Bulan Tercebur di Laut

F. Moses

Oh ya, singkat saja, ada suatu hal ingin aku sampaikan. Entah penting atau tidak.

Suatu ketika, saat ber- libur di negeri itu, mendadak benda dari langit, yang ternyata satu-satunya milik negeri itu, terjatuh ke laut. Laut teluk. Laut yang ke- betulan pula berbatasan dengan perbukitan. Tidak ada saksi yang melihat benda itu jatuh. Benda itu jatuh tiba-tiba saja dengan sendirinya. Peristiwa aneh. Namun, ini nyata. Senyata-nyatanya menurutku.
Benda satu-satunya milik negeri itu, Bulan. Ya, hanya Bulan. Tidak besertakan Matahari, para Bintang, para Planet, para Komet, ataupun entah apalagi itu namanya-yang berhubungan dengan benda-benda milik hamparan angkasa raya-jatuh ke dalam laut.
Maklumlah, negeri itu memang hebat. Satu-satunya negeri di sepanjang keberadaan dunia ini ada karena memiliki Bulan tersendiri. Bulan yang tidak jauh ber- beda dengan Bulan yang kerap menyinari jagad malam dari yang pernah ada selama ini. Dan yang sebagaimana pernah kita ketahui pergantian bentuknya. Pergantian dari bentuk bulat utuh, separuh bulat, sampai separuh melengkung sekalipun.
Tentang separuh melengkung; bakal bisa dibayangkan andai saja seorang putri cantik duduk manis sambil kedua tangannya berpegangan di kedua sisi dinding Bulan. Betapa aduhainya. Itu pun andai bisa dibayangkan. Yah, pokoknya seperti kerap kita melihat bagaimana adanya pergantian bentuk Bulan dari malam ke malam. Kurang lebih begitulah.
Dan di sini, rasanya tak perlu lagi aku membahasnya mengapa negeri itu mempunyai Bulan tersendiri. Barangkali atas dasar itu mengapa aku acap suka berlibur di negeri itu. Dan lagi, kali ini masalahnya benda itu sekarang terjatuh. Tidakkah kehebatan maupun keindahan negeri itu menjadi terancam? Atau barangkali, jangan- jangan, keadaan begitu semacam keadaan tersengaja dari alam untuk menguji kehidupan negeri itu supaya menjadi gelap. Sebuah pesona negeri yang tiba saja berubah menjadi kegelapan. Entahlah. aku tak ingin berpikir bahwa sebenarnya alam pernah menguji kehidupan. Sebaliknya, bukankah justru kehidupan manusia yang acap menguji kehidupan di sepanjang keberadaan dunia ini ada. Se- kali lagi, entahlah. Aku tidak tahu. Hanya berkesimpulan dari sebuah firasat.
Sekali lagi, tidak seorang pun melihat Bulan itu ter- jatuh ke dalam laut. Kecuali, barangkali, aku yang menceritakan ini semua kepadamu. Aku memang paling suka menghabiskan waktu berlibur untuk ke laut di negeri itu. Ya, laut. Bagiku adalah sebuah hamparan misterius dalam keberadaannya yang selalu dan memang selalu tanpa ujung sepanjang zaman. Zaman terus dan terus. Seperti tanpa garis perhentian. Kecuali batas penglihatan dari mata saja yang seolah- olah bahwa laut seperti di- batasi oleh garis tipis.
Bisakah kau bayangkan, sayang?

Bulan tiba-tiba saja terjatuh ke dalam laut. Laut yang berbatasan dengan sebuah negeri beserta perbukitan. Sebagai laut yang paling menjorok ke arah negeri kita ini. Orang-orang menyebutnya sebagai laut teluk. Laut yang bersekaligus menuju arah laut lepas Bukankah laut itu pula yang pernah menjadi saksi sekaligus menguji daya cinta kita se- lama ini? Serta menghubungkan firasat sekaligus perasaan kita dari waktu ke waktu. Betapa manisnya.
*
Suatu ketika, ia bertanya padaku. Polos.
“Mengapa Bulan yang biasanya bertengger di cakrawala langit itu bisa terjatuh sampai akhirnya tercebur ke dalam laut, sayang?”
Aku tak tahu mesti mengatakan apa. Yang aku tahu dan aku rasakan bahwa di seperti biasanya malam penuh kebersahajaan di negeri itu seolah perlahan menghilang. Itu saja. Seperti dalam rasa. Seperti dalam firasat. Suatu kehilangan malam yang seperti biasanya termahkotakan oleh Bulan. Malam penuh rembulan seperti biasanya. Kini pesona itu telah mati. Gelap.
“Barangkali Bulan marah, sayang,” kataku.
“Ada-ada saja. Masak Bulan marah,” katanya.
Bersama dirinya di malam yang kelihatannya memang begitu sangat indah, kebetulan saat itu hanya kebetulan kami berdua, aku dan dirinya. Betapa ternikmati keberduaan bersama alam. Keberduaan dengannya. Suatu perasaan yang rasanya seperti hanya tertuju pada alam pada malam hening yang benar-benar berada di keheningan yang paling hening tanpa terdengar suara sekalipun kecuali suara oleh tarikan napas kami berdua.
Keheningan sungguh membuat kami lama-lama terdiam padahal sesungguhnya kami masih bercakap- cakap dalam bahasa ucap, bahasa sikap, bahasa rasa, bahasa firasat, dan entah bahasa apalagi namanya. Hanya kami yang tahu.
Ya, dalam keberduaan seperti biasanya ternikmati oleh malam dan siraman dari pesona cahaya Bulan. Bawah rembulan. Akan tetapi, kali ini tidak. Semuanya terasa menjadi sebuah kesedihan. Bulan telah tercebur dalam laut. Begitulah.
Dengan penuh rasa penasaran ia kembali berkata.
“Coba ulangi katamu tadi?”
“Barangkali Bulan marah, sayang.”
“Masa sih Bulan marah. Kayak manusia saja. Dan lagi, bukankah Bulan sudah teramat indah ketika di atas. Kenapa juga malah menjatuhkan dirinya. Berarti atau barangkali bulan marah atau ada yang sengaja menjatuhkan, begitu maksudmu?” katanya di rasa yang semakin jauh penuh penasaran.
Membingungkan. Rasanya aku tak perlu menjawabnya. Aku tak tahu apakah karena Bulan marah. Aku sangat tidak tahu.
*
Menjelang sore, di negeri yang kebetulan memperlihatkan kabut turun perlahan-lahan, menjdikan saat itu gerimis jatuh amat perlahan-lahan. Menjadikan udara terasa sedikit dingin-betapa cuaca memang menampakkan perubahannya dari waktu ke waktu. Aku mendengar kabar dari negeri ini: semua wartawan tersibuki untuk mencari serta akan menginvestigasi tentang di mana dan mengapa Bulan bisa terjatuh. Begitulah.
Dan ternyata: Bulan memang terjatuh. Terjatuh ke dalam laut. Ada-ada saja.
Dan kini, salah satu wartawan dari koran ternama yang dalam menjalankan tugasnya memang acap tertuntut untuk bekerja keras-dan memang juga tanpa pamrih-serta selalu segar, juga akurat dalam pemberitaannya demi kenyamanan para pembaca untuk memperoleh ber-ita, itu berhasil menemui Bulan kemudian mewawancarainya. Sebuah wawancara dari Bulan yang telah ter- jatuh ke dalam laut.
Berikut petikan wawancaranya dengan Bulan. Seperti sebuah peristiwa di luar batas logika. Namun demikianlah adanya.
“Saudara Bulan, tepatnya kapan anda terjatuh?”
“Entahlah, saya tidak tahu tepatnya kapan saya terjatuh. Yang saya tahu, hanya saja, sejak sekian lama di angkasa tiba-tiba saja saya merasakan kebosanan.”
“Kebosanan? Maksud anda?”
“Ya, saya bosan. Bosan. Saya di sana hanya berteman Matahari, para Bintang, para Komet, serta pecahan-pecahan batu di angkasa yang kerap membuat nyeri tubuh saya. Terlebih sakit di kepala saya ini,” katanya sambil menunjukan bekas luka di kepala.
“Lho, Bukankah anda di atas sana memang sengaja difungsikan untuk menemani benda-benda di atas angkasa sana sekalipun saat ini anda mengatakan diri anda ter- luka? Dan yang paling utamanya lagi, anda menemani Matahari sebagai malam yang menjadikan diri anda disebut sebuah rembulan?”
“Rembulan? Saya tidak tahu, apa maksud anda tentang rembulan?” kata Bulan yang terlihat sedikit bingung. “Aduh, luka di kepala saya masih terasa amat sakit. Badan juga masih nyeri. Tolong jangan tanya masalah-masalah yang menjadikan saya semakin sakit. Semakin pusing,” katanya menambahkan.
“Maksudnya anda sebagai Bulan yang indah pada waktu malam. Karena di waktu malam itulah tubuh anda tersinari oleh matahari yang sekaligus menjadikan tubuh anda tidak lagi gelap melainkan putih kemilau keperakan. Dan ketika itulah, orang melihat diri anda sebagai sosok yang indah. Bahkan jika perlu, karena diri anda itulah, membuat semua orang di negeri ini acap berkata-kata indah karena keunikan anda dan…”
“Sudah cukup. Cukup!” kata Bulan tiba-tiba saja memotong. Rasanya Bulan mulai amat terlihat risih. Se- dikit salah tingkah. Salah tingkah karena ada beberapa sanjungan terhadapnya. Barangkali. Dan sedikit sebal.
Entah kenapa semuanya terkesan sedikit? Aku tidak tahu. Bukankah sesuatu yang sedikit itu membuat sesuatu yang lain jadi ketagihan? Entah lain apa, siapa, dan yang mana.
Sambil terlihat sedikit salah tingkah, Bulan kembali melanjutkan.
“Oh ya, sudahlah. Jangan tanya-tanya lagi. Saya tak suka berbasa-basi.”
“Siapa bilang. Ini bukan pertanyaan basa-basi,” kata si pewawancara.
“Oh ya, satu hal lagi hampir terlupakan. Selain ke- bosanan teramat sangat bersama benda-benda lain di angkasa sana, saya memang sengaja untuk lebih baik menjatukan diri.”
“Menjatuhkan diri. Aneh. Bermaksud apa lagi itu menjatuhkan diri?”
“Menjatuhkan diri. Kemudian berlagak seperti manusia. Dan sekaligus keingintahuanku melihat bagaimana negeri ini tiba-tiba saja menjadi gelap. Dan tanpa…”
“Tanpa menjadikan rembulan,” kata si pewawancara tiba saja memotong.
“Ya. Seperti anda bilang itu.”
“Terus?”
“Saya ingin tahu. Bagaimana tingkah orang-orang ketika dalam kegelapan.”
“Maksud anda?”
“Saya bersenang-senang mandi di laut terlebih dahulu. Kemudian menepi. Kemudian berjalan-jalan di daratan. Mampir ke toko-toko mencari busana saya senangi. Entah busana pria atau pun wanita. Pokoknya saya mau bebas memilih sesuka hati. Hari ini berbusana pria. Besok berbusana wanita. Begitu seterusnya.”
“Aneh,” kata si pewawancara semakin bingung. “Tidak nyambung. Aneh. Aneh,” kembali kata si pewawancara dalam hati.Ya, hanya dalam hati.
Tanpa terlihat berpikir, Bulan kembali melanjutkan, “Pokoknya saya benar-benar berlagak seperti layaknya orang-orang. Entah seperti orang-orang miskin, setengah kaya, bahkan amat kaya sekalipun. Kemudian saya akan bekerja.”
“Hah, bekerja. Konyol. Apa maksudnya lagi,” kata si pewawancara terheran- heran.
“Ya, bekerja. Asal anda tahu. Saya mau bekerja. Saya mau membuktikan betapa bekerja itu adalah benar-benar bekerja. Tulus.”
“Aneh, gila, sinting. Hanya Bulan kok maunya macam-macam. Aneh. Benar-benar tak masuk akal,” kata si pewawancara dalam hati. Sekali lagi, benar-benar dalam hati. Bulan diam sejenak. Sambil sedikit memicingkan matanya, Bulan kembali mengatakan, “Asal anda tahu, sekali lagi, kelak, saya hanya ingin bekerja apa adanya. Sambil berusaha dan terus berusaha tanpa melebih-lebihkan. Ya, setidaknya menikmati pekerjaan tanpa menjilat atasan apalagi menginjak bawahan. Apalagi merampas hak milik sesama.”
*
Aku masih bersama dirinya. Dalam keheningan malam yang paling hening. Tanpa suara sedikit pun. Kecuali dari tarikan nafas kami berdua. Sekali lagi, hanya berdua. Keberduaan bersama malam. Gelap. Pekat. Tanpa rembulan
Sambil berkata dari rasa yang semakin teramat penuh kepenasaranan, “Apakah Bulan sedang marah, sayang?” katanya. Aku hanya diam. Dapat dikatakan akhirnya kami sama-sama terdiam. Sambil melangkah, membuka membuka daun jendela kamar, terlihat kenyataan suasana di luar yang memang benar-benar tertampak gelap. kehidupan orang-orang itu pun ikut gelap. Gelap mata. Gelap hati. Gelap pikiran. Sepertinya.
Jakarta-Lampung , April 2008

Sumber: Suara Pembaruan, 13 Juli 2008

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s