombak serta desiran angin yang semakin memperlihatkan kehebatannya. Kehebatan dari yang tak lagi sekadar berbisik. Sekalipun demikian, kami masih mengarungi di tengah hamparan laut luas ini.

Maka tersebutlah saat ini, kami sebagai sepasang kekasih yang masih tersibukkan mencari arah laut lepas untuk mengakhiri perjalanan ini, dalam kenyataan belum dipertemukan oleh akhir. Dan sepertinya memang tak akan pernah.

Seperti tadi terkatakan oleh kami bahwa di laut, terarungi oleh kami sejak puluhan tahun sampai hari ini, betapa kami semakin ternikmati oleh percakapan yang seolah tak sebatas kata-kata melainkan firasat dan rasa. Seperti firasat datangnya malam. Seperti rasa datangnya angin yang acap tak lagi sekadar berbisik.

Sesungguhnya tersebutlah pula kami sebagai sepasang kekasih yang tengah berlari dari negeri di daratan itu. Ya, negeri kami masa lalu. Sebuah negeri yang terakhir terketahui warnanya telah berubah menjadi abu-abu. Negeri abu-abu. Negeri mati warna.

Tentang negeri kami di masa lalu; sebuah negeri yang tak pernah beres serta berkesudahan kelimpungan dalam persoalan. Persoalan sebuah negeri yang tanpa hari bersekaligus tanpa mataharinya, tanpa bulannya bersekaligus tanpa gemerlap bintang gemintang di sekelilingnya yang berisi daging persoalan. Persoalan yang semakin memanjakan negeri kami dalam kecengengan. Persoalan tindas-menindas sesama manusia. Mati kasih. Kira-kira terkatakan begitu.

Sekali lagi, atas nama kekacaubalauan negeri kami, kami berlapang dada meninggalkannya. Ketimbang mesti bermunafik. Betapa ironis hidup dalam kemunafikan.

***
Hampir semua manusia di negeri kami pernah menganggap kami gila. Semua mengatakan kami hidup dalam pelarian. Pelarian yang berlari dan untuk terus berlari seperti sepasang kekasih yang memang nyata-nyatanya kami adalah sepasang kekasih tengah mencari kehidupan baru. Demikianlah kami.

Kami masih dan akan selalu masih mencari arah laut lepas di semacam yang kira-kira pada akhirnya nanti adalah akhir perjalanan kami. Kami terus mencari ujung perjalanan ini tanpa henti. Tanpa keputusasaan. Mencari akhir. Sekali lagi, entah adakah akhir.

Segala persoalan di sini—di tengah hamparan cakrawala laut lepas bersama kecipak deburan ombak yang terkadang mengganas dan terkadang tidak, malam yang seolah seperti kesuraman. Apalagi bila hujan mengguyur deras perahu kami berdua—dalam keberduaan kami hadapi penuh kasih. Dalam keberduaan sepasang kekasih.

Kami seperti mempunyai kata-kata tersendiri terhadap alam. Barangkali itulah alasan mengapa sampai kini kami masih bertahan. Bukti kebertahanan yang sampai detik ini kami masih mencari arah di lautan. Arah laut lepas. Bukti kebertahanan sebagai sepasang kekasih.Entah seberapa tahan pula kami mencari arah laut lepas. Laut lepas yang benar-benar terlepas dari awal dan tengahnya lautan ini. Entah bagaimana pula kami mesti berpikir bahwa kepengetahuan kami tentang di titik awal mana ketika beranjak melaut. Juga entah titik tengah mana sebuah lautan.

Dalam kenyataan, senyata-nyatanya, kami masih melaut sampai saat ini. Mencari akhir dari sebuah arah laut lepas tanpa henti.
Kami masih bertahan. Kecuali, bilamana di ujung laut ini nanti; sebuah akhir yang kami anggap terselesaikan dari kami melaut. Entah apakah ini kegilaan dalam beranggap? Ya, sekalipun hampir seluruh manusia menganggap kami gila. Entah kegilaan seperti bagaimana bila sekadar terus mencari ujung perjuangan sebuah kehidupan? Sekalipun di laut. Sekalipun bersama amuknya. Amuk yang jika itu memang suatu ketika menyergap kemudian menyeret kami. Kami masih tiada henti mencari arah. Arah laut lepas. Arah sebagai akhir perjalanan kami. Arah yang tersebutkan pula sebagai akhir sebuah kepenatan maupun kepekatan dari pikiran kami.

***
Dalam sekian waktu perjalanan melaut ini, tiba saja tertampak sebuah perahu-perahu laut bersandar. Tertampak memang pada sebuah daratan. Entah itu semua perahu siapa yang bersandar di daratan itu. Entah itu daratan apa. Entah daratan dari kehidupan siapa pula. Sekalipun terlihat sebagai daratan yang terjorok dari arah lautan.
Kekasihku tersenyum kecil sambil sesekali sedikit tersedu-sedu sambil berucap.
”Inikah ujung dari sebuah arah laut lepas yang kita nanti-nantikan?”
”Tidak.”
”Apakah ini daratan baru dari sebuah negeri baru yang akan kita singgahi?”
”Bukan.”
”Kemudian berarti telah sampaikah kita pada titik akhir perjalanan ini karena telah terlihat daratan? Tidakkah kau lihat, gedung-gedungnya tampak begitu menjulang. Seperti sejajar dengan bukit-bukit di sekelilingnya.”
”Belum.”

***
Kami masih mencari arah laut lepas. Mencari dan mencari dalam kesabaran berpenuh kasih. Tersadari oleh kami di entah keberapa kalinya kami mesti memperhitungkan usia kami. Ah, sudahlah, betapa hidup ini hanya ketakutan saja bilamana di dalamnya kami mesti memperhitungkan seberapa lagi usia mesti berlanjut. Kami masih mengalir saja seperti tanpa perhentian.
Mengalir yang bagi kami seperti aliran di seluas—sedahsyat maupun sehebat betapa tak terukur dan terujung lautan—laut ini.
Hal belum kami sadari, ternyata kami yang senyata-nyatanya sampai detik ini, tidak menemukan sebuah akhir dari lautan ini. Sekalipun terjumpai Tanjung maupun Teluk yang telah berubah warna menjadi abu-abu di keselamaan perjalanan kami ketika melihat rupa daratannya. Daratan pucat.

Meskipun suatu ketika kami menjumpainya daratan itu lagi, jauh bagi kami untuk menyinggahinya. Buktinya kami masih di laut. Mencari ujung dari sebuah arah laut lepas.

Mungkinkah? Rasanya jauh pula kami mesti memikirkannya.
Yogyakarta-Lampung-Jakarta, Juli 2008

Sumber: Sinar Harapan, 9 Agustus 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s